Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Wilayah


__ADS_3

"A –apa … yang terjadi?"


.


.


.


.


.


.


.


"Tch, berterima kasihlah, Manusia!"


.


.


.


.


Pengulangan secara singkat.


.


Bayangan hitam yang tidak berada di belakang bendanya, tetapi menjadi beberapa aliran dan bergerak sendiri. Kabut gelap dan menyesakkan juga menjadi pelengkap. Keduanya saling bergerak dan mengelilingi dua makhluk ini.


Gadis manusia berambut pendek berwarna hitam kebiruan, mata biru yang mulai memunculkan warna merah pada bagian tengahnya dan sang pencipta dari semua kegelapan ini. Gaun biru bagai pakaian penyihir, tetapi yang mencolok di sini adalah dua permata sebagai penjepit rambut di kepalanya.


Ya, permata biru dan permata merah di kepala gadis manusia ini terlihat bersinar. Namun, hanya permata biru lah yang mengeluarkan kobaran api kecil berwarna biru. Afra Afifah, itulah namanya.


.


Rambut panjang berwarna biru terang bagaikan warna air laut di dekat terumbu karang. Sepasang tanduk di kepala yang mengkilap dan bola mata berwarna kuning keemasan. Pakaian penyihir berwarna biru dan jubah pendek tanpa tudung berwarna putih yang disatukan oleh permata biru.


Ekspresi dingin dan sang ahli dari pembekuan, penyihir yang malah disebut siluman oleh penduduk di wilayah kerajaan penyihir, ialah Sira Siveria. Penyihir dengan kemampuan sihir es ini hanya meyakini jati dirinya sebagai penyihir.


Semua berawal dari perkataan Sira, kemudian tawa dan akhirnya terlahir lah kejadian ini. Meski begitu, semuanya langsung terselesaikan dan kegelapan menjadi cahaya percampuran. Warna putih dan biru yang tidak menyatu sempurna, kemudian menjadi serpihan-serpihan kecil.


Serpihan-serpihan itu sekarang sedang melayang dan tidak jatuh juga tidak terbang. Mata biru Afra dan mata kuning keemasan milik Sira saling bertatapan dengan serpihan berkilau di sekeliling mereka.


Sudah tidak ada es, hanya ada bunga es saja. Meski begitu, masih ada darah merah yang terselimuti es di lantai kayu tempat Afra berdiri. Mulut Afra juga sedikit mengeluarkan darah segar.

__ADS_1


"A –apa … yang terjadi?" Afra berkata dengan pandangan yang terfokuskan pada makhluk di depannya, yaitu Sira.


Sira sedikit terkejut dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Semuanya sudah selesai dan menjadi cahaya pengakhiran, tetapi tidak ada sesuatu yang menjadi penyesalan.


Melihat kondisi Afra yang hanya memuntahkan darah dengan kesadaran utuh, Sira semakin tidak percaya. Apalagi dengan aura biru yang menggantikan posisi aura gelap di belakang tubuh Afra. Meski begitu, Sira malah menampilkan ekspresi kesal.


"Tch, berterima kasihlah, Manusia!" ucap Sira dengan nada dingin dan serius, tetapi lebih terbuka pada kekesalan.


Serpihan-serpihan kecil seperti kaca, tetapi memiliki warna biru di antara warna putihnya. Bagai bunga salju di kala dingin, hawa sejuk nan menenangkan terasa di sini. Meski ketenangan itu belum dirasakan dengan sempurna oleh dua makhluk ini.


Sira dan Afra saling menatap dengan mata kepala masing-masing. Mata biru gelap bagaikan warna air laut di kedalaman paling dalam. Mata milik Afra ini menatap dengan titik cahaya kehidupan yang terbesit tanda tanya. Kepolosan yang terlalu sempurna, itulah makna tatapan Afra.


Sedangkan tatapan dari mata kuning keemasan milik Sira adalah tatapan tajam yang mengisyaratkan keterkejutan, ketidakpercayaan, kekesalan dan keseriusan. Namun juga, terbesit rasa penasaran dan tanda tanya.


.


.


.


.


.


.


"Huh, apa kau hanya akan menatapku seperti itu?" tanya Sira mengubah makna tatapannya setelah beberapa detik.


"A –aku hanya—"


Ucapan Afra seketika terhenti dan langsung membelalakkan mata Sira. Darah kental dan segar kembali keluar dari mulut Afra, meski Afra langsung menahan darah itu dengan kedua tangannya.


