
A-apa itu … aku? batin Afra terkejut dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Ya, Afra melihat tubuhnya yang sudah tidak bernyawa dan penuh dengan darah. Dengan semua bagian-bagian tubuhnya yang sudah tak tersambung lagi. Afra benar-benar terkejut dan tak percaya.
Afra lalu meraba-raba tubuhnya dan melihat kedua tangannya.
A-aku … kenapa! Kenapa aku tidak merasakan apa-apa! batin Afra benar-benar tak percaya. Tangannya terlihat transparan. Dan Afra semakin terkejut melihat kakinya yang tidak menapak tanah.
Nafasnya mulai terengah-engah, dan …
Afra kembali ke ruangan hampa tanpa ujung itu, dengan gadis bermata merah itu yang tertawa jahat dihadapannya.
Hihihi … hihihi
"Kau sudah tau jawabannya kan, Manusia!" ucap gadis bermata merah itu dengan nada jahatnya, "semuanya … sudah berakhir untuk mu!"
Hiks … hiks
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku … sudah mati, batin Afra.
Gadis bermata merah itu tertawa-tawa melihat Afra yang sudah tak tau harus apa. Ya, kini dirinya benar-benar sudah tiada. Nasibnya sama seperti sang ayah, tetapi ia tidak bisa bersama dengan sang ayah. Ya, ia tiada, tetapi tetap ada.
__ADS_1
Hihihi
"Sungguh lucu sekali, ya…," ucap gadis bermata merah itu dengan nada mengejek, dan itu membuat Afra semakin merasa … mati.
Hiks … hiks
"Aku … aku!" ucap Afra sambil terus meneteskan air matanya dan terduduk pasrah. Afra pun mulai mengangkat tangannya dan memukul-mukul lantai berulangkali. Air matanya masih terus mengalir keluar. Dan….
Gadis bermata merah itu langsung berhenti tertawa melihat apa yang dilakukan Afra. Gadis itu menatap Afra dengan tatapan kesal.
"Apa yang kau lakukan?" tanya gadis bermata merah itu dengan nada dingin, tetapi Afra tidak menjawabnya. Afra terus memukul lantai dengan tangannya sampai … tangannya mengeluarkan darah.
"Apa yang kau lakukan, hah!" teriak gadis bermata merah itu langsung mengeluarkan rantai besi berwarna merah darah dari dinding-dinding ruangan yang tak berujung itu.
Rantai-rantai itu langsung mengikat tangan Afra dan membuat tubuh Afra terangkat. Afra terkejut, tetapi perasaannya … sudah benar-benar lenyap. Yang ia rasakan hanyalah … kekosongan dan kesedihan yang mendalam.
"Jangan banyak tanya," jawab Afra dengan nada dingin sambil berusaha melepaskan diri dari rantai itu, tetapi usahanya sia-sia. Ia benar-benar sudah terikat dan tak bisa bergerak.
Heh
"Apa begini sifat mu sekarang, Manusia!" teriak gadis bermata merah itu dengan nada tinggi, "kalian benar-benar lemah, dan kau adalah yang paling lemah dari semuanya, Afra!"
Afra menundukkan kepalanya dan berusaha untuk tidak menatap wajah gadis bermata merah itu, "aku … tidak ingin peduli … dengan perkataan mu!"
Gadis bermata merah itupun langsung membuat rantai yang mengikat lengan Afra menghilang, dan itu membuat Afra terjatuh ke lantai.
"Akh…," rintih Afra kesakitan, tetapi ia terkejut melihat bayangan gadis bermata merah itu dihadapannya.
"Afra … seharusnya kau sudah tau … kalau kau tidak mungkin mati jika ada aku yang hidup sebagai dirimu!" teriak gadis bermata merah itu dengan nada tinggi dan itu … membuat Afra terkejut dan tak percaya.
"Kau … selalu mengatakan hal itu … hal-hal yang membuat ku … seperti ini!" ucap Afra dengan nada dingin sambil mengepalkan tangannya dengan erat. Darah yang sebelumnya berhenti mengalir kembali keluar dari tangan Afra. Dan….
Tangisannya pun ikut mengiringi.
Hiks … hiks ….
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
"Kau … yang sudah membuatku seperti ini!" ucap Afra dengan lantang sambil menatap wajah gadis bermata merah itu dengan wajahnya yang penuh air mata. Namun, Afra malah semakin terkejut dan tak percaya melihat ekspresi wajah gadis bermata merah itu.
