Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Kau Ingin Aku?


__ADS_3

"Aku .. ingin kau …." Sira kembali menggantung perkataannya saat melihat mata Afra yang tiba-tiba berbinar.


"Kau .. ingin aku?" Ucapan Afra sontak membuat Sira terkejut. Ucapan Afra benar-benar memberi makna lain yang sangat jauh dari makna perkataan Sira yang menggantung.


"Cewe ini …!" batin Sira mulai menciptakan ekspresi yang belum pernah ia ekspresikan.


Bukan kesal, tetapi lebih mengarah pada malu dan sedikit marah. Kedua perasaan yang menyatu itu membuat Sira tidak tahu harus melanjutkan perkataannya atau tidak.


"Kau! Aaagh!"-Sira menutupi matanya dengan satu tangannya-"agh! Sudahlah, lupakan saja!"


"Cewe ini benar-benar—"


"Sira …," lirih Afra memotong perkataan batin Sira.


Sira berhenti menutupi matanya dan langsung mendapatkan tatapan mata dari Afra. Bukan hanya itu, tangan Afra yang tiba-tiba menggenggam tangannya membuatnya terkejut.


Apalagi sekarang jarak antara keduanya benar-benar dekat.


"Kau … ingin aku?" tanya Afra sekali lagi dengan wajahnya yang benar-benar dekat dengan wajah Sira.


Tangannya menggenggam erat tangan Sira. Sira tampak menampilkan ekspresi baru itu. "Sira …." Afra kembali memanggil Sira yang terdiam itu.


"A –Afra …," lirih Sira mulai mendekatkan tangannya yang satunya pada wajah Afra. Namun, belum sampai Sira menyentuh wajah Afra, matanya mulai terbelalak.


Sira langsung memalingkan wajahnya dan mengurungkan niatnya, "tidak jadi," lirihnya tanpa melihat dan menatap mata Afra.


Afra memiringkan kepalanya dan membuat Sira menatap kembali mata Afra. Sira tidak bisa mengelak lagi sekarang. Afra sudah mengeratkan genggaman tangannya.


"Tidak jadi …! Sudahlah, lupakan saja!" ucap Sira dengan nada lirih sambil memejamkan matanya. Afra seketika tertawa dan langsung memeluk Sira.


Sira terkejut dan tak percaya saat Afra kembali memeluknya.


"Ternyata benar .. aku benar-benar nyaman denganmu, Sira!" ungkap Afra kembali tertawa kecil sambil memeluk Sira.


Sira hanya diam dan melihat Afra yang tertawa. Senyuman tipis ia simpulkan di wajahnya. Afra pun melepaskan pelukannya pada Sira.


"Baiklah! Kita mulai perjalanannya!" kata Afra dengan penuh semangat sambil memberi senyuman pada Sira.


Sira membalas senyuman Afra, "ya!"


Bulan purnama kembali bersinar. Awan hitam mengurungkan niatnya untuk menutupi cahaya yang terang itu. Angin malam yang terasa dingin kembali berhembus.


Lampu penerangan yang terdapat di dekat pintu masuk tiap bangunan menjadi penerangan jalan selain cahaya rembulan. Jalanan bebatuan, bangunan yang kebanyakan tidak menggunakan kaca sebagai jendela.


Semuanya menjadi saksi akan perjalanan Afra dan Sira. Keduanya sudah melangkahkan kaki bersama, menuju ke kota Sihir yang lebih utama.


Meski hari sudah malam, tetapi ini adalah waktu yang tepat. Ya, sesuai dengan perjanjian hari itu.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


Kembali melihat kejadian pada hari itu.


"Sira … aku hanya menganggapmu unik saja, aku tidak tau kau mau berteman denganku atau tidak waktu itu. Ya, meski sikapmu tetap sama, juga cara bicaramu yang … lucu?


Aku .. sudah menganggapmu sebagai teman sejak waktu itu, begitu juga dengan semuanya!" jawab Afra panjang lebar sambil tersenyum pada Sira.


"Baguslah," ucap Sira dengan lirih kemudian tersenyum tipis.


Afra kembali menciptakan pertanyaan karena rasa penasarannya. Namun, ia tidak menggunakan mulutnya untuk mengeluarkan kata-kata pertanyaan. Hanya cukup memiringkan kepalanya, Sira langsung merespon.


"Ah, bukan apa-apa. Hanya .. aneh saja," jawab Afra lalu tertawa kecil.


"Aneh?"


"Ah! Perjanjiannya!" Afra mengalihkan topik pembicaraannya secara tidak sadar.


