Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Terjerat


__ADS_3

"Akh!"


"Akh!"


"Akh!"


Suara teriakkan terus dikeluarkan oleh Iliya. Terus dan terus semakin terdengar keras. Darah menyembur dan mengalir keluar dari tubuhnya yang masih tertancap bilah tajam nan melengkung itu.


.


Meski begitu, tidak ada tawa yang tercipta dari gadis manusia.


.


Gadis manusia itu diam dan diam. Tangannya mulai melepas genggaman sabit yang menancap di tubuh Iliya. Ia berjalan mundur. Mata terbelalak tercipta, juga mulut yang mulai mengeluarkan napas terputus-putus.


.


"Akh!" teriak Afra mengalahkan suara teriakkan Iliya.


Seketika, ruangan hitam nan gelap tanpa ujung itu langsung berubah. Hutan hijau tanpa kayu, mereka berdua sudah kembali ke tempat ini. Darah yang sebelumnya merubah warna hitam berubah. Darah itu kini merubah warna alami tanah yang basah karena air mata langit.


Sabit hitam yang terselimuti merahnya darah mulai menghilang, begitu juga dengan kesadaran Iliya. Iliya terjatuh dengan darah yang kembali mengalir keluar dari tubuhnya. Sedangkan Afra …


"Akh!"


… ia menggantikan posisi suara derita Iliya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sampai akhirnya, Afra juga ikut kehilangan kesadaran dan terbaring di tanah. Tanah yang sudah basah dengan darah. Air bening yang tercipta dari awan tidak bisa mengubah tinta merah itu. Meski air bening itu terus turun dan tak bisa berhenti menjatuhkan diri pada tanah.


 


Terjerat, entah sejak kapan kata ini tercipta di sini. Semuanya hanyalah imajinasi, tetapi imajinasi dalam arti realita.

__ADS_1


Ya, semuanya sudah berubah, itulah maknanya. Tidak ada imajinasi dan mimpi, hanya ada realita. Kenyataan bahwa gadis manusia ini sudah tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


.


"Ilva … apa kau bisa menjelaskan padaku? Tentang … apa yang sudah kau lakukan, akhir-akhir ini."


.


"Heeh, apa aku harus menjawab pertanyaanmu, Manusia!"


.


Satu raga dua jiwa. Di balik kebaikan, senantiasa terselip kejahatan yang tak semestinya ada. Di balik kejahatan, selalu ada kebaikan yang entah kenapa sudah tertutupi kegelapan.


Dua gadis dengan wajah yang sama, tetapi penampilannya berbeda. Satu biru dan satunya merah, satu polos sedangkan yang satunya aneh. Tidak, lebih tepatnya … monster.


Ilva Ilyani, ialah gadis monster bermata merah yang menjadi sisi lain dari Afra Afifah, gadis manusia yang terlahir di dunia bawah. Awal mereka— tidak, awalnya memang terlihat sempurna. Namun, perjalanannya menjadi aneh.


.


"Hei, Ilva … apa … kau benar-benar tidak bisa menjawabnya?" Afra bertanya sekali lagi dengan kepala tertunduk.


Gadis manusia dengan warna iris biru bagaikan lautan itu sudah bersama gadis monster. Gadis monster yang menjadi alter dari dirinya. Iris merah bagaikan lautan merah, itulah netra yang membuat gadis manusia mengosongkan pikiran dan pandangan.


Ilva tertawa kecil lalu melebarkan senyumnya, "untuk apa aku menjawab jika kau saja sudah memilih untuk menurut, Manusia!"


Afra membelalakkan matanya dan tertegun, sedangkan Ilva kembali tertawa dengan nadanya. Ia benar-benar tak percaya. Perkataan Ilva … selalu saja membuatnya tidak bisa berkata-kata.


"Kalau begitu … apa kau bisa menuruti perkataan ku, Ilva? Untuk tidak mengambil alih tubuh ini sesukamu?"


.


Sekarang, Ilva lah yang melebarkan mata dan terdiam. Kata-kata yang diucapkan oleh Afra membuatnya terkejut. Rasa tak percaya yang kini sudah menjadi nyata. Afra mulai merubah posisi kepalanya.


Afra menunjukkan wajah tanpa ekspresi miliknya pada sang alter. Netra dengan iris biru itu tidak menampilkan pantulan cahaya. Kosong, itulah yang terjadi padanya.


