Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Tantangan


__ADS_3

"Baiklah, karena hasilnya sudah ditetapkan, maka—"


"Aku akan bertarung!" potong Afra langsung bangun dari kursi penonton dan mengangkat tangannya.


Semua murid terkejut, begitu juga dengan Rye yang berada di sebelah Afra. Meski raut wajah Rye masih terlihat datar.


Iliya tersenyum tipis, "baiklah, apa kau ingin menerimanya, Vendry?"


Vendry pun melihat ke arah Afra dan mengarahkan pedangnya ke arah Afra, "ya, aku terima tantangan mu meski kita satu kelas!"


***


Sekarang, duel antara Afra dan Vendry akan dimulai. Awalnya, duel ini hanyalah duel antarkelas yang diwakilkan oleh ras penyihir dan ras iblis. Dari kelas Afra, kebanyakan adalah ras iblis, sedangkan di kelas Aura kebanyakan ras penyihir. Dari awal, hasil duel tidak menentukan kemenangan kelas, tetapi kemenangan individu. Ya, karena duel ini hanyalah tantangan jadi bukanlah masalah.


Walau begitu, sepertinya duel ini akan ditunda dulu karena … kondisi Aura yang cukup serius. Ya, serius terluka tentunya. Meski sebenarnya bisa disembuhkan dengan sihir penyembuhan, tetapi itu masih belum cukup.


Di ruang UKS


"Luna! Ada darah untuk mu!" teriak Iliya dari luar ruangan UKS.


Vampir perempuan yang sebelumnya merawat Afra pun keluar, "ah! Iliya, ya? Bawa saja ke dalam!"


Iliya tersenyum dan membawa Aura masuk ke ruang UKS. Aura digendong oleh Iliya. Afra juga ikut masuk ke ruang UKS.


Iliya pun membaringkan tubuh Aura di kasur. Afra benar-benar khawatir dengan kondisi Aura yang terluka itu, meski lukanya sudah agak hilang setelah disembuhkan dengan sihir penyembuhan. Namun, Aura masih belum sembuh sepenuhnya.


"Baiklah, tinggalkan saja di sini!" ucap Luna, vampir perempuan berambut putih panjang itu. Ya, namanya adalah Luna, Verrine De Luna.


Afra terkejut mendengar perkataan Luna, "b-bukankah Aura harus disembuhkan? Apa kau hanya akan membiarkan nya begitu saja?" tanyanya.


Luna tersenyum, "eeh, bukankah kau ras monster? Kenapa se khawatir itu?"


Afra kembali terkejut mendengar perkataan Luna. Bagaimana Luna bisa tahu dirinya ras monster? Ya, meski itu hanya ras penyamaran saja.


"Tenanglah, Aura akan baik-baik saja kok! Kau tidak perlu khawatir, Afra!" ujar Iliya sambil tersenyum pada Afra.


Afra hanya bisa diam dan kembali melihat ke arah Aura yang terbaring dengan mata tertutup. Sepertinya Aura sudah tak sadarkan diri, sepertinya.


"Cepatlah sembuh, Aura…," ucap Afra dengan nada lirih.


"Baiklah, kami pergi dulu, ya!" ujar Iliya sambil berjalan pergi keluar dari ruang UKS, begitu juga dengan Afra yang berjalan mengikuti di belakang.

__ADS_1


Setelah Iliya dan Afra sudah pergi jauh, Luna pun tersenyum menyeringai dan melihat ke arah Aura.


"Akting mu cukup buruk, ya, Aura!" ucap Luna tersenyum menyeringai pada Aura.


Aura perlahan membuka matanya dan bangun, "kau sama saja dengan Iliya!" ucapnya lirih.


Ya, sepertinya Aura hanya berpura-pura tak sadarkan diri sebelumnya. Namun, Aura masih merasakan sakit di tubuh nya. Luna tersenyum tipis melihat ekspresi Aura yang terlihat kesal dan juga kesakitan.


"Eeh, apa kau ditantang oleh nya? Atau … ini tentang gadis monster itu?" tanya Luna sambil berjalan menghampiri Aura. Luna pun mengambil kursi dan duduk.


Aura kembali mengekspresikan wajah kesal meski sekujur tubuhnya masih terasa sakit.


"Lakukan saja kebiasaan mu!" ucap Aura meluapkan rasa kesalnya pada Luna.


***


Sementara di pojok arena, Afra terlihat sedang berdiri dan masih memikirkan kondisi Aura.


Apa Aura baik-baik saja? Tidak, aku harusnya khawatir juga dengan posisiku sekarang! batin Afra sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Ya, sepertinya Afra sadar kalau … dirinya hanya manusia dan bukanlah ras monster. Apa yang bisa dilakukan gadis manusia sepertinya? Tentu saja….


Aku harus melakukan sesuatu! Tapi apa! batin Afra bertanya-tanya dan mulai panik.


Sebentar lagi duel akan dimulai, dan Vendry terlihat sudah siap sekali untuk bertarung. Para murid dari keempat ras terlihat sudah tidak sabar untuk melihat duel antara Afra dan Vendry. Ras iblis melawan ras monster, meski ras monster itu sebenarnya adalah manusia.


