Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Kita Mulai


__ADS_3

"Ya, sepertinya aku tak punya pilihan lain,"-Aura menghela napas panjang-"selain mendampingi manusia itu."


***


Cuaca. Hanya satu yang bisa dikatakan untuk cuaca saat ini, yaitu hujan. Titik-titik bening yang keluar dari kapas hitam di angkasa menciptakan banyak hal di tanah dunia. Danau kecil yang bisa diinjak, serpihan air pada dedaunan dan sebagainya.


Semuanya tampak alami di sini, begitulah pandangan gadis manusia yang sekarang masih duduk di ranjang itu. Matanya fokus pada lukisan hujan di luar dan menyiratkan ketenangan. Napas panjang mulai dikeluarkan olehnya.


"Apa … aku harus pergi sekarang?" tanya Afra mulai beranjak dari duduknya.


Ia meninggalkan ranjang yang entah sejak kapan sudah bersih. Ya, seharusnya masih ada bercak darah di ruangan ini. Afra sedikit keheranan, tetapi ia kembali mengingat siapa yang mungkin melakukannya.


"Apa Aura memberikan semuanya? Atau …." Afra menggeleng cepat dan mengubah pemikirannya.


"Kenapa aku harus memikirkannya? Lebih baik aku pergi dari sini sekarang!"


Afra pun mengarahkan pandangannya pada pintu dan mulai melangkahkan kakinya ke sana. Hanya satu tujuannya sekarang, yaitu pergi dari sini. Tak peduli apa tanggapan Aura saat kembali nanti, ia hanya bisa pergi. Ia hanya bisa menurut saja.


Ya, memangnya … ia bisa melawannya?


Gadis dengan rambut pendek berwarna hitam kebiruan itu memindahkan pandangannya ke langit malam. Awan masih menyelimuti dan menambah kesan gelap. Air mata terus dikeluarkan oleh langit tanpa bintang itu.


"Baiklah, aku mulai!"


Langkah demi langkah. Semuanya dilakukan dengan kecepatan yang aman. Sesekali, air yang menggenang membuat Afra hampir kehilangan keseimbangan. Namun, kecepatan yang dikerahkan tetaplah sama. Melewati hutan yang hanya dipenuhi tumbuhan hijau tak berkayu.


Afra melewati dedaunan dengan pakaiannya yang sudah basah karena hujan. Hawa dingin senantiasa dirasakan olehnya. Pandangannya tetap tertuju ke depan dan kakinya terus melangkah penuh kecepatan. Sampai …


"Apa itu?" batin Afra menghentikan langkahnya.

__ADS_1


… Langkah kaki lain terdengar mengikutinya.


Afra berhenti dan mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tidak hanya belakang, ia melihat semuanya. Sekelilingnya terasa semakin tidak aman, itulah pikirannya saat ini. Langkah kaki itu terdengar dengan rentang waktu yang agak lama.


Ya, hanya pada saat genangan air tercipta di tanah dan diinjak oleh langkah kaki itu. Afra bisa mengetahui hal itu karena …


"Afrafair!"


… ia sudah mencuci otaknya sendiri? Tidak, tidak! Pola pikirnya sudah serius sekarang, itulah yang merubah jati dirinya untuk saat ini.


Sabit dengan bilah panjang melengkung berwarna putih. Tidak, warna biru lebih menyelimuti pada sabit putih milik gadis manusia ini.


Tiga langkah kaki terdengar bersamaan di arah yang berlawanan. Lalu, di mana langkah kaki yang satunya jika duanya berlawanan?


Afra memejamkan matanya dan menggenggam sabitnya pada posisi bersiap. Entah sejak kapan ia menjadi terbiasa memegang benda mengerikan ini, padahal ini adalah yang kedua kalinya. Ya, ini adalah kedua kalinya.


"Manusia …." Bisikkan kata yang menyatu dengan angin malam terdengar.


Air mata langit masih menetes meski mulai seperti kabut. Tipis namun deras. Gadis manusia yang sekarang menggenggam sabit putih itu masih merasakan aura dingin. Aura dingin dari cairan bening yang meresap ke dalam pakaian sampai mengenai kulit putihnya.


"Airifra!"


"A –apa … apa yang terjadi … ini?" ucap suara lain yang melihat pemandangan merah di balik dedaunan hijau.


