Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Perbatasan


__ADS_3

Wilayah kerajaan Penyihir hanya memiliki satu kota, yaitu kota Sihir. Meskipun demikian, kota sihir sebenarnya dibagi menjadi beberapa wilayah lagi. Namun, wilayah kota Sihir yang ditempati tokoh utama adalah kota Sihir wilayah perbatasan.


Kota Sihir wilayah perbatasan. Kota yang bisa dibilang cukup berada dan menjadi tempat informasi penting. Kota yang harus disinggahi terlebih dahulu jika ingin benar-benar masuk ke dalam wilayah kerajaan penyihir.


Ya, hal itu sudah menjadi pengetahuan umum di sini. Dan para pengunjung baru ini sudah melakukannya.


.


.


.


.


.


.


"Huuh, kenapa lah aku harus mengikuti dua cewe ini," batin Sira sembari melirik Afra dan Aura yang sedang mencari-cari buku.


.


.


Sebelumnya….


"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya kau harus menjelaskan ini nanti, Siluman sihir," kata Aura dengan tegas kemudian membawa Afra yang sudah tak sadarkan diri menuju kamar inap.


.


"Haah, benar-benar, ya," gumam Sira tanpa rasa kesal dan marah, hanya ada keluh kesah pada ucapannya itu.


Sira kembali diam dan tidak melakukan apapun selain bernapas, mendengar, melihat dan berpikir. Matanya masih fokus memandang pintu kamar inap Aura dan Afra. Telinganya hanya mendengar suara hampa, sementara pikirannya sudah berkeliaran.


"Hm." Sira menyipitkan matanya dan menampilkan wajah kesal, pandangannya tak luput dari pintu yang tertutup itu.


Ekspresi serius dan otak yang terus berputar-putar memikirkan sesuatu. Secara singkat, hanya ada teori dan tebakan yang muncul di pikirannya. Matanya seakan-akan ingin menutup, tetapi hawa tajam membuat dua bola mata itu tampak menyeramkan.


"Aakh! Masa bodo ah!" ucap Sira sambil membalikkan badannya lalu duduk bersandar di sebelah pintu kamar inap dua gadis itu.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Beberapa menit berlalu dan keheningan tercipta. Sira sedikit mendengar percakapan setelah keheningan yang lama terus terlaksana. Percakapan dua gadis di dalam kamar itu membuatnya semakin menyipitkan mata dan mengernyitkan dahi.


Sira pun bangun dari duduknya dan mengetuk pintu kamar itu tiga kali, "masih lama, ya? Apa aku bisa masuk?" ucapnya dengan nada malas lalu menciptakan senyuman aneh.


.


"Aura—"


"Biarkan aku yang urus, Afra!" ucap Aura dengan nada serius dan langsung memakan rotinya dengan cepat.


Afra hanya bisa diam dan melihat Aura berjalan menuju pintu. Ia hanya memandang dengan mata biru gelapnya sementara mulutnya mulai menggigit dan memakan roti di tangannya.


.


Suara pintu dibuka terdengar nyaring dan tatapan tajam saling bertemu. Sira dan Aura saling memberi tatapan tajam, meski ada perbedaan di antara keduanya. Aura menunjukkan senyum palsu, sedangkan Sira menatap dengan wajah malas.


Sira sedikit kesal dengan perkataan Aura, tetapi ia hanya bisa menghela napas berat, "siluman? Hei! Aku ini penyihir! Apa hanya karena tanduk ini aku terus dipanggil siluman!" Sira berkata sembari menunjukkan sepasang tanduk di kepalanya pada Aura.


Afra yang masih bisa mendengar percakapan itu mulai memberi tanggapan setelah berdiam diri. Roti di tangannya sudah habis dan masuk ke dalam perutnya. Ia tidak langsung berdiri, tetapi malah memiringkan kepalanya dan membuat pandangan Sira terfokuskan padanya.


"Hei, kau! Apa kau tidak menjelaskannya pada cewe ini?" kata Sira dengan jari tangannya yang sudah siap menjentik dahi Aura. Namun, lingkaran sihir berwarna biru tiba-tiba muncul di jari tangan Sira.


Afra melebarkan matanya saat lingkaran sihir itu langsung memotong ibu jari dan jari telunjuk Sira. Dua jari itu langsung terjatuh ke lantai, tetapi dengan cepat berubah menjadi es dan hancur. Tidak ada darah yang keluar dari tangan Sira.