Sira yang melihatnya tentu tidak hanya diam. Ia langsung bergerak dan mendekati Afra, tetapi dengan cepat penyihir lain muncul di dekat Afra.


"Afra!"


Sira kembali terbelalak dan akhirnya mengurungkan niatnya. Gadis penyihir dengan rambut panjang berwarna merah muda, pakaian penyihir model jubah dan mata gradasi dengan tiga warna. Gadis penyihir itu langsung memegang kedua pundak Afra setelah datang dari lingkaran sihir.


Perlahan-lahan, Afra berhenti memuntahkan darah kental nan segar dari mulutnya setelah gadis penyihir itu datang. Hanya suara rintihan dan perasaan sakit yang dirasakan Afra saat ini.


"Aura …." Afra terjatuh, tetapi dengan sigap gadis penyihir bernama Aura itu langsung menahan tubuh Afra. Sira hanya bisa diam dan melihat saat Aura memberi tatapan pada dirinya.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya kau harus menjelaskan ini nanti, Siluman sihir," kata Aura dengan tegas kemudian membawa Afra yang sudah tak sadarkan diri menuju kamar inap.


Sira bergeming dan hanya melihat sampai akhirnya hanya pintu kamar yang dilihatnya. Ia mengalihkan pandangannya pada darah di lantai, kemudian ia langsung membuat darah itu membeku.


"Es," lirihnya langsung memecahkan es yang sudah membekukan darah di lantai kayu itu.

__ADS_1


Darah merah yang kental dan segar itupun lenyap karena belum sempat mengering. Lenyap dan hancur bersamaan dengan es yang diciptakan oleh Sira. Sira kembali memfokuskan pandangannya pada pintu kamar inap Afra dan Aura.


"Haah, benar-benar, ya," gumam Sira tanpa rasa kesal dan marah, hanya ada keluh kesah pada ucapannya itu.


.


.


.


.


.


.


Begitulah, pagi hari yang baru saja dimulai sudah diciptakan dengan kejadian seperti ini. Mentari sudah terbit sempurna dan membangunkan semua penduduk di wilayah perbatasan ini. Meski begitu, hanya ada tiga makhluk yang tidak merasakan bahwa ini adalah pagi hari.


***


Waktu pun berlalu, tetapi pagi masih menjadi setting utama. Semua penduduk telah menjalani kehidupan di hari baru, meski masih ada awan kegelapan di ufuk barat. Awan-awan yang sedang dalam perjalanan menuju tempat matahari berada.


"Aakh, sakit," rintih Afra sembari membuka kelopak matanya perlahan. Dan sosok yang pertama kali dilihatnya adalah sang teman dari waktu sebelum pengulangan, yaitu Aura.


"Afra!" Aura langsung menunjukkan ekspresi berkaca-kaca pada Afra, itu tentu membuat Afra terkejut.


.


Afra seketika merasakan detak jantungnya yang semakin meningkat. Lebih terasa dan menbuat tubuhnya seperti terhenti. Aliran-aliran darah dalam tubuhnya juga ikut dirasakan olehnya, memberi rasa sakit yang semakin menyebar cepat.


Meski begitu, ia hanya bisa tersenyum palsu dan tidak menyuarakan rasa sakit itu di depan Aura yang sudah meneteskan air mata itu.


"Afra …." Aura meneteskan air matanya dan menangis tanpa suara. Benar-benar hal baru lagi bagi Afra.


"Aku baik-baik saja, Aura—" Afra berhenti berbicara dan memunculkan tanda tanya. Pandangannya seketika terfokus kepada makanan di sebelah Aura.


"Itu, roti, ya?" tanya Afra sembari memiringkan kepalanya. Aura mengusap air mata di wajahnya.


"Ya, aku membelinya saat keluar tadi," jawab Aura sembari menunjukkan roti itu.


Aura pun memberi satu roti pada Afra dan Afra pun menerimanya, "terima kasih, Aura!" ucap Afra dengan senang lalu memakan roti itu, begitu juga dengan Aura yang ikut memakannya.


.


.


.

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar tiga kali, kemudian suara sosok yang berada di luar pintu terdengar masuk ke dalam ruangan kamar inap tempat Afra dan Aura berada.


"Masih lama, ya? Apa aku bisa masuk?"


__ADS_2