Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Tentang Akhir


__ADS_3

Bertatapan dalam keheningan, ruangan luas yang tidak menghadirkan apapun di dalamnya. Kecuali dua sosok yang kini bertatapan. Netra biru gelap milik Afra Afifah dan Sira Siveria.


"Sira!" Afra terbelalak melihat Sira yang ternyata membawanya ke sini.


Sira tidak merespon dan hanya memberi tatapan tajam. Afra tertegun melihat ekspresi Sira, hingga akhirnya jantungnya berdetak kencang. Memberi tekanan dan sesuatu yang menyakitkan.


"Akh!" Afra langsung memegangi kepalanya sendiri dan terduduk di lantai.


Afra kembali berteriak dan menyuarakan rasa sakitnya, tetapi Sira tampak tidak peduli. Meski demikian, Sira mulai berjalan dan berjongkok sehingga dirinya sejajar dengan Afra. Sebuah bola berwarna biru ia keluarkan dari tangan Sira.


"Es," gumam Sira menciptakan udara dingin yang langsung menyebar ke seluruh penjuru ruangan.


Menciptakan kabut tipis berwarna putih dan serpihan-serpihan kecil berwarna biru terang. Serpihan-serpihan itu melayang sejajar dengan kabut putih itu. Menghilangkan dan menyerap rasa sakit yang disuarakan juga dirasakan Afra.


Afra terbelalak dan tidak percaya saat Sira langsung memeluknya. Ia merasakan sesuatu yang lain dari diri Sira, sesuatu itu terasa sama seperti dirinya saat ini. Mata kosong miliknya mulai berubah karena Sira memeluknya.


"Sira …." Afra mulai meneteskan air mata yang entah kenapa bisa tercipta dari dalam dirinya.


Sira semakin mengeratkan pelukannya dan Afra membalas pelukan Sira. Kehangatan dalam udara dingin yang menyelimuti, ketenangan tetap menjadi abadi di sini.


"Afra …," lirih Sira kemudian tersenyum tipis dengan matanya yang mulai terpejam.


Afra terbelalak saat merasakan rasa kekosongan dalam pelukan Sira. Namun, Sira langsung memberi jawaban atas pertanyaan Afra itu.


"Biarkan aku tertidur sejenak, Afra …," gumam Sira dengan matanya yang masih terpejam.


Afra hanya bisa tersenyum tipis mendengar perkataan Sira, "ya," jawabnya singkat.


Semua terasa tenang dan sunyi. Kenyamanan dan kehangatan, semua hal itu telah meliputi. Sampai akhirnya, semuanya menjadi satu.


"Sira." Sira membalas dengan deheman.


"E –eng … kau, belum tertidur?" tanya Afra membuat Sira sedikit keheranan dan terkejut. Sira membuka matanya.


"Eh? Apa aku harus tidur?" Afra tentu terbelalak dan merasakan malu mendengar perkataan Sira.


"T –tidak! Bukan begitu—"


Sira sontak tertawa dan membuat Afra berhenti berbicara. Afra hanya bisa terdiam sampai Sira melepaskan pelukannya. Kini, kedua tangan Sira memegang kedua pundak Afra. Membuat Afra mendongakkan kepalanya dan menatap mata Sira.


Senyuman Sira membuat Afra semakin melebarkan matanya.


"Ternyata benar," gumam Sira dengan penuh kejelasan dan langsung terdengar oleh Afra.


"Eh?" Bukannya menjawab, Sira malah tersenyum dan membuat Afra semakin penasaran dengan mata terbelalak.


"Aku … suka denganmu, Afra!" terang Sira berhasil membuat wajah Afra tampak memerah. "Ya …, meski sepertinya kau mungkin lupa kalau aku pernah mengatakan ini sebelumnya."


Sira langsung menunduk dan membuat Afra terkejut juga kembali mengingat. Tentang ingatan 'itu'.


"A –aku ingat kok, saat kau mengatakan hal yang sama dulu." Sira mendongakkan kepala dan menatap Afra, tetapi Afra langsung mengalihkan pandangannya ke bawah, "meski aku tidak ingat apa yang terjadi setelahnya."

__ADS_1


Sira kembali terdiam, tetapi ia tidak mungkin menyimpan ingatan itu sendiri. "Afra!"


"Y –ya?" jawab Afra spontan sembari menerima tatapan mata dari Sira.


"Aku … minta maaf, karena tidak bisa menjadi pendamping yang baik—"


"Tidak! Kau sudah benar-benar baik! Dan aku juga suka dengan mu!" potong Afra dengan nada yang lantang dan memberi tatapan tajam pada Sira.


