
"Kebangkitan sudah terjadi, dan beberapa baru siap terjadi."
Afra terkejut saat dan langsung menoleh ke belakang. Dan … makhluk dari ras penyihir dengan topi yang terlihat agak berbeda. Pakaiannya berwarna hitam dan rambutnya panjang berwarna putih.
"K-kau … siapa?" tanya Afra pada gadis penyihir itu.
"Kisami Ki," jawab Kisami, si gadis penyihir itu dengan nada dingin, "aku murid reinkarnasi di sini," sambungnya.
Afra terkejut mendengar perkataan Kisami, "r-reinkarnasi? Apa itu?"
Kisami pun langsung berjalan dan pergi meninggalkan Afra yang masih duduk dengan wajah keheranan dan bertanya-tanya. Afra semakin keheranan dan kebingungan. Namun….
"Hei! Jangan main-main kau!"
Suara teriakkan sesosok makhluk dari menara sihir tiba-tiba terdengar di telinga Afra dan membuat Afra terkejut. Afra pun langsung bangun dan pergi ke sumber suara itu.
Tanpa sepengetahuan Afra, Kisami menoleh ke arah Afra yang sudah beranjak pergi menuju menara sihir. Ia melihat Afra dengan tatapan tajam lalu kembali berjalan menuju arah yang berlawanan dengan Afra.
***
Afra pun akhirnya sampai di menara sihir, tetapi langkahnya terhenti saat melihat … Iliya dan Xiania yang sepertinya sedang dalam keadaan tenang petasan.
"Sejak kapan aku main-main, hah! Ini itu serius, Iliya! Serius!" ucap Xiania dengan nada tinggi. Iliya terlihat tidak mempercayai perkataan Xiania.
"Hah? Memangnya kau tau darimana dia kembali?" tanya Iliya mengintimidasi. Xiania mendengus kesal.
"Aku ini hantu! Tentu saja aku tau!" jawab Xiania dengan nada kesal karena Iliya tidak mempercayainya.
Afra yang sedari tadi sudah berdiri di dekat mereka hanya bisa diam saat tahu kalau mereka tidak menyadari kedatangannya. Namun, Afra tidak bisa diam dan menonton saja, kan?
"A-ada apa—"
"Jangan ganggu!" potong Iliya dan Xiania bersamaan. Keduanya langsung menoleh ke arah Afra dan mengatakannya dengan nada kesal, sampai tiba-tiba….
"A-apa itu?" batin Iliya bertanya saat melihat sesuatu di belakang Afra. Ya, aura merah yang menyelimuti tubuh Afra, itulah yang dilihat Iliya.
Sedangkan Xiania, ia malah melihat hal yang berbeda dengan Iliya. Bukan aura merah Afra, melainkan sesosok makhluk yang sedang berjalan menuju ke arah Afra.
"I-itu!" ucap Xiania terbelalak dan menunjuk ke arah makhluk itu.
Iliya pun langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan aura merah yang ada di tubuh Afra pun langsung menghilang dari penglihatannya. Iliya pun ikut terkejut saat melihat sesosok makhluk itu yang sekarang sedang berjalan menghampiri.
"B-bagaimana bisa…!" ucap Iliya ikut terbelalak tak percaya. Afra yang penasaran langsung menoleh ke belakang dan melihat makhluk itu.
"Kisami—"
"Kisami Ki!" potong Iliya dan Xiania bersamaan. Afra baru saja ingin mengatakan namanya, tetapi Iliya dan Xiania sudah mengatakannya lebih lengkap. Sepertinya mereka berdua kenal dengan Kisami.
"Kebangkitan sudah terjadi, dan yang baru akan dimulai kembali," ucap Kisami dengan nada dingin.
***
Waktu terus berjalan, berputar, berlalu, dan tak pernah berhenti. Hanya jam nya saja yang berhenti, waktunya tidak. Mengulangi yang lalu itu tidak mungkin, kecuali jika menceritakan yang lalu, dan kembali mengingat hal-hal yang sudah lalu. Ah, sudahlah!
__ADS_1
Sekarang sudah tengah hari, dan itu artinya ini sudah siang. Afra kini sedang dalam perjalanan menuju kamar asramanya, tentunya tidak sendirian karena … Kisami sepertinya ingin datang berkunjung. Ya, Afra pergi ke kamar bukan karena keinginannya, melainkan Kisami yang membuatnya pergi ke kamar.
"Ki-Kisami, tunggu!" ucap Afra sambil berjalan lebih cepat dan mengejar Kisami yang sudah berjalan duluan.
.
.
Sebelumnya….
"Hei, hei! Kau kemana saja selama ini?" tanya Xiania sambil menepuk-nepuk pundak Kisami, tetapi Kisami hanya diam dan tidak mempedulikannya.
"Aku hampir tak percaya kau kembali, ku kira kau sudah pergi," ucap Iliya masih terbelalak tak percaya, dan Kisami tetap menunjukkan raut wajah yang sama. Dingin dan tak peduli.
