
"Oke, aku akan memberi pertanyaan padamu, kau harus jawab dengan jujur!" Afra menganggukkan kepala mendengar perkataan Sira.
"Pertanyaan pertama, apa kau punya uang koin?"
Afra terkejut mendengar pertanyaan Sira. Bukan tanpa sebab, tetapi karena ia merasa kalau ….
"Sepertinya tidak, ya? Oke! Aku terpaksa menanggung biaya kehidupanmu sekarang!" Ucapan Sira sesuai dengan pemikiran Afra setelah mencerna lebih dalam maksud pertanyaan Sira.
Afra ingin berbicara dan menolak, tetapi ….
"Oke, lanjut ke pertanyaan kedua!" Afra hanya bisa mengangguk kecil mendengar perkataan Sira.
"Apa yang akan kau lakukan selama menginap di sini? Kau menyewa kamar inap untuk tiga puluh hari ke depan 'kan? Sepertinya kita mengambil hari sewa yang sama." Sira menyiulkan jarinya berulang kali.
Afra menganggukkan kepalanya, "i –iya, Aura menyewa kamar inapnya selama tiga puluh hari. Namun, aku tidak tau, kita mengambil hari sewa yang sama."
"Sepertinya kita mengambil hari sewa yang sama, Afra," ujar Sira membuat Afra terbelalak. "Aku melihat Aura terduduk di depan pintu kamarmu sebelum aku masuk ke kamar inapku," sambungnya menjelaskan.
"Begitu, ya," ucap Afra mengerti.
Sira menaikkan alisnya sebelah, "jadi, apa yang akan kau lakukan selama menginap di sini, Afra?"
Afra terdiam sejenak setelah Sira mengulang pertanyaan dengan nada tegas. Ia berpikir sejenak tentang apa yang akan ia lakukan.
"Aku dari awal hanya ingin pergi dari rumah Aura, kembali ke kota dan mencari tahu. Namun, aku juga sebenarnya … tidak tahu, apa yang harus dilakukan untuk mencari tahu semuanya."
Afra membatin, berpikir dan kembali mengingat-ingat kembali apa yang menjadi tujuannya. Dan juga, apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan itu.
Sira menghembuskan napasnya dengan kasar, "oke-oke. Katakan saja apa yang membuatmu bisa sampai ke sini, Manusia!"
Afra terbelalak dan terkejut. Sira kembali berkata, "kau itu manusia! Tak masuk akal bukan, jika ada manusia yang sudah bisa bertahan hidup di dunia ini, tapi malah mencari kematian dengan pergi ke kota?
Kau pasti punya tujuan 'kan? Juga alasan bagaimana kau bisa berani meski otakmu seperti konslet!" tegas Sira tanpa sadar membuat mata Afra berbinar.
Afra terkejut dan terbelalak, tetapi perkataan Sira membuatnya yakin bahwa …
"Sepertinya, aku bisa mengatakannya. Iya 'kan?" batin Afra bertanya pada dirinya sendiri.
Afra tersenyum, "ya, aku punya tujuan dan alasan itu, Sira!"
__ADS_1
"Bagus! Katakanlah padaku, Afra!" Sira kembali mempertegas perkataannya dan juga menatap tajam mata Afra.
Afra membalas kata-kata dan tatapan tajam Sira dengan senyuman. Ia mulai berbicara, "tujuanku adalah, mencari semua tentang dunia ini dan menemui beberapa makhluk termasuk Aura. Karena …
… alasan aku bisa berani sampai ke sini adalah karena di waktu sebelumnya aku mendapat kepercayaan dari para makhluk di sini, dan salah satunya adalah kau, Sira."
Sira terbelalak dan terdiam sejenak, tetapi ia langsung tersenyum miring. Memberi dan tetap menatap tajam mata Afra.
"Pengulangan waktu, ya? Pantas saja aku merasa ada yang janggal, jadi begitu, ya," kata Sira dengan nada yang terdengar lirih, tetapi terasa sangat tajam pada pendengaran.
"Aura juga termasuk salah satunya, dan dia adalah teman pertamaku waktu itu," sambung Afra lagi sambil menundukkan kepalanya. Matanya mulai berkaca-kaca.
Sira mulai mengerti dan kembali bertanya, "lalu, di waktu itu kau menganggapku sebagai apa? Teman? Atau sosok yang lewat saja?"
"Sira … aku hanya menganggapmu unik saja, aku tidak tau kau mau berteman denganku atau tidak waktu itu," jawab Afra membuat Sira sedikit kebingungan.
"Ya, meski sikapmu tetap sama, juga cara bicaramu yang … lucu?" Afra tertawa kecil dan tersenyum senang. Ia memberikan tatapan mata pada Sira, "aku .. sudah menganggapmu sebagai teman sejak waktu itu, begitu juga dengan semuanya!"
Sira tak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Afra, "baguslah," ucapnya lirih.
