Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Sabit Putih


__ADS_3

Malam sudah tiba, dan Afra kini sudah kembali ke asramanya. Bulan hari ini bersinar terang, seperti biasa. Tidak ada kata-kata untuk hari ini, yang ada hanyalah pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan itu butuh jawaban, sedangkan kata-kata … itu butuh pemahaman.


Intinya hanya satu, apa … yang Afra lakukan sekarang?


.


.


.


Hei … Ilva….


Apa kau bisa datang? Aku mohon….


Aku … ingin melihat mu, Ilva.


.


.


Heeh


"Begitukah?" ucap Ilva langsung muncul di depan Afra dan tersenyum miring. Afra menatap Ilva dengan tatapan kosong.


"Kau … terlihat sama … seperti ku. Hanya saja … kita berbeda," ucap Afra dengan tatapan kosong. Ilva mendekatkan wajahnya ke telinga Afra, "Ya … kau adalah manusia, dan aku adalah monster!"


.


.


Afra pun mulai membuka matanya dan terbangun dari tidurnya. Ia melihat pantulan dirinya di cermin.


"Aku … tidak merasakan apa-apa, sekarang…," gumam Afra memecahkan keheningan malam. Meski hanya suara lirih yang dihasilkan.


Afra pun menoleh ke arah pintu kamarnya. Di sebelah pintu, sabit putih miliknya diletakkan. Afra pun beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju sabit putihnya itu. Afra pun mengambilnya dan mengangkatnya.


"Rasanya … hampa," ucap Afra dengan lirih.


Afra memejamkan matanya, dan menggenggam erat sabit putihnya itu.


"Fairifra!" ucap Afra seketika membuat sabit putihnya itu menghilang dan terserap masuk ke tangannya. Afra tersenyum melihat dirinya berhasil menghilangkan sabit putihnya.


"Akhirnya … selesai," ucap Afra dengan raut wajah senang.


"Yeay! Aku berhasil! Aku berhasil!" ucap Afra bersorak gembira.


Afra benar-benar senang setelah berhasil menghilangkan sabit putihnya. Meski, ada hal mengganjal di sini.


.


.

__ADS_1


.


Ya, yang penting tokoh utama ini sedang senang.


***


Hari esok selalu tiba, meski tak pernah dinantikan. Walau akan selamanya ada halangan, pikiran seakan mewujudkan realita. Terbalik, dan mengulang … adalah cara mewujudkannya. Terkadang, meski itu tidak benar seutuhnya.


.


.


.


Pagi pun akhirnya datang, dan ini sudah satu minggu sejak Afra belajar dan menjadi murid di akademi Arknest. Meski semua gurunya adalah para senior, itu tetap terasa menyenangkan bagi Afra.


Selama satu minggu itu, ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh para murid, termasuk Afra. Namun, kegiatannya tidak di luar, melainkan di dalam. Ya, tentu saja kegiatannya menulis hal-hal tentang sihir dan sejarah dunia bawah.


Afra yang sudah tahu beberapa tentang dunia bawah pun senang karena bisa mempelajarinya lagi. Meski … kebanyakan murid hanya diam dan jarang mengajaknya berbicara.


Ini adalah hari libur, dan Afra sedikit bingung ingin melakukan apa. Ia masih di kamarnya, dan sedang menatap keluar jendela. Meski … pemandangannya berubah lagi.


Ya, berubah. Awalnya, Afra melihat pemandangan bangunan-bangunan yang dibuat dari batu dan ada beberapa makhluk yang berlalu-lalang. Lalu, beberapa hari kemudian, pemandangan nya berubah menjadi pohon-pohon yang terlihat tumbuh tinggi di kejauhan.


Dan sekarang … pemandangan yang terlihat hanya langit biru yang sudah tersinarkan cahaya matahari. Meski begitu….


Indahnya…, batin Afra kagum dan takjub melihat pemandangan matahari terbit dari jendela kamarnya.


"Oh iya!" ucap Afra teringat sesuatu. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri meja belajarnya. Di meja belajarnya, ada dua buku yang diberikan Iliya.


Afra pun mengambil buku yang paling tebal lalu membolak-balikkan lembar tiap lembar halaman buku itu.


