Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Afra Afifah


__ADS_3

"Kita mulai sekarang, Afra Afifah …."


"Ya, Ilva."


Bisikkan kata bermakna perintah sudah diucapkan dengan alunan hawa dingin di dalam pikiran Afra. Tentu, itu adalah Ilva, alter dari Afra. Afra langsung menjawabnya, tetapi tidak dipikirannya. Ia menjawab dalam hatinya yang sudah siap menerima takdir ini.


"Airifra!" lirih gadis manusia bernama Afra dengan netra birunya yang mulai menghilang, tertutup oleh kegelapan.


Sabit putih yang terselimuti cahaya biru itu mulai ia ayunkan. Arahnya tentu pada monster kelas Elineum yang tepat berada di depan mata birunya saat ini. Netra birunya seakan memantulkan cahaya biru pada sabit putih yang sudah ia ayunkan itu. Tepat pada mata menjijikkan monster penuh nafsu.


Air merah dan hitam langsung menyebar ke segala penjuru. Menyelimuti dan menghilangkan wujud bening dari tangisan langit malam. Ayunan sabit putih milik gadis manusia sudah menghancurkan wujud menjijikkan monster yang sudah basah dengan cahaya biru.


Waktu seakan berhenti, membiarkan sinar biru menyinari akhir kehidupan monster itu. Cairan merah dan hitam terus menerus keluar dari tubuh monster yang sudah tak berwujud. Wujudnya seakan menjadi abu yang menghilang setelah terkena titik-titik bening dari awan hitam.


Merah dari wujud lain yang dimangsa, sedangkan hitam adalah cairan aslinya. Monster itu kini sudah tidak ada, wujudnya saja sudah benar-benar terbenam. Afra mulai beralih pada monster di belakangnya.


Tanpa membalikkan ayunan sabit dan langsung mengayunkannya menjadi bentuk bulan, monster kelas Elineum yang berada di belakang Afra kini sudah tiada. Cairan merah dan hitam sudah menyembur bagai air mancur horisontal. Semburannya bagai sayap yang tak bisa menyatu.


Afra tak mengekspresikan apapun setelah melakukan semua ini. Sinar biru dari sabit putih ia biarkan menyelimuti netra birunya. Memberi kesan gelap pada netranya sendiri, sementara monster menjijikkan penuh kenangan buruk itu menghilang.


Akhir makhluk dari kawasan terlarang itu tentu sama, seperti monster yang Afra hilangkan dengan sabit putih. Bersinar terang oleh cahaya biru dengan tubuh yang menyemburkan cairan merah dan hitam.


Perlahan-lahan, wujudnya mulai berubah menjadi abu. Cairan merah dan hitam itu menggenang pada tanah. Tanah alami nan coklat itu tentu berubah menjadi merah dan hitam. Air bening yang turun tidak bisa mengubahnya.


Menghilang menjadi abu, bahkan sudah lenyap sebelum menyentuh tanah. Afra tetap diam tanpa ekspresi setelah melenyapkan kedua monster itu. Sabit putih sudah ia genggam dengan normal. Seperti di awal, bilah tajam yang sudah terlumuri cairan merah dan hitam itu tepat di dekat kepalanya.


Tidak, lebih tepatnya di dekat telinga kirinya. Cairan merah dan hitam tentu menetes di bahunya dan ikut membasahinya. Tubuh dan pakaian yang sudah basah dengan tangisan langit itu kembali basah dengan warna yang lebih gelap.


Merah dan hitam, itulah warnanya. Warna yang mulai menciptakan hal baru pada diri Afra.

__ADS_1


"Hihi."


Senyuman miring tercipta di wajahnya. Tawa baru saja dikeluarkan olehnya. Netranya mulai berubah. Warna merah menyelimuti tubuhnya.


"Menyenangkan sekali, ya,"-Afra menoleh ke belakang dan menatap sosok di balik dedaunan-"Iliya Viely!"


Mata terbelalak, itulah yang tercipta di wajah sosok itu. Sosok yang sudah mengamati gerak-gerik Afra sebelumnya.


"Ara ara, gadis itu sudah mulai, ya," ucap sosok perempuan dengan netra merah.


Rambut kuning menyala dengan mata berwarna merah. Pakaian penyihir dengan warna hitam dan putih. Senyuman miring yang mulai tercipta memberi kesan menyala padanya. Tidak, lebih tepatnya kesan yang mudah dikenali.