"Kebangkitan sudah siap dilaksanakan," ucap Kisami membuat Iliya dan Xiania terkejut, begitu juga dengan Afra.
Kisami pun langsung menarik tangan Afra dan pergi masuk ke dalam akademi. Iliya dan Xiania hanya bisa melihat Kisami membawa Afra pergi dengan wajah kebingungan.
Sekarang….
.
.
"Ini dia," ucap Kisami berhenti berjalan tepat di depan pintu kamar Afra. Afra pun akhirnya bisa menyusul Kisami dan berhenti berjalan dengan nafasnya yang terengah-engah.
Kisami pun langsung membuka pintu kamar Afra dan masuk ke dalam.
Kamar Afra tiba-tiba berubah menjadi ruang hampa berwarna putih. Pintu dan semua yang ada di kamar Afra menghilang. Afra langsung menoleh ke arah Kisami, dan melihat Kisami yang berjalan mendekati jendela kamarnya. Ya, hanya jendela kamarnya yang tersisa.
"A-ada apa ini? Kenapa semuanya menjadi putih?" tanya Afra kebingungan dan mulai gemetaran.
Kisami tidak menjawab dan tetap fokus berjalan sampai sudah benar-benar dekat dengan jendela. Kisami pun langsung menyentuh kaca jendela dan … pecah. Kaca jendela itu pecah dan angin kencang mulai berhembus masuk ke dalam ruangan putih tempat Afra dan Kisami berada.
"A-apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Afra pada dirinya sendiri.
Kisami terlihat tidak terganggu dan tetap kokoh bagaikan benda vertikal abadi. Kisami menutup matanya, dan sesuatu mulai keluar dari tangannya.
"Killing Me!" ucap Kisami dengan nada tinggi. Seketika, sebuah pedang hitam yang terlihat berbeda dengan pedang pada umumnya. Panjang pedang itu hampir menyamai tinggi Kisami sendiri.
Perlahan, angin kencang mulai menghilang … dan ruangan hampa berwarna putih itu kembali menjadi kamar Afra. Afra mulai kembali tenang, dan Kisami pun berbalik ke arah Afra.
"Kebangkitan sudah terjadi, dan sudah berakhir," ucap Kisami membuat Afra terbelalak dan kebingungan.
Kisami pun berjalan melewati Afra dan pergi keluar dari kamar Afra, dengan pedang hitam itu. Afra hanya melihat kepergian Kisami dengan penuh tanda tanya. Sedangkan Kisami….
.
.
.
Ia tersenyum kecil dan mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Kebangkitannya sudah dimulai, dan awalnya sudah terlaksana, ya…," ucapnya dan berjalan pergi.
***
Malam sudah tiba, dan kini Afra sudah tertidur. Kali ini bukan tokoh utama yang diperlihatkan, tetapi kembali kepada dua canda gurau namun serius.
"Kamar mu sekarang di sini, ya, Kisami Ki!" ucap Iliya sambil membukakan pintu kamar asrama yang ada di lantai bawah.
Kisami terlihat diam dan tidak merespon Iliya, meski matanya sedikit melebar.
"Setidaknya katakan sesuatu, dong! Iliya kan tetap senior kita!" ucap Xiania sambil menepuk pundak Kisami.
Kisami lalu menatap mata Iliya, "terima kasih karena sudah memberikan ku kamar lain," ucapnya dengan nada dingin.
Sekarang, Iliya yang tidak merespon perkataan Kisami, dan langsung menunjukkan wajah datar. Xiania yang melihatnya langsung berdeham.
"Sungguh makhluk dari segala makhluk! Seenaknya saja memberikan kamar senior untuk junior!" ucap Xiania dengan nada kesal.
Kisami yang mendengarnya langsung mengarahkan pedangnya ke leher Xiania. Xiania terkejut dan langsung gemetar.
"A-apa kau ingin membunuhku? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya!" ucap Xiania dengan lantang. Kisami pun menurunkan pedangnya.
"Boleh membunuh, asalkan jangan ambil nyawanya, itulah peraturannya," ucap Kisami lalu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya tanpa merasa kalau ada Iliya dan Xiania.
Iliya dan Xiania menghembuskan nafasnya dengan pasrah.
"Rye masih lebih baik darinya, tapi dia juga lebih baik daripada Rye," ucap Iliya dengan lirih.
"Ya, aku iya kan saja," ucap Xiania dengan nada lirih menjawab perkataan Iliya.
Iliya dan Xiania pun pergi dari kamar Kisami, dan saat mereka berdua sudah pergi jauh … Kisami membuka pintu kamarnya sedikit dan mengintip keluar.
"Terima kasih karena memberikan kamarku pada gadis itu," ucap Kisami lalu menutup pintu kamarnya lagi.
-------------------------------------------------
Kisami Ki
Ras : penyihir
Sihir : -
Gender : pr
Umur : 160 th \= 16 th
Tinggi : 159 cm
Kelas : II 2
Karakter : dingin
__ADS_1