Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Saatnya


__ADS_3

"K-kalau begitu … a-aku yang akan menanyakan pertanyaan padamu!" ucap Eria berusaha memberikan kesan bahwa ia tidak takut lagi, dan juga … mengambil kesempatan untuk bertanya tentang 'itu'.


Afra hanya diam dan menganggukkan kepalanya. Eria pun mulai menelan ludahnya sendiri dan berusaha untuk tenang.


"A-apa kau … pernah melihat sosok lain sebelum ku? Setelah kau … mendapatkan batu permata itu, Afra?" tanya Eria dengan nada tenang dan serius.


Afra terkejut mendengar pertanyaan Eria. Namun, Afra langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, "aku tidak pernah melihatnya kok! Aku bahkan tidak tau kemana batu itu menghilang!"


Eria hanya bisa terdiam sejenak dan menghembuskan nafasnya dengan pasrah.


"Begitu ya … baiklah kalau begitu! Aku harus pergi sekarang!" ujar Eria langsung merubah dirinya menjadi tembus pandang, dan itu membuat Afra terkejut.


"Tunggu!" teriak Afra membuat Eria langsung menghentikan niatnya dan kembali ke wujud semula. "Aku … ingin menanyakan nama mu…," sambung Afra sambil menundukkan kepalanya.


Eria pun tersenyum tipis, "panggil saja aku Eria!" ucapnya seketika langsung menghilang bersama dengan angin pagi yang berhembus.


.


.


.


.


.


Sekarang….


"Aku … benar-benar senang hari ini," ucap Afra sambil melirik ke arah gadis bermata merah itu yang sekarang berada di sampingnya.


Gadis bermata merah itu tersenyum tipis, "ya, itu lebih baik daripada terus memikirkan hal-hal menyenangkan itu," ucapnya merubah kata menyedihkan menjadi menyenangkan. Namun, entah kenapa Afra memahami maksud perkataan gadis bermata merah itu. Ya, Afra seperti sudah terbiasa saja kalau gadis bermata merah itu membalikkan kata-katanya. Afra pun berbalik ke arah gadis bermata merah itu.


"Ya, ini lebih baik," sambung Afra dan tersenyum senang.


***

__ADS_1


Siang sudah berlalu, begitu juga dengan senja. Dan malam pun kembali tiba. Semuanya mulai berlalu begitu cepat, dan itu artinya … inilah saatnya memulai awal yang baru.


-----------------------------------------------------------


Hari berganti, dan minggu bertukar. Namun, hanya bukanlah yang tetap sama. Setia dan tidak pernah berubah, kecuali dengan jumlah cekungan di permukaannya. Tak kan sama jika menghitungnya saja tidak bisa.


Sekarang, sudah berlalu dua tahun. Dan itu artinya, hal-hal yang baru sudah siap menjemput Afra. Ya, kini umurnya sudah dua belas tahun dan ia harus menjalankan sesuatu yang perlu ia lakukan … demi menjawab semua pertanyaan-pertanyaannya tentang dunia ini, dunia bawah.


"Aah … waktu berlalu begitu cepat, ya," ucap Afra sambil tersenyum senang melihat pemandangan dari jendela kamarnya, "dan, ini sudah saatnya kan?" tanyanya sambil menoleh ke belakang.


Gadis bermata merah pun seketika muncul dan tersenyum tipis, "ya, sudah saatnya kita pergi dari sini, Afra Afifah!"


.


.


.


Dua tahun yang lalu….


Ya, gadis bermata merah itu masih tetap membuatkan makanan untuk Afra, dan juga untuk dirinya sendiri. Dia adalah Afra, dan Afra adalah dia. Walau hidup dalam satu tubuh yang sama, yang menjadi pengendali nya sekarang adalah Afra.


Kembali lagi ke topik utama.


"Hoaaam … aku tidur nyenyak sekali…," ucap Afra baru saja bangun dari tidurnya, dan….


Perutnya langsung berbunyi sebagai pertanda bahwa dirinya benar-benar lapar.


