Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Dan Ingatan


__ADS_3

"K-kau istirahat dulu ya, Afra! A-aku harus pergi!" ujar gadis penyihir itu langsung beranjak pergi keluar dari kamar asrama Afra.


Afra masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya sembari berusaha untuk tenang dan mengatur nafasnya. Perlahan, ia pun mulai menurunkan tangannya yang menutupi wajahnya dan membuka matanya.


Afra hanya diam dengan eskpresi wajahnya yang … mulai terlihat kosong. Ya, pikiran Afra mulai kembali seperti saat itu. Kosong dan hampa. Afra hanya melihat sekelilingnya tanpa memikirkan apapun dalam benaknya. Dan … yang pertama kali muncul di benak Afra setelah diam dengan tatapan kosong adalah….


"Apa … kau itu aku?"


.


.


.


Sekarang….


"H-hei … aku mohon…," ucap Afra memohon kepada gadis bermata merah itu agar melakukan sesuatu yang bisa membuatnya kembali melihat bayang-bayang ingatan itu dengan jelas. Namun, gadis bermata merah itu hanya menatap mata Afra yang kosong itu dengan tatapan tak peduli.


Ya, gadis bermata merah itu langsung mengalihkan pandangannya ke jendela setelah menatap mata Afra sejenak.


Heeh


"Apa kau benar-benar ingin mati, Afra!" ucap gadis bermata merah itu dengan nada tinggi. Afra kembali tertegun mendengar perkataan gadis bermata merah itu.


"A-aku … itu kau … dan kau … itu aku…," ucap Afra dengan nada lirih sambil menundukkan kepalanya. Gadis bermata merah itu tidak peduli dan tetap melihat keluar jendela. Hanya kegelapan yang terlihat di sana.


"K-kita hidup … di satu tubuh … yang sama…," ucap Afra lagi dengan nada yang lebih lirih, tetapi gadis bermata merah itu masih bisa mendengar nya.


"Hah? Apa yang kau katakan?" tanya gadis bermata merah itu mulai merespon dan menoleh ke arah Afra. Gadis bermata merah itu terkejut melihat Afra yang langsung menatap matanya dengan tatapan kosong itu.


"Karena AI (ai) … takdir kita … bersatu …," ucap Afra sambil tersenyum pada gadis bermata merah itu. Gadis bermata merah itu hanya diam dengan tatapan terbelalak setelah mendengar apa yang dikatakan Afra.


"Iya … kan? Aku … sudah … mengikuti … perkataan mu," ucap Afra sebelum akhirnya Afra terjatuh di hadapan gadis bermata merah itu. Gadis bermata merah itu tentu saja langsung menangkap tubuh Afra sebelum terjatuh ke lantai.


Gadis bermata merah itu menundukkan kepalanya, lalu memeluk tubuh Afra dan membisikkan sesuatu di telinga Afra.


"Kau … benar-benar polos, ya…."


-------------------------------------------------------


Ingatan. Sesuatu yang berhubungan dengan pikiran. Kadang berupa kenangan, atau sesuatu yang terlupakan. Dan ini … adalah ingatan yang hilang dan terlupakan oleh Afra, sang tokoh utama.


.

__ADS_1


.


.


.


Ingatan saat di kawasan netral, setelah Afra tak sadarkan diri akibat perkataan gadis bermata merah.


"Kau itu … benar-benar peserta tes kan? Kau jangan pura-pura lupa untuk dapat bantuan!" ucap gadis penyihir itu dengan nada dingin sambil mengeluarkan lingkaran sihir dari tangannya.


Afra yang melihatnya pun terkejut dan langsung terduduk di tanah. Tubuhnya mulai gemetar ketakutan. Dan….


Hihihi


"Sekarang, biarkan aku yang keluar, Afra!" bisik gadis bermata merah tiba-tiba muncul di belakang Afra dan … membuat Afra tak sadarkan diri.


Gadis penyihir itu terkejut dan langsung menghilangkan lingkaran sihir nya setelah melihat Afra yang … tiba-tiba diam tak bergerak. Ya, Afra sudah kehilangan kesadaran nya, tetapi matanya masih terbuka. Dan Afra masih terduduk di tanah.


"Apa … yang terjadi padanya?" batin gadis penyihir itu keheranan melihat Afra yang hanya diam itu.


Perlahan, mata Afra mulai berubah warna. Yang sebelumnya berwarna biru, kini berubah menjadi merah. Gadis penyihir itu terkejut melihat mata Afra yang tiba-tiba berubah warna itu, dan….


