Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Pohon


__ADS_3

"Oke-oke, kita bisa beristirahat sejenak di dekat pohon itu," ujar Sira sambil menunjuk ke arah pohon beringin di sana.


Afra sedikit melebarkan matanya saat melihat pohon beringin itu. Ia kembali mengingat sesuatu.


Pohon beringin, batin Afra sambil melihat pohon itu dengan seksama.


Ia terus melihat dan memandang pohon itu. Rerumputan di dekat pohon itu membuat pohon itu menjadi bercahaya. Akarnya yang tumbuh menggantung ikut bercahaya, sama seperti rerumputan di bawahnya.


"Afra," panggil Sira dengan lirih sambil mengulurkan tangannya pada Afra. Afra melebarkan matanya saat melihat wajah Sira.


"Pegang tanganku, Afra,"-Sira menampilkan wajah serius-"ada aliran 'mana' lain di sini."


"A –aliran 'mana'?"


Angin malam seketika berhembus dengan kencang, membuat dedaunan berbunyi. Rerumputan bergoyang dan menerbangkan cahaya yang diciptakannya. Bunyi langkah kaki ikut terdengar.


Sira mengedarkan pandangannya ke segala arah, sementara Afra hanya menatap Sira dengan wajah kebingungan. Sampai akhirnya 'aliran mana' yang dikatakan oleh Sira mulai dirasakan oleh Afra.


"Es."


Satu kata diucapkan dengan lirih dan cepat, tetapi juga terdengar tajam. Kubah es langsung tercipta, melindungi Afra dan Sira di dalamnya. Pola sihir pada kubah yang berwarna biru itu baru saja menghalangi aliran mana.


Ya, aliran mana berwarna hijau terang.


"Ayo bermain!"


.


Suara lain tiba-tiba terdengar menggema di pendengaran. Afra membelalakkan matanya dan menengok ke segala arah. Sira mempertajam sihirnya.


"Beku," lirih Sira membuat rerumputan dan tanah menjadi beku.


Pepohonan hutan mulai berubah warna menjadi biru muda dan putih. Bagai salju dan es dingin pada waktu beku. Aliran mana berwarna hijau terang mulai terlihat.


Menyala dan tajam, bagaikan petir yang menyambar secara horizontal. Aliran mana itu mulai berdatangan dari segala arah, menuju kubah pelindung es yang diciptakan Sira.


"Sira!"


.


Afra menyebutkan nama Sira dan Sira tersenyum senang. Percikan cahaya berwarna hijau terang tercipta, aliran mana berwarna hijau itu tak bisa menembus kubah es Sira. Dan hal lain mulai terjadi.


"Perasaan ini …," batin Afra merasakan sesuatu di dekatnya.


"Halo, Manusia!"


"Afra!" teriak Sira menoleh ke arah Afra secara cepat, tetapi Afra seketika sudah tidak ada di sisinya. Begitu juga dengan kubah esnya yang menghilang menjadi udara dingin.


Bersamaan dengan monster sihir seketika muncul di depan pohon beringin yang bersinar itu.


"Khuaaaaaaaaa! Berani sekali kalian masuk ke wilayah ku!"

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Akh!" Afra menyuarakan rasa sakitnya dan mulai melihat bahwa dirinya berada di tempat lain.


Masih berada dalam hutan, tetapi tidak pada hutan yang di dekatnya ada pohon beringin bercahaya. Semua pohon di sekeliling Afra terlihat sangat gelap dan mengerikan.


"A –ada di mana aku?"


Afra mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tetapi seketika ia berhenti. Matanya langsung menatap tajam sosok yang tiba-tiba ada di dekatnya.


"Hai! Kita bertemu lagi!" ucap sosok itu seketika membuat Afra terbelalak.


Warna mata bagai api yang terkena lelehan kristal darah. Pakaiannya kini tetap berwarna hijau, tetapi lebih dominan warna hitam. Dan bukan seperti penyihir lagi, melainkan hampir seperti ahli pedang.


Ahli pedang yang lebih dominan untuk disebut pembunuh.


"I –Iyla—"


Iylasvi, itulah nama sosok hijau itu. Afra tidak sempat menyebutkan dengan lengkap namanya karena sang pemilik nama itu seketika menghilang. Berubah menjadi aliran mana berwarna hijau dan menyebar ke segala arah.


"Hihihi," tawa Iylasvi yang kini menjadi aliran mana bagaikan kilat itu.


Aliran mana itu terus mengelilingi Afra sebagai pusatnya. Bukan hanya satu, melainkan ada sekitar lima aliran mana yang mengelilinginya.


Membentuk pola bintang berwarna hijau terang jika dilihat dari angkasa.


