
"Sepertinya … kepercayaan sedang dipertaruhkan di sini, Gadis monster!" tutur Cyrèn dengan nada tegas dan penuh hawa dingin.
Mata Cyrèn melirik sejenak, dan menatap netra biru Afra. Afra terkejut dengan tatapan Cyrèn yang … benar-benar berbanding balik dengan sebelumnya. Ya, sifatnya yang aneh dan misterius seketika berubah menjadi serius dan dingin.
Tidak, tidak, lebih tepatnya … seperti mengeluarkan sisi lain yang harus setia saat … pertarungan dimulai.
.
.
Langkah kaki membelah angin tercipta dari Cyrène En. Ia berlari dan menapakkan kakinya di dinding bangunan dan melewati hukum gravitasi. Tangannya yang lincah langsung menarik pedang berwarna merah darah di belakang tubuhnya. Wajah serius dengan netra menatap tajam, ia langsung melompat ke udara, dan…
"Draco daemonium!" teriak Cyrèn langsung menebaskan pedangnya ke langit malam.
Bintang-bintang yang berjatuhan semakin cepat bagai dipercepat waktu, dan mulai memercikkan api biru yang siap membekukan tujuannya. Tebasan Cyrèn terlihat kosong, tetapi … seekor makhluk bertubuh panjang dengan tanduk dan bersisik keras tercipta dari tebasannya.
Makhluk berkaki empat dengan tubuh panjang, bertanduk dua. Seakan-akan, ia adalah evolusi dari gabungan ular dan salamander. Tidak, tidak, sepertinya memang lebih tepat disebut … naga siluman.
Suara berat dan keras terdengar menembus masuk ke dalam telinga, suara yang terlepas dari mulut naga itu. Senyuman yang memperlihatkan gigi taringnya, itu yang Cyrèn lakukan sebagai respon. Naga siluman nya kembali mengeluarkan suara dan ….
… Langsung melesat menuju ribuan bintang jatuh yang mulai menyatukan dirinya itu. Mata terbelalak dan mulut yang sedikit membuka, itulah tanggapan Afra setelah melihat naga siluman berukuran besar itu menyerap bintang-bintang jatuh itu ke dalam mulutnya.
Alhasil, tubuh naga itu bercahaya sejenak, lalu kembali menggelap. Tubuhnya yang panjang membuatnya harus meliukkan tubuhnya dan terbang seperti ular berjalan di darat. Cyrèn menapakkan kakinya di udara, dan ekspresi terkejut lah yang tercipta di wajah Afra.
Seketika, lingkaran sihir berwarna biru muncul mengelilingi Cyrèn. Bintang-bintang bagaikan bumerang dan shuriken mulai melesat menuju sang naga dan pengendalinya. Pedang merah darah yang bercahaya mulai Cyrèn tebaskan, dan langsung mengenai bintang-bintang itu. Namun…
Semua lingkaran sihir itu langsung mengeluarkan bintang-bintang dan menerbangkannya ke arah Cyrèn, sedangkan sang naga sudah mulai menghilang karena efek bintang itu. Cyrèn tentu tahu konsekuensinya.
Kelincahan dan kecepatan mulai dikerahkan. Cyrèn dengan cepatnya langsung memotong, membelah, menebas, dan menghancurkan bintang-bintang bagaikan bumerang dan shuriken itu.
Afra hanya bisa diam dengan perasaan bergetar hebat. Matanya yang masih melebar dan bibirnya yang agak terbuka, hanya itu yang terlihat jelas di wajah Afra. Jantungnya hanya bisa berdegup kencang, dan matanya hanya bisa melihat saja.
__ADS_1
Tubuh Afra terasa tidak ingin bergerak. Ya, lagipula … memangnya apa yang bisa dilakukan gadis manusia ini?
.
.
"Senior benar-benar hebat, ya," puji Aura yang masih berada di atap bangunan itu.
Ya, tentu saja jarak Aura sangatlah jauh dari tempat siluman itu berada. Namun, Aura masih bisa melihat keberadaan dan gerak-gerik Cyrèn dengan jelas. Ya, Cyrèn juga bisa melakukannya jika ia menyadari keberadaan Aura.
"Terepōto!" ucap Aura langsung mengeluarkan lingkaran sihir berwarna kuning dari tangannya. Aura langsung masuk ke dalam lingkaran sihir, dan ….
.
.
