Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Ciuman


__ADS_3

"Afra …," gumam Sira mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Afra. "Aku …."


Sira membiarkan perkataannya menggantung. Matanya mulai terpejam dan bibirnya pun menyentuh bibir Afra. Ciuman, itulah yang dilakukannya tepat saat Afra membuka matanya.


"Mmm." Sira membuka matanya dan terbelalak melihat Afra yang sudah terbangun.


Ia sontak terkejut dan berhenti menyentuh bibir Afra dengan bibirnya. Suara napas yang tertahan sejenak karena bibir Sira dikeluarkan oleh Afra. Wajah Sira tampak memerah, tetapi kini ia tidak sendirian.


"Sira …," gumam Afra membuat Sira terbelalak.


Niatannya untuk menjauh seketika tidak terkabulkan karena Afra membalas ciumannya. Ya, Afra langsung menempelkan bibirnya pada bibir Sira saat Sira berhenti melakukannya. Sira tentu semakin terkejut, tetapi tanpa sadar ia langsung membalasnya.


"Aah …." Sira dan Afra sama-sama mengeluarkan suara yang sama. Keduanya saling bertatapan dan memberi senyuman, sampai ….


"Eh?" Sira dan Afra kembali mengeluarkan kata yang sama.


Pikiran kosong, itulah yang terjadi saat keduanya berciuman. Hanya respon dan tanggapan secara tidak sadar. Dan kini, keduanya menampilkan ekspresi wajah yang tampak memerah. Malu dan keterkejutan atas ketidakpercayaan, itulah rasanya.


"Eeeeehh!"


.


.


.


.


.


.


.


.


Pagi yang baru, hari yang baru. Lebih baik memberi kelonggaran waktu dan ketidakjelasan untuk apa yang terjadi selanjutnya. Ya, mentari pagi yang cerah dan tidak ada awan hitam di langit. Benar-benar hari yang cerah!


Ya, secerah wajah memerah Afra dan Sira saat ini.

__ADS_1


***


Dunia yang indah dengan latar hutan asri nan bersinar. Semuanya masih menunjukkan cahaya meski mentari telah menunjukkan cahaya sejati. Cahaya seperti kunang-kunang yang berterbangan di atas dedaunan.


Embun pagi masih membasahi dedaunan pohon dan rerumputan, meski tidak sampai menjadi sehabis hujan. Kemarin malam adalah malam. Pohon beringin bercahaya, tempat ini sudah ditinggal pergi oleh tokoh utama.


.


.


.


Sekarang, Afra dan Sira, keduanya sudah melangkahkan kaki. Melanjutkan kembali perjalanan yang tertunda. Masih berada di hutan, tetapi kini tampak ada sedikit perbedaan. Pohon-pohon di sekelilingnya tampak tidak seperti pohon biasa.


Meski begitu, Sira dan Afra tampak tidak terlalu memikirkan apa yang ada di sekelilingnya. Pikiran mereka sedang terfokuskan pada kejadian bangun pagi.


"Kenapa .. aku melakukan hal itu, ya?" batin Afra bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Ia berpikir dan tetap melangkah, mengikuti Sira yang berjalan di depannya.


Sementara itu, Sira tampak masih menampilkan ekspresi pada saat bangun pagi. Sira terus menggelengkan kepalanya dan memukul kepalanya sendiri.


"Lupakan cepat lupakan! Sira bodoh, bodoh!" batin Sira mengumpat dirinya sendiri. Wajahnya masih menyisakan rasa keterkejutan dan ketidakpercayaan, tetapi dalam hal berbeda.


Tangga kayu yang mengitari pohon-pohon besar nan tumbuh tinggi. Rumah-rumah yang tampak menyatu dengan pohon. Para penyihir yang tampak terbang dengan sapu terbang di atas sana.


Jembatan kayu yang menghubungkan antara pohon satu dan pohon lainnya. Ada beberapa penyihir yang berjalan di sana. Afra dan Sira, keduanya sudah melihat dan menyaksikan pemandangan ini.


Hijaunya dedaunan pohon dan juga rerumputan. Bunga-bunga berwarna-warni tampak tumbuh mengiringi. Warna coklat kayu dan juga tempat kaki berpijak juga berjalan bagi para penyihir.


