
"Kenapa … tubuhku terasa sangat berbeda?" tanya Afra penasaran.
Tubuhnya seperti bebas, kosong dan tidak merasakan apapun lagi. Rasa sakit dan hal-hal yang membuatnya menjadi kebingungan seakan menghilang tanpa jejak.
.
"Sepertinya efek obatnya bekerja, baguslah!" ucap Aura membuat Afra terkejut.
"A –apa maksudmu, Aura?" tanya Afra penasaran dengan ucapan Aura itu.
Meski begitu, Aura tidak menjawab dan hanya tersenyum pada Afra. Gadis penyihir bernama Aura itu tersenyum sampai membuat tanda tanya di benak Afra semakin bertambah.
"Tidak, kau nanti akan tahu efeknya nanti,"-Aura bangun dari duduknya-"setelah kita sampai di kerajaan penyihir, Afra!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sekarang…
.
.
.
Ini hari yang berbeda, tetapi masih dalam kondisi sama. Gumpalan hitam dengan bentuk yang berubah-ubah, tetapi masih tetap sama seperti sebuah kapas terbang. Gumpalan itu selalu ada di angkasa dan menutupi birunya lukisan cahaya pada ruang hampa.
Ya, lukisan biru yang biasanya diberi motif kapas berwarna putih itu sudah berubah total. Tidak ada warna cerah yang ditampilkan olehnya. Hanya ada warna hitam dengan cahaya yang terpancar sedikit.
Cahaya yang biasanya berada di depan bayangan itu, kini sudah berada di belakang bayangan. Memilih tertutup oleh kegelapan dan tidak akan menampakkan diri secara utuh, kecuali sang warna hitam sudah selesai dengan tugasnya.
.
Hutan hijau, sebuah hutan luas yang tidak memiliki tumbuhan berkayu. Hanya ada tanaman hijau yang tumbuh besar dan tinggi. Meski begitu, hutan ini lebih didominasi oleh hijaunya daun raksasa di setiap sudutnya. Dan di sanalah …
… langkah kaki dari dua gadis tercipta, sehingga meninggalkan jejak kenangan pada tanah.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
"Hei, aku boleh bertanya padamu?"
.
Gadis penyihir berambut panjang berwarna merah muda. Rambut itu terlihat diikat, lalu ditutupi oleh tudung dari jubah berwarna biru gelap yang dikenakannya. Irisnya memiliki tiga warna yang menjadi gradasi, meski tidak tercampur dengan sempurna.
Gadis penyihir itu baru saja bertanya pada gadis manusia di sebelahnya. Gadis manusia yang memiliki rambut pendek berwarna hitam kebiruan. Pakaian yang dikenakannya hanyalah pakaian biasa. Kasual dan tidak terlihat misterius seperti gadis penyihir.
Pakaian gadis manusia itu berwarna biru dengan bagian lengan dan kerah baju yang berwarna putih. Kancing baju pada pakaiannya sudah menandakan bahwa pakaiannya bukan pakaian yang benar-benar kasual.
Sebenarnya lebih mirip pakaian akademi, lengan dan rok yang dikenakannya saja pendek. Namun, kaus kakinya tentu saja panjang! Ah sudahlah!
.
"Eum, apa yang ingin kau tanyakan, Aura?"
Aura, si gadis penyihir itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Gadis manusia yang merupakan tokoh utama ini hanya menatap Aura dengan wajah kebingungan.
"Hanya pertanyaan biasa, kau tidak harus menjawabnya, Afra!" kata Aura sambil tertawa kecil.
Afra, si gadis manusia hanya bisa diam dan mengangguk kecil. Gadis penyihir itu masih tertawa sembari terus berjalan. Afra juga ikut berjalan di samping gadis penyihir.
Afra merasa aneh dengan sikap Aura yang labil itu. Ya, benar-benar labil dan selalu berubah-ubah. Tidak menentu dan selalu memberi kesan yang tidak menyenangkan. Meski sekarang sikap Aura sudah tidak menganggap Afra sebagai 'manusia yang harus dilenyapkan'.
Walau sebenarnya, Afra benar-benar tidak terbiasa dengan hal ini. Ia menundukkan kepalanya dan berhenti berjalan. Bayangan hitam mulai menutupi bagian matanya. Mulutnya mulai membuka dan membiarkan udara masuk ke dalamnya.
