
"Bagaimana … kalau anak kelas mu duel dengan anak kelas ku?" tantang Iliya membuat pandangan semua murid termasuk Afra dan Aura tertuju pada Iliya dan Rye.
Duel? batin Afra bertanya-tanya.
"Duel!" ucap Aura dalam benaknya. Aura merasa semakin kesal dan langsung mengepalkan tangannya.
Beberapa murid saling berbisik membicarakan perkataan Iliya.
"Duel?"
"Apa kita akan duel?"
"Wah, sepertinya menarik!"
"Ya, ya! Duel!"
Ucap para murid baik dari kelas Afra maupun kelas Aura dengan nada lirih, tetapi tentu saja itu masih bisa terdengar sampai ke Iliya dan Rye.
"Bagaimana, Rye Else?" tanya Iliya serius. Rye pun menghembuskan nafasnya dengan pasrah, "baiklah."
Semua murid berteriak keras dan sangat senang, kecuali dengan Aura dan Afra. Aura sepertinya tidak setuju dengan duel ini, sedangkan Afra … dia tidak tahu apa itu duel.
"Baiklah, kita akan mulai duel antarkelas ini!" ucap Iliya dengan lantang dan penuh semangat.
"Ya!" teriak semua murid dengan penuh semangat. Hanya Afra dan Aura yang mengatakan 'ya' dengan lirih.
"Merepotkan!" gumam Rye sedikit kesal.
***
Duel. Pertarungan satu lawan satu. Biasanya ini dilakukan oleh pemimpin pasukan dalam perang. Namun, ini juga bisa dilakukan sebagai metode pelatihan, atau juga … tantangan.
Sekarang duel akan segera dimulai. Pemilihannya dilakukan secara acak oleh Iliya dan Rye. Mereka jugalah yang akan menjadi jurinya.
"Baiklah, kita mulai duel antara ras iblis dan ras penyihir!" teriak Iliya yang berada di tengah-tengah arena. Murid-murid dari ras penyihir berkumpul di sebelah barat, dan murid-murid ras iblis di sebelah timur. Sementara murid-murid dari ras siluman dan hewan berada di kursi penonton. Afra juga berada di kursi penonton, tetapi tidak dengan Aura karena Aura adalah ras penyihir.
__ADS_1
"Apa duel seperti ini?" tanya Afra dalam benaknya.
"Ya, sepertinya dia merencanakan sesuatu untukmu, Afra!" jawab Ilva dalam benak Afra. Afra hanya bisa diam dan kembali melihat ke arena.
Sedangkan Rye, dia tentu berada di kursi penonton dan melihat ke arena dengan wajah datar. Ia berada di kursi penonton paling atas, sehingga ia bisa melihat Afra yang berada di kursi penonton paling bawah.
"Tidak penting," gumam Rye lirih.
***
Duel pun dimulai. Satu persatu murid dari ras penyihir dan ras iblis berhadapan dan saling bertarung menggunakan sihir dan kekuatan. Ras iblis dari kelas Afra sepertinya tidak bisa mengalahkan ras penyihir dari kelas Aura, begitu juga sebaliknya. Ras iblis lebih unggul dalam pertarungan jarak dekat, sehingga ras penyihir yang handal dalam serangan jarak jauh dapat dengan mudah mengalahkan ras iblis.
Serangan demi serangan dilontarkan. Meski ini hanya duel, serangan tiap serangan sangat terasa bagi Afra. Afra sekarang sudah terbiasa dengan ini. Ia tidak merasa takut lagi.
"Sekarang, duel terakhir! Aura melawan Vendry!" teriak Iliya di tengah-tengah arena sembari terbang dengan sapu terbangnya.
Aura yang berada di pojok arena hanya bisa berjalan ke tengah-tengah arena dengan perasaan kesal. Iliya tersenyum tipis melihat ekspresi Aura. Ras iblis yang disebut Iliya pun ikut berjalan ke tengah-tengah arena. Laki-laki berpakaian hitam dan membawa pedang, satu tanduknya yang panjang dan satunya lagi pendek. Ya, dia adalah Vendry.
Aura dan Vendry sekarang sudah berhadapan. Afra hanya bisa melihat dengan perasaannya yang sedikit khawatir. Ya, mungkin karena sebelum-sebelumnya Afra sedikit takut saat serangan demi serangan dilancarkan.
