
Sekarang menuju latar di atas tanah, bagai melayang di udara. Namun, kaki masih menginjak benda padat di bawahnya. Langit malam memang gelap, tetapi bulan 'kan selalu bersinar malam ini.
Tanpa bintang-bintang lainnya, karena awan telah menutupi semuanya. Dua sosok dengan ras yang sama, yaitu ras iblis. Tingkatan keduanya berbeda, tetapi satu rasa masih tercipta pada ikatan antar keduanya.
"Meski waktu diputar, semuanya 'kan kembali, ya … Vi," ucap sosok perempuan dengan sepasang tanduk berwarna hijau di kepalanya.
"Meski harus mengobarkan ketidaknyamanan," sambungnya sambil memberi tatapan matanya yang berwarna orange itu.
Netra orange bagai api, tetapi juga seperti sinar mentari senja. Poni rambut hitam miliknya menutupi satu mata senja itu. Beberapa helai rambut poninya memiliki warna hijau, juga ada semacam serpihan cahaya yang menempel di poninya itu.
Ia memberi tatapan pada sosok perempuan lain yang berdiri di belakangnya. Sosok perempuan dengan mata biru bercahaya. Antara biru air atau langit, warna biru matanya ini benar-benar bercahaya.
Sosok perempuan bermata biru itu tersenyum, "ya, sepertinya begitu."
"Demi—"
"Ramalan," potong sosok perempuan lain dengan warna matanya yang berwarna merah.
Sosok perempuan yang jelas sekali bukan iblis. Netra merah dengan rambut panjang berwarna putih, juga ekspresi wajah yang tampak dingin. Ekspresi yang sama seperti kedua sosok perempuan iblis itu.
Sosok perempuan penyihir itu berdiri di depan dua perempuan iblis itu. Dengan pakaian penyihirnya yang berwarna hitam tanpa topi, ia menyimpulkan senyuman tipis dan memberi tatapan tajam.
"Kisami, apa kau datang sendiri?" tanya perempuan iblis bermata biru bercahaya itu.
Rambut biru gelapnya menjadi perbedaan besar dengan warna matanya yang bercahaya. Rambut yang panjangnya sampai di atas dada dengan sepasang tanduk hitam. Gaun berjubah yang dikenakannya berubah menjadi sweater hitam.
Sepatu hitam dan celana pendek menciptakan perubahan besar bagi dirinya yang tertutup. Lingkaran berlubang berwarna hitam melayang di atas kepalanya, juga sayap hitam di belakang punggungnya yang seperti pecahan kristal.
"… Vi," panggil sosok perempuan dengan mata senja pada perempuan iblis itu.
Rambut hitam panjang dengan sepasang tanduk berwarna hijau. Netra orange bagai senja dan wajah tanpa senyuman. Pakaian yang hanya menutupi sampai atas pahanya dengan jubah hitam.
__ADS_1
Warna putih menjadi pakaiannya dengan jubah hitam untuk menutupi lengan putihnya. Karena sekarang, lengan dan jari-jarinya sudah berubah warna menjadi hijau.
"Rye, kau …." Perempuan iblis bermata biru yang dipanggil Vi itu terdiam, melihat ekspresi serius iblis perempuan bermata senja itu.
Rye Else, itu adalah nama dari iblis perempuan dengan mata senja. Sementara untuk iblis perempuan bermata biru bercahaya, namanya adalah Viesta Olivia. Ya, jangan tanyakan lagi siapa nama perempuan penyihir bermata merah itu.
Mata merah dan rambut putih, siapa lagi kalau bukan Kisami Ki.
"Kita selesaikan saja, Vi, Ki," ucap Rye dengan nada serius dan dingin.
Menusuk dan penuh dengan ketajaman, sampai akhirnya sesuatu yang lain menciptakan keterkejutan. Meski dalam keseriusan dan aura tajam, sesuatu itu telah menarik perhatian para senior.
Baik itu Rye, Viesta, Kisami dan tiga senior lainnya yang ada di bawah bangunan akademi. Semuanya melihat ke arah hutan yang kini diselimuti kobaran aura biru bagai api.
"Woah, manusia itu benar-benar monster, ya!" ucap Verrine De Luna, sang perempuan vampir yang kini berada bersama Iliya dan Lycé.
Iliya Viely, sang sosok kuning atau perempuan penyihir itu tampak membelalakkan mata. Namun, Lycé Zayzik, si perempuan monster itu tersenyum sehingga Iliya menunjukkan wajah serius.
"Baiklah, Iliya. Akan aku lakukan sendiri sekarang," ucap Lycé penuh kepercayaan diri dan niat aneh.
