Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Hari-harinya


__ADS_3

Waktu berlalu dan pagi biru telah usai. Beberapa hari sudah dilalui oleh Afra tanpa kehadiran 'Aura'. Meski begitu, ia sudah merasa nyaman dengan keberadaan Sira.


Entah sejak kapan Afra merasa seperti ini. Nyaman dan tenang, rasanya seperti aneh. Namun, Afra seperti kehilangan saat tidak merasakan perasaan ini.


Sejak sebelum pengulangan waktu, Afra sudah merasakan sesuatu dari Sira. Apa mungkin dari cara bicaranya? Begitulah pemikirannya sampai seketika ia mendapat jawabannya.


***


Waktu terus berjalan dan sekarang sudah waktunya perjalanan dimulai lagi. Ini adalah hari ketiga puluh dan itu artinya Afra harus pergi melanjutkan perjalanannya. Menempuh dan menjejakkan kaki di kota sihir yang lebih utama.


Walau seperti biasa, harus ada hari-harinya yang sebelumnya untuk diperlihatkan.


.


.


.


Hari di saat pagi biru, apa yang terjadi setelah berpelukan.


Setelah beberapa menit berlalu dan rasa takut menghilang, Afra pun berhenti memeluk Sira, begitu juga dengan Sira yang melepaskan pelukannya.


"Terima kasih, Sira. Aku merasa nyaman sekarang," ucap Afra berterima kasih sambil terus menatap mata Sira.


Sira hanya mengangguk dan menunjukkan ekspresi yang tidak bisa ditebak oleh Afra.


Sira sepertinya sedang memikirkan sesuatu, batin Afra.


"Sira?" panggil Afra membuat Sira sedikit melebarkan matanya. Sira mengangkat sebelah alisnya sebagai bentuk pertanyaan.


"Eum .. apa kau, memikirkan sesuatu? Kau tampak sedikit berkeringat," ucap Afra seketika membuat wajah Sira sedikit memerah.


"B –bukan apa-apa! Bukan apa-apa! Aku hanya …,"-Sira mengalihkan pandangannya dari Afra-"memikirkan, perkataan cowo hijau itu."


"Tapi 'kan, rambutnya pirang." Sira menyipitkan matanya setelah mendengar perkataan Afra.


"Yang lebih penting, sepertinya aku ingin sendirian sekarang," ujar Sira membalikkan badannya dan berjalan keluar kamar hingga sampai di dekat tangga ….


"S –Sira!" panggil Afra membuat Sira menghentikan langkahnya.


"Apa?"


"E –eum .. tidak ada," jawab Afra sambil tersenyum. Sira menatap Afra dengan wajah datar kemudian pergi meninggalkan Afra.


"Entah kenapa, aku selalu merasa seperti ini jika bersama Sira,"-Afra melirihkan suaranya-"meski aku masih merasa tidak tenang karena tidak ada Aura."


.

__ADS_1


"Ya, mungkin aku bisa membaca buku di kamar." Afra pun menutup pintu kamarnya dan membalikkan badannya, tetapi hal pertama yang dilihatnya adalah ….


"S –Sira?"


"Ah, aku berubah pikiran tentang ingin sendiri," jelas Sira yang baru saja masuk lewat jendela kamar Afra entah bagaimana caranya.


***


Kembali kepada waktu sekarang.


Langit malam tampak sangat gelap, tak ada bintang satupun di sana. Rembulan tidak menunjukkan dirinya dan hanya ada awan gelap yang menyatu dengan gelapnya langit.


Afra kini sudah siap untuk melanjutkan perjalanan. Kamar inap sudah dibersihkan dengan sangat bersih dan semua benda bawaannya telah masuk ke dalam dimensi 'itu'.


Ya, Afra akhirnya bisa sedikit demi sedikit mengendalikan 'aura' dan 'kekuatan' yang sebenarnya berasal dari 'dia'.


"Baiklah, aku seharusnya bisa melakukan ini,"-Afra mengepalkan tangannya-"ada Sira sekarang."


"Ya, aku pasti bisa!" Afra berkata pada dirinya sendiri sambil menatap keluar jendela dengan mata berkaca-kaca.


Afra mengusap matanya agar tidak meneteskan butiran air bening. Ia pun menghampiri jendela kamarnya dan menutupnya, kemudian ia pergi keluar dari kamarnya.


"Apa Sira sudah di bawah?" batin Afra saat melihat pintu kamar Sira yang sepertinya sudah dikunci.


Afra melihat ke pintu kamar inap di sebelah kamar Sira, "laki-laki itu .. benar-benar tidak keluar, ya?"


"Sira!"