"Kenapa … aku merasa khawatir, ya?" batin Afra bertanya-tanya.
Vendry langsung menarik pedangnya dan maju menyerang Aura. Aura yang masih merasa kesal terkejut ketika Vendry langsung melancarkan serangannya.
"Terepōto!" teriak Aura langsung memindahkan dirinya dari Vendry. Aura berpindah jauh di belakang Vendry.
Vendry dengan cepat langsung berbalik dan langsung melompat maju menyerang Aura. Namun, Aura langsung kembali merapal sihir teleportasi nya dan berpindah tempat jauh di belakang Vendry. Murid-murid melihat duel mereka dengan fokus dan penuh ketegangan, begitu juga dengan Afra.
Serangan demi serangan dilancarkan oleh Vendry, dan Aura terus menghindarinya dengan berpindah tempat.
"Apa kemampuan mu hanya itu, penyihir!" teriak Vendry menatap Aura dengan tatapan tajam. Aura terlihat kelelahan karena terus berpindah tempat.
"Iliya … sialan!" ucap Aura lirih sambil melihat ke atas, yaitu ke arah Iliya. Iliya yang sedari tadi masih melihat duel antara Afra dan Vendry tersenyum tipis pada Aura.
"Black fire!" ucap Vendry seketika membuat pedangnya mengeluarkan api hitam. Semua murid terkejut melihatnya, begitu juga dengan Afra.
__ADS_1
"Apa itu?" ucap Afra terkejut dan penasaran. Para murid lain tampak senang dan bersemangat.
"Lihat itu!"
"Apa dia serius!"
"Ini sudah bukan duel biasa lagi sekarang!"
"Akhirnya duel yang seru datang juga!"
Afra mendengarkan perkataan para murid yang duduk tak jauh darinya itu dengan penuh pertanyaan. Meski Afra sudah tahu tentang akademi Arknest dan peraturan-peraturan yang ada, ia baru mendengar duel dan juga masih belum tahu tentang murid-muridnya.
"Vendry, ras iblis tingkat setan. Yang paling kuat dari ras iblis tingkat setan lainnya," ucap Rye tiba-tiba muncul di samping Afra. Afra langsung menoleh dan terkejut melihatnya, begitu juga dengan beberapa murid yang lain.
"Senior baru saja berbicara lebih dari dua kata! Dan dia berbicara dengan—"
"Diamlah!" potong murid lain menutup murid yang berbicara itu.
Rye tampak tidak peduli dan kembali menunjukkan wajah datarnya, sedangkan Afra tampak keheranan.
Kenapa mereka melihatku seperti itu? batin Afra keheranan melihat beberapa murid seperti takut melihat dirinya dan seperti … tidak ingin berbicara tentang dirinya.
"Eye slash!" teriak Vendry seketika langsung menebaskan pedangnya ke arah Aura. Afra yang sebelumnya tidak melihat ke arena langsung terkejut setelah melihat Aura tidak bisa menghindari serangan dari Vendry.
"Waah, tampaknya ras iblis masih bisa mengungguli, ya!" ucap Iliya dengan lantang langsung turun ke arena.
Dapat terlihat Aura yang menghantam tembok arena dan sudah tidak bisa menahan serangan Vendry. Vendry terlihat senang karena bisa mengalahkan Aura, sedangkan Afra … tentu saja Afra terkejut dan tak percaya. Kekhawatiran nya seakan menjadi nyata.
"Aura…," ucap Afra lirih.
Iliya pun tersenyum dan berjalan menghampiri Vendry, "baiklah, karena hasilnya sudah ditetapkan, maka—"
"Aku akan bertarung!" potong Afra langsung bangun dari kursi penonton dan mengangkat tangannya.
Semua murid terkejut, begitu juga dengan Rye yang berada di sebelah Afra. Meski raut wajah Rye masih terlihat datar.
__ADS_1
Iliya tersenyum tipis, "baiklah, apa kau ingin menerimanya, Vendry?"
Vendry pun melihat ke arah Afra dan mengarahkan pedangnya ke arah Afra, "ya, aku terima tantangan mu meski kita satu kelas!"