Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Iliya Viely


__ADS_3

Napas terengah-engah. Seakan meniup udara yang tak bergerak. Angin dihasilkan dari tubuh yang bergerak dengan cepat. Langkah kaki terus menerus menghancurkan genangan air hujan.


"Gadis itu … benar-benar—"


.


"Kau tidak bisa lari, Iliya! Hihihi."


.


Iliya terkejut dan tak bisa apa-apa. Gadis manusia itu sudah berada di hadapannya. Ruangan hitam tanpa ujung sudah menjadi latar tempat mereka berdua berada sekarang. Setelah tatapan menemukan dilakukan oleh gadis manusia pada Iliya.


"Hihi," tawa Afra mulai berjalan menuju Iliya.


Tidak ada sapu terbang di tangan penyihir itu. Penyihir kuning itu sudah tidak bisa apa-apa tanpa sapu terbangnya. Sihirnya tidak bisa digunakan, bahkan organ-organ tubuhnya terasa sesak setelah memasuki dimensi hitam ini.


"Hihihi." Afra kembali tertawa.


Gadis manusia itu sudah berubah sepenuhnya. Netra birunya sudah terselimuti merahnya darah. Rambutnya tetap hitam kebiruan dan tidak memanjang, tetapi sabit putihnya sudah berubah menjadi hitam dan merah. Sabit hitam yang terlumuri oleh merahnya darah.


"Kau tidak bisa apa-apa sekarang, Iliya!" Afra tertawa dengan nada jahatnya.


Tidak, itu tentu bukanlah Afra, melainkan … alter egonya. Ilva Ilyani. Gadis monster itu sudah mengambil alih sekarang. Iliya hanya bisa berjalan mundur sekarang, meski rasanya sia-sia saja.


Afra semakin dekat dengan dirinya. Bilah tajam sabit hitam itu membuatnya tak bisa berkutik lagi. Cairan merah yang mengalir di sana membuat cairan merah dalam tubuhnya bergejolak. Organ-organ tubuhnya terasa bergetar hebat.


.


"Kau bukanlah makhluk yang pantas menghadap padaku, Penyihir!"


.


"Akh!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


"Hihi … hahahaha!"


.


Suara rintihan dunia masih terdengar. Garis bening menetes dari kapas hitam di langit malam. Warna biru ada pada lukisannya, tetapi transparan adalah wujud aslinya. Tangisan adalah sinonimnya, sedangkan kematian yang mengiringinya.


Genangan air mulai tercemari oleh tinta merah. Menancapkan serpihan kayu pada tanah hutan yang ditumbuhi tanaman tak berkayu. Suara rintihan tercipta dari benda hidup yang terjatuh itu.


"Hei, Iliya … apa yang kau lakukan di sini?"


Iliya mendongakkan kepalanya dan menatap mata merah yang warnanya lebih gelap lagi kan bersinar darinya. Ia terbelalak dan mulai merasakan setiap organ-organ tubuhnya yang bergetar.


Afra Afifah, gadis manusia yang memiliki netra dengan iris biru bagaikan lautan itu, sudah berubah. Irisnya menjadi merah, bagaikan lautan darah. Rambut dan pakaiannya tetap sama dan tidak berubah. Pendek berwarna hitam kebiruan dan putih dengan warna biru yang menyelimuti.


Gadis manusia itu tersenyum miring pada Iliya yang terduduk di tanah itu. Ada sabit panjang di tangan gadis manusia. Sabit yang kini sudah berwarna hitam dengan cairan merah kental pada bilah tajamnya.


"Hihi."


Iliya langsung menelan ludahnya sendiri setelah mendengar tawa Afra itu. Ia kini tidak bisa apa-apa. Tongkat sihir— tidak, lebih tepatnya sapu terbangnya sudah hancur. Serpihan kayu itulah yang menjadi bukti bahwa sebelumnya sapu terbang itu masih ada.


Ya, sebelum hancur oleh aura merah pada tubuh manusia bernama Afra Afifah itu.


.


"Kau tidak bisa lari, Iliya Viely!"


.


.


.


.


Afra mempertegas perkataannya saat melihat Iliya yang berlari menjauh. Namun, tawa dan senyum jahat kembali tercipta di wajahnya. Aura merah pada tubuhnya semakin bersinar, begitu juga dengan netranya yang kini sudah berwarna merah darah.