"Ilvaviera!" ucap Afra mengatakan sebuah mantra sihir. Ya, kesadaran Afra sudah diambil alih oleh gadis bermata merah itu. Tentu, gadis penyihir itu tidak mengetahuinya. Gadis bermata merah hanya bisa dilihat oleh Afra saja.


"Savira Alveviera!" sambung Afra lagi dengan nada tinggi dan seketika … rantai berdarah keluar dari tanah dan menyebar ke seluruh penjuru hutan.


"Hei! A-apa yang kau lakukan!" teriak gadis penyihir itu pada Afra, tetapi Afra sudah diambil alih oleh gadis bermata merah itu.


Rantai-rantai berdarah itu seketika berhenti bergerak dan melilit di pohon. Namun, rantai berdarah itu seketika meledak dan membuat sekelilingnya basah dengan darah. Dan … beberapa monster sihir yang terkena darah itu mulai terlihat. Dan ya, ternyata monster sihir itu sudah mengepung Afra dan gadis penyihir!


"A-apa! Sejak kapan mereka ada di sini!" ucap gadis penyihir itu terkejut melihat monster-monster sihir itu. Meskipun ukuran monster-monster sihir itu tidak terlalu besar, tetapi jumlah mereka terlalu banyak.


"Veria Alivia!" ucap Afra dengan nada tinggi seketika membuat semua monster-monster sihir itu meledak dan hancur.


Ya, semua monster sihir yang basah dengan darah dari rantai darah itu meledak dan hancur tak tersisa. Gadis penyihir itu tentu saja tidak apa-apa karena sudah membuat pelindung sihir. Ia hanya terkejut dan tak percaya dengan apa yang terjadi.


"A-apa-apaan ini!" ucap gadis penyihir itu terbelalak melihat semua monster-monster sihir itu hancur tak tersisa. Dan….


"Sepertinya sudah cukup," ucap gadis bermata merah itu keluar dari tubuh Afra dan menghilang. Tentu, gadis penyihir itu tidak tahu. Yang gadis penyihir itu lihat hanyalah … Afra yang terbaring di tanah setelah semua monster-monster sihir itu hancur tak tersisa.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Jadi … seperti itu ya, yang terjadi….


Terimakasih….


----------------------------------------------------------


Pagi hari pun datang. Dan Afra sudah bangun dari tidur nya dengan perasaan lega dan senang. Ya, meski beberapa pertanyaannya belum terjawab setelah ia melihat ingatan itu dalam mimpinya. Namun, Afra tetap senang karena ia akhirnya tahu apa yang terjadi.


Aku … benar-benar senang!


Aku akhirnya tau apa yang terjadi padaku sebelumnya … walau aku masih belum tau ….


… Bagaimana aku bisa ada di sini.


"Aura yang membawa mu ke sini!"


Afra benar-benar terkejut melihat gadis bermata merah itu yang tiba-tiba muncul di depannya. Ya, Afra masih duduk di tempat tidur dan melihat pantulan dirinya di cermin. Dan ya, gadis bermata merah itu muncul tiba-tiba … seakan keluar dari cermin itu.


"A-apa yang kau maksud—"


"Ya, gadis penyihir itu yang ku maksud!" potong gadis bermata merah itu menatap mata Afra dengan tatapan malas.


Jadi namanya Aura ya…, batin Afra sambil tersenyum senang.


"Kau sudah tau jawabannya kan? Kalau begitu aku—"


"Ah!" ucap Afra memotong ucapan gadis bermata merah itu, "a-aku ingin bertanya lagi!"


Heeh


"Kau benar-benar polos ya, Afra!" ejek gadis bermata merah itu, tetapi Afra tidak menyadarinya. Ya, Afra tidak merasa kalau gadis bermata merah itu mengejeknya.


"A-aku rasa begitu," ucap Afra lalu tertawa kecil, dan gadis bermata merah itu hanya diam melihat Afra yang tidak terpengaruh dengan ejekan nya.


"Cepat katakan!" perintah gadis bermata merah itu dengan nada dingin sambil menatap serius mata Afra.


Afra langsung tertegun mendengar perkataan gadis bermata merah itu, "a-a-aku ha-hanya ingin tanya … tentang tempat ini…."

__ADS_1


Gadis bermata merah itu langsung mengalihkan pandangannya ke jendela dan melihat keluar jendela.


"Kau ada di akademi Arknest, dan kau sudah menjadi murid di akademi ini!"


__ADS_2