Ekspresi wajah gadis itu terlihat sangat-sangat kesal dan marah.
"Manusia … kalian selalu menyalahkan semuanya pada kami … kalian semua! Kenapa aku harus melakukan ini, hah! Apa kau tidak tau betapa bencinya aku melakukan ini!" teriak gadis bermata merah itu dengan nada kesal.
"Hati kalian … benar-benar palsu! Kalian selalu menyalahkan dan melampiaskan semuanya pada kami! Dan kalian pikir kami yang selalu bersalah, hah!" sambung gadis bermata merah itu membuat Afra terdiam dan kembali menundukkan kepalanya.
"Dan kau … kenapa … kau bisa mengatakan semua itu … padahal kau saja tidak pernah tau … siapa dirimu itu," ucap gadis itu dengan lirih, dan itu membuat Afra terkejut. Afra langsung mendongakkan kepalanya dan menatap wajah gadis bermata merah itu lagi.
"Kau itu … benar-benar bodoh ya, Afra!" ucap gadis bermata merah itu tiba-tiba meneteskan air matanya, "ya, kalau aku tidak terlahir lagi sebagai setengah dari mu, maka … kau tidak akan pernah berpikir seperti itu, ya…."
"K-kau … kenapa mengatakan hal seperti … itu?" tanya Afra penasaran dengan sikap gadis bermata merah itu, dan ia semakin terkejut ketika melihat gadis itu mengulurkan tangannya padanya.
"Bangunlah, Afra!" pinta gadis bermata merah itu dengan lembut sambil tersenyum pada Afra.
Kenapa … rasanya … dia sama … seperti ku? batin Afra bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Aku sekarang … akan selalu bersama mu," sambung gadis bermata merah itu dengan nada lembut.
Afra langsung meraih uluran tangan gadis bermata merah itu. Walau sebenarnya Afra masih sedikit keheranan, tetapi ia merasa….
Aku rasa … ini tidak apa, batin Afra.
Gadis bermata merah itu tersenyum manis pada Afra, "apa kau mempercayai ku?" tanyanya.
Afra terbelalak mendengar pertanyaan gadis bermata merah itu. Ia sedikit ragu untuk menjawabnya.
"A-apa … aku bisa … mempercayai mu?" tanya Afra penasaran dan masih merasa sedikit aneh, tetapi pikiran itu langsung hilang ketika mendengar….
"Ya, percayalah padaku, Afra!" jawab gadis bermata merah itu tanpa ragu sedikitpun.
Afra tersenyum pada gadis itu, dan gadis itu juga tersenyum pada Afra. Dan gadis bermata merah itu pun langsung memeluk tubuh Afra.
"Ya, percayalah padaku, Afra … aku akan selalu … selalu bersamamu!" ucap gadis bermata merah itu dengan nada tulus, dan Afra pun membalas pelukan nya. Namun, tanpa sepengetahuan Afra….
Hihi
Gadis bermata merah itu tertawa kecil dan membuat Afra tiba-tiba langsung merasa kesakitan. Jantung Afra terasa berdetak lebih cepat dan lebih keras.
"Tapi, sepertinya itu akan sulit dilakukan, Afra …,"-gadis bermata merah itu menghembuskan nafasnya di telinga Afra-"… kalau kau tidak membuka matamu sekarang!"
"Ah!" teriak Afra seketika langsung terbangun dan terkejut melihat dirinya masih berada di hutan, dan sekarang matahari sudah terbit dan bersinar terang. Pepohonan hutan terlihat indah dan rindang, walau sebenarnya….
"A-apa yang terjadi? Ke-kenapa aku … masih ada di sini?" tanya Afra benar-benar tak percaya setelah menyadari bahwa dirinya ada di tempat dimana terakhir kali ia di serang oleh monster-monster itu.
"Kenapa? Tentu saja karena kau masih hidup, Afra Afifah!" ucap gadis bermata merah itu tiba-tiba muncul di belakang Afra.
Afra langsung menoleh ke belakang dan terkejut melihat gadis bermata merah itu yang tersenyum menyeringai pada nya.
__ADS_1
"K-kau … kenapa—"
"Ya, terserah! Aku tidak akan menjawabnya! Yang perlu kau tau hanyalah … semuanya baru dimulai sekarang!"