Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Tujuan


__ADS_3

"A –Aura …," lirih Afra sembari menurunkan kedua tangan yang sebelumnya digunakan untuk menutupi kedua telinga.


Afra mulai menatap Aura yang sudah menunjukan wajah khawatir. Sikap Aura benar-benar berubah total.


"Apa kau masih kesakitan, Afra?" tanya Aura langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Afra.


"Aku sudah tidak merasa kesakitan kok, hanya pusing saja," jawab Afra mengelak dan tidak mau mengatakan bahwa, rasa sakit di tubuhnya mulai terasa lebih menyakitkan.


"Baiklah, sepertinya kita tidak bisa berlama-lama di sini, jadi aku membuat sesuatu untukmu, Afra." Afra terbelalak mendengar kata-kata Aura itu.


"Membuat … sesuatu?" tanya Afra penasaran dan kebingungan.


Aura tersenyum lalu pergi menjauhi Afra. Aura berjalan menghampiri meja tempat ia sebelumnya melakukan sesuatu. Afra sedikit terkejut saat Aura mengambil benda dari meja itu.


"Ini untukmu, Afra!" ucap Aura langsung melempar benda itu ke arah Afra.


Afra pun langsung menangkapnya dengan kedua tangannya. Ia melihat sejenak benda itu, tetapi ia tidak bisa mengerti.


"B –benda apa ini?" Aura tersenyum mendengar pertanyaan Afra.


"Benda yang akan membantu tujuanmu, Afra!" jawab Aura sembari tersenyum lebar pada Afra.


.


.


.


Kapas hitam kan selalu menyelimuti, begitu juga dengan butiran-butiran yang dikeluarkannya. Sudah tidak ada langit biru dan juga cahaya matahari. Namun, kadang ada hal yang tidak terduga, meski sebenarnya hal tersebut menjadi sangat aneh dan tidak masuk akal.


Waktu berlalu dan semuanya mulai pergi. Cahaya matahari terbenam sudah tidak terlihat sama sekali. Masih ada awan hitam di langit yang mulai menggelap, tetapi hujan sudah benar-benar berhenti.


Entah kenapa ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini.


------------------------------------


Malam datang, tetapi waktu membuatnya terasa sangat tajam. Hanya beberapa saat saja, cahaya pagi mulai datang. Namun, latar kali ini bukan pada rumah aneh itu, melainkan di hutan hijau yang masih tidak memiliki pohon berkayu.


.


.


.


.


.


.


.


.


Takdir sudah berubah, hari yang cerah akan selalu terselimuti awan gelap. Dan hujan senantiasa menciptakan alunan nada yang terdengar tenang namun mematikan. Begitu juga dengan …


.


"Hihi"


.


… suara tawa dari Ilva Ilyani.


.


.


.


.


"Hihihi."


.


Ruangan gelap tanpa ujung dengan lantainya yang memiliki pola kotak-kotak. Warna hitan dan putih adalah ciri khas dari lantai di ruangan ini. Meski kegelapan selalu menyelimuti, masih ada cahaya yang membuat siapapun di sini menjadi terlihat jelas.


Begitu juga dengan pemilik tempat ini. Namun, tokoh utamanya bukanlah sang pemilik ini, melainkan gadis manusia yang kini berada di sini. Gadis manusia yang kini sedang berada dalam kondisi ketakutan.


.


Gadis manusia bernama Afra Afifah ini sedang dalam kondisi yang tidak bisa dibantu lagi.

__ADS_1


.


"Akh!" Suara teriakkan tercipta dari gadis bernama Afra itu.


Irisnya yang biru langsung terbelalak dan mulutnya memuntahkan cairan berwarna merah pekat. Rantai hitam menusuk tubuhnya dari belakang dan membuatnya tidak bisa bergerak.


Tubuhnya tentu langsung merasakan gejolak penuh tekanan. Darah kental mengalir keluar dari tubuhnya. Ia benar-benar tidak bisa apa-apa sekarang. Meski sebenarnya ia ingin mengatakan satu kata untuk pertolongan.


.


"I … i … il … va—"


.


Sayangnya, ia tidak bisa menyebut kata itu sebagai pertolongan.


"Aaaakkh!" Afra kembali berteriak sehingga darah di tubuhnya semakin keluar.


Ruangan gelap itu seakan menjadi saksi atas banyaknya cairan merah dan teriakkan Afra. Afra benar-benar tidak bisa apa-apa. Ia hanya bisa membiarkan rasa sakit itu melanda tubuhnya. Sampai matanya terpejam dan kesadarannya menghilang.


.


Afra pun terjatuh, tetapi rantai yang menusuk tubuhnya langsung menahannya mengenai lantai. Matanya sudah mulai terpejam, tetapi ia melihat sesuatu menghampirinya. Sosok dengan mata merah yang selalu menghantuinya, sosok itu sudah berada di depannya saat ini.


.


"Hihi, sayangnya aku tidak akan menolongmu lagi, Afra Afifah!"


.


.


.


.


.


.


"Afra … Afra …!"


"Bangunlah, Afra!"


.