"Ini dia!" ucap Afra berhenti membolak-balikkan halaman buku itu. Lembar halaman buku yang dibuka Afra adalah … lembar kosong yang terlihat paling tua dan buruk dari lembar-lembar lainnya.


Afra lalu menyobek lembar halaman itu dari buku dan menutup bukunya.


Mungkin ini akan berguna! batin Afra dengan senang.


Afra pun mengarahkan lembar halaman itu ke arah jendela kamarnya. Cahaya matahari mengenai lembar halaman itu, dan….


"Yeay! Kertas ini kosong!" ucap Afra senang melihat lembar halaman itu tidak mengeluarkan tulisan atau apapun setelah terkena sinar matahari.


"Akhirnya aku bisa menulis sesuatu dengan kertas ini!" ucap Afra dengan senang, dan….


Tiba-tiba lembar halaman yang dipegang Afra langsung menjadi transparan dan menghilang. Afra terkejut dan tak percaya.


"Kebangkitan sudah siap dilaksanakan! Kebangkitan sudah siap dilaksanakan! Kebangkitan sudah siap dilaksanakan!"


A-apa itu? batin Afra bertanya-tanya.


Ya, tiba-tiba ada suara menggema yang muncul dan mengatakan bahwa 'kebangkitan sudah siap dilaksanakan', dan suara itu menghilang setelah tiga kali.

__ADS_1


"A-apa … yang sebenarnya terjadi?" tanya Afra kebingungan dan keheranan.


***


Pagi sudah datang, dan sekarang sudah mulai menjelang siang. Afra kini tidak berada di kamarnya lagi, melainkan … sedang berada di luar akademi. Ya, Afra sedang berjalan-jalan di halaman depan akademi yang hampir mirip dengan taman.


Rasanya … sunyi.


Kenapa aku tidak bisa melihat pemandangan di luar akademi, ya?


Gerbang nya saja jauh dari sini, aku jadi tidak bisa melihat keluar akademi.


Tapi, di sini bagus juga….


Rasanya tenang.


"Afra!" teriak Aura dari lantai atas akademi.


Afra langsung menoleh ke belakang dan melihat Aura di sana, "Aura! Ayo ke sini!"


Aura pun mengangguk dan langsung berlari turun ke lantai bawah dan menghampiri Afra.


Afra menunggu dan duduk di dekat air mancur.


"Hai, Afra!" sapa Aura baru saja sampai. Aura pun langsung duduk di sebelah Afra.


"Hai juga, Aura!" sahut Afra lalu tersenyum. Aura pun tertawa kecil.


"Kau … sedang apa?" tanya Aura memulai pembicaraan. Afra sedikit terkejut karena baru pertama kali mendengar Aura bertanya seperti itu.


"Aku … hanya jalan-jalan saja, aku bosan di kamar," jawab Afra sambil melihat ke langit. Aura tersenyum tipis, "begitukah?"


Afra semakin terkejut mendengar perkataan Aura itu. Ia langsung menatap mata Aura. Aura terlihat berbeda. Ada yang lain dari Aura.


"I-iya," ucap Afra sedikit terbata-bata. Ia masih terkejut dengan perkataan Aura.


Aura tersenyum pada Afra, "baiklah kalau begitu, aku pergi dulu, ya, Afra!"


"A-tunggu!" ucap Afra menghentikan Aura yang sudah beranjak pergi, "a-apa kau ingin menjadi temanku?"


Aura terbelalak lalu kembali tersenyum, "ya, boleh saja."


Afra tersenyum senang mendengar perkataan Aura, "b-benarkah?"


Aura mengangguk lalu tersenyum pada Afra dan … pergi dengan sihir teleportasi. Afra masih senang karena Aura mau menjadi temannya, meski sikap Aura sedikit berbeda.


"Kebangkitan sudah terjadi, dan beberapa baru siap terjadi."


Afra terkejut saat dan langsung menoleh ke belakang. Dan … makhluk dari ras penyihir dengan topi yang terlihat agak berbeda. Pakaiannya berwarna hitam dan rambutnya panjang berwarna putih.


"K-kau … siapa?" tanya Afra pada gadis penyihir itu.

__ADS_1


"Kisami Ki," jawab Kisami, si gadis penyihir itu dengan wajah dingin, "aku murid reinkarnasi di sini,"


__ADS_2