
"Black assassin!" teriak Yuu tiba-tiba muncul di belakang werewolf perempuan itu. Pedang hitamnya sudah siap memenggal kepala werewolf bernetra orange itu.
"White assassin," lirih werewolf perempuan itu seketika langsung berubah menjadi asap hitam. Serangan Yuu tak berhasil mengenainya. Hanya satu detik, kesempatannya langsung lenyap.
.
.
"Kemampuan tingkat putih," ucap werewolf perempuan itu langsung muncul dihadapan Yuu dan mengambil jarak yang cukup jauh dari werewolf berambut putih itu.
Yuu mulai mengepalkan tangannya. Pedang hitamnya mulai diluruskan. Yuu memegang pedangnya dengan arah vertikal menuju ke bawah, lalu ia tutupi sebelah matanya dengan pedangnya itu.
Sedangkan, werewolf perempuan itu langsung menghilangkan dua surat di tangannya dan langsung mengubahnya menjadi ranting kecil. Ya, seakan-akan dua surat itu berubah bentuk menjadi ranting kecil yang kini dijepit di antara bibirnya.
"Assassin time!" ucap dan batin kedua werewolf itu. Seketika, bayangan hitam dan putih melesat dan bertemu di titik tengah atap bangunan. Angin kencang berhembus dari pertemuan kedua bayangan itu.
Afra menutup matanya dan kembali membukanya. Berkedip-kedip menghilangkan debu yang masuk. Ia benar-benar terkejut dan tak percaya melihat kedua werewolf itu sekarang berhadapan.
Pedang hitam yang ditahan dua jari, Yuu benar-benar tak percaya melihatnya. Werewolf perempuan itu benar-benar di atasnya! Raut wajahnya yang tenang membuat Yuu hampir termakan amarah.
"Heeh, kau—"
"Bicara menyia-nyiakan kesempatan," potong werewolf perempuan itu dengan nada dingin, dengan mulutnya yang sudah memotong ranting kecil yang dijepitnya itu.
Werewolf itu dengan cepatnya langsung menjepit pedang hitam Yuu dengan dua jarinya dan menariknya dari tangan Yuu. Kecepatannya membuat Yuu terbelalak. Pedangnya langsung terlempar ke langit dan menutupi sinar matahari.
Yuu yang terfokuskan pada pedang hitam di atas kepalanya itu tak sadar kalau werewolf itu sekarang berada di belakangnya. Dan … tendangan keras langsung mengenai tubuh Yuu dan mendorongnya jauh ke tepi bangunan.
Pedang hitam itupun kembali ke bawah, dan langsung dijepit ujungnya yang tajam oleh werewolf bernetra orange itu. Seakan-akan, berat dan tajam pedang hitam itu bukanlah apa-apa baginya. Hanya dengan dua jarinya, ia langsung melemparkan pedang hitam itu ke arah Yuu.
Yuu yang terbaring di tepi bangunan tidak bisa apa-apa, dan tidak punya waktu untuk menghindari pedang hitamnya yang mengarah pada dirinya itu. Matanya hanya bisa terbelalak dan membayangkan dirinya yang akan terbunuh. Namun…
"Fraiiriya!" ucap Afra lirih dan penuh nada serius. Seketika, rantai-rantai berwarna putih muncul dan mengikat pedang hitam Yuu.
Tidak ada satu detik ataupun dua sekon, rantai berwarna putih itu muncul bagai ilusi mata. Tanpa asal, dan langsung menunjukkan dirinya tanpa aba-aba.
Yuu dan werewolf perempuan itu terkejut dengan mata melebar. Tak percaya dan tak disangka. Pedang hitam Yuu pun terjatuh tanpa mengenai pemiliknya, dan rantai putih itu langsung menghilang. Seakan tidak pernah ada sebelumnya.
Werewolf berambut hitam itu menoleh ke arah Afra yang … terlihat serius itu. Tatapan matanya kosong, tetapi ia terasa menusuk. Kedua tangannya yang masih menggenggam rantai putih yang hampir transparan, membuat werewolf perempuan itu tersenyum tipis.
"Monster, ya," ucap werewolf perempuan itu lirih dan penuh teka-teki, tetapi…
Bicara itu menyia-nyiakan waktu.
Tak mau kalah cepat, Yuu langsung bangkit dan mengambil pedang hitamnya yang tergeletak itu. Ia langsung maju dan mengarahkannya tepat di leher werewolf perempuan itu. Tidak, bukan di belakang, melainkan dengan … posisi memenggal dari belakang.
Pedang hitamnya tepat di depan leher werewolf hitam. Werewolf hitam itu hanya bisa diam tak bergerak, sedangkan si werewolf putih tersenyum miring.
__ADS_1
"Bicara juga menyia-nyiakan waktu, Tie Aphas!" kata Yuu dengan tegas dan mulai menyentuh leher werewolf itu dengan pedangnya yang tajam.
Darah keluar dari leher werewolf itu, tetapi … werewolf itu malah tersenyum.
"Aku kalah denganmu, Yuu," ucap Tie Aphas, werewolf perempuan bernetra orange itu sambil mengangkat kedua tangannya.
Mata Afra yang sebelumnya menatap tajam tanpa paparan cahaya mulai … kembali normal. Netranya menampilkan pantulan cahaya yang membuatnya hidup. Namun, ia terkejut, setelah melihat apa yang ada dihadapannya.
Yuu dengan cepat langsung menarik pedangnya dan melapisinya dengan sarung pedang. Sedangkan Tie, werewolf perempuan itu langsung menurunkan tangannya dan membersihkan darah yang mengalir di lehernya.
