
"Baiklah, kita sudah dapat murid terpilih di sini!" ujar Iliya dengan lantang sambil bertepuk tangan, "dan itu artinya, kalian akan mulai menjalankan tugas sebenarnya sebagai murid akademi Arknest!"
Afra terkejut mendengar perkataan Iliya itu, dan…
Sekarang….
.
.
.
"Kenapa … kegiatan akademi nya seperti ini?" keluh Afra dengan nada bertanya. Semuanya hanya menghembuskan nafas pasrah mendengar perkataan Afra.
***
Setelah hampir semua murid pingsan dan tak sadarkan diri karena Kisami, akhirnya sisa dari para murid itu dibuat kelompok dengan Afra, Aura, dan Yuu.
Ya, yang selamat dari sihir aneh Kisami itu adalah Vendry, satu murid penyihir perempuan berambut hijau bernama Iylasvi, lalu satu murid perempuan dari ras hewan dari kelompok burung hantu bernama Phia, dan satu murid laki-laki dari ras siluman bernama Sira Siveria. Dan ….
… Yang selamat itulah yang dijadikan sebagai murid terpilih. Namun, apa maksudnya murid terpilih? Ya, tentu saja murid yang terpilih untuk menjalankan tugas di luar akademi, meski … tidak bisa dikatakan sebagai tugas.
" 'Baiklah, tugas kalian adalah pergi ke kota dan antarkan dua surat ini ke pangeran kerajaan hewan, ya!' " ucap Iylasvi, gadis penyihir berambut hijau itu mengulang kembali perkataan Iliya sebelumnya.
Aura berdecih mendengar perkataan Iylasvi, sedangkan Yuu malah tertawa-tawa.
Sekarang, Afra, Aura, Yuu, Iylasvi, Phia, Vendry, dan Sira sudah dalam perjalanan menuju kota di kerajaan hewan bersama. Ya, tentu saja bersama dan tidak berpasang-pasangan karena jumlahnya ganjil. Lagipula, dari awal Iliya tidak berniat untuk membuat semua murid berpasang-pasangan dan pergi ke kota.
"Bukankah ini bagus? Kita bisa bebas melihat-lihat kota nanti!" tutur Yuu sambil menepuk pundak Aura.
Vendry langsung tersenyum miring, "dari awal akademi Arknest memang bukan akademi penyatuan empat kerajaan," ucapnya.
Semuanya menganggukkan kepalanya, kecuali Afra yang sedikit terkejut mendengar perkataan Vendry.
"Tidak, seharusnya kau mengatakan bahwa … akademi Arknest itu sudah terasingkan meski kabarnya selalu terdengar!" ujar Sira tanpa ragu-ragu dan rasa bersalah. Ya, semuanya benar-benar terkejut dan tak percaya, meski pendapat Sira ada benarnya.
"Cepat! Sebelum matahari terbenam!" ujar Phia sambil terus mempercepat langkahnya lalu merubah dirinya menjadi burung hantu dan terbang.
Afra, Aura, Yuu, dan Iylasvi berlari menyusuri hutan, sedangkan Vendry dan Sira melompat dari satu dahan pohon ke pohon lainnya. Hari sudah mulai senja, dan waktu mereka tidak banyak di hutan ini.
***
Sementara di akademi Arknest, para senior kelas III dan II baru saja selesai memindahkan semua murid yang pingsan ke ruang UKS.
__ADS_1
"Akhirnya darahnya sudah terkumpul kurang dari sehari! Terima kasih, ya, Kisami!" ucap Luna dengan senang setelah mendapat sampel darah dari semua murid-murid yang pingsan itu. Benar-benar vampir, ya.
Kisami tak merespon dan hanya melihat Luna dengan wajah datar, meski Luna juga tidak mempedulikannya. Iliya, Rye, Viesta, dan Xiania pun datang dan masuk ke ruang UKS.
"Hai, hai! Xiania kembali!" sapa Xiania dengan lantang sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Oh, kalian datang juga akhirnya," sahut Luna lalu tersenyum miring.
"Baiklah, bagaimana kalau kita bicara di kelasnya Afra saja?" tanya Iliya menawarkan.
Semuanya menangguk setuju dan pergi ke kelas I 1.
***
"Baiklah, sekarang … apa yang akan kita lakukan dengan semua murid yang pingsan itu?" tanya Xiania membuat semua yang mendengar langsung menatap tajam pada Iliya. Ya, semuanya kecuali Xiania dan Luna yang menatap Iliya dengan tatapan mengejek.
Iliya terkejut dan lagi-lagi harus menggelengkan kepalanya dengan cepat, "baiklah, baiklah! Kalian semua duduk di kursi dan akan aku jelaskan!"
Semuanya pun menurut dan duduk di bangku, sedangkan Iliya tetap berdiri di depan kelas.
Iliya berdeham, "baiklah. Apa yang harus aku jelaskan pada kalian?"
Viesta pun mengangkat tangannya, "jelaskan apa tujuan mu membuat semua murid pingsan, Iliya!" ucapnya dengan nada serius.
"Ah, kalau itu … Kisami sendiri yang meminta," jawab Iliya dengan wajah datar. Semuanya langsung melihat ke arah Kisami yang duduk di bangku paling belakang.
Luna mengangkat tangannya dan melihat ke arah Iliya, "apa maksudnya dengan mengosongkan kelas? Bukankah seharusnya … kau punya alasan lain, Iliya?" tanyanya membuat semuanya menatap Iliya lagi.
Iliya tersenyum miring, "ya, aku punya alasan lainnya, seperti katamu, Luna!"