… Ia langsung berpindah tepat di belakang Afra yang masih mendongakkan kepalanya, melihat ke arah Cyrèn yang masih sibuk dengan bintang-bintang yang kembali bermunculan.
"Terepōto!"
Lingkaran sihir berwarna kuning langsung muncul di bawah kaki Afra dan Aura, setelah Aura merapal sihir nya. Dan, ya … mereka langsung berpindah ke tempat lain … yang tentunya jauh dari siluman naga itu.
Cyrèn yang awalnya masih serius menyibukkan dirinya dengan bintang-bintang itu, langsung mengalihkan pandangannya ke tempat Afra sebelumnya berdiri. Dia menghilang, begitulah yang langsung muncul di kepala Cyrèn.
Seketika, semua lingkaran sihir berwarna biru yang mengelilingi Cyrèn pun menghilang. Dan, senyuman miring kembali tercipta di bibir sang siluman.
"Aah, benar-benar salah, ya," ucap Cyrèn dengan nada yang … penuh kesalahpahaman bagi pendengarnya.
***
Keheningan malam. Suasana yang selalu sunyi, tanpa suara, tidak ada apa-apa. Itu tidak berlaku selamanya di sini. Beberapa memang sudah mati, tetapi yang lainnya sedang menghidupkan kembali … hal-hal yang sudah mati itu.
__ADS_1
Gang kecil yang diapit oleh dua dinding bangunan yang terbentuk dari batu-batuan. Kota kuno yang masih memperlihatkan infrastruktur kayu dan batu, dan … kehidupan yang menghidupkan.
Afra dan Aura, mereka berdua kini berada di gang— tidak, lebih tepatnya berada di belakang penginapan. Ya, Afra merasakan nafasnya yang memburu karena terkejut. Sedangkan Aura … ia juga menghembuskan nafas pendek berulangkali.
"Au … ra … aku pikir … tadi siapa—"
"Afra!" potong Aura dengan nada tinggi sambil menggenggam kedua tangan Afra. Afra yang awalnya masih terkejut dengan kedatangan Aura langsung kembali terkejut. Ya, terkejut dengan hal lainnya dari Aura.
Kedua mata mereka saling bertemu. Tatapan mata biru dengan netra tiga warna. Raut wajah bingung dan … raut wajah panik, tetapi sebenarnya … itu tidaklah nyata.
"A-ada apa? K-kau kenapa?" tanya Afra masih terkejut dan mulai kebingungan. Aura terus menggenggam erat kedua tangannya, dan itu membuatnya … tidak nyaman. Namun….
Aura tidak menjawab sama sekali. Ia malah terus menatap tajam mata Afra, dan semakin memberi kesan ketidaknyamanan bagi Afra.
"Kau … menyembunyikan sesuatu, ya, Afra?" tanya Aura dengan nada serius dan … dingin.
Jantung Afra berdetak kencang mendengar perkataan Aura. Ia tak bisa berkata-kata. Tubuhnya juga mulai gemetaran, dan Aura tentu menyadarinya.
"A-aku … tidak menyembunyikan … sesuatu, Aura!" jawab Afra merasakan sesuatu yang lain dari temannya itu.
Ya, sikap Aura benar-benar aneh! Ia seperti … bukanlah teman yang dikenal oleh Afra. Aura pun melepaskan genggaman tangannya dan berjalan mundur perlahan. Afra hanya bisa diam dengan penuh tanda tanya.
Afra menatap mata Aura. Netranya dipenuhi rasa penasaran, dan kebingungan. Aura terus berjalan mundur perlahan, dengan netranya yang melebar. Bagai terkejut dan tidak percaya dengan jawaban Afra, Aura membalas tatapan mata Afra dengan…
"Ya … aku tahu, Afra …,"-Aura berhenti berjalan mundur-"… kalau kau … menyembunyikan … kepercayaan."
Jantung Afra kembali berdetak kencang. Perkataan Aura membuatnya benar-benar … tidak bisa berkata-kata. Namun, tanda tanya selalu muncul di dalam benaknya. Mata melebar dan alis yang terangkat, begitulah ekspresi yang ditunjukkan oleh Aura. Namun, berbeda dengan senyumannya.
Mulutnya tetap tertutup, dan bahkan mulai menyimpulkan senyuman misterius. Seakan-akan … senang melihat ekspresi Afra yang tak bisa berkata-kata, tetapi juga terkejut melihat Afra yang … mulai menundukkan kepalanya.
"Apa itu … kepercayaan?"
__ADS_1