
"Kamar inap tanpa ranjang, benar-benar minimalis sekali!"
.
Satu kalimat langsung dilontarkan oleh sosok biru yang baru saja masuk ke kamar inapnya. Kalimat yang sebenarnya lebih mirip umpatan dibandingkan komentar. Kekesalan kembali tercipta dalam diri sosok biru itu.
Sosok biru dengan tanduk di kepalanya. Biru yang dimaksud adalah rambut panjang dan pakaiannya, termasuk tanduk biru mengkilap di kepalanya. Netranya berwarna kuning keemasan, itu menjadi pembeda dan keunikan khas baginya.
Meski sekarang, ia sedang menggelar kasur gulung dengan rasa ketidaksukaan.
.
"Huh … yang penting bisa tidur malam ini," ucap sosok biru itu kemudian membaringkan dirinya di kasur dan memejamkan mata.
.
.
.
.
Sementara itu, di kamar inap sebelahnya.
"Afra!"
Gadis berambut hitam kebiruan, netra biru gelap bagaikan laut dan wajah yang selalu menampilkan kepolosan sejati. Gadis itu langsung menoleh saat ada suara yang memanggil dirinya.
"Aura!" Gadis bernama Afra itu menyebut kembali nama gadis penyihir yang ada di depan pintu itu.
Ya, Aura, dialah yang memanggil Afra. Aura berjalan menghampiri Afra yang masih duduk di kasur. Duduk dengan posisi yang sama, seperti saat dirinya meninggalkannya.
"Kau tadi pergi ke mana, Aura?" tanya Afra dengan pandangannya yang terus mengikuti ke mana Aura berjalan.
Gadis penyihir dengan jubah berwarna biru gelap, rambut panjang berwarna merah muda mulai terlihat saat gadis itu membuka tudungnya. Gadis itu masih berjalan dan tetap melangkahkan kakinya, sampai pada jendela di sana.
Afra, gadis manusia yang masih pada posisi duduknya. Ia tidak merubah posisinya sama sekali, hanya kepalanya saja yang ia gerakkan dan juga tangannya. Sekarang, pandangannya masih ia fokuskan pada gadis penyihir dengan jubah itu.
__ADS_1
Gadis penyihir bernama Aura itu.
"Aku … hanya diam saja di dekat pintu, hehe," jawab Aura sambil menoleh ke arah Afra dan tersenyum. Afra hanya bisa diam dan membalas senyuman Aura.
"Begitu, ya." Afra tersenyum pada Aura, begitu juga dengan Aura.
Bulir-bulir air dari langit, atau lebih tepatnya dari kapas tipis yang mudah berpisah dan bersatu. Warna hitam masih menyelimuti langit malam, meski sekarang sudah hampir menghilang. Garis vertikal yang awalnya menciptakan melodi mulai berganti dengan bulir-bulir air kecil.
Alunan nada yang hampir tidak terdengar dan mulai menghilang diciptakan oleh buliran air itu. Buliran air yang merupakan bentuk keringanan dan pergantian dari garis-garis vertikal itu.
Waktu membuat semuanya terasa tidak berarti, kemudian pergi dan tak kembali.
***
Cahaya berwarna putih yang merupakan hasil campuran antara semua warna, dari merah sampai ungu. Cahaya putih yang menyinarkan warna kuning dan jingga. Cahaya dari ufuk timur itu sudah menyinari kota kawasan kerajaan penyihir, meski kota itu masih masuk perbatasan saja.
Kota yang semuanya disusun dengan batu dan beberapa diberi pelengkap kayu. Masih ada kain dan benda lain di sana, tetapi batu adalah ciri khasnya. Ciri khas dari yang namanya kota perbatasan. Dan di sinilah tokoh utama berada.
.
Bangunan penginapan dua tingkat, sederhana dan tidak terlalu besar. Meski begitu, sihir sudah membuat isi di dalan bangunan itu menjadi luas, walau hanya berlaku pada ruangan lantai dua.
Ya, sepertinya tidak perlu menjelaskan lebih detail lagi.
.
