Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Para Senior


__ADS_3

Malam itu … penuh arti. Gelap, sedikit cahaya, sunyi, penuh misteri. Purnama yang bersinar terang sebagai pengganti mentari. Titik-titik cahaya yang berterbangan, air mancur yang naik ke atas. Semuanya … tak bisa diartikan begitu saja.


-------------------------------------------


Kembali ke akademi Arknest, mengenai masalah senior-senior yang … labil dan sepertinya … aneh. Ya, melihat sebentar apa yang dilakukan oleh para senior-senior ini.


Hari sudah malam, dan sepertinya … suasana akademi Arknest tampak hening dan begitu sunyi. Angin malam berhembus dan membuat suasana terasa … menyeramkan, mungkin. Ya, yang jadi pertanyaannya sekarang adalah….


"Hei, mau kau apakan semua murid setengah mati itu, Kisami?" tanya Xiania yang sekarang sedang berada di ruang UKS bersama Kisami. Ya, semua murid yang waktu itu pingsan masih pingsan sampai sekarang, dan Kisami terlihat … ingin melakukan hal aneh lagi.


Pedang hitam yang panjangnya hampir sama dengan tinggi tubuhnya, ya … hanya Kisami satu-satunya penyihir yang membawa pedang sebagai pengganti tongkat sihir.


Kisami tidak mempedulikan perkataan Xiania dan tetap berjalan dan menyentuh satu persatu tangan para murid yang masih pingsan itu. Sedangkan Xiania, ia terlihat sudah menguap dan mengantuk. Sepertinya ada pemaksaan di sini.


"Setidaknya jawab pertanyaan ku, Kisami Ki!" ujar Xiania dengan nada lirih dan sedikit kesal. Rasa kantuknya sudah tak bisa dihilangkan, tetapi … sepertinya itu akan hilang dengan segera.


"Remove the soul!" ucap Kisami dengan nada lirih seketika membuat … semua murid-murid yang pingsan itu menjadi abu hitam dan … suara teriakkan kesakitan terdengar menggema di ruangan UKS, bahkan sampai terdengar di seluruh akademi Arknest.


Xiania tak bisa apa-apa dan hanya bisa melebarkan matanya dengan tubuhnya yang mulai … bergerak-gerak sendiri setelah mendengar suara teriakkan kesakitan itu.


Tiba-tiba, Xiania langsung tertawa dengan nada jahat dan … tubuhnya mulai mengeluarkan aura api. Seketika, seluruh ruangan UKS langsung diselimuti cahaya api dengan Xiania dan Kisami di dalamnya. Namun, sepertinya mereka tidak mungkin mati begitu saja.


Suara teriakkan kesakitan itu mulai menghilang, begitu juga dengan cahaya api milik Xiania. Cahaya api itu hanya menyerap suara teriakkan itu, dan tidak berimbas pada Kisami dan Xiania. Namun….


"Hahahaha! Teriakkan mereka saat mati benar-benar menyenangkan!" ucap Xiania dengan lantang dan tertawa-tawa bagaikan makhluk yang digambarkan manusia.


Xiania tertawa dengan nada jahat dan penuh kesenangan saat … semua murid itu mati dan lenyap karena Kisami. Sedangkan Kisami, ia tersenyum tipis.


"Ternyata benar," gumam Kisami dengan lirih.


***

__ADS_1


Masih di akademi, tetapi di menara sihir. Ya, meski tidak bisa disebut sebagai menara sihir, sih. Penyihir berambut kuning keemasan dan juga netranya yang sama seperti rambutnya itu sekarang sedang … memakan apel berwarna biru. Eh?


Iliya Viely. Ia terlihat sedang duduk di ruangannya yang penuh dengan lilin yang menyala. Meski, beberapa sudah redup karena suara teriakkan kesakitan itu. Ya, Iliya tentu saja mendengarnya, tetapi … tentu saja ia hanya santai saja dan tetap memakan apel birunya itu!


Apel biru. Ya, apel biru. Apel sihir yang biasa dimakan penyihir tingkat tinggi untuk menambah kekuatan sihirnya.


.


.


Angin sepoi-sepoi pun berhembus masuk dan memadamkan satu lilin. Iliya menyadarinya dan tersenyum miring.


"Dunia benar-benar aneh, ya … seperti dirimu,"-Iliya meletakkan apelnya di meja-"Afra Afifah!"


***


Purnama sirna, berganti sabit kelana. Sunyi penuh misteri, kehidupan yang terlihat mati.


Malam sudah larut dalam kegelapan, hanya saja … bintangnya tidak akan ikut redup dengan langit hitam.


