Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Dari Sini


__ADS_3

Hutan tanpa pepohonan. Mungkin agak aneh jika disebut hutan, tetapi inilah imajinasinya. Imajinasi yang menjadi sebuah realita. Memang, ini benar-benar sebuah realita.


Langit malam yang senantiasa hitam dengan titik-titik cahaya dari bintang di angkasa. Bintang yang sangat jauh itu tetap menampilkan cahayanya pada kehidupan, meski itu adalah cahayanya di abad-abad sebelumnya.


Netra gradasi menatap langit malam yang sunyi. Meski keramaian bintang menyelimuti, itu tidak merubah betapa heningnya hutan penuh tanaman besar tanpa batang. Hanya daun raksasa yang tumbuh dan menjadi tempat hidup.


Gadis penyihir dengan rambut merah mudanya yang senantiasa tertutup oleh jubah. Netra dengan tiga warna itu selalu memberi keunikan tersendiri. Meski sklera miliknya tetaplah putih.


Pupil kuning cerah dengan iris yang berwarna merah, sedangkan kornea miliknya memiliki warna biru. Tentu warna hitam mengelilingi warna biru itu. Itulah dirinya yang kini sudah memiliki nama.


"Aura," gumam Aura, gadis penyihir yang kini masih menatap langit penuh bintang tanpa rembulan.


Entah kemana sang luna itu bersembunyi saat ini. Gadis penyihir itu tidak terlalu memikirkannya. Lagipula, cuaca memang sudah seperti ini. Ia berhenti menatap ke atas dan melihat sekelilingnya. Sampai … tiga benda jatuh mengenainya.


.


.


.


"Ah,"-Aura mendongakkan kepalanya-"hm?"


.


"Hujan?" lirih Aura setelah merasakan air bening yang jatuh dari langit untuk ke-empat kalinya. Ia langsung melihat ke salah satu tumbuhan dan menghampiri tumbuhan itu.


Daun tumbuhan itu tumbuh besar dan menjadi payung untuknya. Payung yang siap untuk menahan titik-titik air dari angkasa itu.


.


.


.


.


.


.


.


Satu suara yang datang bersamaan itu menciptakan nada yang terdengar sama, juga berbarengan. Hanya beberapa detik saja rentang waktu jatuhnya bulir-bulir bening itu. Bulir-bulir air yang kini mengguyur hutan dedaunan dengan Aura yang terperangkap di sana.


"Aah … hujan malam," lirih Aura sedikit kesal dan tak senang, tetapi ia langsung mengingat sesuatu yang lain, "gadis itu … apa dia baik-baik saja?"


Ya, sepertinya gadis penyihir ini sedikit memikirkan kondisi Afra. Mengingat dia lah yang paling tahu bagaimana Afra bisa kembali ke sana. Melalui derasnya tangisan langit ini, gadis penyihir ini akan mulai mengingat sejenak kejadian itu.


.


.


Sebelumnya…


.

__ADS_1


.


Rumah. Tidak, lebih tepatnya … ruangan yang disebut sebagai rumah. Di dalamnya terdapat dua gadis. Satu manusia dan satu penyihir, keduanya tidak dalam kondisi yang sama.


Gadis manusia tampak duduk dan melihat sekelilingnya, sedangkan gadis penyihir hanya diam berbaring di kasur. Mata gadis penyihir tampak menutup sejenak, tetapi kembali terbuka karena keingintahuan.


Gadis penyihir yang sekarang sudah memiliki nama itu mengambil posisi duduk di ranjang. Pandangan ia arahkan pada gadis manusia bernama Afra itu. Afra tidak menyadari perubahan posisi dan tatapan mata dari gadis penyihir bernama Aura itu.


Netra biru Afra masih diedarkan pada benda-benda di ruangan lingkaran ini. Netra gradasi Aura mulai memunculkan keheranan.


"Hei, kau sedang apa?" tanya Aura langsung membuat Afra menoleh.


Afra terbelalak setelah mendapati gadis penyihir itu sudah bangun. Ya, gadis penyihir itu sebenarnya sudah tidur setelah apa yang terjadi. Namun, gadis penyihir dengan rambut merah muda itu kembali membuka matanya dan melihat Afra.


Afra mulai berbicara, "a –aku hanya melihat-lihat saja," jawabnya sedikit terbata-bata, "kau … sudah bangun, ya?"


