
"A –apa ini?" batin Afra terbelalak dan terkejut. Sira melirik dan membaca sekilas tulisan pada kertas yang ada di tangan Afra.
"Hm? Apa maksudnya abad 'itu'?" tanya Sira dengan nada dingin pada lelaki penyihir.
Lelaki penyihir memberikan tatapannya pada Sira dan mulai menunjukkan ekspresi serius. "Abad 'itu', ya?"
"Oi! Tinggal jawab apa susahnya sih!" Sira langsung memberikan penekanan pada ucapannya sehingga lelaki penyihir itu berkeringat dingin.
"Kau lebih mirip manusia dibanding gadis itu, Siluman!"-Lelaki penyihir itu menghela napasnya-"tak apa, akan aku jawab."
Afra masih fokus membaca, sedangkan Sira mulai mendengarkan penjelasan lelaki penyihir itu. Suara hujan menjadi musik melodi dalam rasa penuh ketegangan ini. Meski tidak terlalu menonjol pada hal itu.
"Abad 'itu', atau yang biasa disebut sebagai .. abad di mana masih adanya pertentangan antar ras.
Hanya itu saja! Kalau mau tahu bayar lebih, ya!" ujar lelaki penyihir itu membuat Sira terbelalak tak percaya.
"Tch, membuang waktu!"-Sira beranjak dan menggenggam tangan Afra-"ayo pergi!"
"A –aah!" Afra tidak bisa melawan dan hanya bisa mengikuti Sira.
Afra menoleh dan memberi tatapan pada lelaki penyihir. Lelaki penyihir itu tersenyum dan berkata, "sampaikan salam ku, ya!" ucapnya lirih.
Afra hanya bisa mengangguk kecil kemudian berjalan pergi mengikuti Sira, tangannya masih digenggam erat oleh Sira. Afra memusatkan pikirannya pada lelaki penyihir itu, meski pandangannya sudah tidak terpusatkan padanya.
"Dia ...."-Afra menggelengkan kepalanya-"begitu, ya."
Suara bel pintu berbunyi dan kini Afra sudah pergi, bersama dengan Sira yang menuntun jalannya. Hujan masih menyelimuti, tetapi kini tidak terlalu membasahi diri. Afra tersenyum dan membatin.
"Ya, meski sepertinya ini jebakan. Namun, ini cukup membantu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hihi, hahahaha!"
Tawa terdengar di tempat penjual informasi. Lelaki penyihir itulah yang tertawa, kemudian menciptakan cahaya sehingga dirinya berubah wujud. Dari lelaki menjadi sosok perempuan.
Perempuan dengan rambut pendek sebahu, warna hitam dan sedikit keunguan menjadi warna rambutnya. Topeng merah ia ikat di kepalanya dengan sepasang sayap berwarna hitam di punggungnya.
Pakaian berwarna putih dengan warna hitam yang mendominasi pada bagian dadanya. Pakaian yang tampak tidak mirip sama sekali dengan penyihir. Netra kuning keemasan yang hampir menyamai netra Sira.
Perempuan itu mulai menghentikan tawanya.
__ADS_1
"Haha, kau punya rencana, ya, Afra?"-Perempuan itu meletakkan tangannya di bawah dadanya-"tak kusangka kita 'kan bertemu lagi."
"Setelah sekian lama aku mengirim mu ke sini," sambungnya kemudian tersenyum tipis.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hujan, semua hal itu perlahan mulai menjadi. Meski begitu, tampaknya Afra dan Sira memilih berhenti di sini.
"Huh, cepatlah. Apa yang ingin kau tunjukkan!" ucap Sira dengan nada yang agak dingin, tetapi lebih tertuju pada kemalasan.
Sepertinya sudah tidak ada rasa canggung lagi setelah kejadian bangun pagi?
"Ini, istana ini—"
.
.
.
.
.
.
.
.
Cahaya putih seketika tercipta dan membuat pandangan mata menjadi sirna. Lembar kertas itu langsung mengeluarkan cahaya terang sehingga Afra dan Sira harus menutup mata.
Hingga akhirnya, keduanya di bawa pada suatu tempat yang sangat-sangat berbeda. Hitam dan penuh dengan tanaman rambat berwarna gelap. Bangunan tua dengan latar yang luas. Menara yang menggabung dengan bangunan panjang di kedua sisinya.
Kaca jendela pecah, tanaman yang menyelimuti dinding-dindingnya. Semuanya benar-benar membuat Afra dan Sira terbelalak. Dan lagi, latar siang hari yang diselimuti awan telah berubah menjadi malam penuh kegelapan.
"Apa ini?" Sira bertanya sambil melihat sekeliling, sementara Afra masih dalam kondisi terbelalak.
"Ternyata, benar," gumam Afra memecahkan rasa fokus Sira dalam melihat-lihat.
Sira menoleh dan memusatkan perhatiannya pada Afra, "hah?"
Afra diam sejenak, tetapi mulutnya kembali membuka. "Istananya … adalah akademi."