Lingkaran sihir berwarna biru yang memotong jari Sira seketika hancur. Kemudian dua jari Sira yang terpotong itu langsung tumbuh kembali dalam hitungan detik. Afra tidak berkedip sama sekali dan terus melihat hal aneh itu.


"Kau lihat sendiri 'kan, jarimu yang bisa tumbuh itu menandakan kalau kau itu, Siluman!" tegas Aura dengan nada yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.


Afra terkejut dan mulai merasakan perasaan tidak enak. Dan benar saja, Sira seketika berdecih dan mulai terpancing dengan kata-kata Aura.


"Oke-oke! Aku tidak peduli! Dan kau, Manusia!"-Sira memberikan tatapan tajam pada Afra-"sepertinya kau lupa berterima kasih, ya?"


Aura terbelalak dan langsung menoleh ke arah Afra, tetapi dengan cepat ia kembali memfokuskan pandangannya pada Sira, "Siluman! Apa yang kau katakan tadi hah!"


.

__ADS_1


"Diam!"


.


Keheningan tercipta dan hawa penuh tekanan kembali menyelimuti. Afra baru saja mengatakan satu kata yang membuat dua makhluk di dekat pintu itu bergeming. Apalagi saat kobaran aura berwarna biru menyelimuti tubuh Afra.


Pandangan gadis penyihir bernama Aura dan penyihir bertanduk bernama Sira itu terfokuskan pada Afra. Tekanan kuat membuat keduanya tidak bisa bertindak banyak. Warna biru gelap, tetapi menyala terang dan memberi kesan tajam.


Mata terbelalak tercipta di wajah keduanya.


"Aku … yang tidak bisa menahan ini,"-Afra menundukkan kepalanya-"… aku minta maaf, dan terima kasih, Sira Siveria."


.


Aura biru gelap yang menyala bagai api itu perlahan menghilang, Afra pun bangkit dari duduknya. Ia memandang Aura dan Sira, kemudian memberi senyuman pada keduanya.


"Afra …," lirih Aura terkejut dan tak percaya, sementara Sira hanya tersenyum tipis dan berhenti menunjukkan wajah malasnya.


"Hmph, dengan begini sudah selesai 'kan?"


.


Perkataan Sira seketika menciptakan kesunyian dan ketenangan yang seharusnya tidak setenang ini. Aura langsung menoleh ke arah Sira dan memberi tatapan tajam, tak lupa senyuman penuh makna tersembunyi dilakukan.


Afra hanya memiringkan kepalanya dan memunculkan tanda tanya di kepalanya, sedangkan Sira mulai merasakan hal buruk akan menimpa pada dirinya sekarang.


"Tidak, kau harus membayar ini karena sudah ter-la-lu ba-nyak ta-hu!" Aura semakin menampilkan senyuman tulus yang setulus-tulusnya ingin membuat pemuda penyihir bernama Sira ini tidak bisa bebas.


"Membayar, ya? Nah!"-Sira merogoh sakunya dan melemparkan beberapa koin emas pada Aura-"aku sudah membayarnya tuh!"


Suara koin-koin yang terjatuh terdengar, beberapa koin berputar dan ada yang menggelinding sampai turun ke anak tangga. Afra masih diam meski Aura mulai bertindak berlebihan.


Lingkaran sihir berwarna kuning tiba-tiba muncul di bawah kaki Sira, Aura dan Afra. Lingkaran sihir itu seketika langsung memindahkan ketiganya keluar dari penginapan, tepatnya di depan pintu masuk penginapan.


Sira dan Afra terkejut dan membelalakkan mata, sedangkan Aura malah semakin melebarkan senyumannya.


"Bayarlah dengan menjadi penjaga kami selamanya, Siluman!" ucap Aura dengan nada sopan namun tajam dan penuh penyiksaan bagi Sira.


Senyuman palsu yang benar-benar mematikan itu membuat Sira tidak bisa berkata-kata, sedangkan Afra hanya bisa diam dan melihat saja.


"Sia!" Sira mengacak-acak rambutnya sendiri dan membuat Afra melebarkan matanya sedikit. Sira pun berhenti mengacak-acak rambutnya saat melihat ekspresi Afra.


"Oke-oke, aku akan melakukannya! Dasar cewe!" Ucapan Sira seketika memancing hal lain yang sudah ditahan Aura belum lama ini.

__ADS_1


"Ucapan mu itu, ya, benar-benar terlihat seperti manusia!"


__ADS_2