Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Lyvie


__ADS_3

'Lyvie', satu kata yang akan menjadi inti dari semua ini. Kata yang muncul dari buku dunia, kata baru dengan makna tak asing. Jika dibaca secara benar, itu terlihat biasa saja. Namun, saat dibaca berulang-ulang maka ….


"Lyvielyvielye. Viely, nama belakang Iliya. Apa jangan-jangan, dia …."


.


.


.


.


.


.


.


Ya, petunjuk sudah ditemukan dan akan siap untuk terpecahkan.


***


Hari masih sama, hanya waktunya saja yang mulai berubah. Pagi sudah sirna, tetapi masih ada mentari yang bersinar. Namun, sinarnya tidak bisa tersampaikan karena awan. Awan yang kini masih menurunkan butiran air sebagai alarm.


Siang, itulah waktunya, tetapi hujan membuatnya terasa malam. Gelap namun terang, warna putih yang menjadi kehitaman. Tidak ada yang keluar dan semuanya berteduh di dalam bangunan-bangunan kota.


Ketenangan dan kesunyian, semuanya menjadi bertambah di tempat yang bernama perpustakaan ini. Dan di sinilah, Afra menarik Sira agar berlari mengikutinya, mencari keberadaan Aura.


.


.


.


Rak buku yang berada di sebelah kanan dan kiri, tinggi sekitar dua sampai tiga meter dengan warna alami. Coklat kayu yang masih bisa tercium bau kayunya, bersih dan rapi. Buku-bukunya tampak menarik perhatian para pengunjung yang ada di sana.


Walau sebenarnya itu tidak menarik perhatian gadis manusia dan penyihir bertanduk ini.


"Hei, berhenti dulu, berhenti!" Penyihir bertanduk yang biasa dipanggil Sira itu langsung menghentikan langkahnya dan membuat langkah gadis manusia di depannya berhenti.


Gadis manusia yang dipanggil Afra itu tentu terkejut saat Sira melepaskan genggaman tangannya. Ia menoleh dan menatap mata keemasan Sira yang sudah menampilkan aura tajam.


"Bisa jelaskan sebentar, apa yang mau kau lakukan sekarang?" pinta Sira lebih mengarah pada perintah mutlak. Tegas dan dingin, hanya jawaban yang diinginkan olehnya.


Afra bergeming dan hanya menatap kosong mata keemasan itu, "Aura … aku tidak merasakan keberadaannya."


.


Lirih namun jelas, ucapan Afra langsung membuat Sira melebarkan matanya meski sedikit. Pertanyaan langsung terbesit dipikiran Sira setelah mencerna makna sebenarnya dari ucapan Afra itu.


"Kau … manusia 'kan? Bagaimana bisa kau—"


"Aku memang manusia! Tapi …,"-Afra menundukkan kepalanya-"memang tidak ada makhluk hidup yang benar-benar normal di dunia bawah."


.


Sira baru saja melontarkan rasa heran juga penasaran dari dalam benaknya, tetapi Afra langsung memotongnya tanpa pikir panjang. Sifat Afra yang polos itu serasa hanya sandiwara saat ia mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang membuat Sira benar-benar terbelalak.


"Kau …." Sira tidak bisa melanjutkan perkataannya saat melihat aura biru yang mulai terlihat di belakang Afra.


Aura biru yang kini mulai menyelimuti Afra sehingga dirinya mengeluarkan cahaya. Cahaya yang tidak seterang matahari, tetapi masih bisa menyaingi bulan.


"Bantu aku untuk mencarinya, Sira!" Tanpa basa-basi, Afra langsung menggenggam erat tangan Sira dan menariknya pergi.

__ADS_1


Berlari dan membuatnya mengikuti dirinya menuju tujuan yang mungkin ada di sekitar sini. Ia tidak bisa jika hanya sendiri, apalagi saat tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan abadi. Efek samping dari obat itu, mungkin itulah yang membuatnya bisa merasakan hal-hal aneh ini.


"Ini memang cukup aneh, tetapi … aku tidak bisa membiarkannya!" batin Afra terus berlari melewati lorong-lorong yang tercipta atas rak-rak buku ini.


Rak-rak buku yang saling berhadapan ini membuat lorong sebagai tempat berjalan.


.


.


.


.


.


.


.


Melihat kejadian yang sebelumnya terpaksa ditutupi.


.


"A –apa … yang kau katakan tadi, Sira?" tanya Afra membelalakkan mata dan merasakan keterkejutan.


.


"Hm? Yang mana? Di situ tertulis atau—"


"Bukan yang itu, tapi saat kau mengucapkan kata lain dari 'Lyvie'," potong Afra membuat Sira paham.


"Oh, 'Viely'!"


.


Pandangannya kini mulai gelap, tetapi kesadaran masih menyelimuti tubuhnya. Telinganya perlahan mendengar sesuatu, meski itu samar-samar dan tidak jelas.


