Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Sosok Hijau


__ADS_3

"Tidak … ada …!" ucap Afra terkejut dan tak percaya.


Rumah yang seharusnya ada di belakangnya itu … tidak ada. Tidak, ia bahkan belum pernah melihat bagaimana tampilan luar rumah itu. Mata terbelalak tentu masih ia tunjukkan, sampai bunyi yang membuatnya keluar kembali terdengar.


Afra kembali menoleh ke arah yang berlawanan. Kali ini, ia mulai mendapatkan penglihatan tentang siapa yang menghasilkan bunyi itu. Sosok berpakaian hijau dengan wajahnya yang tertutup oleh tudung.


"I –itu 'kan …."


"Hihi."


Suara tawa dikeluarkan oleh sosok hijau gelap itu dengan senyuman seringai yang ditampilkan pada Afra. Afra semakin terbelalak.


"K –kau …!"


"Target berikutnya, manusia, ya?" ucap sosok itu dengan suaranya yang terdengar tidak asing.


Afra semakin melebarkan matanya saat melihat wajah sosok itu. Gadis berambut hijau dengan netra merah bagai api yang berkobar di batu permata. Pakaian bertudung berwarna hitam dengan beberapa warna hijau sebagai pelengkap. Pakaian yang biasa digunakan para penyihir.


Ya, gadis penyihir dengan warna hijau sebagai identitasnya. Gadis itu adalah …


"Iylasvi!"


.


Tanpa memikirkan rentang waktu, penyihir hijau itu seketika langsung berada di depan Afra dengan pedang hijau di tangannya. Pedang yang sudah siap untuk menusuk tubuh Afra dengan senyuman penuh hasrat membunuh. Mata terbelalak dan tubuh yang tak bisa apa-apa, itulah Afra.


.


"Terepōto!"


Lingkaran sihir berwarna kuning seketika tercipta tepat di antara bilah tajam milik penyihir hijau dan netra biru Afra yang terbelalak. Penyihir hijau itu seketika langsung menghilang setelah menyentuh lingkaran sihir itu. Afra mendapati dirinya yang seketika mengeluarkan napas terputus-putus.


.


Lingkaran sihir lain dengan warna yang sama kembali muncul di samping Afra. Dan sosok penyihir dengan rambut berwarna merah muda keluar dari lingkaran sihir itu. Sosok yang terbalut dengan kain putih di bagian perut. Sosok yang masih menyisakan bekas darah di tubuhnya.


"Hei, apa kau benar-benar manusia?" tanya gadis penyihir yang dikenal Afra dengan nama 'Aura', meski gadis itu mengakui dirinya tidak memiliki nama.


Afra yang masih menyisakan sedikit napas terputus-putus mulai memunculkan tanda tanya di kepalanya. Hanya satu yang masih sama, yaitu keterkejutan.


"A –apa maksudmu?" tanya Afra penasaran dan juga kebingungan. Namun, sepertinya tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaan dari gadis manusia ini.

__ADS_1


.


Suara angin berhembus terdengar, tetapi tidak ada satupun daun dan semak yang bergerak. Hanya ada suara tanpa pergerakan. Tatapan tajam langsung dilakukan oleh Aura, sedangkan Afra masih pada kebingungannya.


"Hihi."


Suara tawa terdengar nyaring bersamaan dengan berhentinya suara angin. Aura semakin menunjukkan kewaspadaannya dan Afra tetap pada kebingungannya. Namun, gadis manusia itu juga mulai merasakan hal lain dalam dirinya. Tidak, lebih tepatnya hal lain di sekelilingnya.


"Penyihir, ya?"


Dua kata di tingkat penyerangan langsung masuk ke lubang pendengaran kedua gadis itu. Sosok hijau yang sebelumnya terserap oleh lingkaran sihir itu kembali muncul. Senyum penuh kejahatan kembali disimpulkan olehnya.


"Pembunuh," gumam Aura masih terdengar jelas oleh Afra, begitu juga dengan penyihir hijau itu.


Senyum miring semakin terlihat di wajah gadis berambut hijau itu, menandakan dirinya yang mendengar perkataan Aura. Afra yang awalnya masih pada kebingungannya langsung mendapat rasa ketegangan dalam dirinya.


Perasaan tegang dan takut mulai terbesit setelah melihat senyuman itu.


"Manusia, kau semakin menarik saja, ya," ucap gadis berambut hijau bernama Iylasvi itu dengan tatapan yang ia arahkan pada Afra.


.


Afra seketika melebarkan matanya dan tertegun. Ia tak bisa mengatakan sepatah katapun setelah melihat warna hijau dan biru itu bertarung.


