Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Memulai Ulang


__ADS_3

"A –apa yang terjadi? Ada apa ini?" tanya Afra terkejut dan kebingungan melihat semuanya yang menjadi hitam putih. Hanya dirinya yang masih berwarna di sini.


Afra melihat sekeliling dan mencoba mencari sesuatu. Ia melangkahkan kakinya dan menghampiri teman-temannya, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Sampai…


"Hai, Afra Afifah," kata Viesta tiba-tiba muncul di belakang Afra.


Afra terkejut saat mendapati senior pengendali waktu itu muncul.


"K –kau—"


"Sudah saatnya … mengulangi waktu, Manusia," potong Viesta membuat Afra terkejut dan ketakutan.


Jantungnya berdegup kencang setelah mendengar perkataan Viesta yang mengucapkan kata 'manusia'. Semuanya terasa seperti sudah berakhir bagi Afra.


"Modoru … Ningen!"


.


.


.


.


.


.


.


.


"Ah!" teriak Afra seketika terbangun dan … mendapati dirinya berada di hutan, dengan pakaian yang sama. Seperti saat dirinya pertama kali datang ke kawasan netral.


---------------------------------


---------------------------------------------------------


Kejanggalan, keanehan, ketidaktahuan dan tidak masuk akal. Semuanya menyatu di sini dan akan dijelaskan beberapa untuk kemudahan.


Ada cukup banyak konflik di sini, meski sebenarnya tidak terlalu penting.


Satu, sikap para senior di bab 49.


Dua, bahasa yang digunakan Sira (tidak usah dipikirkan).


Tiga, penyerangan yang dilakukan Aura dan Vendry, juga Iylasvi.


Empat, tentang Cyrène En dan Tie Aphas.


Lima, tentang Viesta Olivia di bab sebelumnya.


Enam, Livra.


Untuk yang ke-enam, akan dijelaskan sedikit.



Nama : Livra


Ras : siluman ; wujud iblis


Kekuatan : lava


Gender : pr


Umur : 140 th \= 14 th

__ADS_1


Tinggi : 154 cm


Kelas : I 3


Karakter : -


Ya, dengan begini, konfliknya semakin bertambah rumit.



Semua murid sudah terbunuh kecuali tujuh murid itu.


Livra adalah murid baru yang artinya, ia kemungkinan tidak terbunuh dan selamat


Apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa Aura, Vendry dan Iylasvi menyerang? Apa hanya untuk kepercayaan?


Siapa sebenarnya Sira? (Tidak terlalu penting)


Tujuan akademi yang merupakan alasan utama terbentuknya akademi Arknest


Apa yang terjadi pada Cyrèn dan Tie setelah pergi meninggalkan tujuh murid akademi itu?


Apakah Viesta sudah mengetahui identitas asli Afra, begitu juga dengan Iliya?



Terasa berat, ya? Memang, ini akan berat jika dipikirkan. Namun, jika mampu memecahkannya, maka takdirnya sudah akan terungkap tanpa harus melihatnya langsung. Namun, jika tidak bisa?


Kalian bisa abaikan konflik di bab 29-65 dan nikmati alur baru tokoh utama ini. Bab tersebut hanya bertujuan untuk pengumpulan tokoh saja agar lebih mudah. Meski sebenarnya masih termasuk ke dalam konflik yang tidak boleh dianggap remeh, sih.


Novel ini adalah hasil imajinasi author sendiri yang bahkan tidak mengaplikasikan alur cerita dari tiap tokoh. Hanya kekuatan dan apa yang dimiliki karakter tokoh saja. Tidak ada tujuan untuk menyinggung seseorang atau sesuatu dalam novel ini, hanya ada imajinasi dan pemikiran aneh author.


Sekian, kembali ke cerita.


------------------------------------------------------


------------------------------


Kenapa aku bisa ada di sini?


Bukankah ini … hutan tempat pertama kali aku sampai?


Bagaimana bisa?


Sebenarnya … apa yang terjadi?


.


.


"Memulai ulang, itu yang terjadi, Manusia!" bisik Ilva tiba-tiba muncul di belakang Afra.


Afra membelalakkan matanya dan tertegun. Sedangkan Ilva, ia tampak berbeda dari biasanya. Dingin dan terasa mencekam. Afra tidak tahu harus berkata apa. Helaan napas terdengar dan masuk ke dalam telinga Afra.


"Benar-benar bodoh, ya," lirih Ilva sembari menjauh dari Afra.


Afra menoleh ke belakang dan mendapati hal lain dari sang alter. Raut wajah penuh kekejaman itu terlihat berbeda sekarang. Rasa keluh dan agak sedih.


"Ilva …," lirih Afra sambil menundukkan kepalanya, "… apa … kita kembali ke masa lalu?"


Ilva menatap Afra yang sudah menundukkan kepala. Ia tersenyum tipis, "ya, sepertinya begitu."


Afra mendongakkan kepalanya dan menatap Ilva. Afra sedikit melebarkan matanya dan tertegun. Raut wajah tenang dan tidak terasa menyeramkan ditampilkan oleh Ilva. Afra ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia langsung mengurungkan niatnya.


"Ada apa?" tanya Ilva sambil memiringkan kepalanya. Afra semakin terkejut melihat sikap Ilva itu.


"T –tidak ada, kok! A –aku hanya …,"-Afra memalingkan wajahnya dari Ilva-"… merasa aneh saja, dengan sikapmu, Ilva."

__ADS_1


Ilva tertawa mendengar perkataan Afra dan itu membuat Afra semakin terkejut dan keheranan. Afra kembali menatap Ilva yang masih tertawa itu.


