
"Ikuti saja semua yang aku katakan padamu, Afra!"
"A-aku…," ucap Afra tidak bisa mengatakan kata-kata itu.
"Dan karena AI (ai)," bisik gadis itu seketika membuat Afra seperti benar-benar dikendalikan. Pikirannya seperti sudah dipaksa untuk mengatakan nya, dan….
"D-dan k-karena AI (ai) inilah …," ucap Afra berusaha untuk tidak mengatakannya. Perasaan Afra benar-benar merasa aneh dan tidak menginginkan mulutnya tuk mengatakan kata-kata yang dikatakan gadis bermata merah itu. Namun, sepertinya ini sia-sia saja.
"Ku rasa ini sudah cukup," ucap gadis itu sebelum akhirnya … menghilang dan membuat Afra berpindah tempat ke dalam hutan.
***
A-aku … adalah … manusia, ya….
Dan aku … hidup di dunia, tempat yang seharusnya….
Tempat yang seharusnya … tidak ada manusia.
Tidak ada manusia … yang boleh hidup, ya kan?
Itulah aku, iya kan? Kau yang sudah mengatakannya padaku, tapi aku … malah tidak mengerti.
Aku pikir aku hanya anak yang polos saja….
Hiks hiks
Aku … harus bagaimana? Aku benar-benar….
Aku sama sekali….
Aku … sama sekali tidak tau apapun.
Dan kenapa kau … menyuruh ku mengatakan itu?
Apa maksudnya? Dengan kalimat terakhir itu?
AI (ai), takdir, apa itu? Yang baru ku pahami dari perkataan mu hanyalah ….
… Aku adalah kau, dan kau adalah aku, ya kan?
Kita ini … satu. Dan kita hidup dalam satu tubuh yang sama.
Hiks hiks
Hidup dalam … satu tubuh yang sama, aku ….
… Sebenarnya masih….
__ADS_1
Belum mengerti dengan jelas.
Apa artinya itu.
"Ya, ini sudah cukup untuk sekarang, Afra," bisik gadis bermata merah itu kembali muncul dibelakang Afra.
Afra hanya diam dan berusaha tetap tenang. Ya, karena Afra tau … dirinya sekarang benar-benar berada di dalam hutan sekarang.
Ya, Afra sekarang berada di hutan, dan tentunya ini sudah malam hari. Bagaimana bisa Afra ada di hutan? Ya, mungkin gadis bermata merah itulah sebabnya.
Walau begitu, sepertinya Afra sudah terbiasa dengan ini. Ia sudah tidak merasa takut. Yang ada hanyalah … pertanyaan-pertanyaan yang masih ingin ia ketahui jawabannya. Hanya itu saja.
"Kau … kenapa membawa ku ke sini?" tanya Afra tanpa menoleh ke arah gadis dibelakangnya itu.
"AI (E Ai)," jawab gadis itu membisikkannya di telinga Afra, "karena AI (ai) inilah … aku membawa mu, Afra!"
"AI (E Ai) dan AI (ai) … bukankah itu sama? Itu … adalah huruf di batu itu, kan?" tanya Afra kini menoleh ke arah gadis itu dan melihat gadis itu yang tersenyum menyeringai melihat Afra.
"Ya, sama tapi beda. Beda tapi sama, sisi lain dari kehidupan. Tidak ada yang berarti di sini," jawab gadis itu mengimbuhkan kata-kata aneh yang membuat Afra sedikit kebingungan.
"Sekarang … aku tidak bisa mengerti lagi … dengan perkataan mu itu," ucap Afra dengan nada lirih.
Heeh
"Kau sudah mengerti beberapa ya, Afra? Aku rasa itu sudah cukup," ucap gadis itu lalu tersenyum tipis.
Sedangkan Afra hanya diam dan menatap kosong gadis dihadapannya itu.
Wush
Hihihi
Tawa gadis bermata merah itu tiba-tiba membuat Afra terkejut dan keheranan.
"Badai malam sudah datang rupanya," ucap gadis bermata merah itu membuat Afra semakin terkejut. Namun, sepertinya Afra tidak akan sempat menanyakan pertanyaan nya pada gadis itu.
Wush
Angin malam mulai kembali berhembus kencang dan bahkan ini lebih kencang dari sebelumnya. Afra langsung menutup matanya karena angin kencang itu, dan saat Afra membuka matanya lagi….
