
"Teishi jikan!" ucap makhluk itu dengan nada lirih. makhluk itu berambut panjang berwarna biru dengan lingkaran di kepalanya. Seketika, waktu pun berhenti dan semua murid tidak bisa bergerak, melihat, mendengar, atau merasakan apa yang terjadi. Tak terkecuali Vendry, Iliya, dan Rye. Hanya … Afra yang tak terpengaruh begitu juga dengan makhluk itu yang memang pengendalinya.
"Bukankah … sudah saatnya kau berhenti?" tanya makhluk itu yang sepertinya adalah ras iblis.
Afra pun tersenyum menyeringai, "baiklah, aku tidak akan merenggut nyawa iblis hitam itu!"
Perlahan, mata Afra kembali berubah menjadi biru, begitu juga dengan rambutnya yang kembali berwarna hitam kebiruan. Kini kesadaran Afra sudah kembali dan sudah tidak dikendalikan oleh Ilva, tetapi … Afra langsung tak sadarkan diri dan terjatuh ke lantai arena setelahnya.
"Modoru!" ucap makhluk dari ras iblis itu seketika mengembalikan waktu seperti semula.
Semua murid terkejut melihat Afra sudah tak sadarkan diri, begitu juga dengan Vendry yang sudah tidak kuat menahan rasa sakit itu.
Iliya dan Rye langsung turun ke arena menghampiri iblis perempuan berambut biru itu.
"Viesta!" panggil Iliya turun dari sapu terbangnya dan menghampiri iblis perempuan itu.
"Hari pertama duel, sepertinya terlalu biasa, Iliya!" ucap Viesta, iblis perempuan berambut panjang berwarna biru dengan lingkaran di kepalanya. Ya, Viesta Olivia namanya.
"Panggil Luna!" perintah Rye dengan nada dingin sambil menatap tajam mata Iliya. Iliya hanya bisa terdiam dan mengangguk.
Tepukan tangan pun dilakukan oleh Viesta.
"Duel tantangan ini berakhir seri! Semuanya bisa pulang sekarang!" ucap Viesta dengan lantang. Semua murid hanya bisa menurut dan pergi meninggalkan ruang arena. Sedangkan Viesta dan Rye tetap berada di tempat dan melihat Afra yang tak sadarkan diri.
"Kita tidak bisa menyentuhnya, ya," ucap Viesta lalu melihat ke arah Vendry yang sudah tak sadarkan diri, "ini benar-benar di luar duel!"
***
Malam sudah tiba, dan sekarang Afra sudah berada di kamar asramanya. Ia sedang tertidur setelah dirawat oleh Luna. Namun, siapa yang membawa Afra? Tentu saja Aura.
Saat Iliya datang ke UKS dan memberitahu kalau Afra tak sadarkan diri, Luna langsung meminta Aura untuk memindahkan tubuh Afra ke kamar asrama Afra. Lagipula, kondisi Aura saat itu sudah lebih baik sehingga Aura bisa menggunakan sihir teleportasi nya. Sedangkan Vendry langsung dibawa ke UKS dan dirawat oleh vampir lain. Dan….
Aura, Iliya, Rye, Luna, dan Viesta sekarang berada di kamar asrama Afra. Bisa dibilang, mereka sedang menjenguk dan melihat keadaan Afra. Atau mungkin … ada hal lain yang harus dipertanggungjawabkan di antara mereka berlima.
"Afra…," ucap Aura lirih sambil memegang tangan Afra, dan itu membuat keempat senior itu terkejut.
__ADS_1
"Aneh," ucap Rye dengan lirih. Aura pun langsung menoleh ke arah Rye dan berhenti memegang tangan Afra.
"Memangnya apa … yang aneh?" tanya Aura penasaran, tetapi Rye langsung mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
"Waah, aku saja tidak bisa menyentuhnya, lho!" ucap Luna dengan santainya lalu tersenyum menyeringai.
Aura pun menunjukkan raut wajah datar, "jika kau tidak bisa menyentuh Afra, bagaimana kau menyembuhkan telinganya?"
Luna tersenyum tipis, "tentu saja dengan darah!"
Semuanya hanya diam mendengar perkataan Luna, dan keheningan mulai tercipta.
"Daripada itu, bukankah ada yang harus bertanggungjawab dengan gadis monster ini? Iliya!" ucap Viesta menekankan saat mengatakan 'Iliya'.