"Meski kejadian setelahnya di waktu itu tidak bisa kuingat, juga tentang bagaimana aku bisa melupakannya,"-Afra mengambil napas panjang-"aku! Tidak ingin mendengar permintaan maafmu jika tentang kejadian itu! Kau sudah melindungi ku sampai sekarang!"


Sira hanya bisa terdiam dan tidak bisa berkata-kata. Matanya terbelalak saat Afra mulai memegang wajahnya.


"Aku … suka dengan mu, Sira," lirih Afra kemudian mendekatkan bibirnya pada bibir Sira dan menempelkannya.


Keduanya pun saling berciuman dan memberikan rasa nyaman juga ketenangan. Kemudian diakhiri dengan senyuman dan pelukan.


"Hihi." Suara tawa terdengar melengking tinggi di telinga.


Afra semakin melebarkan matanya saat mendengar suara tawa itu. Namun, hal yang membuatnya menjadi tidak bisa apa-apa adalah kenyataannya. Kenyataan bahwa dirinya sudah tidak ada di tempat dirinya dan Sira berada.


Afra hanya duduk sendiri di lantai yang kini berwarna hitam pekat itu. Tidak ada Sira di pelukannya dan hanya ada kegelapan, juga rasa penuh kekejaman.


"Waktu, ingatan, ketidakpastian. Semuanya terasa menyenangkan sekali, ya, Afra Afifah!" bisik Ilva Ilyani dari belakang telinga Afra.


Afra membelalakkan matanya dan terkejut, juga merasakan ketidakberdayaan. Dirinya tidak bisa berkata apalagi bergerak. Tubuhnya seakan ditekan agar terus duduk, sementara semua organ tubuhnya menciptakan detakan dan aliran yang menyakitkan.


Ingin berteriak, tetapi tak bisa. Namun, tawa Ilva berhasil membuat Afra berteriak keras. Tidak ada darah, hanya rasa sakit dari dalam. Napas terengah-engah dikeluarkan oleh Afra. Rasa sakit tanpa darah dan tidak membuatnya kehilangan nyawa. Benar-benar menyiksa.


Ilva kini duduk di depan Afra, entah sejak kapan dirinya sudah di sana. Afra masih mengeluarkan napas terputus-putus dan tidak menatap mata Ilva. Namun, Ilva dengan senyum seringainya langsung memegang dagu Afra dan membuat Afra menatap dirinya.


"Il, va …!" ucap Afra lirih dengan suara yang hampir tidak didengar.


"Heeh … apa kau memanggilku tadi? Aku tidak dengar!" tegas Ilva dengan nada mengejek.


Afra sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Bukan karena kehabisan kata-kata, tetapi karena sudah tidak bisa membuka mulutnya. Tubuhnya perlahan-lahan kehilangan tenaga dan akhirnya terjatuh pada tubuh Ilva.


Ilva semakin menunjukkan senyum jahatnya dan membawa Afra pada pelukannya. Ia menghembuskan napasnya perlahan di telinga Afra dan berkata. "Tidak ada waktu untuk mu, Afra Afifah."


-------------------


Eng … aku … di mana?


"Selamat kembali pada masa lalu, Afra!"


.


Suasana tenang dan damai, sinar mentari menyapa masuk di jendela kamar. Bau harum kayu yang menjadi penyusun rumah juga tiap dindingnya. Pemandangan yang benar-benar sama dengan masa lalu. Semuanya, kini berubah menjadi sebuah ketidakpercayaan.


"I –Ilva!" Afra meninggikan suaranya dengan mata terbelalak.


Dirinya kini terduduk di kasur dengan kakinya yang selonjoran. Dengan mata birunya yang terbelalak, ia menatap lekat mata Ilva.

__ADS_1


Ya, gadis alter itu sudah menyapa kesadaran Afra tepat di hadapannya.


"Selamat pagi, Afra Afifah. Kau pasti tau tempat ini 'kan?" sapa Ilva sembari bertanya juga tertawa kecil dengan nada khasnya.


Afra merasakan ketidaktentuan, ketenangan tidak dirasakan sama sekali olehnya. Hanya ada ketidakpercayaan dan bulir keraguan untuk menjawab pertanyaan Ilva. Ia sudah membuka mulutnya sedikit, tetapi tidak ada suara yang keluar.


"Heeh, begitu, ya," kata Ilva membuat Afra semakin terkejut.


