
Cahaya biru mulai redup dan kaki Afra mulai menyentuh tanah, meski sekarang penampilannya sudah berubah. Ya, benar-benar berubah. Aura baru saja mengedipkan matanya dan kembali memfokuskan pandangannya pada Afra, setelah menggeleng tak percaya.
Penampilan gadis manusia bernama Afra itu benar-benar berubah. Gaun yang dipakainya hampir mirip dengan pakaian yang dikenakan penyihir di kota. Meski perbedaan jelasnya ada pada kepalanya.
Warna biru mendominasi pada gaunnya. Bagian pundaknya tidak ditutupi kain dari gaunnya. Hanya pada bagian lengannya yang diselimuti kain berwarna biru. Seperti manset, tetapi di bagian ujungnya tidak rapat, tetapi mengembang.
Ya, ini sedikit sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Gaun pendek yang bahkan tidak menutupi seluruh pahanya. Bagian kaki terbalut dengan kaus kaki berwarna biru gelap. Terdapat garis putih di kaus kakinya dan kaus kakinya tentu menutup sampai bagian paha.
Pada bagian bawah lebih diwarnai oleh warna biru, sedangkan di bagian atas lebih didominasi warna putih. Tidak ada rantai yang mengikat leher dan dadanya. Hanya ada pita berwarna merah di bagian dada dan semacam kerah berwarna biru di lehernya.
Sedangkan di bagian kepala terdapat jepit rambut yang dihias oleh batu permata berwarna biru dan merah. Permata berwarna biru lebih besar dibandingkan dengan yang merah dan juga, terdapat kain berwarna biru di belakang permatanya.
Kain biru yang seakan-akan seperti api berwarna biru yang menyelimuti permata biru itu. Sedangkan permata berwarna merah, hanya terlihat lebih terang saja dibandingkan dengan yang biru. Juga, ada sehelai bulu berwarna putih di ujung pertama merah.
Permata itu tersusun dengan garis vertikal. Namun, hal yang terpenting sekarang adalah ekspresi pada gadis manusia bernama Afra ini.
.
.
.
"Afra … kau …." Aura berhenti berbicara dan hanya bisa diam, meski mulutnya masih terbuka sedikit.
Gadis manusia bernama Afra Afifah itu, hanya diam dan tidak menampilkan kehidupan di mata birunya itu. Kesunyian menyelimuti dirinya dan pandangannya sudah berada di alam bawah sadar.
.
.
.
"Aku … tidak bisa mendekat," lirih Aura saat menyadari bahwa ada cahaya biru yang menjadi kubah di hadapannya.
Ya, kubah yang sekarang sudah mengurung diri Afra di dalamnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
"Ini … di mana?"
.
Baiklah, kembali ke pemikiran gadis manusia ini.
***
Ruangan gelap tanpa ujung. Tidak, bagaimana jika mencoba diksi baru?
Ini adalah dunia, dunia yang tidak memiliki apapun di dalamnya. Hanya kekosongan juga kegelapan, tanpa ujung dan tidak akan bisa ditemukan. Meski begitu, ada beberapa cahaya berwarna biru yang muncul, tetapi memiliki bentuk tak biasa.
Beberapa kubus mulai bermunculan dan mengeluarkan cahaya berwarna biru. Cahaya itu menyinari gelapnya ruangan ini dan memberikan penerangan lebih pada gadis manusia bernama Afra Afifah ini.
Ya, gadis manusia yang saat ini sudah berada di tempat tak masuk akal ini.
"Apa ini? Kenapa pakaian ku berubah? Lalu … bukankah ini tempat milik-'nya'?"
.
"Hihi."
.
Suara tawa terdengar, begitu juga dengan langkah kaki di seluruh penjuru. Kubus bercahaya mulai mengelilingi Afra yang kini sudah berpenampilan berbeda. Ya, penampilan yang sudah diutarakan di atas, itulah penampilannya saat ini.
.
.
Afra langsung menoleh ke belakang dan menatap sosok hitam yang baru saja mengatakan kalimat itu. Ya, sosok yang benar-benar dikenalnya. Sosok yang mirip dengan dirinya. Meski penampilan sosok itu masih sama seperti penampilan yang lama.
