
"Afra!"
Afra langsung menoleh ke belakang setelah mendengar suara yang memanggilnya, dan Afra langsung terkejut melihat Aura yang sedang berlari menuju Afra.
"Cepat ikut aku!" ucap Aura langsung menggenggam erat tangan Afra, "Terepōto!"
Seketika, Aura dan Afra langsung berpindah tempat ke menara sihir. Ya, di depan menara sihir tepatnya. Menara sihir terletak di tengah-tengah halaman depan akademi. Afra benar-benar terkejut melihat dirinya sudah berada di menara sihir.
Tiba-tiba, suara dengungan itu langsung terdengar lagi. Bahkan, sekarang suaranya terdengar sangat keras. Afra terkejut ketika melihat lonceng raksasa di atas menara sihir. Ya, ternyata bunyi dengungan itu dari lonceng itu.
Meski Afra sekarang sudah tahu, tetapi….
"Aaaakkh!" teriak Afra merasa kesakitan mendengar dengungan itu walaupun ia sudah menutup kedua telinganya. Aura terkejut melihat Afra menutup kedua telinganya dan berteriak keras.
"Afra! Apa kau baik-baik saja?" tanya Aura sambil memegang pundak Afra. Aura terkejut melihat darah keluar dari telinga Afra.
Aura pun langsung menoleh dan melihat lonceng raksasa itu.
"Terepōto!" teriak Aura langsung mengeluarkan lingkaran sihir dari tangannya memindahkannya tepat ke lonceng raksasa itu.
Lonceng raksasa itu perlahan langsung menghilang terserap masuk lingkaran sihir dan bunyi dengungan itupun menghilang. Namun, Afra yang sudah kesakitan mendengar dengungan lonceng raksasa itu langsung tak sadarkan diri dan jatuh ke tanah.
"Afra!" teriak Aura sebelum akhirnya Afra benar-benar tak sadarkan diri.
***
Kelas sudah dimulai, tetapi Afra tidak bisa mengikuti kelas pertamanya karena harus pergi ke UKS. Ya, meski ini dunia bawah tempat dimana tidak ada manusia, bukan berarti yang terluka akan langsung dibunuh.
Afra sekarang sudah sadar, tetapi ia masih harus istirahat sebentar dan baru bisa mengikuti kelas di waktu kedua.
"Waah, aku baru pertama kali melihat ras monster yang … mungkin kondisi fisiknya kurang, ya," ucap makhluk dengan telinga runcing dan gigi taringnya yang panjang. Ya, makhluk itu dari ras hewan, atau lebih tepatnya ras kelelawar atau sering disebut vampir.
"A-apa … aku boleh ikut kelas sekarang?" tanya Afra tidak memikirkan perkataan vampir perempuan itu. Ya, tentu saja vampir itu perempuan, rambutnya saja panjang!
__ADS_1
Vampir perempuan itu tersenyum, "tentu saja boleh! Lagipula, aku sudah dapat stok darah mu!" jawabnya sambil menunjukkan wadah transparan berisi darah berwarna merah.
Ya, darah itu adalah darah yang keluar dari telinga Afra. Walau sebenarnya darah itu sudah dicampur dengan darah milik vampir perempuan itu sendiri agar terlihat banyak.
"T-terimakasih!" ucap Afra berterima kasih lalu langsung beranjak dari tempat tidur dan pergi keluar. Vampir perempuan itu tersenyum.
"Ya, lagipula beberapa dari ras mu tidak mungkin bertahan hidup di sini," ucap vampir perempuan itu setelah melihat Afra yang sudah pergi jauh.
***
Setelah Afra berjalan menyusuri lorong, ia akhirnya menemukan ruang kelasnya. Dan sepertinya, jam kedua belum dimulai.
"Ini dia!" ucap Afra akhirnya menemukan ruang kelasnya. Afra pun segera masuk ke dalam kelas dan … semua murid terlihat terkejut melihat kedatangan Afra.
A-apa aku harus menyapa? batin Afra.
"H-hai, semuanya … namaku Afra. Salam kenal, ya!" ucap Afra memperkenalkan diri di depan kelas. Semua murid hanya diam melihat Afra.
"Hanya itu saja, Afra?" tanya Iliya yang ternyata sudah melihat Afra memperkenalkan diri dari luar kelas. Iliya pun berjalan masuk menghampiri Afra.