Rye berdiri dengan salah satu tangan menyentuh meja dan pandangannya melihat keluar jendela. Viesta berada satu meja depan Rye dan duduk di atas meja sembari bersiul dan melihat Rye yang selalu seperti es yang membekukan air itu.


Sementara itu, Luna terlihat sedang berjalan-jalan di halaman depan akademi Arknest dan melihat kupu-kupu yang bercahaya. Kupu-kupu merah, biru, kuning, hijau, semuanya adalah warna-warna yang bercahaya di malam hari.


Purnama sempurna, selalu berwarna merah … saat kegelapan menjadi pendampingnya. Meski menjadi biru pun, tetap akan sama saja. Bulan tidak akan terlihat di ruang cahaya, kecuali fenomena gerhana yang menjadi musuh dari semuanya.


Sekarang melanjutkan tentang … apa yang mereka pikirkan.


***


Perempuan berambut panjang berwarna putih, netra bagaikan merah darah segar, dan warna kulit putihnya yang agak pucat. Gigi taringnya yang tampak keluar dan juga telinganya yang runcing membuatnya mudah dikenali.

__ADS_1


Senior yang biasanya berada di UKS itu kini sedang berada di halaman depan akademi. Melihat bintang dan bulan, juga kupu-kupu malam yang bercahaya.


Sembari menyanyikan melodi lagu, Luna sang vampir perempuan yang suka meneliti darah makhluk-makhluk itu terlihat … memikirkan sesuatu. Meski mimik wajahnya masih terlihat sama, dan juga masih menunjukkan senyuman khasnya.


Satu kupu-kupu terbang mendekat dan hinggap di jari Luna. Kupu-kupu merah yang warnanya sama seperti netra miliknya. Luna tersenyum tipis dan memandang serangga yang bercahaya itu.


"Sayap bagaikan darah, benar-benar indah," gumam Luna lalu menoleh ke bangunan akademi. Angin malam berhembus dan membuat kupu-kupu yang hinggap itu terbang dari tangan Luna.


Luna hanya bisa diam dan memandang serangga bersayap itu terbang saat menyadari kepergiannya.


"Ya, bagaikan ras mu itu, gadis monster," ucap Luna dengan nada lirih lalu tersenyum miring dan … tertawa.


***


Ruang kelas I 1. Ruang kelas para junior yang sekarang sudah tak bernyawa. Ya, hanya enam makhluk dan satu manusia yang hidup. Dan sekarang ketujuhnya sedang berada di luar akademi.


Sekarang, ada dua senior di kelas itu. Ras iblis berambut hitam panjang dengan beberapa helai rambut berwarna hijau. Netranya yang berwarna seperti kobaran api itu tertutup sebelah oleh rambutnya. Telinga runcing, sepasang tanduk berwarna hijau, dan ekspresi datar yang memberi kesan dingin.


Sedangkan yang satunya, ras iblis tingkat jin yang memiliki lingkaran di atas kepalanya. Rambut biru panjang dengan tanduk berwarna hitam. Kristal-kristal hitam yang melayang di belakang punggungnya membuatnya terlihat seperti memiliki sayap.


Rye Else, iblis perempuan yang selalu terlihat dingin dan serius, dan juga Viesta Olivia, iblis tingkat jin yang selalu memikirkan dengan matang apa yang akan dilakukannya. Mereka terlihat sedang mengheningkan kelas I 1 yang sudah sangat sunyi itu.


"Begitu, ya … jadi itu maksud alasannya," ucap Viesta memecahkan keheningan. Rye tampak seperti biasa dan tetap pada pendiriannya.


Viesta pun turun dari meja dan berjalan pergi meninggalkan iblis seangkatan namun beda tingkatan itu. Rye tampak menoleh dan melihat kepergian Viesta.


"Tujuan akademi, itu alasan Iliya melakukannya," ucap Rye dengan lirih dan terdengar membekukan pendengarnya. Rye kembali melihat keluar jendela dan menatap bulan yang … sekarang terlihat seperti menjadi satu.


Corak bulan sabit ditampilkan pada purnama yang mulai menyinarkan cahaya lain. Iblis pendiam itu hanya memandanginya dengan tatapan tajam lalu mengalihkan pandangannya.


-------------------------------------------

__ADS_1


Masih di waktu yang sama, tetapi di tempat berbeda. Kota Etral, di penginapan tempat ketujuh murid akademi itu berada sekarang. Dua lk beda kelas itu sudah tertidur, begitu juga dengan empat pr. Hanya satu yang masih terjaga.


"Putri tidur kini tidak ingin tidur, ya? Hihi!"


__ADS_2