Gadis bermata biru itu, baru saja membunuh dua monster yang bukanlah monster sihir. Ya, monster kelas Elineum. Gadis bermata biru itu baru saja melakukannya … dengan netranya yang mulai menggelapkan titik cahaya.


Suara-suara aneh terus terdengar. Afra yang memejamkan matanya tentu bisa mendengar suara itu dengan jelas. Sabit putih yang diselimuti cahaya biru masih dipegang olehnya. Bilah tajam sabit itu dalam posisi melengkung dan mengarah pada kepalanya sendiri.


Suara aneh itu kembali terdengar membisik. Tangisan langit memberi penjelasan dari suara itu, juga angin malam yang berhembus penuh keputusasaan. Suara yang hampir ia lupakan seiring bergantinya waktu dan takdir.

__ADS_1


Gadis berambut hitam kebiruan itu sedikit tersinari oleh cahaya biru dari sabit putih. Afra Afifah adalah namanya. Ia adalah gadis manusia yang terlahir di dunia bawah. Kawasan terlarang adalah awal dan akhir dari hidupnya. Tidak, akhir hidup dari sang pemberi jalan.


"Manusia …," bisik angin malam yang merupakan suara lirih dari benda hidup di dua sisi.


Depan dan belakang, itulah letak dari langkah kaki yang kini sedang berhenti. Diam dan mengincar gadis manusia dengan sabit itu. Afra masih dalam posisi, mata menutup dan pikiran kosong. Namun, keseriusan sudah meliputi seluruh tubuhnya.


Suara itu … suara itu …! batin Afra mulai menggenggam erat sabit putihnya.


Titik-titik bening mulai menyerupai kabut. Suaranya masih terdengar jelas dengan iringan makhluk yang mulai menampakkan dirinya. Afra masih tetap pada pendiriannya. Matanya yang terpejam tentu tidak melihat dua makhluk di depan dan belakangnya.


Makhluk berperawakan kurus dengan anggota tubuh yang tidak normal. Bagaikan hewan tetapi hanya berisi tulang. Gigi tajam yang tumbuh tidak beraturan dengan saliva bening nan kental. Kerongkongan makhluk itu terus mengeluarkan suara penuh nafsu.


Afra semakin mengeratkan genggaman tangannya pada sabit putih miliknya. Tidak hanya satu tangan, melainkan dua. Afra terus menutup kedua matanya bahkan ia tidak menginginkan untuk membukanya. Perasaan penuh ketakutan dirasakannya, di antara garis tipis yang senantiasa menjatuhkan diri ke tanah.


Afra langsung membuka matanya dan menatap tajam ke depan. Sosok makhluk dengan wujud gelap nan indah dari neraka sudah siap meludahinya. Saliva kental tak berwarna pada mulut makhluk itu membuat Afra terbelalak.


Suara tawa dari kerongkongan terus dikeluarkan dari mulut makhluk bernama monster itu. Ya, monster yang benar-benar monster. Bukan sihir bukan ilusi, itu benar-benar monster!


Waktu seakan terasa lambat. Afra masih merasakan hawa lain di belakangnya. Dan benar saja, dirinya semakin terbelalak saat melirik ke belakang. Monster yang sama sudah siap membasahi tubuhnya dengan saliva dan darah.


Waktu terasa lambat. Tidak, lebih tepatnya … berhenti sejenak.


Gadis bermata biru itu masih bisa bergerak dengan leluasa. Tidak terkekang apapun. Namun, ia tetap dalam posisi terkejut dengan netranya yang menatap langsung kedua monster itu. Sabit putih ia jauhkan sedikit dari kepalanya.


Garis vertikal tanpa warna bisa dilihat oleh Afra dengan jelas. Tak menyentuh tanah dan tetap pada udara malam. Afra semakin terbelalak dan keheranan. Namun, ia menyadari kalau ini masih berjalan.


Pandangannya kembali tertuju pada makhluk di hadapannya, bukan di belakangnya. Makhluk— tidak, monster itu sudah tepat di depan matanya sendiri. Gigi tajam tak beraturan yang basah akan saliva kental nan menjijikkan itu sudah siap untuk basah dengan darah.


"Kita mulai sekarang, Afra Afifah …."

__ADS_1


"Ya, Ilva."


__ADS_2