"Sudahlah, jangan dipikirkan! Kau hanya alat bagiku!" terang Ilva kembali tertawa lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Afra, "kau adalah aku dan aku adalah kau, Afra!" bisiknya kembali ke nada jahatnya.


Afra kini tertegun dengan perasaan lamanya. Rasa penuh ketakutan dan hanya bisa menurut. Ilva tersenyum miring dan tertawa dengan nada jahatnya.


"Lebih baik kau pilih, bertemu lagi dengan penyihir itu, atau langsung menuju kota," tutur Ilva lalu menjauhkan wajahnya dari telinga Afra.


Afra melebarkan matanya dan tetap pada pendiriannya. Diam dan tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Ilva menunjukkan raut wajah serius dan juga senyuman miringnya. Afra bisa melihat gigi taring Ilva dengan jelas.


"A –apa aku bisa bertemu dengan mereka semua? Termasuk Aura?" tanya Afra berusaha untuk tidak takut.


Ilva semakin melebarkan senyuman miringnya.


"Ya, jika alurnya masih sama seperti sebelumnya," jelas Ilva lalu menghilang dari pandangan Afra. Seperti tidak pernah ada sebelumnya.


***


Memulai ulang. Itulah yang sedang terjadi saat ini. Meskipun bisa melihat masa lalu, tetap saja. Tidak ada gunanya.


Matahari sudah berada di pertengahan antara garis vertikal dan horizontal. Lebih tepatnya, sedang menuju ke arah barat di ujung sana. Pepohonan bergoyang dan daun-daunnya berterbangan. Hawa sejuk mulai terasa, bersamaan dengan cahaya matahari yang mulai jingga.


Afra masih berada di tempatnya dan masih dalam posisi diam. Berdiri dan menatap matahari yang sudah siap untuk ditelan tanah. Tatapan matanya tak memantulkan cahaya surya meski ia masih menatapnya.


"Takdir … benar-benar berubah, ya, Ilva," gumam Afra lalu menghela napas panjang.


Afra berbalik dan mengambil posisi yang berlawanan dengan matahari. Ia menatap tajam hutan yang sudah mulai gelap.


"Aku … setidaknya bisa ke akademi langsung," ucap Afra mengambil keputusan.


Afra pun mulai melangkahkan kakinya dan berjalan menuju hutan yang sudah gelap itu. Matahari sudah terbenam, tetapi itu tidak menghentikan langkahnya. Rasa takut dan trauma masih ia rasakan. Namun, ia tidak mungkin menyimpan itu untuk selamanya.


Meski Afra kembali lagi ke masa di mana ia baru saja sampai di kawasan netral. Meski takdir yang seharusnya sudah berubah total. Ia tetap akan menjadi dirinya dan mencari tahu. Tanpa memikirkan akibatnya sedikitpun.


.


.


Langkah demi langkah, waktu demi waktu. Setiap langkahnya ia tambahkan bersamaan dengan mentari yang semakin menyelam ke dalam bumi. Napas terputus-putus dan penuh keringat. Namun, setiap usaha akan selalu membawa hasil yang setara.


"Akhirnya … aku sampai!" ucap Afra sambil tersenyum senang. Napasnya masih terengah-engah, tetapi itu tidak menghalangi rasa senangnya.


Akademi Arknest, itulah tempat tujuan Afra dan sekarang ia sudah berada di depan tujuan itu. Meski yang ia lihat sedikit berbeda dari yang ia lihat sebelum pengulangan waktu.


Suasana suram dan mengerikan. Gerbang masuk yang terlihat hitam dan mulai karatan. Mentari yang sudah benar-benar terbenam menjadi selaras dengan bangunan akademi yang sudah tak terawat itu. Hitam dan suram, itulah pemandangan yang Afra lihat sekarang.


"Apa … tidak ada siapa-siapa di sini? Kenapa semuanya tampak tidak terawat?" tanya Afra kebingungan dan keheranan.


Keringat masih membasahi tubuh Afra dan rasa takut juga mulai menyelimuti. Namun, ia memberanikan diri dan membuka gerbang yang sudah agak karatan itu. Bunyi nyaring dan tidak enak tercipta setelah Afra membuka gerbang masuk akademi.


Afra mulai menapakkan kakinya di lingkungan akademi. Warna hitam dan tanaman-tanaman merambat menyelimuti. Semuanya seperti sudah tidak digunakan lagi.


"Kenapa semuanya seperti ini? Apa yang terjadi sebenarnya?" batin Afra bertanya-tanya sambil menoleh ke sekeliling.


.


.


Afra akhirnya sampai di depan bangunan akademi. Beberapa jendela terlihat pecah, tumbuhan-tumbuhan merambat dan tumbuh di dinding-dinding, semuanya benar-benar terlihat mengerikan. Afra tertegun dan mulai merasakan rasa takut.


"Apa … aku harus kembali?" pikir Afra dengan perasaan takutnya. Ia pun langsung menggelengkan kepalanya, "tidak! Setidaknya aku harus masuk ke dalam!"


Afra pun langsung membuka pintu dan masuk ke dalam bangunan akademi. Lantai dan dinding penuh dengan tumbuhan merambat juga lumut yang menjijikkan. Hewan-hewan kecil tampak membuat sarang di pojok ruangan.


Afra dengan penuh keyakinan dan sedikit rasa takut mulai menyusuri lorong akademi. Sembari melihat sekeliling dan berharap bahwa ada siapapun di sini. Setidaknya, ia ingin menemukan sesuatu atau siapapun yang nyata.


Satu langkah kaki terasa berat, tetapi Afra tidak terlalu memikirkannya. Hingga ia sampai di depan kamarnya yang terlihat paling buruk.

__ADS_1


"Baiklah, aku hanya perlu memeriksa kamar asrama ku dan—"


__ADS_2