"Hihihi." Tawa Iylasvi yang semakin menggema di ruangan pendengaran Afra.


Gadis manusia bernama Afra Afifah. Rambut pendek berwarna hitam kebiruan, mata biru bagaikan lautan yang sangat dalam. Dengan dua buah kristal yang menjadi penjepit rambutnya.


Gaun berwarna biru dengan bagian dada berwarna putih. Ada pita berwarna merah yang mengikat di sana. Gaun pendek yang bahkan tidak sampai menutupi pahanya.


Meski begitu, dirinya kini sudah tidak bisa berkata-kata. Melihat aliran mana yang kini semakin lama semakin mengenai dirinya. Mulai menggores sedikit demi sedikit badannya.


.

__ADS_1


"A—"


"Aku sepertinya ingin membunuhmu, Manusia!" bisik Iylasvi tiba-tiba muncul di belakang Afra bersama dengan aliran mana yang menghilang.


Afra semakin membelalakkan mata. Iylasvi membisikkan kata-kata itu dengan nada yang cukup cepat. Suaranya lebih terdengar seperti mengejek daripada disebut sebagai kekejaman.


Walau begitu, Afra merasakan sesuatu pada dirinya. Ya, ia seketika merasakan tubuhnya yang tiba-tiba terbakar panas. Ia merintih kesakitan dan berteriak keras. Iylasvi tertawa jahat.


"Aaakh!"


Afra kembali berteriak bersamaan dengan Iylasvi yang menghilang, berubah menjadi aliran mana dan seketika menusuk tubuhnya. Masuk ke dalam tubuhnya dan berusaha menghilangkan kesadarannya.


Walau begitu, sepertinya Iylasvi tidak akan bisa melakukannya.


"Aaaaaaaakh!"


Aliran mana berwarna hijau yang menusuk tubuh Afra dari segala arah seketika bersatu, menyatu dan terpental keluar sebelum benar-benar masuk ke dalam tubuh Afra.


Afra memuntahkan darah dari mulutnya, sedang tubuhnya masih baik-baik saja. Hanya ada rasa membakar yang kini terkumpul sampai pada dadanya.


Aliran mana berwarna hijau terang yang sebelumnya terpental itu sudah menghantam pohon, kemudian berubah menjadi sosok hijau bernama Iylasvi.


"Apa …?" lirih Iylasvi sambil memegangi kepalanya sendiri.


Pandangannya masih buram, tetapi ketika semuanya kembali menjadi normal …


"Afrafair," lirih Afra mulai mengucapkan kata pembuka.


Aura biru yang menyelimuti tubuh Afra seketika berkobar bagai api. Api biru yang terasa sangat tajam, panas lagikan membakar. Meski bagi Iylasvi itu lebih dominan pada sesuatu yang paling dibencinya.


"C –ca –caha—"


"Frairifra, ilvaviera!" lirih Afra dengan suara yang terdengar sangat menusuk bagi pendengarnya.


Iylasvi tidak bisa menggerakkan tubuhnya sekarang. Dirinya sudah terduduk di tanah dengan badan yang tersandar pada pohon. Aura biru pada tubuh Afra semakin berkobar, bagai api yang tertiup badai dan tidak bisa dipadamkan.


Aura biru yang akan terus semakin membesar dan bisa dilihat oleh semua mata dunia. Terang dan bersinar, membuat warna gelap hutan menjadi biru bercahaya. Ya, cahaya adalah sesuatu yang ditakuti oleh Iylasvi.


Meski sepertinya masih ada kategori cahaya apa yang ditakuti olehnya.


.


"Huuh." Afra menghembuskan napasnya setelah berhasil mengendalikan dirinya sendiri.


Matanya masih tetap biru, tetapi pikirannya sudah lebih dominan seperti sang alter. Wajahnya sudah tidak terlihat seperti dirinya yang polos. Netranya kini sudah sama seperti netra sang alter, tetapi tidak berubah menjadi merah darah.


Kemiripan terletak pada ekspresinya, bukan pada mata atau rambutnya.


"Hei, Iylasvi. Bagaimana kalau aku memanggilmu Iyla saja? Hihi!" ucap Afra sambil mengayunkan sabit biru yang seketika muncul di genggaman tangannya.


Afra tertawa, sama halnya dengan tawa yang dilakukan-'nya. Aura biru yang menyelimuti tubuhnya sudah benar-benar seperti lepas kendali sekarang.

__ADS_1


Ya, aura biru itu kini sudah bergerak seperti aliran mana hijau Iylasvi. Bergerak bagai kilat yang terbakar menuju Iylasvi. Iylasvi yang kini sudah tidak bisa apa-apa.


__ADS_2