***
Hari sudah malam, dan kini kembali kepada Afra dan kelompoknya yang … masih berada di dalam hutan.
Afra, Aura, Yuu, Iylasvi, Phia, Vendry, dan Sira sekarang sedang beristirahat di bawah pohon besar. Api unggun sudah dinyalakan oleh Vendry sebagai penerangan. Dan sekarang, suasananya terasa berbeda setelah hari sudah malam.
Bulan purnama bersinar, dedaunan pohon terlihat mengeluarkan cahaya, tetapi … bunyi-bunyi aneh terus terdengar di telinga mereka bertujuh.
Afra merasa aneh dan mulai gemetaran. Sedangkan yang lain … mereka terlihat waspada dan melihat gerak-gerik disekitarnya dengan tatapan tajam. Meski mereka dalam posisi duduk.
"Phia, apa kau bisa awasi dari atas?" tanya Sira sambil terus menatap tajam ke arah semak-semak yang terlihat bergerak-gerak sendiri.
Phia yang mendengar perkataan Sira langsung mengeluarkan sayap dari tubuhnya dan terbang mengawasi dari atas.
__ADS_1
Iylasvi melihat ke arah Afra yang gemetaran, "apa kau merasakan sesuatu, Afra?" tanyanya merasa aneh dengan Afra.
"B-bisakah kita berpindah tempat dengan sihir Aura?" tanya Afra membuat semuanya terkejut dan langsung melihat ke arah Aura yang duduk di sebelah Afra. Phia langsung turun ke tanah dan menghilangkan sayapnya.
Semua pandangan tertuju pada Aura yang mulai kebingungan.
"A-apa? Kenapa?" tanya Aura yang sepertinya tidak menyadari perkataan Afra sebelumnya.
"Sepertinya tidak bisa, ya," ucap Vendry lalu bangun dari duduknya, "Sira, ayo kita kosongkan hutan di sekeliling kita!"
Sira pun bangun dari duduknya dan mengangguk lalu mengikuti Vendry yang sudah berjalan pergi meninggalkan para gadis itu.
"Sekarang tinggal kita di sini. Apa yang akan kita lakukan?" tanya Yuu membuka pembicaraan. Semuanya hanya tertegun mendengar perkataan Yuu, termasuk Afra yang terlihat benar-benar ketakutan. Semuanya menjadi melihat Afra dengan tatapan kebingungan.
Kenapa dia ketakutan? Seharusnya dia yang berani sekarang, begitulah pikiran awal yang terbesit setelah melihat Afra, sampai….
Suara ledakan tiba-tiba terdengar jauh di depan para gadis itu. Semuanya langsung beranjak bangun termasuk Afra yang masih gemetaran.
"Cepat ke sana!" perintah Yuu dan langsung dijawab anggukan kepala oleh semuanya, kecuali Afra yang … sudah benar-benar ketakutan.
Yuu langsung berlari dan melompati dahan-dahan pohon, Phia terbang dengan sayapnya, dan Iylasvi menggunakan tongkat sihirnya sebagai alat terbang. Sedangkan Aura dan Afra masih diam di tempat setelah mereka bertiga pergi ke asal suara ledakan itu. Aura menyadari Afra yang ketakutan.
"Ayo, Afra!" ucap Aura langsung menggenggam tangan Afra dan menariknya.
Afra hanya bisa terdiam dan menurut. Aura dan Afra pun berlari menyusul Yuu, Iylasvi, dan Phia ke asal suara ledakan tadi. Namun, mereka terkejut saat sudah sampai di tempat suara itu berasal.
"Sialan!" umpat Yuu yang datang pertama di tempat asal suara ledakan itu. Kobaran api biru gelap membuat langkahnya terhenti, begitu juga dengan Iylasvi, Aura, dan Afra yang baru saja sampai.
Phia yang terbang di atas terkejut saat melihat Vendry dan Sira yang berada di sisi lain kobaran api biru gelap itu. Vendry dan Sira sedang melawan ribuan monster sihir berukuran kecil.
"Black fire!" teriak Vendry langsung menebas semua monster sihir dihadapannya.
"Es penghancur!" teriak Sira juga langsung menghabisi monster-monster sihir yang belum terkena serangan Vendry.
Meski monster-monster sihir itu sudah terbunuh karena serangan Vendry dan Sira, tetapi mereka berdua terlihat kewalahan. Phia yang melihatnya langsung turun ke bawah dan menghampiri mereka. Yuu yang melihatnya langsung terkejut dan menoleh ke arah Aura.
"Cepat! Teleportasi!" perintah Yuu dengan tegas dan dibalas anggukan oleh Aura.
Lingkaran sihir pun keluar di bawah kaki keempat gadis itu.
"Terepōto!" ucap Aura langsung memindahkan mereka berempat ke tempat Vendry, Sira, dan Phia berada. Ya, di sisi lain kobaran api biru gelap itu.
Suasananya terlihat sangat-sangat … tidak bisa diungkapkan. Semuanya terbakar dan membeku karena serangan Vendry dan Sira. Phia terlihat sedang mengawasi sekeliling dan memegang tongkat. Dan monster-monster sihir terlihat mengepung mereka bertiga.
__ADS_1
Sontak Aura, Yuu, dan Iylasvi terkejut tak percaya. Sedangkan Afra … ia masih ketakutan dan sekarang ia sudah benar-benar tak bisa apa-apa. Entah kenapa ia merasa tidak tenang dan terus gemetar ketakutan.
"Kenapa … aku terus ketakutan seperti ini?" batin Afra bertanya-tanya sambil berusaha untuk tetap tenang, "kenapa?"