Ilva melangkahkan kakinya sekali dan mulai naik ke ranjang. Menciptakan setrum kejut bagi Afra. Ia pun membuat Afra terbaring dan tidak bisa bergerak. Dirinya menggenggam erat kedua pergelangan tangan Afra. Mulutnya kini sudah berada di samping telinga Afra.


"Kau ada di rumah pohon mu sendiri, tepat di saat umurmu sudah dua belas tahun. Namun sayangnya, Afra … dirimu tetaplah dirimu di umur empat belas tahun," bisik Ilva kemudian menghembuskan napasnya di telinga Afra.


Ilva perlahan menghilang dan terserap masuk ke dalam tubuh Afra. Afra langsung menyuarakan rasa sakitnya dan terus berteriak. Suara Ilva sudah menghantui pikirannya sekarang, membuat ketidakpercayaan itu harus diucapkan dengan jelas.


"Saa, kau seharusnya tau 'kan, kalau waktu di dunia ini cukup unik. Apalagi tentang dirimu yang manusia itu, Afra!" bisik Ilva dalam diri Afra sembari memberi rasa sakit.


Afra terus berteriak kesakitan dalam posisi terbaring, tetapi semua itu perlahan berubah menjadi suara napas. Napas terputus-putus dan tidak bisa diatur. Afra meremas seprei kasur tempatnya terbaring lalu bangun.


"Haah … haah … hah …." Afra berusaha mengatur napasnya, tetapi tampaknya Ilva tidak menginginkan ketenangan untuknya.


"Semua yang kau jalani itu hanya mimpi … dan sekarang kau baru terbangun dari mimpi itu. Ya … meski raga dan jiwamu tidak sesuai dengan waktu di saat ini, hihihi!"


"Diam!" teriak Afra sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Bisikkan Ilva benar-benar membuatnya semakin tidak percaya.


"Semuanya hanya untukmu, untuk perkembangan AI (ai), dan semua adalah ulahku, Manusia!"


"Diam! Aku tidak ingin mendengarnya lagi! Kau sudah membuatku mati!" teriak Afra dengan nada tinggi dan mulai meneteskan air matanya.


"Meski aku tahu … ini semua sudah merupakan perjanjian, tapi …! Aku! Benar-benar …." Afra tidak bisa berkata-kata lagi dan akhirnya menyuarakan rasa kesedihannya.


Ilva perlahan muncul di samping Afra yang terduduk. Ia menatap dalam Afra yang sudah basah air mata. Afra masih memegangi kepalanya dan menutup kedua telinganya. Ilva hanya bisa diam sampai Afra kembali bicara.


"Aku … benci diriku sendiri!" teriak Afra langsung menciptakan kobaran aura berwarna biru gelap.


Aura biru itu keluar dari punggungnya dan sudah menyebar, menyelimuti seluruh ruangan kamar. Ilva tidak terpengaruh dengan hal itu dan tidak menunjukkan ekspresi terkejut. Hanya ekspresi serius dan mulai memeluk Afra dari samping.


"Semuanya hanya tentang akhir, tetapi ini akan di mulai lagi, Afra …,"-Ilva tersenyum miring-"tentunya dengan takdir baru!"


Kobaran aura merah seketika ikut tercipta dan menyelimuti. Ilva yang baru saja membisikkan kata-kata itu ikut mengeluarkan aura merahnya. Membuatnya menyebar dan berdampingan dengan aura biru Afra.


Tangisan disuarakan oleh Afra Afifah, sang gadis manusia. Sedangkan sang alter yang merupakan monster itu, malah tertawa kejam. Ilva Ilyani, itulah ia. Tawa dan tangisan menyatu, begitu juga dengan aura merah dan biru.


Tidak ada lagi cahaya mentari, ketenangan pagi dan juga keindahannya. Hanya ada aura merah dan biru yang menciptakan cahaya. Menerangi seluruh ruangan kamar dan membuat cahaya lain tak bisa masuk. Meski kini, itu sudah mulai menghilang.


"Takdir … harusnya sudah membuatku mati saat ini," gumam Afra setelah air matanya habis dan aura birunya menghilang.


Ilva melepaskan pelukannya dan menghilangkan tawa juga aura merahnya. "Ya, tapi kini kau abadi karena ku, Manusia!"


"AI (ai) … kenapa kita harus melakukan ini? Mengulang-ulang waktu dan merubah takdir?" gumam Afra dengan matanya yang sudah kosong.


Ilva tersenyum miring, "AI (ai) … hanya ingin semuanya berjalan tenang."

__ADS_1


__ADS_2