"I –Ilva!"
.
Suara detak jantung langsung terdengar mengguncang tubuh Afra. Afra memegang kepalanya sejenak setelah sekilas rasa sakit itu melintas. Ini aneh, pikirnya tanpa menyuarakan dua kata itu, tetapi sepertinya sosok yang merupakan alter dari dirinya itu mendengar suara pikirannya.
Senyuman seringai tercipta di wajah sang alter. Pakaian hitam yang menampilkan warna merah darah, itulah gambaran sekilas tentang tampilannya. Gaun pendek dengan model yang sama seperti Afra, tetapi lebih ke pakaian besi nan gelap.
Di setiap bagian pakaiannya, selalu terdapat aksesoris besi berwarna silver. Meski itu tidak terlalu penting, karena yang terpenting adalah …
.
"Permata itu …."
.
"Hihi, kau benar-benar terkejut, ya?"
.
… ya, permata berwarna merah yang terdapat di kepalanya.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
"Mari persingkat pertemuan ini, Afra Afifah!" kata sang alter menunjukkan wajah jahatnya pada Afra. Bersamaan dengan beberapa rantai yang muncul dan mengarah pada Afra.
***
Awan hitam menyelimuti langit yang sudah menjadi gelap. Tidak ada cahaya matahari lagi yang tersisa, semua inti cahaya itu sudah benar-benar padam. Terbenam dan tenggelam di telan awan hitam.
"Aku … seharusnya tidak melakukan ini …," lirih Aura yang sekarang sudah dalam posisi terduduk pasrah. Melihat gadis manusia yang masih dalam posisi kekosongan.
Aura tidak bisa melihat cahaya kuning dan jingga di luar jendela. Sinar biru dari kubah transparan itu menutupi pandangannya. Apalagi dengan posisi Afra yang berdiri tepat di depan jendela. Berdiri dengan kekosongan di matanya.
"Aku … seharusnya tidak melakukan ini!"
.
.
.
.
.
Suara gemuruh tiba-tiba terdengar tepat setelah perkataan gadis penyihir bernama Aura itu. Kilatan juga ikut terlihat dan membuat warna biru dari kubah menjadi hitam gelap. Sampai tiba-tiba, kubah itu mulai berubah menjadi serpihan-serpihan kaca berwarna biru yang kemudian jatuh ke lantai.
.
Aura mendongakkan kepalanya dan memandang gadis manusia bernama Afra Afifah itu. Ada butiran bening di pojok mata Aura. Berkaca-kaca, itulah kondisi Aura saat ini, meski matanya kini sedikit melebar, setelah melihat tanda kehidupan di mata Afra.
"A –Afra …!" Aura langsung menunjukkan senyuman gembira setelah melihat Afra yang sudah menunjukan ekspresi dan titik cahaya di matanya. Namun, Afra langsung terjatuh dan membuat Aura terkejut.
"Afra!" teriak Aura langsung bangun dan menghampiri Afra. Aura langsung menahan tubuh Afra yang hampir saja menyentuh lantai.
Serpihan-serpihan kaca berwarna biru yang menyelimuti lantai diinjak oleh Aura dan itu, tentu menimbulkan luka di kakinya. Ia mengeluarkan sedikit suara kesakitan, tetapi ia langsung menggelengkan kepalanya dan menatap wajah sayu Afra.
"Maafkan aku, Afra …," lirih Aura sembari meneteskan air matanya yang tadi tertahan.
.
.
.
.
.
Suara gemuruh kembali terdengar dan tangisan langit mulai pecah. Awan hitam sudah tidak bisa menampung semua derita itu dan mulai mengeluarkannya, tanpa memikirkan apa pendapat semuanya. Butiran bening itu sudah turun dan mulai membasahi kota, meski tidak menghasilkan genangan di jalannya.
Tokoh utama selalu menjadi yang utama, meski ada beberapa potongan yang membuatnya tidak dijelaskan dengan benar. Dan kini, semua kembali pada posisi Afra sebelumnya. Kembali melihat ke dalam alam bawah sadarnya, ke tempat gelap yang disinari cahaya entah dari mana asalnya. Ya…
__ADS_1
"Mari persingkat pertemuan ini, Afra Afifah!"