Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Janji


__ADS_3

"Meski aku sudah melarang 'nya', tapi itu sia-sia saja," gumam Afra memecahkan keheningan dari alunan nada garis vertikal.


"Meski, 'dia' melarangku juga, 'dia' tidak bisa apa-apa," gumam Afra lagi sembari mengalihkan pandangannya dari kedua tangannya menuju gelas di sampingnya.


Gelas yang sudah tidak berisikan air putih itu dipandang dengan mata kekosongan oleh Afra. Dipandang dan ditatap dengan sempurna, sampai sebuah senyuman terukir di wajahnya.


"Karena, kita hampir saja melupakannya,"-Afra mengedipkan matanya dengan perlahan-"janji dan sesuatu yang lebih kuat dari perkataan kita."


.


.


.


.


"Aku … akan tetap percaya, begitu juga dengan 'mu'. Ya 'kan?"


.


.


.


.


.


.


.


"Ya … sepertinya begitu, Manusia."


***


Rintikan air bening bagaikan kaca cermin alami masih terdengar, tetapi kini dengan suara lainnya. Langkah kaki yang terus terdengar berulang-ulang dan tidak berpindah tempat.


Suara keluhan dan rasa kekesalan dikeluarkan oleh sosok yang masih melangkahkan kakinya di sana. Tiga langkah ke depan lalu berbalik dan kembali melangkah tiga kali. Meski pakaiannya sudah cukup basah, ia sama sekali tidak berpikiran untuk berhenti.


"Sial, sial, sial!" Tiga kata langsung dilontarkan oleh sosok berwarna biru muda itu. Langkah kakinya pun berhenti dengan hentakan keras, meski itu tidak menciptakan hal berbahaya.

__ADS_1


Rambut panjang berwarna biru muda dan ada tanduk mengkilap di kepalanya. Tanduk dengan warna biru yang sedikit kehijauan dan ada warna hitam gelap di sana. Pakaian penyihir berwarna biru dan jubah pendek tanpa tudung berwarna putih.


Meski pakaiannya sedikit mirip dengan pengguna pedang, tetapi berlian yang ada di jubahnya membuat dirinya lebih mirip penyihir. Meski begitu, tanduk di kepalanya malah memberi kesan kalau dirinya bukan ras penyihir.


.


"Kenapa dunia ini sangat— aaakh!" Sosok penyihir dengan tanduk itu kembali mengatakan hal yang bersifat mengumpat. Meluapkan kekesalan dalam kekosongan antara dua bangunan dan alunan nada garis vertikal.


Sosok penyihir dengan tanduk dan mata kuning keemasan itu masih dalam kekesalan. Gendernya adalah laki-laki, itu sudah bisa ditebak dari suaranya, meski rambut panjangnya hampir membuatnya seperti perempuan.


"Aakh! Setidaknya, aku tidak boleh membuat kerusuhan, apalagi mengucapkan kata-kata normal!" Sosok itu mulai menenangkan dirinya dan mengambil napas berulang kali.


"Aku sekarang adalah penyihir, meski aku punya tanduk, sih …! Apa peduli aku! Lebih baik cari tempat tidur!"


Sosok itu mulai pergi dari gang itu, berjalan dan melihat sekelilingnya yang sudah cukup sepi. Genangan tidak terlalu tercipta di jalanan batu alam ini. Hanya rintikan dan alunan tak beraturan yang terus tercipta.


Sosok penyihir bertanduk itu mulai sampai pada satu bangunan yang cukup besar, tetapi juga cukup kecil. Bangunan sederhana dengan model rumah tingkat. Bangunan yang biasa disebut sebagai penginapan.


Ia mulai membuka pintu yang terbuat dari kayu itu. Bel yang terpasang langsung berbunyi, sebagai tanda ada yang masuk ke dalam. Ia mulai mengedarkan pandangannya dan akhirnya berhenti pada penyihir di meja resepsionis.


"Se –selamat datang, di penginapan ini …?" Penyihir dengan topi lebar dan pakaian penyihir berwarna itu sontak melebarkan matanya karena terkejut.


Ya, di sinilah keterkejutannya tercipta, saat melihat penyihir bertanduk itu. Penyihir bertanduk itu langsung berjalan menuju meja resepsionis dan meletakkan sikunya di meja.


"Aku pesan kamarnya untuk tiga puluh hari!" ucap sosok penyihir bertanduk itu dengan nada malas dan menahan wajahnya dengan tangan yang sikunya ditempatkan di meja.