"Ah! Aku … lupa makan tadi malam!" ucap Afra sambil memegang perutnya yang kembali berbunyi, "aku harus makan sekarang!"


Afra langsung beranjak dari tempat tidurnya dan pergi keluar kamarnya, tetapi….


"Waaa!" teriak Eria tiba-tiba terkejut melihat Afra yang baru saja membuka pintu kamarnya. Ya, padahal Afra lah yang seharusnya terkejut karena Eria yang tiba-tiba berada di dalam rumahnya apalagi ia tepat berada di depan pintu kamar Afra.


"E-Eria!" ucap Afra tak menyangka dan juga terkejut dengan kedatangan Eria.

__ADS_1


Eria langsung berjalan mundur beberapa langkah dan menjauhi Afra, lalu tersenyum dengan bibirnya yang ikut gemetaran bersama tubuhnya.


"H-hai, Afra! A-aku seharusnya k-ketuk pintu dulu, ya…."


***


Di ruang tengah, Eria sedang duduk di kursi panjang dengan tubuhnya yang gemetaran. Entah itu takut atau gugup, dia selalu saja seperti itu. Sementara Afra sedang berada di dapur sekarang. Apa yang ia lakukan? Tentu saja menyiapkan makanan dan minuman— tunggu! Apa Afra sudah bisa masak?


"Eum … sepertinya aku tidak perlu masak," ucap Afra sambil terkekeh kecil melihat makanan dan minuman sudah tersedia di dapur.


Sepertinya Afra masih belum bisa memasak, atau sepertinya ia tidak sempat saja untuk memasak makanan.


Afra pun membawa makanan dan minuman itu ke ruang tengah.


"M-maaf membuat mu menunggu, a-aku membawa makanan," ucap Afra sambil menaruh nampan berisi makanan dan minuman di meja yang ada di depan Eria. Afra pun duduk di samping Eria karena hanya ada satu kursi panjang saja di ruang tengah.


Sebenarnya memang ada kursi lain, tetapi Afra ingin mencoba agar tidak ada kecanggungan antara Eria dan dirinya.


"S-silahkan dimakan ya," ucap Afra sambil tersenyum pada Eria. Afra lalu mengambil piring makannya dan memakan makanan nya dengan lahap, sedangkan Eria hanya melirik Afra lalu membuang muka lagi.


"T-tidak perlu, a-aku hanya ingin me-memintamu melakukan sesuatu!" ucap Eria tanpa menoleh ke arah Afra.


Afra yang terkejut pun langsung berhenti memakan makanannya dan meletakkannya di meja, "m-memangnya apa … yang h-harus aku lakukan?"


Eria menoleh dan menatap mata Afra dengan tatapan tajam, lalu ia bangun dari kursi.


"Kau … harus pergi dari kawasan terlarang ini, Afra!" pinta Eria dengan nada dinginnya, dan itu membuat Afra semakin terbelalak.


"A-apa maksudmu, Eria?" tanya Afra kebingungan. Namun, Eria hanya menundukkan kepalanya dan tidak menunjukkan wajahnya pada Afra.


"Jika kau terus di sini maka … hidupmu akan segera berakhir," sambung Eria langsung menatap tajam mata Afra, dan itu membuat Afra tidak bisa apa-apa. Ia tertegun setelah mendengar perkataan Eria.


"K-kenapa aku harus pergi? A-aku sudah diam di rumah kok, akhir-akhir ini … aku akan baik-baik saja di sini," ujar Afra berusaha tetap tenang dan menjelaskan pada Eria, tetapi Eria langsung menggelengkan kepalanya.


"Tetap saja, Afra … di sini sudah tidak aman! Kau harus pergi ke kawasan netral!" ucap Eria dengan nada tegas dan dingin. Afra semakin terkejut dan kebingungan mendengar perkataan Eria. Ia mengerti kalau Eria ingin ia pergi dari rumah, tetapi….

__ADS_1


"A-apa maksudmu dengan kawasan netral dan terlarang, Eria?"


__ADS_2