
"Ya … aku tahu, Afra …,"-Aura berhenti berjalan mundur-"… kalau kau … menyembunyikan … kepercayaan."
Jantung Afra kembali berdetak kencang. Perkataan Aura membuatnya benar-benar … tidak bisa berkata-kata. Namun, tanda tanya selalu muncul di dalam benaknya. Mata melebar dan alis yang terangkat, begitulah ekspresi yang ditunjukkan oleh Aura. Namun, berbeda dengan senyumannya.
Mulutnya tetap tertutup, dan bahkan mulai menyimpulkan senyuman misterius. Seakan-akan … senang melihat ekspresi Afra yang tak bisa berkata-kata, tetapi juga terkejut melihat Afra yang … mulai menundukkan kepalanya.
"Apa itu … kepercayaan?" tanya Afra lirih, tetapi penuh dengan nada serius.
Wajah Aura sekarang sudah sepenuhnya terkejut dan tak percaya. Mulutnya mulai membuka, meski hanya sedikit. Namun, yang paling penting di sini adalah … kesunyian malam dan kota. Keheningan tanpa suara selain dari mereka berdua. Itu memberi … kesan kuat dan penuh ketegangan.
"Jelaskan padaku, Aura … apa itu kepercayaan, ya …!" pinta Afra seketika langsung mendongakkan kepalanya, dan menatap mata Aura.
Aura sudah tak bisa apa-apa sekarang. Ya, Afra sekarang … juga sudah berubah. Netra merah, dan rambutnya yang mulai memanjang. Perubahan warna biru menjadi merah, dan menggelapkan yang gelap. Afra bukanlah Afra, melainkan … Ilva.
"Hei, jelaskan padaku, Aura … arti dari kepercayaan!" ulang Ilva yang sekarang sudah mengambil alih tubuh Afra.
Keringat dingin, tubuh gemetar, ekspresi terkejut dan tak percaya, dan … rasa takut. Semuanya mulai menyelimuti dalam diri Aura. Dari tujuan awal, seketika berubah menjadi akhir yang … tidak terpikirkan.
Pandangan Aura masihlah sama, dan yang dilihatnya tentu adalah Afra. Namun, bukanlah Afra yang dikenalnya. Seakan-akan, posisi mereka berdua menjadi terbalik. Siapa yang akan mendatangi siapa, dan siapa … yang akan menginterogasi siapa.
"A-aku hanya … ingin mempercayai—"
"Kepercayaan bukan untuk diuji, Penyihir kecil!" teriak Cyrèn tiba-tiba muncul di atas atap bangunan dan menatap tajam ke arah Aura.
Aura terkejut setelah mendongakkan kepalanya dan melihat ke atas. Mata merah lainnya mulai menatap tajam dirinya. Ekspresi penuh kekesalan ditunjukkan oleh Cyrèn.
"Kau … benar-benar bodoh, ya!" lirih Cyrèn seketika langsung terjun ke bawah, dengan pedang merahnya yang mulai diarahkan pada Aura.
Aura melihatnya, tetapi ia tidak bisa apa-apa. Ia malah diam dan … memilih untuk membiarkannya. Pedang merah itu kini tepat berada di atas wajah Aura, tetapi … Cyrèn dengan cepat langsung mengubah arah pedangnya dan menancapkannya di dinding. Sedangkan dirinya sendiri, ia lemparkan ke arah kekosongan di sebelah Aura.
Menapakkan kakinya di dinding, lalu menarik pedangnya dan mendarat, itulah yang dilakukan Cyrèn secara cepat. Sekarang Aura berada di tengah, dengan Cyrèn dan … Ilva yang sekarang mengendalikan tubuh Afra.
Cyrèn menunjukkan wajah kekesalannya pada Aura, dan Aura tentu tak bisa apa-apa melihatnya.
"Kau memilih untuk mati, ya, Penyihir!" tegas Cyrèn penuh kekesalan, dan keseriusan.
Aura semakin melebarkan matanya, dan juga mulutnya. Namun, tidak ada suara maupun kata-kata yang bisa diucapkan olehnya, maupun keluar dari mulutnya. Berbeda dengan … Ilva yang melihat sebagai penonton.
"Hahahaha … hahahaha!" tawa Ilva dengan nada jahatnya, seraya menutupi matanya dengan satu tangannya.
__ADS_1
Pandangan Aura dan Cyrèn beralih kepada Afra yang tertawa-tawa itu. Tidak, itu bukanlah Afra, melainkan Ilva. Mereka berdua tentu tidak tahu akan hal itu.
"Pertanyaan selalu saja muncul, ya … bahkan dari kepercayaan," ucap Ilva dengan nada-nada yang … membuat pendengarnya terkejut tak percaya.
Tawa kembali dikeluarkan oleh Ilva, dan ekspresi tak percaya sudah tercipta di wajah Cyrèn dan Aura. Meski Ilva menutupi matanya, Cyrèn masih bisa melihatnya. Ya, rambut panjang berwarna hitam kemerahan.
Yang dilihat Cyrèn tentunya adalah Afra, tetapi dengan penampilan berbeda. Namun, yang hanya bisa dilihat Cyrèn sekarang adalah … perubahan rambut pendek Afra dan warna rambutnya. Ya, Afra akan selalu berubah jika Ilva sudah mengendalikannya.
"Hahaha … benar-benar … penuh pertanyaan, ya!" tegas Ilva seketika melepaskan tangannya yang ia gunakan untuk menutupi matanya.
