Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Gadis Penyihir


__ADS_3

"Heeh, kau hanya pintar bicara, ya, Penyihir tanpa nama!" ucap Afra memusatkan pandangannya ke netra gradasi milik Aura.


Gadis manusia itu bukanlah gadis manusia, melainkan gadis monster. Ya, meski gadis penyihir itu tentu tidak mengetahuinya.


Bayangan hitam yang terselimuti merah darah seketika menghancurkan sihir Aura. Afra yang sekarang sudah berada di bawah kendali Ilva mulai menapakkan kakinya di tanah. Berjalan perlahan menghampiri Aura yang gemetar dan basah oleh keringat dingin.


"Hei, Gadis penyihir … apa kau tahu, siapa aku?" tanya Afra sambil menjalankan tangannya di wajah gadis penyihir itu.


Aura, si gadis penyihir itu tentu semakin gemetaran. Netranya tidak bisa beralih dari tatapan Afra yang sudah berubah itu. Merah darah bersinar yang menyiratkan makna penuh kejahatan.


"A –aku—"


.


Bayangan hitam. Kilatan merah bagaikan darah. Keduanya langsung bersatu dan menghasilkan rantai besi yang kemudian menancap di punggung Aura. Netra terbuka lebar penuh ketenangan tercipta dari rasa sakit yang mulai masuk.


Semuanya mulai menjadi gelap karena bayangan itu. Namun, sinar merah darah tentu menjadi cahaya yang mengisyaratkan makna. Makna penuh kesengsaraan.


Rantai hitam itu mulai menjadi merah. Darah yang mengalir keluar dari dalam tubuh Aura, itulah penyebabnya. Afra tersenyum senang. Senang dalam arti penurutan nafsunya yang terlaksana.


Tangan putih yang masih menyentuh wajah gadis penyihir mulai beralih. Bibir yang masih menutup, itulah tujuannya. Gadis penyihir itu langsung memuntahkan darah setelah beberapa detik menahannya. Darah merah membasahi tangan putih itu.


"Hihi."


Sekilas suara yang dikeluarkan dari mulut gadis manusia. Netra merah bersinarnya mulai mengisyaratkan sesuatu. Gadis penyihir kembali terbelalak melihat tatapan itu. Tangan putih yang sudah menjadi merah mulai menjauh dari wajah gadis penyihir.


Afra tersenyum miring, lalu mulai mendekatkan tangannya yang basah ke mulutnya. Ia pun mulai menjilati dan menghisap darah yang menutupi kulit putihnya itu. Aura semakin terbelalak dan kembali memuntahkan darah.


Ya, gadis penyihir itu tidak menyangka bahwa dirinya tidak bisa bergerak. Rantai hitam itu sudah menusuk tubuhnya dan membuatnya mati rasa. Namun, kesadarannya yang semakin menguat menjadikan rasa sakit itu semakin terasa.


"Aah, benar-benar nikmat! Aku jadi penasaran dengan tubuhmu, Gadis penyihir!"


Napas panas langsung dikeluarkan oleh Aura setelah mendengar perkataan Afra. Mata dan mulutnya terbuka lebar. Tak percaya, itulah raut wajah yang ditampilkan Aura. Raut wajah yang mulai terselimuti kegelapan hati. Memberi satu kata, yaitu 'ketakutan'.


"Aaakh!"


Rantai hitam kembali menusuk tubuh gadis penyihir dari depan. Tubuhnya mulai terangkat dan berhenti menyentuh tanah. Bayangan hitam ikut menyelimuti sebagai bentuk pengikatan.


"Hihihihihi!"


Tawa mulai disuarakan oleh Afra yang sudah berjiwa Ilva. Teriakkan penuh derita dan lara terus mengiringi tawa Afra. Air merah membasahi seluruh tubuh bahkan sekeliling ruangan. Aura terus menyuarakan rasa sakitnya sampai mata Afra mulai berubah.

__ADS_1


"A –Aura …," lirih Afra mulai kembali pada dirinya sendiri.


"Apa yang kau lakukan!" bentak gadis bermata merah dalam pikiran Afra.


Netra biru gadis manusia mulai kembali dirasuki warna merah. Namun, gadis itu tentu langsung menggelengkan kepalanya sehingga matanya kembali seperti semula. Meski masih ada sedikit bayang-bayang merah di sekelilingnya.


"Ini sudah cukup, Ilva!" tegas Afra dengan suara lantang sambil mengepalkan tangannya.


Seketika, bayangan hitam yang menyelimuti dan memberi kegelapan pada seluruh ruangan langsung menghilang. Bersamaan dengan cahaya merah dan semua hal yang berhubungan dengan kendali Ilva. Kecuali, rasa sakit dan bekas darah yang masih keluar dari tubuh Aura.