"Kita mulai lagi semua ini menjadi hal lain, Afra," ucap Afra yang sebenarnya adalah ucapan dari Ilva.


Ya, gadis manusia itu masih menempati tubuhnya. Hanya saja, gadis monster dalam dirinya yang menjadi penggerak tulang-tulang tubuhnya. Gadis manusia itu tahu apa yang dilakukan gadis monster pada dirinya, tetapi ia tidak bisa apa-apa.


.


Napas terengah-engah. Seakan meniup udara yang tak bergerak. Angin dihasilkan dari tubuh yang bergerak dengan cepat. Langkah kaki terus menerus menghancurkan genangan air hujan.


"Gadis itu … benar-benar—"


.


"Kau tidak bisa lari, Iliya! Hihihi."


.

__ADS_1


Ya, ini semua hanyalah perputaran waktu. Melihat masa depan, lalu kembali ke masa lalu dan kembali ke masa depan. Tidak, lebih tepatnya … masa sekarang. Masa di mana penyihir kuning itu sudah menyentuh lautan darah.


"Kau bukanlah makhluk yang pantas menghadap padaku, Penyihir!" ucap Afra dengan lantang dan memberikan tatapan menusuk pada Iliya.


Seketika, sabit hitam yang basah akan darah itu, mulai diayunkan oleh Afra. Sabit itu langsung mengenai tubuh penyihir kuning bernama Iliya Viely itu.


"Akh!" teriak Iliya diselimuti rasa sakit.


Bilah tajam nan melengkung itu tepat mengenai bagian bawah jantung Iliya. Semua organ tubuhnya langsung bergetar hebat, termasuk jantung yang semakin meningkatkan rasa sakit dalam dirinya.


Iliya terus berteriak kesakitan. Darah langsung menyembur bersamaan dengan bilah tajam yang menusuk tubuhnya. Cairan merah nan kental itu berceceran di mana-mana. Menciptakan lingkaran yang tajam di sisi-sisinya dengan warna merah pekat.


Ruangan gelap tanpa ujung dengan lantainya yang berwarna hitam. Tidak ada warna putih sebagai bentuk penyeimbang. Semuanya gelap nan dingin. Menusuk setiap nyawa yang berada di sana, kecuali sang pemilik tempat itu sendiri.


"Akh!" teriak Iliya yang semakin meningkat.


Darah terus menyembur dan mengubah warna lantai yang hitam menjadi merah. Tidak hanya lantai, tetapi pakaian gadis manusia. Gadis manusia itu tersenyum miring lalu tertawa melihat penyihir kuning yang kesakitan itu.


Sabit hitam yang semakin dibasahi oleh cairan merah nan kental itu masih berada di tubuh Iliya. Menciptakan garis vertikal yang menembus bagian belakang sampai depan. Darah masih terus mengalir dan menyembur. Mulut Iliya mulai mengeluarkan darah.


.


"Hihi … hahahaha! Kalian benar-benar lemah, ya! Nyawa abadi tidak menjamin daya tahan belenggu kalian yang rapuh itu! Hahaha!" Afra berkata dan terus tertawa, menertawakan rasa sakit Iliya yang semakin lama semakin memburu.


.


Darah yang menyembur keluar dari tubuh Iliya mulai menambah. Lebih banyak dari darah yang keluar dari tubuh monster-monster itu. Wajah Afra terkena cairan merah nan kental itu. Afra tentu tersenyum dan langsung menjilat darah di dekat bibirnya itu.


"Penderitaan, rasanya aku ingin bersenang-senang lebih lama denganmu, Iliya Viely!" ucap Afra sudah tidak bisa dihentikan lagi. Ia kembali tertawa dengan nada tanpa rasa kasihan. Penuh nafsu akan darah merah.


.


"Akh!"


.


Iliya kembali menyuarakan rasa sakitnya. Semua rasa sakit itu semakin bertambah. Darahnya semakin keluar dan membasahi seluruh ruangan tanpa ujung itu. Hanya lantai yang menampilkan darah miliknya.


Teriakkan penyihir kuning itu menyebar ke seluruh penjuru. Entah sampai mana teriakkan itu akan terdengar. Bilah sabit hitam masih menancap di tubuhnya, sedangkan tawa terus tercipta dari gadis manusia.


.


Sampai batasan kembali menghentikan tawa itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2