D-dia hilang! batin Afra terkejut melihat gadis itu sudah menghilang.
Perasaan takut mulai menyelimuti diri Afra. Tubuhnya mulai gemetaran. Dan bayang-bayang tentang monster dalam mimpinya kembali muncul di pikiran Afra.
K-kenapa … aku tiba-tiba merasa takut? batin Afra bertanya pada dirinya sendiri sambil berusaha untuk tenang.
"A-aku … harus segera pulang!" ucap Afra sambil bangun dan pergi berjalan menyusuri jalan dalam hutan.
__ADS_1
AI. Sebuah batu permata yang berbentuk belah ketupat dengan dua sisinya yang berbeda warna. Merah dan biru, itulah warnanya.
Gadis bermata merah itu menyebut batu ini dengan dua sebutan. E ai dan ai. Dan dua sebutan itu mengacu pada huruf yang muncul di batu permata itu, yaitu A dan I.
Bila digabungkan akan menjadi AI. Dan gadis bermata merah itu akan membaca AI itu dengan E ai atau ai.
Batu permata ini adalah batu yang diambil oleh Afra ketika ia tiba-tiba berada di hutan. Afra mengambil batu ini karena batu ini mengeluarkan cahaya yang bersinar sangat terang sehingga cukup untuk menyinari gelapnya hutan. Namun, batu itu entah mengapa tiba-tiba menghilang dari genggaman Afra dan … makhluk perempuan bertanduk rusa itu mengatakan kalau batu itu … sepertinya menyatu dengan Afra.
Selain itu, gadis bermata merah itu juga mengatakan kalau … batu itulah yang menyatukan takdir Afra dan gadis itu sendiri.
***
Bulan bersinar terang sekali malam ini. Bulat sempurna, dengan cahayanya yang sangat terang sehingga cukup menyinari gelapnya malam. Benar-benar bulan yang indah. Walau sepertinya … angin malam membuatnya menjadi aneh.
"Aura ini!" ucap perempuan bertanduk rusa itu yang sedang duduk bersandar di salah satu pohon di hutan. Ya, di hutan yang masih satu kawasan dengan hutan tempat Afra berada. Hanya letaknya saja yang berbeda.
"A-apa gadis itu a-ada di sekitar sini?" tanya perempuan itu pada dirinya sendiri, "k-kalau itu benar, maka …."
"… Gadis itu bisa-bisa …," ucap perempuan bertanduk rusa itu seketika langsung bangun dan menyatu dengan angin kencang yang berhembus.
***
Sementara di bagian hutan yang lain, sekumpulan monster dengan tubuh besar tiba-tiba mencium aroma sesuatu dari bagian hutan yang lain
"HEI SEMUANYA! AKU MENCIUM BAU MANUSIA DI SINI!" kata salah satu monster pada monster yang lain.
"WAH! KITA AKAN BERPESTA MALAM INI JUGA!" sahut monster lainnya sambil mengangkat tangannya dan berteriak keras.
"YA! YA!" sahut semua monster dengan suara beratnya yang mengerikan itu.
***
Tidak ada awan hitam di langit malam. Hanya bulan sahaja yang menyinari kawasan hutan di dalam gelapnya malam. Beberapa burung terlihat sedang bertengger di dahan pohon, lalu terbang setelah mendengar bisikan angin malam yang membawa hawa dingin itu.
Afra kini masih berlari di dalam hutan dan mencari jalan pulangnya. Walau Afra masih bisa melihat pohon-pohon disekelilingnya karena sinar bulan, Afra masih tidak bisa menemukan jalan pulang menuju rumahnya. Ia seperti berputar-putar di dalam hutan.
"Aku harus pulang! Aku tidak mau berada di sini!" ucap Afra sambil terus berlari dan menoleh ke kanan dan ke kiri barangkali ia melihat cahaya lampu lentera rumahnya. Namun, tidak ada.
Hanya ada pepohonan yang tumbuh menjulang tinggi di sekeliling nya. Dan pohon-pohon itu terlihat berwarna hitam gelap meski sudah disinari cahaya rembulan.
"Aku tidak mau di sini! Aku takut sekali! Aku tidak mau sendirian, Ayah!" teriak Afra ketakutan sambil menutup kedua telinganya.
Wush
Angin malam tiba-tiba berhembus kencang dan membuat teriakkan Afra menggema dalam hutan.
__ADS_1
KHUAAAA
"AKU MENEMUKANMU, MANUSIA!"