"Tch."


.


Semuanya pun langsung kembali menjadi normal. Tidak ada kegelapan dan cahaya merah darah. Afra kembali mendapatkan kesadarannya dan Aura … langsung kehilangan semuanya. Meski tidak semuanya.


"Aura!"


***


Rumah, sihir teleportasi, gadis penyihir, semuanya. Berpacu pada misteri.


Entah kapan waktu yang tepat untuk hari ini. Mungkin, tengah hari adalah masa yang sudah sampai di sini. Hanya ada warna putih di luar jendela dan pintu rumah. Tidak ada apapun selain polikromatik di sana.


.


Kenapa kau melakukan ini? Kenapa?


Kenapa … kau selalu melakukan hal seperti ini?


Setiap … kau mengendalikanku?


Kenapa?"


.


"Heeh, apa aku harus menjawabnya, Manusia?" jawab Ilva langsung membuat Afra tertegun.


Kepalanya tertunduk dan mulutnya tidak bisa berkata-kata. Gadis bermata merah itupun tersenyum miring dan pergi. Gadis bermata biru tetap pada pendiriannya. Diam tanpa kata dan memandang temannya yang masih tertusuk rantai dengan tubuh penuh darah.


"Firiya."

__ADS_1


Tangan putihnya langsung menggenggam erat rantai yang menusuk tubuh Aura. Satu kata yang diucapkannya bersamaan dengan tangan yang menggenggam rantai langsung menghilangkan rantai itu.


Aura terjatuh ke tubuh Afra dan membasahi pakaian putih Afra. Afra hanya diam dengan kepalanya yang tertunduk. Tidak peduli seberapa banyak cairan merah kental yang sudah membasahinya.


"Maaf, Aura," lirih Afra kembali menciptakan keheningan.


Afra pun mulai merangkul Aura yang sudah bersimbah darah menuju ranjang. Setelah membaringkan tubuh sang teman, Afra pun berjalan menuju lemari dan mencari sesuatu di sana. Kain putih yang digulung ia ambil dari sana.


Afra langsung membersihkan dan menutup luka-luka juga darah yang ada pada tubuh Aura, tanpa mempedulikan dirinya sendiri. Netranya tampak kosong dan tidak memikirkan apapun, kecuali sang teman yang sudah terbaring tanpa kesadaran.


"Aura …," lirih Afra sembari mengikatkan kain putih itu pada tubuh Aura.


.


Satu suara terdengar. Suara benda yang terkena sesuatu. Seperti pintu yang terbuka. Mata biru gadis manusia langsung menatap ke sana. Namun, hanya warna putih yang dilihatnya.


"Siapa?" ucap Afra lirih dan langsung beranjak.


Gadis manusia itu langsung berjalan menuju pintu dan melangkahkan kakinya keluar. Cahaya putih membutakan sejenak pandangan Afra. Perlahan, pemandangan lain mulai dilihatnya, tentu dengan warna yang berbeda.


Hijau, hanya itu yang dilihatnya. Hutan lebat yang tidak memiliki pohon. Hanya ada tanaman hijau yang tumbuh sampai besar. Rumput hijau, daun raksasa hijau, semak-semak hijau, semuanya. Hanya langitnya saja yang berwarna hitam karena awan. Benar-benar aneh.


.


Siapa? batin Afra bertanya-tanya setelah mendengar suara semak yang bergerak. Tidak, benda mati tidak akan bergerak jika tidak ada benda hidup yang menggerakkannya.


Netranya mulai menatap sekeliling mencari-cari benda hidup yang bergerak itu. Sampai saat pandangannya melihat ke belakang, atau lebih tepatnya ke rumah yang seharusnya ada di sana.


"Tidak … ada …!" ucap Afra terkejut dan tak percaya.


Rumah yang seharusnya ada di belakangnya itu … tidak ada. Tidak, ia bahkan belum pernah melihat bagaimana tampilan luar rumah itu. Mata terbelalak tentu masih ia tunjukkan, sampai bunyi yang membuatnya keluar kembali terdengar.


Afra kembali menoleh ke arah yang berlawanan. Kali ini, ia mulai mendapatkan penglihatan tentang siapa yang menghasilkan bunyi itu. Sosok berpakaian hijau dengan wajahnya yang tertutup oleh tudung.


"I –itu 'kan …."


"Hihi."


Suara tawa dikeluarkan oleh sosok hijau gelap itu dengan senyuman seringai yang ditampilkan pada Afra. Afra semakin terbelalak.


"K –kau …!"

__ADS_1


"Target berikutnya, manusia, ya?"


__ADS_2