Lebih baik melihat kembali para junior ini. Tentunya dengan waktu yang sebelumnya. Meski masih dalam jangkauan sinar rembulan dan gelapnya malam.
"A .. apa maksud semua ini, Aura? Apa .. yang sebenarnya terjadi?" Afra bertanya, tetapi Aura malah tersenyum misterius mendengarnya.
Afra Afifah, si gadis manusia yang kini sudah dikelilingi oleh enam makhluk dengan ras berbeda. Ya, meski dirinya tidak sendirian sekarang. Ada Sira Siveria, siluman sihir yang tetap berada di sisinya dan mulai menggenggam tangannya.
Afra menoleh dan mendapati tatapan dari laki-laki siluman itu. "Tenanglah, Afra. Kau … jangan mengeluarkan aura itu!" ucap Sira lirih berusaha memberi ketenangan.
Afra mengangguk sebagai jawaban, kemudian Aura mulai berbicara.
"Sepertinya aku butuh waktu untuk menjelaskan semua ini. Iya 'kan?" Afra mendapatkan tanda tanya mendengar perkataan Aura.
__ADS_1
Aura, si gadis penyihir bermata gradasi itu menatap Iylasvi, si penyihir hijau. Kemudian menatap ketiga makhluk lainnya secara bergantian. Dimulai dari Vendry, sang lelaki iblis, kemudian Phia, si burung hantu dan Livra, si siluman berwujud iblis.
Iylasvi, Vendry, Phia dan Livra menganggukkan kepala, sementara Yuu, si assassin itu angkat bicara.
"Ya, Afra. Karena sekarang .. kau harus mengeluarkan kekuatan mu itu!" Yuu langsung menciptakan kabut putih dan menyamarkan pandangan.
Afra tidak bisa melihat siapapun kecuali Sira yang semakin mengeratkan genggaman tangannya. Afra kembali menoleh dan menatap Sira.
"Es," lirih Sira membuat pelindung es yang melindungi Afra dan dirinya sendiri.
Pelindung es yang dibuat Sira langsung merasakan bilah tajam pedang Yuu. Si gadis assassin itu tiba-tiba saja langsung berada di hadapan Afra dan siap menyerang. Namun, serangannya tentu mengenai pelindung es Sira.
"Sepertinya kalian cocok, ya," ucap Yuu membuat Afra dan Sira terbelalak.
Yuu kembali menghilangkan dirinya dan menjadi sama seperti kabut putih di sekelilingnya. Dan pelindung es milik Sira seketika pecah dan terbakar oleh api biru.
"Blue fire!" teriak Vendry tiba-tiba muncul di belakang Sira dan siap menebas leher Sira.
Afra yang sudah menyadari kedatangan Vendry sebelum Sira langsung mengeluarkan sabit biru dari tangannya. Ia mengayunkan sabitnya dengan cepat ke belakang leher Sira. Pedang hitam Vendry langsung mengenai bilah sabit Afra dan terpental ke belakang.
Sira membelalakkan matanya dan hanya bisa menatap mata Afra melihat apa yang dilakukan Afra. Ia semakin terkejut melihat Afra yang tersenyum padanya.
"Jangan melamun!" teriak Aura yang entah ada di mana keberadaannya. Kabut putih masih menyelimuti dan menyamarkan keberadaannya.
Afra dan Sira langsung mengarahkan pandangannya ke segala arah, tetapi cahaya terang tiba-tiba menyilaukan mata keduanya. Cahaya itu berasal dari bawah kaki Afra dan Sira. Cahaya terang dengan tiga warna, yaitu kuning, merah dan biru.
Cahaya yang berasal dari lingkungan sihir di bawah kaki Afra dan Sira. Cahaya itu memunculkan sosok perempuan berambut hijau yang mengepung Afra dan Sira. Perempuan penyihir yang biasa disebut sosok hijau, Iylasvi.
"Hai, hai, Afra!" ucap Iylasvi yang kini membelah diri menjadi enam.
Iylasvi yang asli dan lima bayangannya ikut mengucapkan hai secara bersamaan. Suara gaung tercipta dan membuat pendengaran Afra juga Sira terganggu. Ditambah dengan cahaya menyilaukan dari lingkaran sihir, membuat Afra menghilangkan sabit biru di tangannya.
__ADS_1
Berganti menjadi aura biru yang langsung membuat Iylasvi dan bayangannya terpental menjauhi dirinya juga Sira. Lingkaran sihir berwarna gradasi itu tentu langsung hancur dan menghilang.
"Afra!"