"Apa yang harus aku lakukan!" tanya Afra pada dirinya sendiri sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dan….


"Biarkan aku mengambil alih tubuhmu, Afra Afifah!" bisik Ilva tiba-tiba muncul di belakang Afra.


***


"Baiklah! Duel tantangan akan dimulai sekarang! Afra Afifah dari ras monster akan melawan Vendry dari ras iblis!" ucap Iliya dengan lantang sambil terbang dengan sapu terbangnya.


Afra dan Vendry pun berhadapan di tengah-tengah arena. Para murid yang menonton terlihat sangat serius dan melihat dengan perasaan yang campur aduk setelah mendengar kata 'ras monster'.


Rye yang terlihat masih setia duduk di kursi penonton melihat Afra dengan wajah datar.


"Ras monster, ya…," gumam Rye lirih dengan nada dingin.


"Mulai!" teriak Iliya langsung terbang ke atas dan menjauh dari arena.

__ADS_1


Vendry langsung menarik pedangnya dan menatap mata Afra dengan tatapan tajam, "aku akan mengatakan satu hal tentang mu!" ucapnya dengan tegas, "jangan pikir ras monster seperti mu bisa menyombongkan diri!"


Seketika, Vendry langsung mengeluarkan api hitam dari tangannya. Api hitam itu langsung menyelimuti pedang miliknya. Namun, Afra terlihat diam dan tidak melihat ke arah Vendry. Vendry mulai kesal dan langsung maju dan menyerang Afra, sampai….


"Aku mengandalkan mu, Ilva!" ucap Afra dengan nada lirih langsung menatap ke arah Vendry yang sudah siap menusuk tubuh Afra.


"Ilvaviera!" ucap Afra seketika mengeluarkan rantai berdarah dari kedua tangannya. Rantai itu langsung menyerang dan membuat Vendry terpental jauh ke belakang arena. Namun, Vendry dengan cepat langsung menancapkan pedangnya ke lantai arena sehingga ia tidak menghantam dinding.


"Apa-apaan itu!" ucap Vendry menarik pedangnya dan kembali menyelimuti pedangnya dengan api hitam.


Para murid terlihat terkejut melihat Afra mengeluarkan rantau berdarah itu, begitu juga dengan Iliya dan Rye.


"Rantai itu…," ucap Rye dan Iliya bersamaan.


"Ambil alih tubuhku, Ilva Ilyani!" ucap Afra dengan nada lirih sambil menatap tajam ke arah Vendry.


Perlahan, mata Afra mulai berubah. Yang sebelumnya berwarna biru menjadi berwarna merah, begitu juga dengan rambutnya yang mulai berubah menjadi hitam kemerahan. Kesadaran Afra kini sudah diganti dengan kesadaran Ilva. Ya, gadis bermata merah itu!


"Baiklah, akan aku tunjukkan kalau aku tidak sombong karena ras ku monster!" ucap Afra dengan lantang lalu tersenyum menyeringai. Ya, itu bukan Afra yang berbicara, melainkan Ilva.


Semua murid terkejut dan terbelalak mendengar perkataan Afra itu. Dan Vendry pun langsung membalas perkataan Afra dengan senyuman seringainya.


"Tunjukkan padaku jika kau bisa mengalahkan ku!" tegas Vendry langsung melompat maju dengan pedangnya yang siap ditebaskan ke tubuh Afra.


Afra yang sudah dikendalikan Ilva pun tersenyum tipis, "Ilvaviera … Savira Aliviera!"


Seketika, rantai berdarah keluar dari dalam lantai arena tepat di bawah Vendry. Vendry yang terkejut tidak bisa menhindar saat rantai berdarah itu langsung mengikat tangan dan kakinya.


"Aliviera!" ucap Afra lagi seketika membuat rantai berdarah itu berubah menjadi darah dan membasahi tubuh Vendry begitu juga dengan lantai arena di sekitarnya.


Para murid tak bisa berkata-kata melihat Afra yang … sudah mengeluarkan kekuatan nya. Meski itu adalah perbuatan Ilva yang mengendalikannya.


Vendry terkejut ketika rantai itu berubah menjadi darah dan membasahinya. Ia pikir dirinya bebas, tetapi … darah yang membasahi tubuhnya itu terasa seperti membakar tubuhnya!


"Aaaakkh!" teriak Vendry kesakitan.


Iliya yang sedari tadi ikut tak bisa berkata-kata saat melihat Afra mengeluarkan rantai berdarah itu, begitu juga dengan Rye. Mereka berdua seperti pernah melihat rantai itu. Namun, ketika Vendry berteriak kesakitan … mereka langsung terkejut dan tak percaya.


"Gawat!" ucap Iliya dan Rye bersamaan.


"Vierra Ilvaviera!" ucap Afra dengan nada tinggi sambil menatap mata Vendry dengan tatapan tajam. Vendry tak bisa apa-apa setelah dirinya ditatap oleh Afra. Rasa sakit di tubuh Vendry semakin menjadi-jadi dan terasa masuk ke dalam tubuhnya. Namun, sesosok makhluk tiba-tiba muncul di belakang Afra dan….

__ADS_1


"Teishi jikan!"


__ADS_2