Suara yang terus-menerus sama dan diulang-ulang, perlahan-lahan mulai jelas juga semakin keras. Sampai ….


"Afra!"


.


Afra sontak terkejut dengan mata terbelalak. Pandangannya kini kembali normal dan langsung mendapat tatapan mata keemasan Sira. Ia kembali dikejutkan dengan ekspresi Sira yang sedikit menyiratkan rasa khawatir.


Walau sebenarnya, rasa khawatir itu malah seperti menjadi ekspresi utaka untuk wajah dingin itu.


"Afra! Hei! Hoi!"


"Sira," ucap Afra membuat Sira berhenti memberi kata-kata penyadaran.


Sira masih menatap mata biru gelap Afra, begitu juga sebaliknya. Afra terus menatap mata kuning keemasan itu sampai ekspresinya berubah. Ekspresi hampa dalam dirinya langsung berubah menjadi ekspresi penuh keceriaan.


Mata kosong dan bibir yang tidak menyimpulkan senyuman itu berubah menjadi senyuman tipis dengan mata berbinar. Senyuman tipis yang langsung membuat Sira terkejut dan menelan salivanya sendiri.


"Afra." Sira kembali memanggil Afra dan itu membuat Afra semakin melebarkan senyumannya.


Sira kembali tertegun dan tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Afra. Afra terus memberikan senyuman sampai Sira tidak bisa apa-apa.


"Sepertinya … cara bacamu membuatku ingat, dengan sesuatu yang sama," ucap Afra menciptakan rasa bingung bagi Sira.


"Eh? Cara bicara?" Yang mana?"

__ADS_1


"Bukan apa-apa kok! Itu sudah tidak penting," jawab Afra berhenti menatap mata Sira dan kembali menatap buku di tangannya. Senyuman masih tercipta di wajahnya.


Sira menggaruk-garuk kepalanya, "huh? Tapi sepertinya kau tadi keliatan—"


"Aku baik-baik saja kok, Sira!" potong Afra kembali menatap mata Sira dan membuatnya terdiam.


Sira sudah tidak bisa membalas lagi perkataan Afra dan hanya bisa membiarkan mata biru gelap itu menatapnya. Sampai kemudian ia menghela napas, Afra kembali memfokuskan matanya untuk membaca buku.


.


.


.


.


.


.


.


Kembali ke masa sekarang.


.


"Jika Aura sebelumnya di sini, maka dia pasti …." Afra kembali mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari tempat yang mungkin menjadi tempat terakhir keberadaan Aura.


Ia benar-benar merasakan sesuatu yang menjadi identitas Aura. Hawa keberadaan, rasa tekanan yang sebenarnya seperti detak jantung. Itulah rasa yang kini tiba-tiba menghilang dari benak Afra.


Ya, sebut saja namanya firasat. Sifat labil yang tidak bisa ditebak, sifat itu sudah membuat pikiran Afra khawatir. Apalagi saat buku dunia itu menuliskan kata 'Lyvie' yang sepertinya berhubungan dengan 'Viely', nama belakang dari Iliya.


Afra kembali melangkahkan kakinya setelah berhenti sejenak untuk mencari arah. Tangannya masih menggenggam tangan Sira, meski ia tidak harus menarik Sira lagi. Sira kini berlari dengan pikirannya sendiri dan bukan karena tarikan tangan Afra.


Meski begitu ….


"Aakh! Aku tak peduli! Ikut saja lah! Masa bodo!" batin Sira mengeluh penuh kekesalan meski wajahnya hanya menampilkan ekspresi datar.


.


.


.


Langkah demi langkah yang dilakukan dengan tempo cepat membawa Afra dan Sira pada rak-rak buku paling ujung. Ya, rak buku yang berada di ujung ruang perpustakaan. Tempat yang sangat tidak terawat dan sudah tidak dikunjungi.


Kotor, berdebu, itulah pemandangan yang terlihat. Gelap tanpa lampu penerangan, benar-benar membuang rasa tertarik.


"Ini tempatnya," ucap Afra sambil memfokuskan pandangannya pada lorong gelap yang tercipta atas rak-rak buku tak terurus.


.


"Aaakh!"


.


"Aura!"


"Hoi!" Sira langsung menggenggam erat tangan Afra saat Afra mulai berniat untuk berlari.


Ya, Afra seketika membelalakkan mata dan langsung menciptakan niatan untuk berlari memasuki lorong itu, setelah suara teriakan terdengar. Suara teriakkan yang merupakan suara teriakkan dari Aura.


Afra menoleh dan langsung mendapati tatapan tajam dari Sira. Ia terbelalak saat tidak bisa membalas tatapan itu dengan tatapan kosongnya. Pikirannya sudah terpusatkan pada gadis penyihir bernama Aura.

__ADS_1


"Sepertinya … kau benar-benar polos, ya, Manusia," ucap Sira membuat Afra terbelalak dan terbelalak.


__ADS_2