"Tanyakan saja, Aura," ucap Afra membuat Aura berhenti berjalan dan menoleh ke arah Afra, "katakan saja pertanyaan mu itu padaku."
Aura menelan ludahnya sendiri setelah mendengar perkataan Afra. Matanya melebar dan masih terfokuskan pada Afra yang masih menunduk. Dengan rasa di dalam tubuhnya, ia mulai berbicara.
"Bagaimana bisa … kau merubah pakaianmu, Afra?"
.
Afra mendongakkan kepala dan menatap mata Aura, si gadis penyihir. Pertanyaan yang bahkan tidak pernah terbesit di kepalanya. Tidak, itu adalah hal yang tidak pernah terbesit dalam pikirannya.
Afra melihat dirinya sendiri. Ya, penampilannya memang berubah sekarang. Namun, ia tetap memakai pakaiannya sendiri. Yang ia kenakan sekarang adalah pakaian miliknya sendiri.
"B –bukankah pakaianmu itu awalnya gaun, ya?"
.
Aura kembali melontarkan pertanyaannya. Afra tertegun dan mulai kembali mengingat-ingat. Gaun putih, pakaian akademi berwarna biru, Afra merasa kalau dirinya tidak pernah membawa apapun selain buku tebal itu.
Ya, perputaran waktu. Pakaian awalnya adalah pakaian akademi dan sekarang pakaiannya adalah pakaian akademi. Kalau begitu, telah terjadi sesuatu padanya.
.
__ADS_1
"A … aku rasa … itu tidak terlalu penting, Aura," jawab Afra membuat Aura mengeluarkan sedikit keringat dingin di wajahnya.
"Haha, kau benar. Lagipula …,"-Aura mengalihkan pandangan ke atas dan memandang langit-"itu akan membantu tujuanmu juga, Afra."
.
Afra hanya bisa terdiam mendengar perkataan Aura. Ia benar-benar tak bisa mengatakan apa-apa. Dan juga, ini sebenarnya tidak terlalu penting. Namun, masalahnya adalah …
"Aku … juga tidak merasakan perubahan pada apa yang ku kenakan. Hanya darah dan pertarungan itu yang ku ingat," lirih Afra sedikit terdengar di telinga Aura.
"Apa kau mengatakan sesuatu?"
"Ah, tidak, kok," jawab Afra setelah Aura menoleh dan melontarkan pertanyaan.
Aura menganggukkan kepalanya setelah mendengar perkataan Afra. Ia mulai melangkahkan kakinya dan berjalan, sedangkan Afra masih diam tak bergerak.
.
Ya, masalahnya adalah gadis manusia bernama Afra ini, tidak mengingat hal tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Langit biru yang tertutupi awan hitam. Suara gemuruh yang beberapa kali mengisi kesunyian hari. Matahari masih bersinar, tetapi sinarnya tidak menyinari keseluruhan tanah. Karena awan lah matahari tidak bisa apa-apa.
Di bawah awan itu, gadis manusia bernama Afra Afifah dan gadis penyihir bernama Aura mulai melangkahkan kakinya dan berjalan menuju kawasan lain. Melewati hutan hijau untuk bisa keluar darinya dan sampai di kota.
Ya, kota kerajaan penyihir.
.
.
.
.
Langkah kaki masih dilakukan, meninggalkan jejak di tanah yang sedikit basah akan air mata langit kemarin malam. Dedaunan hijau disingkirkan dengan tangan agar bisa melihat jelas ke depan.
Sampai akhirnya kedua gadis itu sampai pada tempat tujuan. Kota kuno dengan bangunan yang masih tersusun atas batuan alami. Jalanan yang juga masih sama bahan susunannya dengan bangunan.
Menara tinggi lebih banyak di sini, dibandingkan bangunan biasa dengan atap lurus. Bangunannya yang bagaikan balok dan kubus, sedangkan beberapa menjadi menara tinggi berbentuk tabung. Tentu saja, atap menara itu berbentuk lancip.
__ADS_1
Mata terbelalak tentu ditampilkan di wajah salah satu gadis. Gadis bermata biru dengan rambut pendek berwarna hitam kebiruan itulah yang terbelalak. Sementara gadis satunya yang memiliki tiga warna pada irisnya hanya tersenyum tipis.
"Kita sudah sampai, Afra!"