"Oh, sudah selesai, ya?" tanya Sira setelah mendengar Afra yang memanggilnya.


Afra mengangguk mendengar perkataan Sira. Kemudian, Sira kembali menatap penyihir resepsionis di depannya. Afra yang penasaran pun mendekati Sira.


"Jadi, semuanya berapa?"


"Tiga ratus koin emas untuk satu kamar inap selama tiga puluh hari," ujar penyihir resepsionis itu.


Sira pun mengambil dua kantong berukuran segenggaman tangan yang ia letakkan di pinggangnya, "ini enam ratus koin, aku bayar kamar gadis manusia ini."


"S –Sira!" Afra berkata dengan nada tinggi setelah mendengar perkataan Sira.


Sira tersenyum misterius, "memangnya kau punya koin? Tidak 'kan!"


Afra tertegun mendengar perkataan Sira. Ia memang tidak punya apa-apa, bahkan semuanya ditanggung oleh Aura. Ya, meski Aura menanggung itu hanya sesaat karena sekarang Aura masih tidak diketahui keberadaannya.


Sira lah yang akhirnya membiayai hal-hal penting bagi Afra. Meski awalnya itu hanya untuk makanan, Afra masih bisa menerimanya. Karena, itu adalah perjanjian yang ia dan Sira buat pada hari 'itu'.


.

__ADS_1


.


.


Melihat kembali kejadian pada hari 'itu'.


Setelah beberapa menit waktu Sira masuk ke kamar Afra melalui jendela. Afra dan Sira, keduanya pun kembali duduk berhadapan meski kini tanpa suara. Belum ada yang membuka pembicaraan di antara keduanya.


"Si –Sira—"


"Ya, apa kau ingin aku bercerita bagaimana caraku masuk? Oh mudah saja, cukup pakai sihir saja selesai!" potong Sira membuat Afra tertegun dan kembali menundukkan kepala.


Sira menghela napasnya, "kau … benar-benar manusia 'kan?"


Afra bergeming, ia antara tidak bisa membuka mulutnya dan tidak bisa menjawab dengan sejujurnya. Ya, meski ia memang manusia, tetapi ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang membuat dirinya tetap bertahan hidup di dunia ini.


"Hei, apa kau .. benar-benar manusia, Afra?" tanya Sira lagi dengan nada yang sedikit diturunkan dari sebelumnya.


"I –iya, aku … memang manusia," jawab Afra semakin menundukkan kepalanya. Ia merasakan aliran darahnya yang bergerak semakin cepat.


Aura biru pada tubuhnya kembali berkobar bagai api yang sudah siap untuk membakar segalanya. Sira yang menyadarinya hanya bisa menghela napasnya lagi.


"Oke-oke, sepertinya kau tidak bisa jujur untuk hal itu. Tak apa,"-Sira meoleh dan melihat keluar jendela-"bagaimana kalau kita buat perjanjian?"


"P –perjanjian?" Afra menatap Sira yang kembali menatap dirinya. Keduanya saling bertatapan dan memberi tatapan sampai ….


"Hoi, apa kau suka sekali bertatapan?" kata Sira sambil menyipitkan matanya dan membuat Afra tidak bisa berkata-kata.


"Oke-oke, kita buat saja perjanjiannya." Afra menganggukkan kepala mendengar perkataan Sira. Namun, pikirannya kembali mempertanyakan pertanyaan lagi.


"Eum .. bagaimana cara membuatnya?"


"Kita berciuman lalu tidur bersama! Ya gak lah! Tinggal ikuti saja perkataan ku lalu beres!" ujar Sira dengan emosi dan penuh kekesalan.


Afra hanya melebarkan matanya sambil menciptakan pertanyaan lagi, "jadi, kita benar-benar harus berciuman lalu tidur bersama agar bisa membuat perjanjiannya?"


"Ya gak lah! Kau ini polos apa bodoh sih!" tegas Sira mulai tenggelam dalam emosi dan sudah lupa dengan cara bicara sopan.


"Oh iya, maksudnya ciuman itu—"


"Hoi! Aku hanya bercanda tadi, bercanda!" potong Sira sudah hampir kehilangan akal sehatnya. Ia mulai mengambil napas panjang dan menghembuskan napasnya perlahan.


Afra hanya bisa diam dan melihat apa yang dilakukan Sira itu. Ia masih penasaran dengan maksud perkataan Sira tadi, meski itu hanya candaan saja.


"Oke, aku akan memberi pertanyaan padamu, kau harus iawab dengan jujur!" Afra menganggukkan kepala mendengar perkataan Sira.


"Pertanyaan pertama, apa kau punya uang koin?"

__ADS_1


__ADS_2