Sekarang, netra merah Ilva sudah terpancarkan, dan terlihat jelas di pandangan Cyrèn. Aura tentu saja melihat tatapan mata Ilva itu. Tatapan mata … yang membuat Aura menjadi ketakutan.
Cyrèn diam membeku, setelah dirinya ditatap tajam netra merah Ilva itu. Perasaan penuh kebencian dan kekejaman mulai terasa dari tatapan mata merah Ilva. Ilva pun kembali tertawa dengan nada jahatnya.
Tubuh membeku dan tak bisa digerakkan, keringat dingin yang mulai terasa, ekspresi terkejut dan tak bisa berkata-kata, semuanya tercipta secara bersamaan … setelah melihat sosok Ilva yang mengendalikan tubuh Afra.
"A-Afra…," ucap Aura lirih sambil berusaha untuk tenang dan tidak gemetaran. Ilva yang mendengarnya langsung tersenyum miring.
"Ilvaviera!" kata Ilva seketika … membuat gang kecil tempat mereka bertiga berada penuh dengan rantai-rantai berwarna merah.
Ya, rantai-rantai yang tiba-tiba muncul begitu saja. Seakan-akan sudah ada sebelumnya. Cyrèn dan Aura sama-sama menunjukkan wajah terkejut, apalagi Cyrèn yang baru pertama kali melihatnya.
Rantai-rantai yang dikeluarkan oleh Ilva itu membentuk pola zig-zag. Rantai-rantai yang bagaikan tanaman merambat itu sudah menjadi jaring laba-laba bagi Cyrèn dan Aura. Namun, belum ada satupun rantai yang mengenai maupun mengikat tubuh keduanya.
"Savira Alviera!" ucap Ilva lagi dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Seketika, semua rantai yang sebelumnya muncul dan menjebak Cyrèn dan Aura langsung lenyap dan menghilang. Tubuh mereka berdua langsung kembali terasa dan tentu sudah bisa digerakkan. Namun, di detik setelahnya … rantai berdarah itu kembali muncul dari dua dinding di samping mereka.
"Terepōto!" respon Aura dengan cepat langsung mengeluarkan lingkaran sihir berwarna kuning di samping kiri dan kanannya, juga di samping kiri dan kanan Cyrèn.
Rantai-rantai berdarah yang hampir saja menusuk tubuh mereka dari samping itu langsung lenyap termakan oleh lingkaran sihir Aura. Namun, tentu itu bukanlah sebuah akhir yang bagus.
"Alviera!" bisik Ilva tiba-tiba muncul di belakang Cyrèn.
Cyrèn yang benar-benar tidak waspada langsung menoleh ke belakang, dan menarik pedangnya. Namun, Ilva sudah menghilang dan tidak ada di dekatnya. Respon cepat langsung diambil oleh Cyrèn, saat menyadari kalau…
"Di belakangmu!" teriak Cyrèn langsung menoleh ke arah Aura, dan benar saja.
Ilva ternyata sudah berada di belakang Aura tepat sebelum detik bergantinya kejadian. Cyrèn dengan cepat langsung melesat dan mengarahkan pedangnya pada Ilva, tetapi … rantai berdarah langsung muncul dari dalam tanah dan menusuk tubuh Cyrèn.
__ADS_1
Cyrèn terjatuh ke tanah dengan rantai berdarah yang langsung menghilang setelah berhasil melubangi perut Cyrèn. Tidak ada satu detik kejadian ini berlangsung. Aura bahkan belum sempat menoleh ke belakang!
Ya, pandangan Aura di detik itu masih melihat Cyrèn yang mengarahkan pedang ke arahnya, tetapi di detik itu juga … rantai berdarah muncul dari tanah dan menusuk tubuh Cyrèn, lalu menghilang.
Cyrèn terlungkup di tanah dengan darah segar yang keluar dari perutnya, dan Aura tak bisa berkata-kata melihat apa yang terjadi dengan siluman itu.
"Hahaha, ternyata menyenangkan juga, ya!"
Aura langsung menoleh ke belakang, dan mendapati temannya yang sudah bukan temannya itu. Ya, Afra dengan mata merah, atau lebih tepatnya … Ilva sang alter dari Afra.
"Afra…," ucap Aura tak bisa berkata-kata lagi melihat teman yang bukan temannya itu tertawa dengan nada jahat dan penuh kepuasan.
"Menyenangkan sekali, ya," ucap Ilva seketika langsung menatap tajam netra tiga warna itu.
Aura kembali diam membeku, dan tak bisa apa-apa. Tatapan mata merah Afra— tidak, tatapan mata merah Ilva … benar-benar membuat sekujur tubuhnya terasa mati.
"Tapi … ku rasa ini sudah cukup," lirih Ilva membuat Aura melebarkan matanya sejenak, sebelum akhirnya … Ilva berhenti mengendalikan tubuh Afra.
Ya, netra merah kembali menjadi biru. Rambut panjang kembali menjadi pendek, dan … kesadaran yang penuh pertanyaan sudah kembali. Afra kembali mendapat kesadarannya, tetapi akhirnya tentu saja … tak sadarkan diri.
Terjatuh ke tubuh Aura setelah satu detik mendapat kesadarannya, Afra tentu saja tidak bisa mengingat apa-apa. Ia bahkan belum sempat melihat setelah dikendalikan oleh Ilva, meski netranya sudah berubah menjadi biru semula.
"Afra…," ucap Aura masih tak tahu harus berkata apa, setelah melihat Afra yang terjatuh ke tubuhnya itu. Dan juga … Cyrèn yang sudah basah dengan darah itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa dilakukan gadis penyihir itu sekarang.