"Ilva … kau … bisa menuruti perkataan ku ini 'kan?" tanya Afra lagi sambil menatap mata merah Ilva dengan mata birunya yang sudah tidak menampilkan kehidupan.


Ilva benar-benar tertegun mendengar perkataan Afra. Tatapan kosong yang biasa ia kendalikan itu, kini mulai mengendalikan dirinya. Ia seakan berada di posisi Afra saat ini.


"Kau … bisa 'kan, Ilva?"


.


Ilva semakin melebarkan matanya dan mulutnya ikut membuka. Ia benar-benar tidak bisa apa-apa sekarang. Gadis manusia itu sudah melontarkan tiga permintaan padanya. Meski begitu, ini hanya berlaku selama beberapa saat saja.


"Hihi."


Tawa Ilva memasuki gelapnya pendengaran gadis manusia. Suara tawa yang masih terdengar lirih, tetapi sangat menusuk.

__ADS_1


"Hihi … hihihi,"-Ilva tersenyum menyeringai-"hahahaha!"


Ilva semakin mengeraskan suara tawanya. Netra merahnya mulai bersinar, begitu juga dengan warna merah yang ada pada tubuhnya. Afra sedikit mengangkat alisnya, sedangkan Ilva mulai mengendalikan dirinya.


Tawa pun berhenti, berganti dengan raut wajah yang tampak menikmati semua ini. Ilva mulai berjalan mendekati Afra. Setiap langkahnya sangat terasa. Afra masih dalam posisinya, bahkan netranya tampak kosong dan tidak menciptakan rasa apapun.


Tangan putih mulai menyentuh wajah Afra. Mengelus dan menyentuh setiap bagian di wajahnya, sampai beralih pada telinganya. Udara dingin yang bergerak mulai menyentuh mulutnya, lalu beralih pada telinga lainnya. Telinga yang tidak ditutup oleh tangan putih itu.


"Baiklah, jika itu yang kau inginkan, Afra Afifah!"


.


"Akh!"


.


.


.


.


.


.


"Hihihi," tawa Ilva lalu tersenyum menyeringai, setelah menusuk tubuh Afra dengan rantai hitam miliknya.


Setelah kalimat persetujuan dibisikkan oleh Ilva, netra Afra sedikit melebar. Namun, di saat itu juga rantai hitam langsung menusuk tubuhnya. Afra tentu mengeluarkan rasa sakit dari mulutnya.


Darah merah membasahi rantai hitam yang menusuk punggung gadis manusia. Tidak hanya bagian dalam, darah itu juga mengalir sampai rantai yang ada di luar tubuh Afra. Mengalir dan menetes membasahi lantai hitam tempatnya berdiri.


Rantai lain pun mulai menusuk tubuh gadis manusia bernama Afra itu. Menusuk dari belakang dan menembus bagian depan, tetapi tidak mengenai gadis monster bernama Ilva. Afra terus membelalakkan matanya karena rantai hitam itu.


Satu suara tercipta dari mulut Afra. Suara yang diselimuti rasa sakit atas darah merah dari tubuhnya. Darah yang keluar dan mengalir pada rantai, juga menyembur dan membasahi pakaiannya. Tidak hanya dirinya, melainkan gadis bermata merah juga.


.


Afra langsung terjatuh pada tubuh Ilva. Rantai hitam masih menancap di tubuhnya, sedangkan kesadarannya masih pada tahap awal. Ia tidak kehilangan kesadarannya dan itu membuat rasa sakit semakin terasa.


Mata biru gadis manusia itu masih dalam kondisi terbelalak, mengisyaratkan rasa sakit yang sudah tidak bisa dilepaskan dengan suara. Ilva tersenyum miring lalu memeluk tubuh gadis manusia itu.


Tangan putih Ilva mulai menyentuh rantai hitam yang menancap di tubuh Afra. Rantai hitam yang warnanya sudah berubah menjadi merah karena darah. Tangannya mulai menyentuh darah merah itu, sehingga tangannya juga basah dengan darah.


Afra masih mengeluarkan darah segar dari tubuhnya dan darah itu mengalir pada rantai hitam itu. Tentu, itu membuat Ilva tertawa.


"Tapi, aku tidak bisa menerima permintaan mu tanpa syarat, Afra!" bisik Ilva di belakang kepala Afra. Afra semakin melebarkan matanya.


Ilva melebarkan senyumnya, "dan syarat agar kau bisa tenang dan tidak aku kendalikan adalah … darah merah milikmu, Manusia!"

__ADS_1


.


"Aaaakkh!"


__ADS_2