__ADS_1
.
Suasana mencekam seketika muncul menyelimuti diri. Afra dan Sira sama-sama melihat ke segala arah, mencari juga mengintimidasi. Melihat kembali setiap sudut tempat di mana keduanya berada saat ini.
Istana, itu yang tergambarkan pada kertas. Kertas yang saat ini sudah sirna tanpa jejak. Namun, sepertinya kertas itu memanglah jebakan.
"Ini bukan istana, tapi ini akademi Arknest," gumam Afra memecahkan keheningan dan rasa konsentrasi.
.
"Ya, tebakan mu benar, Manusia!" ucap sosok perempuan dengan netra merah mudah tajam mengintimidasi.
Soskk itu seketika muncul di hadapan Afra dan membuat Afra terbelalak. Sira dengan cepat menciptakan stalagmit di bawah kaki sosok itu, tetapi sosok itu langsung menghilang menjadi bayangan.
.
Sosok perempuan dengan postur tubuh seperti remaja sembilan belas tahun, tetapi umurnya tentu sangatlah jauh. Netra merah muda tajam dengan rambut panjang berwarna merah muda terang. Lebih terang dari matanya yang bercahaya.
Mahkota kecil berwarna hitam ia kenakan di kepalanya, mahkota yang menciptakan kerudung putih transparan. Pakaian hitam yang tampak seperti pakaian penyihir. Namun, sepertinya ia bukanlah ras penyihir.
Warna hitam menjadi warna dasar pakaiannya. Kakinya tampak tertutupi sebelah, sementara kaki satunya tidak. Meski begitu, kaus kaki panjang selutut dikenakannya agar tertutupi kakinya.
Jubah hitam yang tampak robek di bagian bawahnya menciptakan kesan penuh kegelapan. Dan sekarang, sosok itu sudah berada di belakang Afra dan juga Sira.
.
"Salam kenal, Manusia dunia bawah!" Sosok perempuan itu tersenyum jahat dan langsung mengarahkan sabit di tangannya pada Afra.
"Perisai es!" Sira berkata dengan lantang dan mengarahkan tangannya pada bilah tajam sabit besi itu.
Sabit besi yang masih menampilkan warna besi alaminya itu tampak mengeluarkan udara dingin. Udara dingin yang Sira ciptakan itu langsung menyebar dan menjadi perisai es. Perisai es yang memberi tampilan cekung pada sosok perempuan bermata merah muda itu.
"Beku!"
Perisai es cekung itu langsung berubah seperti tanaman rambat dengan ujungnya yang tajam. Merambat dan mengarah pada sosok perempuan itu. Mata terbelalak tercipta di wajah sosok perempuan itu, tetapi …
.
"Shine, aku suka kata itu."
.
Suara sosok lain terdengar menggaung dan menghantui telinga Afra dan Sira. Sosok perempuan dengan netra merah muda itu tersenyum miring. Lingkaran sihir berwarna kuning seketika tercipta di bawah kakinya dan juga kaki kedua pasangan biru itu.
Afra terbelalak, begitu juga dengan Sira. Lingkaran sihir raksasa itu mulai menunjukkan sinarnya dan bersiap membuat kehancuran. Namun, lingkaran sihir lain dengan warna biru bercampur kuning dan merah muncul.
Menarik dan memindahkan Sira juga Afra keluar dari ruang lingkup lingkaran sihir berwarna kuning itu.
.
Ledakan tercipta, tetapi sosok perempuan dengan rambut panjang berwarna merah muda itu tampak baik-baik saja. Netra merah muda bercahaya yang menampilkan bentuk love itu memberi tatapan senang. Melihat ketidakadaan Afra dan Sira di sekelilingnya.
"Haha, ternyata ini baru dimulai, ya. Lycé Zayzik," ucap sosok perempuan lain dengan rambut panjang berwarna kuning.
Netra kuning keemasan dengan rambut panjang yang dikepang sebelah. Topi penyihir yang cukup lebar tidak membuat wajahnya tertutupi. Warna putih dan hitam menjadi ciri khasnya, tak lupa dengan pakaian penyihir mirip pelayan.
Penyihir perempuan itu tampak terbang di langit dengan sapu terbangnya, sementara tangannya memegang sebuah benda. Benda dengan bentuk segi delapan berwarna keemasan dengan pola jaring laba-laba.
Benda itu mengeluarkan cahaya kuning yang menjadi seperti aliran 'mana'. Mengelilingi dan menciptakan kesan cahaya bagi pemiliknya. Netra kuning itu terpejam sebelah dan bibirnya menyimpulkan senyuman lebar.
"Kau akan suka dengan ini, Senior tua!"
Sosok perempuan dengan rambut panjang berwarna merah muda, warna iris pada matanya juga sama dengan warna rambutnya. Sosok perempuan yang dipanggil 'Lycé Zayzik' oleh penyihir perempuan bernama Iliya Viely itu menunjuk wajahnya sendiri.
"Hiburannya cukup menarik, Iliya Viely!"
__ADS_1