"A-apa ada lagi yang harus aku katakan?" tanya Afra pada Iliya. Semua murid langsung menggebrak meja dan berdiri.
"Apa ras mu? Dan apa tujuan mu di akademi ini?" tanya salah satu murid dari ras penyihir.
"Ya, tidak ada yang akan menjawab jika kau belum mengatakan ras mu!" sambung murid lain yang berasal dari ras siluman.
Afra terkejut mendengarnya, tetapi Afra kembali mengingat perkataan Ilva.
"Eum, baiklah. Aku ulangi lagi, ya!" ucap Afra dengan penuh percaya diri. Iliya tersenyum senang dan semua murid pun kembali duduk.
Afra menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya, "namaku Afra Afifah, tujuan ku di sini adalah mengenal lebih banyak tentang dunia bawah, dan ras ku adalah ras monster!"
Semua murid terkejut mendengar perkataan Afra, terkecuali dengan Iliya yang langsung memberi tepuk tangan pada Afra.
__ADS_1
"Afra, kau boleh duduk di kursi yang kosong itu, ya!" ucap Iliya menunjuk kursi kosong paling belakang yang dekat dengan jendela.
Afra hanya mengangguk dan berjalan menuju bangkunya dan duduk. Para murid masih melihat Afra dengan tatapan terkejut dan tak percaya.
Iliya berdeham dan membuat semua murid termasuk Afra melihat ke depan kelas.
"Sesuai dengan peraturan akademi ini, sebagai senior dari kalian semua yang rendahan, aku akan membuka kelas pertama kalian di jam kedua ini dengan latihan sihir dan kekuatan!" ujar Iliya dengan lantang dan sedikit menyombongkan dirinya, "semuanya cepat ke arena!"
"Ya!" jawab semua murid termasuk Afra.
Iliya pun berjalan keluar dari kelas diikuti semua murid, dengan Afra yang berjalan di belakang. Beberapa murid terlihat melirik ke arah Afra saat berjalan, tetapi saat Afra menyadari dirinya dilihat … murid-murid itu langsung mengalihkan pandangannya dan kembali fokus berjalan. Entah kenapa Afra jadi merasa teringat dengan sikap Eria.
Apa aku terlalu berlebihan tadi? Kenapa mereka melihatku seperti itu? batin Afra bertanya-tanya.
"Tidak, itu artinya kau tidak perlu takut dengan mereka, Afra Afifah!" bisik Ilva di dalam pikiran Afra. Afra hanya bisa diam dan melanjutkan langkahnya yang terhenti karena Ilva.
***
Sekarang, Afra dan semua murid sudah sampai di arena. Arena ini terletak di lantai satu, sedangkan ruangan kelas berada di lantai dua. Dan asrama ada di lantai satu dan juga dua.
Lantai dan dinding kayu yang luas dengan kursi panggung yang mengelilingi, begitulah gambaran dari arenanya.
"Afra?"
Afra langsung menoleh ke belakang dan terkejut melihat Aura yang sepertinya akan melakukan latihan sihir dan kekuatan juga. Tentu saja tidak hanya ada Aura, murid-murid kelas Aura juga sudah ada di arena dengan … iblis perempuan yang sebelumnya tak sengaja ditabrak Afra.
Afra dan Aura tidak sekelas. Mereka berada di kelas yang berbeda.
"Sepertinya aku beruntung, ya … bisa bertemu dengan Rye Else," ucap Iliya menghampiri iblis perempuan itu.
"Kesialan untukku," gumam Rye Else, iblis perempuan itu dengan wajah datar. Iliya tertawa kecil melihat teman seangkatannya itu.
Para murid dari kelas Afra maupun Aura terlihat menyimak pembicaraan Iliya dan Rye. Ada yang menyimak dengan peduli, ada juga yang tidak seperti Aura. Afra yang sedari tadi melihat ke arah Aura sedikit keheranan.
__ADS_1
Aura terlihat seperti memperhatikan Iliya dengan wajah dingin dan kesal. Ya, mengingat kejadian lonceng berdengung itu … sepertinya ada sesuatu yang terjadi antara Aura dan Iliya. Begitulah yang terpikir oleh Afra. Sampai … pembicaraan antara Iliya dan Rye membuat semua murid termasuk Afra dan Aura terkejut.
"Bagaimana … kalau anak kelas mu duel dengan anak kelas ku?"