"Apa itu?" batin Afra berhenti melangkah.


Iliya Viely. Ya, itulah makhluk yang mulai menyuarakan langkah kaki sehingga Afra berhenti. Tentu, ia tidak mendengarkan perkataan batin Afra. Yang dilakukannya hanya melangkahkan kakinya tepat di genangan air.


Sesekali, penyihir kuning ini menaiki sapu terbang dan pergi ke arah lain. Kemudian turun tepat di genangan air yang warnanya menyatu dengan tanah. Sampai …


"Suara apa itu?" batin Iliya menoleh ke sumber suara.


"A –apa … apa maksudnya ini? Bagaimana bisa ada monster di sini!" batin Iliya terkejut dan mulai gemetaran.


Ya, sesosok monster dengan wujud mengerikan dilihat olehnya. Monster yang benar-benar monster dan bukanlah sihir. Monster yang sudah menapakkan kaki di genangan air bersamaan dengan dirinya.


Makhluk berperawakan kurus dengan anggota tubuh yang tidak normal. Bagaikan hewan tetapi hanya berisi tulang. Gigi tajam yang tumbuh tidak beraturan dengan saliva bening nan kental. Kerongkongan makhluk itu terus mengeluarkan suara penuh nafsu.


Paragraf yang sama tentu bisa menemukan makna sebenarnya 'kan? Lalu, apa yang dilakukan penyihir kuning bermata merah ini?


"Aku harus menjauh dari sini," batin Iliya langsung menaiki sapu terbangnya dan terbang di antara daun-daun dari pohon tak berkayu.

__ADS_1


Ia tidak terbang di atas, melainkan di bawah. Hanya kurang dari satu meter ia terbang menggunakan sapu terbangnya. Netra merahnya mulai diedarkan sampai terpusatkan pada gadis manusia.


"A –apa yang dia lakukan?"


Penyihir berambut panjang berwarna kuning itu mulai mengambil arah jam sepuluh. Ia mulai memfokuskan pandangannya pada Afra, tentunya di atas sapu terbangnya. Ia tidak menapakkan kakinya di tanah sama sekali.


Monster kelas Elineum, ada dua monster yang mengincar gadis itu, lalu kenapa dia malah diam? Mungkin itu pemikiran Iliya saat melihat Afra.


Ya, Afra Afifah. Gadis bermata biru itu mulai memejamkan matanya dan mengucapkan sesuatu dari mulutnya. Iliya tidak bisa mendengarnya, tetapi ia terkejut setelah melihat bilah tajam melengkung keluar dari tangan Afra.


"Afrafair!"


Sabit dengan bilah panjang melengkung berwarna putih. Tidak, warna biru lebih menyelimuti pada sabit putih milik gadis manusia ini.


Ya, itulah yang dilihat oleh Iliya di balik daun pohon hijau itu. Iliya terus memperhatikan gadis manusia itu dengan mata terbelalak. Awal niatnya untuk melakukan sesuatu pada gadis itu langsung terhentikan.


Netra merah Iliya terus fokus menatap Afra. Afra masih memejamkan matanya. Sedangkan dua monster itu mulai mengambil posisi. Satu pada posisi jam dua belas, sedangkan yang satunya pada posisi jam enam. Iliya ada pada posisi jam sepuluh, sedangkan Afra berada di tengah-tengah.


Senior yang penuh ambigu itu terus memfokuskan pandangannya pada Afra, sampai peristiwa tak terduga mulai terlaksana.


"A –apa … maksudnya ini? Gadis itu—"


"Hihi."


"Hihihi."


Tawa Afra menghentikan ucapan lirih Iliya. Iliya tertegun setelah mendengar suara tawa Afra. Suara tawa yang tercipta dan diulang dua kali, meski ditambah satu suku kata pada tawa terakhir. Ya ….


Senyuman miring tercipta di wajahnya. Tawa baru saja dikeluarkan olehnya. Netranya mulai berubah. Warna merah menyelimuti tubuhnya.

__ADS_1


Iliya menelan ludahnya sendiri.


"Menyenangkan sekali, ya,"-Afra menoleh ke belakang dan menatap sosok di balik dedaunan-"Iliya Viely!"


__ADS_2