Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Tanpa Jawaban


__ADS_3

Aku … siapa?


.


.


.


.


.


.


Ada dimana aku?


Tempat apa ini?


Kenapa semuanya gelap?


Apa … aku melupakan sesuatu?


.


.


.


.


Heeh


"Sadarlah, Manusia!" bisik Ilva seketika muncul di belakang Afra.


Afra melebarkan matanya, dan tertegun sejenak. Ia pun menoleh ke belakang. Gadis bermata merah itu tersenyum sehingga gigi taringnya terlihat.


"Ingatanmu benar-benar aneh, ya, Afra Afifah!" kata Ilva lalu tertawa dengan nada khasnya. Dan … bayang-bayang ingatan mulai tercipta dan terlihat jelas di benak Afra.


.


.


Akhh!


.


.


Rasa sakit mulai menguasai. Pandangan Afra mulai berubah. Detak jantungnya terasa berdetak kencang, dan tubuhnya sudah mati rasa. Afra menutupi matanya dengan kedua tangannya. Meski perasaan penuh kesakitan menusuk seluruh tubuhnya.


Satu persatu Afra melihatnya, dan … satu persatu emosi ketakutan dan penuh rasa sakit mulai tercipta. Saat … Ilva menusukkan rantai berdarah nya pada Cyrèn, dan juga … tentang sikap Aura. Itu adalah … saat-saat dirinya tiba-tiba kehilangan kesadaran.


.


.


.


Ini adalah ingatan sekilas, sebelum akhirnya Ilva berhasil mengendalikan tubuh Afra … tanpa perlu membuat Afra memintanya untuk mengendalikannya.


.


.


"Ya … aku tahu, Afra …,"-Aura berhenti berjalan mundur-"… kalau kau … menyembunyikan … kepercayaan."


Jantung Afra kembali berdetak kencang. Perkataan Aura membuatnya benar-benar … tidak bisa berkata-kata. Namun, tanda tanya selalu muncul di dalam benaknya. Mata melebar dan alis yang terangkat, begitulah ekspresi yang ditunjukkan oleh Aura. Namun, berbeda dengan senyumannya.


Mulutnya tetap tertutup, dan bahkan mulai menyimpulkan senyuman misterius. Seakan-akan … senang melihat ekspresi Afra yang tak bisa berkata-kata, tetapi juga terkejut melihat Afra yang … mulai menundukkan kepalanya.


.


.


Ya, disaat-saat itulah … Afra mulai kehilangan kesadarannya. Tidak, lebih tepatnya … kehilangan semua pikiran dan daya olah otaknya. Bagaikan dimensi waktu, Afra langsung tertegun dan dan tak bisa apa-apa. Pikirannya dengan cepat langsung menghilang satu persatu, dan menyisakan satu pertanyaan.

__ADS_1


.


.


"Apa itu … kepercayaan?" tanya Afra lirih, tetapi penuh dengan nada serius.


.


.


Ya, satu pertanyaan pertama. Masih ada emosi di sana, dan pikirannya masih sedikit berfungsi. Hanya sedikit, dan hanya sedikit. Tidak ada sebagian, dan anggap saja hanya tersisa satu titik.


.


.


"Jelaskan padaku, Aura … apa itu kepercayaan, ya …!" pinta Afra seketika langsung mendongakkan kepalanya, dan menatap mata Aura.


.


.


Ya, dan setelah pertanyaan kedua diutarakan … kekosongan dalam diri Afra mulai menghilangkan jiwanya. Kekosongan itu menariknya ke dalam ruang hampa, dan membuat Ilva seketika mengambil alih. Dan….


Semuanya … kembali menghasilkan tanda tanya … yang entah ada jawabannya atau tidak.


.


.


.


.


Lantai dengan pola kotak hitam dan putih. Bagaikan permainan kuda yang dimainkan para manusia. Berlatarkan perang zaman tanpa kuda besi, perang penuh darah yang dilakukan manusia … diibaratkan dengan warna hitam dan putih. Entah kenapa, aku bisa tahu hal-hal aneh ini….


Ruangan yang penuh dengan kekosongan. Tanpa ujung, dan tak berdinding. Hanya kegelapan yang terlihat, tetapi cahaya masih menyinari. Meski … entah dari mana asalnya.


Hanya ada dua sosok di sana. Satu orang, satu makhluk. Satu manusia, satu monster, tetapi keduanya … adalah gadis berparas sama.


.


.


"Jadi … aku … tertekan, ya … Ilva?" tanya Afra dengan pandangan kosong, dan kepala tertunduk.


Tubuhnya mati rasa. Matanya tak memantulkan titik cahaya, dan tak ada ekspresi di wajahnya. Hanya ada … kekosongan. Sedangkan sang altar hanya … menatapnya dengan senyuman miring, dan netra merah yang bersinar.


"Entahlah, siapa yang tau!" jawab Ilva dengan senyuman miringnya.


Ilva semakin tersenyum melihat Afra yang sudah benar-benar kehilangan itu. Ya, kekosongan. Tanggapan dan ekspresi saat Afra … tidak memikirkan apapun selain…


"Apa … aku tertekan?" tanya Afra lagi, dengan nada yang terasa … dingin.


Bagai ucapan para senior maupun makhluk-makhluk di sekelilingnya, Afra benar-benar bisa menjadi orang yang serius saat kekosongan menguasainya. Ya, perasaan hampa dan hanya menginginkan jawaban … dari semua pertanyaannya.