Iylasvi dengan pedang hijaunya dan Aura dengan lingkaran sihir berwarna biru di kedua tangannya. Keduanya saling bertarung dan menghasilkan suara juga percikan api kecil. Tanpa mempedulikan Afra yang hanya diam dan menyaksikan pertarungan dengan mata terbelalak


"Terepōto!" ucap Aura lirih dan langsung menghilang setelah menyentuh lingkaran sihir berwarna kuning yang dikeluarkannya.


Iylasvi berhenti bergerak dan melihat sekelilingnya. Cahaya biru tercipta dan mulai mengelilingi dirinya. Cahaya itu mulai berubah menjadi bintang yang seketika berputar cepat. Memjebak dan membuat penyihir hijau itu diam di tempat.


.


"Terepōtēshonsutā aoi!"


Sihir yang membentuk bintang biru itu mulai menghentikan aksinya. Berhenti berputar dan langsung memberikan aura tajam. Gerakan cepat langsung dilakukan oleh bintang biru itu setelah suara perintah dari Aura yang sekarang entah di mana.


Bintang biru itu langsung melesat menuju penyihir hijau. Namun, penyihir hijau itu tampak diam dan tersenyum miring, menampilkan gigi taringnya sebagai bentuk kesenangan.


"Green assassin, magician!"


Tiga kata langsung diucapkan oleh Iylasvi dan itu membuat pedang hijaunya berubah menjadi tongkat sihir. Tongkat sihir yang mengeluarkan cahaya putih sehingga bintang biru itu lenyap ditelan silaunya cahaya.

__ADS_1


Afra yang sedari tadi diam dan menyaksikan langsung menutup kedua matanya karena silau. Namun, seketika ia merasakan sesuatu yang menyentuh tangannya.


"Terepōto!"


Lingkaran kuning pun muncul dan menarik Afra masuk ke dalamnya, setelah suara dari penggunanya terdengar di telinga Afra. Cahaya putih menghilang dan netra merah gadis berambut hijau tampak terbelalak.


Gadis manusia dan gadis penyihir berambut merah muda itu sudah tidak ada. Dan itu membuat gadis penyihir hijau itu tersenyum tipis.


"Menghilang, ya," gumam Iylasvi, sang sosok hijau itu mengakhiri kata-katanya dengan tawa kecil.


***


Hidup. Mau berapa kali hal ini dikatakan, tetap saja. Hidup hanya sekali, meski itu tidak berlaku pada fantasi. Ya, kata 'reinkarnasi' adalah jawaban untuk keluar dari kematian yang abadi. Namun, kehidupan yang dijalani tentu akan sangat lain dari kehidupan yang sebelumnya.


"Aura!" Afra berteriak karena terkejut.


Sihir teleportasi berwujud lingkaran sihir berwarna kuning itu sudah membawa Afra dan penggunanya, yaitu Aura ke rumah. Tentu, rumah yang sebelumnya menjadi pertanyaan karena tidak bisa dipandang dari luar.


Afra mengeluarkan napas dengan rentang waktu yang pendek, tetapi di saat itu juga temannya itu langsung terjatuh.


.


Afra kembali merangkul Aura menuju ranjang dan membaringkannya. Kesadaran Aura masih terjaga, hanya suara rintih penuh kesakitan yang dikeluarkannya. Afra melihat kain putih di tubuh Aura.


"D –darahnya …!" Afra melebarkan matanya saat melihat darah yang kembali keluar dari tubuh Aura. Kain putih yang mengikat luka di perut temannya itu langsung berubah menjadi merah.


Pertanda bahwa luka lama kembali terbuka, Afra tentu langsung mengambil langkah. Mengambil kembali kain putih yang tersisa dan menggantinya sebagai pengikat. Cairan merah kini sudah tidak membekas banyak setelah kain putih di tubuh Aura diganti.


"Akh …." Suara rintihan Aura kembali tercipta.


Afra langsung menoleh dan menatap sang teman. Mata yang kesulitan untuk membuka sementara mulut menjadi kebalikan. Aura yang sudah dalam kondisi seperti itu tidak menyadari bahwa Afra masih memandangnya.


"Aura …," lirih Afra sudah tidak bisa apa-apa.


Aura akhirnya membuka matanya dengan benar. Rasa sakit ia lawan dan itu membuahkan hasil. Meski hal pertama yang dilihatnya adalah butiran bening yang menetes dari mata gadis manusia.


Suara lara kembali lolos dari pertahanan diam Aura. Meski tampaknya, Afra tetap meneteskan air bening dari matanya dengan kepalanya yang tertunduk. Aura semakin kesulitan untuk menahannya. Menahan rasa ego untuk tidak peduli pada tangisan Afra.


"Hei, kau …," ucap Aura langsung ditanggap Afra dengan tatapan. Tatapan mata yang basah dengan air mata.


"… Siapa namamu, Manusia?"

__ADS_1


__ADS_2