Sinar putih hasil tujuh warna yang memberi warna lainnya pada angkasa. Biru, kuning, jingga, semua warna itu menyelimuti warna-warni yang sebelumnya tidak terlihat. Hijau, coklat muda, putih kegelapan, semuanya.
Cahaya yang berasal dari benda raksasa di luar sana itu sudah sampai pada bangunan-bangunan. Memasuki celah-celah kecil dan gang sempit, sementara yang sudah terbuka akan langsung terkena olehnya. Dan di bangunan penginapan itu, sudah ada gadis yang telah membuka matanya sebelum cahaya itu datang.
.
Suara yang baru dihasilkan setelah bangun dari tidur terdengar. Gadis berambut hitam kebiruan itu mulai membuka mata setelah mengambil posisi duduk. Matanya mulai membuka dan melihat sekeliling, sampai terfokuskan pada gadis penyihir di dekat jendela.
"Ah, selamat pagi, Afra!" ucap gadis penyihir yang mengenakan jubah bertudung itu.
Rambut panjang merah muda itu sudah tidak tertutupi oleh tudung, begitu juga dengan wajahnya yang terlihat jelas. Pemilik mata unik dengan tiga warna pada irisnya itu baru saja menyapa gadis berambut hitam kebiruan.
__ADS_1
"Selamat pagi juga, Aura." Gadis penyihir bernama Aura itu tersenyum.
Aura masih berada di dekat jendela dan kembali menatap pemandangan bangunan-bangunan di sana. Sementara gadis bernama Afra yang masih duduk di kasur itu mulai memiringkan kepalanya dan memunculkan tanda tanya.
"Aura—"
"Aku keluar dulu, ya, Afra! Hanya sebentar kok!" potong Aura langsung melompat keluar jendela dan menghilang masuk ke dalam lingkaran sihir.
Afra hanya bisa diam melihat kepergian gadis penyihir bernama Aura itu. Cahaya mentari mulai menyinari mata Afra dan membuatnya harus mengedipkan mata. Ia mulai menghilangkan tanda tanya dan menciptakan tujuan.
"Baiklah, mungkin aku bisa melihat-lihat. Apa ada pakaian lain, ya?"
.
.
.
.
Afra Afifah, itu adalah nama lengkapnya. Gadis manusia itu mulai melihat-lihat kamar inapnya, tetapi sebelumnya ia sudah menggulung kasur tidurnya itu. Ia mulai melihat-lihat sekeliling, membuka lemari yang ada di sana dan memegang apa saja.
Sampai ia sadar kalau pakaiannya berganti menjadi pakaian akademi. Sepertinya gaun putih dan gaun biru itu bukan pakaian biasa. Ia hanya bisa diam dan membiarkan hal-hal aneh itu terjadi. Ia sudah tahu siapa dan bagaimana itu bisa terjadi, sehingga itu tidak terlalu penting sekarang.
.
Setelah melihat-lihat, ia melakukan hal normal yang sudah tidak dilakukan olehnya selama beberapa hari. Dari mulai menyiramkan cairan yang lebih cair dari darah dan berwarna bening ke tubuhnya, kemudian mengganti pakaian akademi dengan gaun biru itu.
Ia sadar, pakaian itu membuatnya jadi terlihat seperti penyihir, tetapi itu tidak terlalu berpengaruh besar. Entah bagaimana nantinya pandangan para penyihir asli ketika melihat dirinya yang manusia memakai pakaian ini.
"Sepertinya ini lebih baik, meski aku masih merasa tidak tenang," gumam Afra sembari melihat pantulan dirinya di cermin.
.
Ruangan kamar inap yang bisa dibilang minimalis, tetapi menjadi sangat luas karena tak ada ranjang di sana. Tempat yang cukup nyaman itu mulai ditinggal pergi oleh gadis manusia bernama Afra.
"Aku keluar kamar tidak apa-apa'kan?" batin Afra mulai membuka pintu kamar inapnya. Namun, saat ia mulai melangkahkan kakinya, tiba-tiba ada sosok biru di dekat tangga.
__ADS_1
"K —kau!"