Aura mengangguk dan memberikan jawaban iya dalam diam. Afra kembali menyatu dengan keheningan yang tercipta. Sunyi tanpa suara, Aura merasa tidak tenang dengan hal ini. Ia membuka mulutnya, tetapi ia langsung menutupnya kembali dan menatap ke bawah. Afra keheranan.


"Aura?"


"Ya?" jawab Aura cepat sebelum satu detik berlalu dari panggilan Afra.


"Eum … lukamu …," ucap Afra sedikit kebingungan. Aura langsung melihat perutnya sendiri yang masih dibalut dengan kain putih.


"S –sudah lebih baik! Tenang saja, aku sudah lebih baik sekarang! Kau yang harusnya memikirkan hidupmu saat ini, Afra!" Afra hanya bisa diam setelah mendengar perkataan Aura itu.


Ia senang Aura sudah lebih baik, tetapi ia kembali ingat tentang dirinya. Tentang untuk apa dirinya bisa sampai di sini. Tentang apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. Ia hanya bisa diam dan menunduk, sehingga Aura menciptakan rasa keheranan.


"A –Afra? Apa kau—"


.


Gadis manusia itu, kehilangan kesadarannya dan terjatuh. Meski kepalanya tepat mengenai kasur, kesadarannya tetaplah tiada. Aura masih terkejut. Ia pun mulai beranjak dan berpindah posisi dengan gadis manusia itu.


.


Rasa sakit kembali dirasakan oleh gadis penyihir saat mencoba membaringkan tubuh Afra. Namun, gadis penyihir tetap melakukan niatnya dan tidak memikirkan rasa sakit itu. Ia diam dan tidak tahu harus melakukan apa setelah membaringkan tubuh Afra.


Mata biru yang kini sudah menutup dengan wajah yang tidak mengekspresikan perasaan apapun. Kekosongan, itulah yang Aura lihat saat ini. Dari sini, sebuah rasa baru tercipta di benak Aura.


.


"A –apa … ini?" Aura terbelalak akan hal lain.


Kepingan dengan gambar bergerak terlihat dalam benaknya. Kepingan-kepingan yang mulai menampilkan video dan terus berganti. Tidak beraturan dan terus berganti, sampai rasa sakit tercipta di raganya.


.


"Aura."


"Aura."


"Aura."


.

__ADS_1


"Akh!" teriak Aura langsung mendorong dirinya sendiri sehingga menjauh dari Afra.


.


Ketenangan mulai Aura ciptakan. Gadis manusia tetap diam karena kesadarannya sudah tidak menyelimuti raganya. Aura hanya bisa terduduk di lantai dengan kepala tertunduk, sementara tangannya ia letakkan di dadanya. Meremas pakaiannya dengan erat.


"Apa maksudnya ini?" gumam Aura lirih, tetapi penuh penekanan dan keseriusan.


Rasa tidak percaya yang menciptakan kekesalan. Entah kepingan apa yang dilihatnya.


"Kenapa … aku harus—"


"Akh …," rintih Afra dengan kesadaran yang belum kembali. Aura terkejut dan langsung menatap sumber suara.


Gadis manusia itu masih dalam kondisi mata terpejam. Namun, mulutnya terbuka sejenak dan menyuarakan rasa sakit. Gadis penyihir tentu membelalakkan matanya dan langsung menghampiri gadis manusia.


"Afra!" ucap Aura langsung menggenggam tangan Afra, tetapi …


.


Aura langsung melepaskan genggaman tangannya. Jantungnya berdetak kencang sekarang. Hawa dingin ia rasakan setelah menggenggam tangan putih Afra. Ia tentu tidak percaya.


"Tadi itu … apa?" tanya Aura mulai mengeluarkan napas yang terputus-putus.


Gadis penyihir itu akhirnya duduk setelah berhasil menenangkan dirinya. Ia hanya bisa diam dan memandang wajah gadis itu, sampai dirinya tertidur dalam posisi duduk.


.


Sampai Afra mendapatkan kesadarannya, gadis penyihir bernama Aura itu sudah bangun terlebih dahulu dan menyiapkan makanan untuk Afra. Dan semuanya kembali ke gadis penyihir ini.


.


.


.


Sekarang…


.


.


.


"Ya, sepertinya aku tak punya pilihan lain,"-Aura menghela napas panjang-"selain mendampingi manusia itu."


.


.


.


.


"Ya, ini adalah perintah 'nya'," sambung Aura menampilkan bayangan hitam di matanya.

__ADS_1


__ADS_2