Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Kota Sihir


__ADS_3

Kota sihir, ini adalah kota tempat di mana gadis manusia bernama Afra dan gadis penyihir bernama Aura berada. Kota yang bangunan dan jalannya masih tersusun dengan batuan alami berwarna putih.


Kota ini tidak sunyi dan sepi. Ada banyak penghuni kota yang berjalan-jalan di segala arah, meski tidak menyebabkan kepadatan penduduk. Penghuni kota yang mengenakan jubah, juga pakaian penyihir dengan topi besar.


Ada juga yang membawa tongkat dan sapu terbang dan juga, ada yang tidak membawa apapun sama sekali. Tidak ada yang saling diam. Semuanya hampir berbicara dan menyapa satu sama lain.


Afra mengedarkan pandangannya ke segala arah dengan mata terbelalak. Aura masih tersenyum. Kedua gadis ini sudah berjalan di jalanan kota.


"Di sini, rasanya lebih ramai, ya," ucap Afra dengan pandangannya yang masih melihat-lihat sekeliling.


"Tentu saja! Tapi …." Aura seketika menghentikan ucapannya sendiri dan itu membuat pandangan Afra terfokuskan padanya.


Afra menatap Aura dengan wajah serius. Aura tertawa kecil.


"Bukan apa-apa, kok, hanya saja … kita harus mencari tempat dulu sebelum melanjutkan perjalanan!"


.


Afra seketika terdiam dan tidak bisa mengatakan apa-apa. Saat sebuah tanda tanya muncul di benaknya, hanya karena ucapan Aura itu. Ucapan yang terdengar sama dengan hal di waktu awal.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ya, meski itu juga tidak penting.


----------------------------------


Kerajaan penyihir. Kerajaan yang sebenarnya dipimpin oleh ratu penyihir ini memiliki satu kota yang menjadi tempat utama. Ya, kerajaan ini hanya memiliki satu kota utama, yaitu kota sihir.


Meski sebenarnya kota ini memiliki beberapa bagian juga. Tergantung dari tingkatan tiap penyihir. Mungkin bisa dibahas secara singkat.


Ada beberapa tingkatan tiap penyihir, dari yang terendah sampai yang misterius.



Penyihir bertongkat

__ADS_1


Penyihir dengan sapu terbang


Penyihir dengan benda sihir


Penyihir rapalan/tidak menggunakan benda apapun


Penyihir tanpa rapalan



Sebenarnya, kelima tingkatan ini tidak bisa disebut sebagai tingkatan. Karena, ada beberapa hal yang membuat setiap tingkatan itu bisa berubah. Tingkatan itu dimulai dari yang terendah, dari penyihir bertongkat sampai penyihir tanpa rapalan.


Meski begitu, penyihir bertongkat juga bisa menjadi lebih kuat dari penyihir tanpa rapalan, begitu juga penyihir di tingkat yang berada di bawah penyihir tanpa rapalan. Penyebabnya ada dua.



Mempunyai keahlian selain menjadi penyihir


Menggabungkan tingkatan (penyihir bertongkat yang juga menggunakan sapu terbang, penyihir dengan sapu terbang yang menggunakan benda sihir, dan sebagainya)


Menjadi bawahan dari ras selain penyihir



Ya, tiga hal itu bisa membuat penyihir yang berada di bawah penyihir tanpa rapalan bisa memiliki sihir yang lebih hebat.


Kembali ke tokoh utama.


----------------------------------


Itu adalah ciri khas dari bangunan itu, bangunan yang biasa disebut sebagai penginapan. Dan ini adalah tempat di mana tokoh utama dan tokoh pembantu pertama berada. Keduanya sudah berada di meja yang biasa disebut meja resepsionis.


.


"Satu kamar inap model kuno untuk dua orang, apakah masih ada?"


Dialog pertama dimulai. Tentu yang berbicara adalah Aura. Afra hanya berdiri tanpa suara di belakang Aura. Ia sedikit melirik ke sosok penyihir yang diajak bicara oleh Aura.


"Ada. Bisa digunakan sampai tiga puluh hari ke depan, ya. Ini kuncinya."


Sosok penyihir yang mengenakan pakaian berwarna ungu. Topi penyihir yang cukup besar tidak menghalangi wajahnya. Penyihir yang tentunya adalah perempuan itu baru saja menjawab pertanyaan Aura.