Sira sepertinya berpikir kalau Afra mengalihkan topik pembicaraannya, padahal sebenarnya tidak. Afra hanya baru saja mengingat dan kembali mengatakan topik pembicaraan sebelumnya.


Sira menyipitkan matanya sejenak kemudian menghela napasnya, "oke, kembali ke perjanjiannya."


Keheningan tercipta saat Sira mulai diam untuk berpikir. Afra juga tidak ingin mengatakan sesuatu dan hanya ingin mendengar perkataan Sira setelah dia selesai berpikir.


"Oke, perjanjian lisan saja," kata Sira setelah berpikir beberapa detik, meski itu malah membuat Afra kebingungan.


"Perjanjiannya adalah seperti ini." Sira langsung menjentikkan jarinya dan menciptakan bunga-bunga salju di dalam kamar inap Afra.


Bunga-bunga salju itu mengelilingi Afra dan juga Sira. Menciptakan hawa dingin yang menenangkan dan membwri kenyamanan.


"Afra."


"Ya?" Afra langsung merespon perkataan Sira dengan cepat


Sira memberi tatapan serius, sedangkan Afra membalas tatapan itu dengan raut wajah penasaran.

__ADS_1


"Dengarkan dan ingat perjanjian ini. Aku akan mengatakan perjanjiannya, jika kau setuju maka aku akan mengatakannya lagi kemudian kau mengulangi perkataanku."


"B –baik! Aku mengerti!" ucap Afra langsung mengerti dengan penjelasan Sira.


"Perjanjiannya adalah .. satu, setelah hari ke tiga puluh kita menginap di penginapan ini, tepat sebelum hari menjelang pagi kita akan pergi dari penginapan ini.


Menuju ke kota di pedalaman hutan. Apa kau setuju?"


Afra tertegun sejenak mendengar perkataan Sira. Namun, Afra tidak mungkin menolak persetujuan yang memang sudah berhubungan dengan tujuannya itu.


"Ya! Aku setuju!" jawab Afra dengan penuh keyakinan.


Sira tersenyum dan kembali mengekspresikan wajah seriusnya. Bunga-bunga salju berwarna biru muda mulai sedikit demi sedikit menampilkan cahaya putih.


Afra sedikit melebarkan matanya, saat melihat apa yang terjadi pada bunga-bunga salju yang melayang-layang di sekelilingnya itu.


"Kita lanjutkan yang kedua."


"Ya." Afra menjawab dengan penuh keyakinan dan semangat.


"Dua, biaya makanan dan penginapan, sampai pada saat perjalanan aku yang akan menanggungnya. Apa kau tidak keberatan? Atau kau ingin menanggungnya sendiri?" tanya Sira sedikit ragu melihat Afra yang mulai berkeringat dingin.


"Eum .. aku … iyakan saja," jawab Afra sambil tertawa kecil, tetapi itu membuat Sira langsung menatap tajam dirinya.


"Jawab dengan serius, Afra!" tegas Sira membuat Afra tertegun.


"I –iya, aku … serahkan saja padamu tentang hal itu," jawab Afra melirihkan suaranya dan mulai menunduk.


Sira menghela napasnya, "oke-oke, perjanjian yang ketiga."


"Kau bebas melakukan apapun, tetapi aku harus selalu ada di dekatmu. Jadi intinya adalah … apakah kau bersedia jika aku menjadi penjagamu, Afra?"


Afra kembali tertegun mendengar perkataan Sira. Sira kini menatap tajam mata Afra. Mata kuning keemasan Sira seakan bercahaya, sama seperti bunga-bunga salju di sekelilingnya.


Hanya saja, mata Sira itu menampilkan cahaya kuning, sedangkan bunga-bunga salju itu menampilkan cahaya putih.


"Aku ulangi lagi, apakah kau bersedia jika aku menjadi penjagamu, Afra Afifah?" ulang Sira dengan nada yang terdengar sama, tetapi lebih tajam dari sebelumnya.


Afra tertegun, tetapi ia tidak bisa jika hanya diam saja. Ia harus menjawabnya, tetapi ada sesuatu yang membuatnya merasa kalau itu sedikit berat.


Berat jika harus menjawab dengan sejujurnya.


"Aku … sebenarnya kurang setuju dengan pertanyaanmu itu, Sira. Namun, aku … ingin mengajukan hal yang lebih baik …."


Sira kini diam dan memberikan Afra beberapa detik untuk menenangkan dirinya. Sira dapat melihat kalau aura biru Afra kembali berkobar.


Afra menarik napasnya kemudian membuangnya secara perlahan.


"… Daripada menjadi penjaga, bagaimana kalau kau … menjadi pendampingku, Sira?"

__ADS_1


__ADS_2