Semuanya langsung menatap Iliya dengan tatapan tajam, kecuali Luna yang hanya melirik ke arah Iliya. Iliya terkejut dan tak bisa apa-apa setelah dirinya ditatap tajam.
"A-ada apa? Kenapa kalian menatap ku seperti itu?" elak Iliya lalu terkekeh kecil.
"Kau juga harus bertanggungjawab dengan lonceng rusak mu itu! Karena itulah Afra terluka!" tegas Aura dengan nada tinggi.
"Seharusnya kau menyembuhkan ingatan Afra! Bukannya memberi dua buku tebal!" balas Afra sudah tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Diam!" perintah Rye dengan nada dingin. Aura dan Iliya pun diam, sedangkan Viesta hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan pasrah. Luna? Tentu saja dia hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Rye.
"Baiklah, sekarang bisa jelaskan tentang gadis monster ini?" ucap Luna dengan santainya tanpa mempedulikan pertengkaran sebelumnya.
Semuanya tertegun mendengar perkataan Luna, tetapi Aura tampak kebingungan. Meski Aura langsung kembali merasa kesal saat melihat Iliya.
"Sudahlah, aku lebih baik pergi saja!" ucap Aura langsung berjalan menuju pintu dan keluar dari kamar asrama Afra.
Iliya, Rye, Luna, dan Viesta terkejut melihat Aura langsung pergi, meski ekspresi mereka tampak berbeda. Iliya kebingungan, Rye hanya diam dan tak peduli, Luna tersenyum tipis, dan Viesta menghembuskan nafas pasrah lagi.
"Eeh, jadi begitu, ya…," ucap Luna dengan nada khasnya.
Viesta menyiulkan jarinya, "sepertinya hanya kita yang merasakannya. Penyihir muda itu sepertinya juga … tidak ada hubungannya dengan ini."
__ADS_1
"Memang Aura tidak ada hubungannya, tapi dia ikut terlibat di sini!" ujar Iliya dengan nada serius.
Semuanya terkejut mendengar perkataan Iliya. Baru pertama kalinya Iliya serius seperti itu.
"Apa yang kau tau tentang gadis monster ini, Iliya?" tanya Viesta membalasnya dengan nada serius.
Suasananya terasa sangat serius sekarang. Rye yang biasa tidak peduli terlihat mulai serius, dan Luna juga terlihat menikmatinya.
"Baiklah! Pertama, Afra berasal dari 'sana', tetapi tentang ras nya … aku masih belum yakin," ujar Iliya membuat semuanya terbelalak, "dan aku hanya mengetes kemampuan nya saja dengan melakukan duel!" sambungnya.
"Jadi dia dari 'sana', ya…," ucap Luna tersenyum miring sehingga gigi taringnya terlihat jelas.
Keheningan kembali tercipta. Semuanya tertegun dan tak ada yang mengatakan sepatah katapun, atau bahkan membunyikan sesuatu dari anggota tubuh mereka. Sampai … Afra perlahan mulai menggerakkan jarinya.
"Menghilang!" perintah Rye dengan lirih. Seketika, Iliya, Rye, Luna, dan Viesta pun menghilang dari kamar Afra. Dan … Afra pun mulai membuka matanya dan bangun.
Afra melihat sekeliling kamarnya. Pintu kamarnya terbuka sedikit, dan … hari ternyata sudah malam. Afra pun teringat tentang duel antara dirinya dan Vendry. Ilva mengendalikannya lagi, tetapi ini atas izin Afra sendiri.
Ya, sepertinya hubungan antara Afra dan Ilva tidak seperti dulu. Semuanya seperti berubah total.
Afra pun tersenyum, "terima kasih, Ilva…."
.
.
.
"Ya, Afra! Kau … bisa mengandalkan ku mulai sekarang!" ucap Ilva dalam pikiran Afra.
***
Bulan bersinar terang malam ini, dan … kelas pertama Afra sudah selesai. Namun, masih ada lagi hari-hari lainnya yang harus dijalani Afra. Hari ini, Afra benar-benar merasa senang dan mendapatkan banyak hal-hal baru, meski … makhluk-makhluk di sekitarnya berpikiran lain.
Hari ini aku benar-benar senang! Aku tak sabar menunggu besok! batin Afra.
__ADS_1