Penyihir itu langsung menyodorkan sebuah kunci pada Aura. Aura tentu langsung mengambil kunci yang berada di hadapannya itu. Tidak ada sentuhan tangan tentunya, karena kunci itu hanya diletakkan di meja dan didekatkan pada Aura.


Afra masih memperhatikan dan memandang kunci yang digenggam Aura. Namun, ia tidak menyadari bahwa ada mata lain yang menatapnya.


"Eh …!"


.


"Maaf, ada apa, ya?" tanya Aura dengan sopan dan menunjukkan ekspresi heran pada penyihir yang menjadi resepsionis.


Penyihir resepsionis dengan pakaian penyihir berwarna ungu itu menampakkan wajah terkejut dan ketakutan. Matanya tidak terfokuskan pada Aura, melainkan Afra yang ikut keheranan.

__ADS_1


Afra merasakan sesuatu saat melihat ekspresi yang ditampilkan penyihir resepsionis itu. Wajah terkejut dan cukup terlihat sedikit ketakutan. Ada keringat dingin di wajah penyihir itu.


"A –apa ini? K –kenapa dia melihatku seperti itu?" batin Afra bertanya-tanya dan mulai ketakutan.


Aura melirik Afra sejenak dan mendapatinya ketakutan. Ia mulai menghela napas kasar.


"Baiklah, kami permisi dulu." Aura langsung menggenggam tangan Afra dan menariknya pergi menjauh dari meja resepsionis.


Afra hanya bisa diam dan mengikuti langkah kaki Aura dengan pandangannya yang masih melihat penyihir resepsionis. Penyihir resepsionis itu tentu masih melihat Afra.


Afra mulai berhenti menatap penyihir itu setelah sampai di anak tangga. Ya, ini adalah penginapan kecil di mana kamarnya berada di lantai atas. Namun, hal terpenting saat ini adalah apa yang membuat penyihir itu ketakutan.


.


"Gadis itu … bagaimana bisa?" lirih penyihir resepsionis sembari melihat kepergian Afra dan Aura dengan ekspresi ketakutan.


.


.


.


.


Kembali ke tokoh utama.


Meski penginapan ini masih menggunakan batu alam sebagai penyusun, bagian dalam penginapan ini tidak menggunakan batu, melainkan kayu. Ya, hanya bagian luar saja, bagian dalam hampir semuanya menggunakan kayu.


Tangga kayu yang masih terlihat baru sudah selesai ditinggalkan jejak oleh dua gadis ini. Ya, gadis penyihir dan gadis manusia, kedua gadis ini sekarang sedang melihat-lihat pintu kamar inap.


Setelah beberapa langkah melewati dua pintu kamar inap, gadis penyihir yang masih menarik tangan gadis manusia mulai berhenti melangkah. Gadis penyihir berhenti tepat di pintu kamar nomor tiga.


.


Pintu kamar inap yang terbuat dari kayu itu mulai dimasuki kunci di lubang kuncinya. Gagang pintunya dipegang dan mulai digerakkan ke bawah sehingga pintunya terbuka. Ruangan kosong dengan jendela yang letaknya sejajar dengan pintu pun terlihat.


"Afra."


"Ya?" Afra langsung merespon perkataan Aura itu. Aura sedari tadi hanya diam dan menatap ruangan kamar itu.


Aura melirik Afra dan memberikan tatapan yang misterius. Meski begitu, Afra tidak merasakan apapun dari tatapan itu. Hanya sebuah tanda tanya dan pikiran tentang penyihir resepsionis itu yang berada di benak Afra saat ini.


Aura menggelengkan kepalanya, "bukan apa-apa, kok. Aku hanya ingin mengatakan setelah kita masuk."


Afra hanya diam dan mengangguk kecil. Keduanya pun masuk ke kamar inap itu. Afra langsung berjalan dan menghampiri jendela, sedangkan Aura masih berada di dekat pintu.


Afra memandang pemandangan di luar jendela. Bangunan kota dan awan hitam yang masih menutupi cahaya matahari. Ya, meski sekarang sudah mulai memasuki waktu senja.


.


Suara pintu ditutup membuat pandangan Afra langsung beralih ke belakang, atau lebih tepatnya ke tempat Aura berdiri. Ya, tempat di mana gadis penyihir yang mengenakan jubah itu menyimpulkan senyuman misterius.


"Afra …,"-Aura menghembuskan napas tipis sebagai pemutus ucapannya-"aku ingin mengatakan sesuatu padamu …."

__ADS_1


.


"Tentang ras manusiamu itu,"


__ADS_2