Sekarang ia kembali ke dunianya dan sudah keluar dari dunia buatan sang alter. Meski begitu, tubuhnya masih sedikit merasakan sakit dan juga rasa sesak. Napasnya terputus-putus saat ini.


"Afra, kau kenapa?" tanya gadis penyihir dengan rambut panjang berwarna merah muda di depan Afra.


"A –aku baik-baik saja kok, Aura!" jawab Afra sambil tersenyum palsu pada gadis penyihir yang dipanggil 'Aura' itu.


Ya, gadis penyihir itu adalah Aura, teman pertama Afra di masa lalu. Ya, sekarang waktu sudah berubah, begitu juga dengan takdirnya. Aura tidak menganggap Afra sebagai teman, tetapi Afra masih menganggapnya seperti itu.


Meski begitu, hubungan mereka terlihat baik-baik saja. Ya, karena sekarang mereka sedang berada di hutan hijau saat ini.


.


"Baiklah, kita lanjutkan perjalanannya, Afra!"-Aura bangun dari posisi jongkok-"menuju kerajaan penyihir!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ya, kerajaan penyihir, itulah tujuan Afra Afifah, gadis manusia dengan Aura, gadis penyihir itu.


Sebelumnya…


"Benda yang akan membantu tujuanmu, Afra!" jawab Aura sembari tersenyum lebar pada Afra.


Afra langsung melebarkan matanya setelah mendengar perkataan Aura. Ia terkejut dan tidak percaya, tetapi ia mencoba untuk mengingat-ingat kembali. Tujuan apa yang ia lakukan?


"Eum … apa yang kau maksud dengan tujuan, Aura?" tanya Afra membuat Aura sedikit terkejut dan keheranan.


"Eh? Bukankah kau ingin pergi dari sini?" tanya Aura kembali menciptakan alunan nada keterkejutan. Seakan-akan, keduanya saling memberi rasa tidak percaya di setiap perkataan.


Afra kembali berpikir dan mengingat-ingat, "eum … aku … memang ingin pergi dari sini …," jawabnya seketika meninggalkan kesan terhenti dan belum selesai. Ia kembali pada pemikirannya.


Meski begitu, pandangan Afra seketika mulai terfokuskan pada benda— tidak, lebih tepatnya kantung kecil berwarna hijau di tangannya.


"I –ini … isinya apa?" tanya Afra penasaran. Matanya masih terfokuskan pada kantung kecil itu.


"Bukalah," jawab Aura membuat Afra sedikit terkejut. Meski begitu, sepertinya tidak ada pilihan lain selain membukanya.


.


Afra mulai membuka kantung kecil berwarna hijau itu. Dan saat kantung itu terbuka, matanya semakin melebar. Namun, tanda tanya langsung muncul di kepalanya saat melihat benda di dalam kantung itu.


Tidak, lebih tepatnya dua pil berbentuk lingkaran yang ada di dalam kantung kecil berwarna hijau itu.


"A –apa ini? Apa … aku harus memakannya?" Aura tersenyum setelah mendengar dua pertanyaan Afra itu.


Afra langsung tahu kalau itu adalah obat dan itu membuat Aura senang.


"Ya! Tapi, kau hanya perlu makan satu obat saja, Afra!" jawab Aura dengan antusias.


"K –kalau begitu, kenapa ada dua obatnya, Aura?" Pertanyaan Afra langsung membuat Aura terkejut dan tak percaya.


"M –makan saja dulu obatnya, Afra!" perintah Aura membuat Afra terbelalak. Aura tidak menjawab pertanyaannya, melainkan langsung menyuruhnya memakan obat itu.


"Dikunyah atau ditelan?" tanya Afra membuat Aura semakin terbelalak.


"Sebentar-sebentar! Aku ambilkan airnya!"


Aura langsung mengambil air di meja dan menghampiri Afra. Afra melihat Aura dengan wajah yang sedikit keheranan.


"Ini, cepat makan dulu obatnya!" perintah Aura sembari memberikan air putih untuk Afra.


.


Afra memandang kembali obat berbentuk lingkaran yang kink berada di tangannya. Biru adalah warna dari obat itu. Ia sedikit ragu untuk memakannya, tetapi ….


Tidak apa-apa 'kan? batin Afra merasa aneh.


Ia mulai memasukkan obat itu ke dalam mulutnya. Ia meletakkan obat itu pada lidahnya, lalu air putih langsung ia minum agar obat itu masuk ke dalam tubuhnya. Dan …


"Eh? Tidak terjadi apa-apa?" lirih Afra masih terdengar di telinga Aura.


Aura hanya tersenyum tipis melihat Afra yang kebingungan itu. Sampai sesuatu terjadi pada tubuh Afra.


.


Afra merasakan detak jantungnya yang berdetak kencang. Aliran darahnya tiba-tiba bisa ia rasakan dengan jelas. Setiap organ di tubuhnya mulai mengeluarkan nada dan tekanan. Itu membuatnya tidak bisa bergerak.


.


Meski begitu, ada rasa lain di dalam tubuhnya saat ini.

__ADS_1


"Kenapa … tubuhku terasa sangat berbeda?"


__ADS_2