Tangga kayu, jembatan kayu, rumah pohon yang menyatu dengan pohonnya. Penyihir perempuan dan laki-laki dengan penampilan yang tampak menyatu dengan alam. Warna hijau, coklat muda, dua warna inilah yang mendominasi.


Afra melebarkan matanya dan takjub.


"Apa ini …." Afra tidak bisa melanjutkan perkataannya, tetapi Sira langsung memberi tanggapan.


"Ya, sepertinya di sini tempatnya."


.


Kota Sihir wilayah hutan. Kota yang menjadi penengah antara kota utama dan kota perbatasan. Kota yang tampak lebih kuno dari perbatasan karena semuanya menyatu dengan alam. Dan kota ini lebih aktif membangun kegiatan di atas tanah.

__ADS_1


Sira menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Afra. Afra sedikit memiringkan kepalanya. Sira berdeham dan mulai berbicara.


"Tentang perjanjiannya …." Sira berhenti berbicara dan tidak bisa melanjutkan perkataannya.


Entah kenapa, tiba-tiba ia kembali mengingat kejadian bangun pagi dan itu membuatnya tidak bisa berkata-kata. Afra tampak biasa-biasa saja dan itu membuat Sira semakin menjadi-jadi.


Sira terus menatap mata Afra, begitu juga dengan Afra yang malah membalas tatapan Sira. Meski begitu, Afra masih dalam kondisi tanda tanya. Sira yang tidak melanjutkan kata-katanya sendiri membuat Afra bertanya-tanya.


"Eum .. Sira?" Sira tersadar dan langsung mengedipkan matanya berulang kali juga menggeleng kecil.


"Tentang perjanjiannya— ah! Nggak, nggak! Tentang tujuan mu!"


Afra menampilkan tanda tanya di kepalanya dan bertanya tanpa suara. Ia hanya memiringkan kepalanya ke arah lain sehingga Sira kembali melanjutkan kata-katanya.


"Kau bilang kalau kau ingin menemukan Aura 'kan?" Afra mengangguk mendengar pertanyaan Sira.


"Kalau begitu, kenapa …." Sira berhenti berbicara dan tampak memikirkan kata-katanya sendiri.


"Ada apa, Sira?" tanya Afra membuat Sira menggeleng.


"Bukan apa-apa," jawab Sira sambil mengalihkan pandangannya dari Afra.


"Bodoh! Kau yang mengajaknya ke sini, kenapa malah tanya kenapa kita ke sini! Aakh!" batin Sira di balik ketenangan dan ketidakpeduliannya.


Afra semakin penasaran dan keheranan. Ia sepertinya tidak terlalu memikirkan kembali apa yang dilakukannya dengan Sira saat bangun pagi. Ya, karena hanya Sira yang berkata 'eh' dengan nada tinggi.


Afra berjalan mendekati Sira dan menggenggam tangan laki-laki itu. Sira tentu membelalakkan mata dan menatap Afra si gadis manusia. Namun, pandangannya seketika terfokuskan pada bibir Afra saat Afra mulai berkata.


"Sira …," ucap Afra membuat Sira tertegun. Jantungnya seketika berdetak lebih keras dari sebelumnya.


"Aku .. punya pertanyaan," lanjut Afra semakin menciptakan detakan jantung yang lebih cepat dan terasa bagi Sira.


Sira tertegun, tetapi kini matanya sudah menatap mata biru Afra. Mata biru bagai lautan yang dalam itu membuat dirinya terhipnotis dan tidak bisa menghindar. Afra mulai menyentuh wajah Sira.


Afra mendekatkan wajahnya pada wajah Sira. Sira bergeming dan hanya merespon dengan membelalakkan mata. Afra mulai kembali melakukannya, tetapi kini dengan kesadaran dan keinginannya.


Angin sepoi-sepoi berhembus dan menciptakan kesunyian. Kesunyian selama ciuman antara Afra dan Sira berlangsung. Ya, Afra kini sudah membuat Sira terbelalak. Dirinya telah menempelkan bibirnya pada bibir Sira dengan wajahnya yang tampak memerah. Meski itu tidak semerah wajah Sira.


Afra mulai melepaskan tangannya dari wajah Sira dan menghentikan ciumannya. Angin sepoi-sepoi kembali berhembus dan membelai rambut pendek berwarna hitam kebiruan miliknya.

__ADS_1


Afra mulai membuka mulutnya dan berkata, "yang kita lakukan tadi, hanya hal biasa 'kan?"


__ADS_2