Tertekan. Itu adalah satu kata yang terlontar dari mulut sang gadis monster. Gadis monster yang menjadi bagian dari diri Afra. Gadis monster … yang ber- reinkarnasi dan menjadi alter dari Afra.


Mata merahnya, rambuh hitam panjangnya, dan pakaiannya … semuanya mencerminkan kegelapan yang penuh dengan darah. Tidak ada kata belas kasih, tidak ada kata hidup tenang. Meski jika itu ada, itu hanyalah kepalsuan yang akan membawa rasa sakit yang paling dalam.


Satu langkah mulai terlaksana, dan tangan bersarung bagaikan darah mulai menyentuh kulit putih Afra. Wajah Afra yang menunduk mulai terangkat, dan langsung ditatap sang netra merah itu.


Tangan gadis monster memegang wajah Afra, dan mengelusnya. Mengusap di dekat mulut dan mata Afra, sehingga ia tersenyum tipis. Afra hanya diam bagaikan batu, dan tak merespon sepatah katapun atau satu gerakan apapun.


Meski sang netra merah itu menatap mata birunya yang kosong itu, meski wajahnya diusap dengan tangan dingin yang penuh darah, dirinya … tetap pada kekosongan jiwanya.


Ilva pun mulai mendekatkan wajahnya pada Afra. Tangannya beralih ke telinga Afra, dan kembali mengusap dengan lembut. Kedua mata mereka saling bertemu dan bertatapan, lalu … wajah putih mereka mulai berdekatan.


Satu nafas mulai terhembus, dan mengenai bibir sang manusia. Nafas dingin yang biasa melewati telinganya itu … kini mulai merasukinya, melalui bibirnya yang seketika membuka. Netra birunya yang kosong itu, mulai memantulkan cahaya. Dan…


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


"Kau bisa memikirkannya nanti, Afra," lirih Ilva sembari mengusap bibir gadis bermata biru itu dan tersenyum.


Netra gadis itu mulai memunculkan titik cahaya. Wajahnya yang tak berekspresi mulai menunjukkan kenormalan, dan … tetesan air mata yang keluar dari matanya. Kekosongan jiwanya sudah menghilang, dan itu adalah jawaban sementara dari Ilva.


Afra meneteskan air matanya, dan menangis dalam diam. Sunyi, tanpa suara, dan hanya bisa membiarkan sang pemilik netra merah itu menatapnya yang sudah basah dengan air mata … dengan senyuman tipis.


.


.


.


.


.


.


.


"AI (ai) akan selalu ada … sebagai bentuk adanya jiwa kita."


-----------------------------------------------------------


Malam pun berlalu, dan pagi … tentu akan datang setelahnya. Cahaya orange kekuningan yang memberikan kesan penyemangat, bagi mereka yang tertidur semalaman.


Makhluk-makhluk mulai keluar dari rumah dan tempat mereka bersembunyi, dan kembali beraktivitas seperti biasanya. Seakan tidak memikirkan apa yang terjadi pada malam harinya, mereka tidak mempedulikan … murid-murid akademi Arknest yang sekarang….


***


Rasa kantuknya mulai terasa, tetapi ia tidak memikirkannya. Kelopak matanya mulai terbuka, meski perlahan … ia melihat langit-langit kamarnya. Tidak, bukan kamar asramanya, melainkan kamar penginapannya.


Ya, gadis bermata biru itu mengusap-usap matanya, barangkali yang dilihatnya itu salah. Namun, ini bukanlah mimpi maupun kesalahan.


Afra pun bangun dan melihat ke arah jendela. Matahari terbit, itu yang dilihatnya. Dan … suara ketukan pintu mulai terdengar.


.


.


Gadis penyihir dengan netranya yang unik, rambut merah muda dan … sesosok teman bagi Afra. Afra sedikit melebarkan matanya setelah melihat kedatangan sang teman itu.


"Afra …," ucap Aura lirih, dengan kedua matanya yang melebar. Terkejut dan tak percaya, juga … ekspresi bersalah yang ditutupi.


Afra bisa melihatnya, ekspresi yang ditunjukkan oleh Aura. Aura benar-benar terkejut, dan merasakan perasaan … yang benar-benar menyakitkan. Tidak, lebih tepatnya … rasa sedih dan bersalah.


"Hai, Aura," sapa Afra dengan senyumannya yang terkesan … menyembuhkan. Meski, Aura langsung meneteskan air matanya setelah mendengar sapaan temannya itu.


***


Tanpa jawaban, mungkin itu adalah hal yang tepat di sini. Masih ada hal-hal yang belum dijelaskan, itu tentu. Semuanya terasa misterius di sini, dan semakin tidak masuk akal. Kepercayaan, pengenalan, perasaan, dan … pertanyaan.


Di penginapan kota Etral, ketujuh murid akademi ini sudah berkumpul … dan sedang menikmati makanan bersama. Ya, bersama dua senior yang ternyata adalah … tujuan mereka.


.


.


.


Aku … mungkin, masih ingin menanyakan sesuatu…


Tapi, aku rasa … itu tidak perlu lagi….


Ya, satu sentuhan itu sudah cukup untukku…


Sebagai jawaban atas semua pertanyaan dalam benakku.


Iya 'kan, Ilva?

__ADS_1


__ADS_2