"Apa … yang terjadi sebenarnya?" tanya Afra penasaran dan keheranan melihat kedua werewolf itu.
Si putih hanya tersenyum tipis, sedangkan sang hitam kembali mengeluarkan ranting kecil di tangannya dan menjepitnya di antara bibirnya. Afra hanya bisa diam dengan wajah bertanya-tanya pada keduanya.
Apa … aku melupakan sesuatu? Kenapa aku tiba-tiba lupa? batin Afra bertanya-tanya. Dan…
.
.
.
Suara ledakkan tiba-tiba terdengar sangat keras. Afra langsung menoleh ke belakang, dan melihat … es raksasa yang menjulang tinggi di kejauhan. Tidak, bukan masalah dekat atau jauh, tetapi … es itu berada di tengah-tengah kota!
Angin kencang langsung berhembus di antara telinga Afra. Bayangan hitam dan putih melesat melewati dirinya dan melompati atap-atap rumah dan bangunan. Ya, kedua assassin itu sudah mengambil langkah tanpa mempedulikan Afra yang masih mencoba menelan keadaan.
***
Matahari sudah condong ke arah barat, dan menandakan dirinya yang sudah siap tenggelam. Meski, di tempat lainnya ia akan terbit dan bersinar.
Ini adalah kejadian, di waktu yang sama. Saat … semuanya mencari assassin, yang ternyata adalah Tie Aphas. Werewolf perempuan bernetra orange yang sepertinya sudah Afra temui sebelumnya.
Ya, tentu yang lain tidak mengetahuinya, dan … kembali ke waktu sebelumnya.
.
.
.
Sebelumnya…
Ini adalah waktu yang sama, saat Afra sedang berlari menuju bangunan tempat Tie berada.
Werewolf putih bernetra biru terlihat sedang melesat bagaikan angin. Ya, bayangan putih tercipta dari kecepatannya melompati atap-atap bangunan. Pedang hitamnya yang sudah siap ia tarik membuatnya menjadi … ah sudahlah.
Yuu dengan tajam menatap sekelilingnya sembari melangkahkan kakinya secepat angin. Meski arah angin selalu berlawanan dengan makhluk-nya, kedua telinganya terus bergoyang dan mendengarkan hal-hal disekitarnya. Dan…
__ADS_1
"Aku mendapatkan mu, Assassin!" batin Yuu bagai api yang berkobar dan mulai menyebarkan dirinya.
Bersama angin kencang yang berhembus melawan tubuh Yuu, ia langsung berbalik dan membalikkan arah angin dengan kecepatannya. Ia kembali ke arah yang sebelumnya ia lewati setelah … berhasil menemukan keberadaan assassin, Tie Aphas.
Ya, itu menjelaskan bagaimana Yuu bisa tiba-tiba sampai di tempat Afra berada.
***
Sedangkan, di tempat penyihir hijau.
Tubuh kecil, muka menggemaskan, rambut hijau pendek, dan berasal dari ras penyihir. Tongkat kayu yang bisa dialihfungsikan menjadi alat terbang, dan … netranya yang berwarna seperti nyala api dalam kegelapan.
Membuat semuanya … bisa salah paham jika memikirkan karakternya.
Iylasvi, penyihir kecil yang sekelas dengan Aura itu … sekarang sedang duduk dan … memakan makanan yang dibelinya di pasar kota. Eh?
"Hm, enak sekali! Aku akhirnya lupa kenapa aku ke sini!" ucap Iylasvi dengan santainya memakan habis semua makanannya dalam sekali gigitan.
Sembari menjilati sisa-sisa makanan di jarinya, Iylasvi memperhatikan sekelilingnya. Kristal-kristal berwarna muncul di atas kepala makhluk-makhluk yang dilihatnya. Ya, warna setiap kristal yang ada di atas kepala makhluk-makhluk itu berbeda-beda.
Semuanya, warna yang lebih banyak muncul hanyalah warna merah.
"Hanya ada pembunuh, ya," gumam Iylasvi lirih, dan dengan … nada bicaranya yang terdengar tajam.
***
Ke tempat berikutnya, yaitu ras siluman sihir.
Karakteristik nya berambut biru panjang dengan sepasang tanduk di kepalanya, netra bagai kilatan petir dan wajah jantannya yang tetap terlihat meski rambutnya bagaikan perempuan itu, memberikan kesan yang mendalam baginya.
Sira Siveria, makhluk yang mendapatkan ras gabungan antara penyihir dan siluman, dan … memiliki mental yang aneh. Emosi membuatnya berkata-kata hal aneh, dan pembekuannya memberi kesan acuh tak acuh dalam setiap tindakannya.
Tak peduli dengan lingkungan, Sira berjalan dengan santainya sembari melirik dan menatap makhluk-makhluk yang berjalan berlawanan dengannya. Kedua tangan yang dimasukkan ke saku membuatnya semakin terasa dingin dan beku.
Sampai…
.
.
.
Tatapannya bertemu dengan siluman perempuan berambut ungu panjang. Netra merah, dan memiliki sepasang tanduk di kepalanya. Dan juga … ekspresi wajahnya yang selalu memberi kesan menipu.
Pertemuan kembali, dan hanya berdua. Siluman perempuan, dan lelaki siluman sihir. Senyuman tipis tercipta di wajah sang pr.
"Ara, sedang mencari-cari sesuatu, ya … Murid akademi?"
__ADS_1