Kembali pada malam di waktu yang sekarang. Tampak di langit malam yang gelap bulan purnama dengan cahaya terang. Bintang-bintang sedikit menghilang karena cahaya penerangan pada bangunan kota.
Awan hitam mulai menutupi bulan sehingga hanya bisa terlihat setengahnya. Kini, Sira dan Afra sudah keluar dari penginapan setelah membayar biaya penginapan.
Sira tampak diam sambil menatap pemandangan bulan purnama yang mulai tertutupi sepenuhnya oleh awan. Afra mengikuti pandangan Sira, tetapi akhirnya ia memandangi wajah Sira.
Afra tertawa kecil sehingga Sira menoleh ke arahnya, "hah? Apa?"
"Bukan apa-apa kok! Hanya .. tertawa saja," jawab Afra kembali tertawa sampai Sira memutar bola matanya sendiri.
"Asal kau tau, ya! Aku sedang mikirin sesuatu tau!" Afra membelalakkan mata dan menciptakan tanda tanya di kepalanya.
Sira benar-benar mudah sekali membuatnya terkejut. Meski sepertinya ia mulai menyadari kalau …
"Eum .. aku jadi sadar, kalau aku bisa memahami ucapanmu, Sira!" kata Afra membuat Sira menaikkan alisnya sebelah. "Ya, meski hanya sedikit sih," sambungnya lalu kembali tertawa.
"Terserahlah!" ujar Sira dengan nada kesal. Afra pun menghentikan tawanya.
"Oh iya, kau bilang sedang memikirkan sesuatu 'kan?"
__ADS_1
"Ya," jawab Sira tanpa menatap mata Afra.
"Eum, begitu, ya," ucap Afra lirih kemudian tersenyum tipis.
Keheningan tercipta. Afra hanya diam dan tidak berkata ataupun bertanya mengenai apa yang dipikirkan Sira. Sira yang acuh tak acuh itu mulai menghela napasnya.
"Aku memikirkannya," lirih Sira membuat Afra berhenti menundukkan kepalanya. Ia memfokuskan pandangannya pada wajah Sira.
Sira tidak menatap balik netra biru gelap milik Afra. Ia mengarahkan pandangannya pada bulan purnama yang mulai tertutupi dengan sempurna oleh awan hitam. Angin sepoi-sepoi berhembus dan menjadi penjeda.
"Tentang kata 'teman' itu," sambung Sira sebelum akhirnya angin sepoi-sepoi berhembus.
Afra bisa melihat rambut panjang berwarna biru muda milik Sira yang terkena hembusan angin. Wajah Sira tampak serius dan sedikit menyiratkan sesuatu. Afra penasaran dengan ucapan Sira.
"Apa .. maksudmu—"
"Aku!" potong Sira langsung menoleh dan menatap mata Afra.
Netra biru keemasan itu tampak bagai cahaya rembulan yang mulai menyamai mentari. Hawa tajam dan dingin tampak pudar dari mata itu dan berganti menjadi sesuatu yang misterius.
Mata dengan iris berwarna biru gelap, bagaikan warna air lautan di kedalaman yang paling terdalam. Warna yang hampir menyerupai gelapnya malam, tetapi masih terlihat jelas warna birunya.
Kedua mata itu saling bertatapan. Afra Afifah, ia adalah pemilik mata biru itu. Sedangkan Sira Siveria adalah pemilik mata kuning. Si gadis manusia dan siluman yang meyakini dirinya adalah penyihir.
"Aku …." Sira menggantungkan kembali perkataannya. Matanya masih menatap mata biru Afra, begitu juga dengan Afra yang masih menatap mata kuning Sira.
"Aku .. ingin kau …." Mata Afra seketika bercahaya. Warnanya bagaikan warna aura birunya.
Sira tidak bisa melanjutkan perkataannya, tetapi ia benar-benar sangat ingin mengatakannya. Sampai angin malam kembali berhembus dan membelai rambut pendek Afra.
"Kau .. ingin aku?" tanya Afra membuat makna baru dari kata-kata Sira yang menggantung.
Sira tampak membelalakkan mata dan menampakkan ekspresi aneh. "Kau! Aaagh!"
Afra memiringkan kepalanya mendengar perkataan Sira yang aneh itu. Namun, sepertinya Sira sudah tidak ingin melanjutkan perkataannya yang menggantung itu.
"Agh! Sudahlah, lupakan saja!" ujar Sira sambil menutupi kedua matanya dengan satu tangannya. Napas panjang ia keluarkan agar merasa lebih baik.
Afra yang melihatnya hanya bisa diam, tetapi ia merasa kalau sepertinya ia bisa melakukan sesuatu. Tangan Afra mulai menggenggam tangan Sira yang satunya sehingga Sira berhenti menutupi matanya sendiri.
__ADS_1
Sira terkejut ketika melihat jarak antara dirinya dan Afra yang semakin dekat. Afra mulai membuka mulutnya, "Sira …."