Pandangan penyihir bertanduk itu tidak berada pada penyihir resepsionis, tetapi pada benda di meja resepsionis. Nada bicara malas dan tanduk di kepalanya, penyihir resepsionis semakin melebarkan matanya. Tanda tanya langsung memenuhi pikirannya.


"Hei, apa kau tidak dengar? Aku pesan kamarnya untuk tiga puluh hari!" Penyihir dengan tanduk itu kembali menegaskan ucapannya, meski nadanya tetap terdengar malas.


Kini mata kuning keemasan dari penyihir bertanduk itu sudah fokus pada mata penyihir resepsionis. Tentu, itu membuat penyihir resepsionis terkejut dan meneteskan keringat dingin.


"B –baik!" Penyihir resepsionis langsung berbalik dan mengambil kunci kamar di lemari, kemudian kembali menghadap pelanggannya itu.


"Ini kuncinya!" ucapnya dengan cepat sambil meletakkan kunci kamar itu di meja, tepat di depan pelanggannya yaitu penyihir bertanduk.


"Oke, makasih!" Penyihir dengan tanduk itu langsung mengambil kunci kamar itu dan beranjak pergi meninggalkan meja resepsionis. Dua kata yang diucapkannya olehnya sudah membuat penyihir resepsionis semakin bertanya-tanya.


"A –apa … ini benar-benar nyata?"


Penyihir resepsionis masih menatap punggung penyihir bertanduk yang sudah berjalan di anak tangga itu. Sampai penyihir bertanduk itu menghilang dari pandangannya, ia tetap melihat ke arah tangga.

__ADS_1


"Dia … bukan penyihir, tetapi siluman!" Penyihir resepsionis langsung menutup mulutnya sendiri setelah mengucapkan kalimat itu.


Ketenangan perlahan-lahan diciptakan oleh penyihir resepsionis dalam jati diri penyihirnya. Napas panjang dilakukan olehnya.


"Ini, tidak masuk akal," ucap penyihir resepsionis dengan nada lirih, "bagaimana bisa … siluman ada di sini? Dan juga …."


Penyihir resepsionis itu mengalihkan pandangannya ke atas langit-langit, "manusia dengan aura aneh itu, bagaimana bisa?"


.


.


.


.


.


Suara gemuruh kembali tercipta, begitu juga dengan alunan nada hujan yang semakin terdengar cepat lagikan tidak beraturan. Sekarang, kembali pada sosok penyihir bertanduk yang disebut 'siluman' oleh penyihir resepsionis.


.


.


.


Langkah kaki terdengar dari anak tangga, suaranya semakin mendekat. Terdengar dan semakin terdengar, menusuk juga masuk semakin dalam ke bagian pendengaran. Keras dan keras, semakin keras sampai sosok yang menyuarakan suara itu terlihat.


"Huh? Kenapa gadis itu duduk di sana?" batin sosok dengan netra kuning keemasan yang selalu menampilkan tatapan dingin. Meski rasa malas tercipta di wajahnya, tatapan dingin tetap terlihat di netra keemasan miliknya.


Sekarang, netra itu sudah menatap gadis penyihir yang mengenakan jubah berwarna biru gelap. Rambut gadis itu sedikit terlihat meski memakai tudung. Namun, wajahnya tetap saja tidak terlihat. Gadis itu sedang duduk dan memeluk pahanya sendiri dengan wajahnya yang tertunduk.


Netra kuning keemasan, rambut panjang berwarna biru muda bagaikan langit biru yang indah. Sepasang tanduk di kepala yang cukup mengkilap, tetapi ekspresi di wajahnya membuat itu terlihat biasa-biasa saja.


"Kenapa aku harus peduli? Semuanya yang ada di sini saja jarang berkomunikasi," batin penyihir bertanduk itu tidak peduli dan langsung berjalan menuju kamar inapnya.


Meski sebenarnya kamar inapnya ada di sebelah tempat gadis penyihir berjubah itu duduk, ia tetap tidak peduli. Memangnya apa itu penting? Tentu saja tidak. Itulah pikirannya saat ini.


Penyihir bertanduk itupun langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu, sementara gadis penyihir berjubah itu tetap pada posisinya. Selama beberapa detik berjalan, barulah gadis itu memperlihatkan wajahnya. Berhenti duduk dan mulai berdiri dengan pandangannya yang terfokuskan pada pintu kamar inap penyihir bertanduk.


"Sepertinya, aku harus berhenti bersikap seperti ini," lirih gadis penyihir itu sambil terus menatap pintu kamar inap penyihir bertanduk dengan tatapan tajam.

__ADS_1


__ADS_2