
"A-a-aku ha-hanya ingin tanya … tentang tempat ini…."
Gadis bermata merah itu langsung mengalihkan pandangannya ke jendela dan melihat keluar jendela.
"Kau ada di akademi Arknest, dan kau sudah menjadi murid di akademi ini!" jawab gadis bermata merah itu dengan nada dingin lalu melirik ke arah Afra.
Afra terkejut mendengar perkataan gadis bermata merah itu, dan juga saat gadis itu meliriknya. Mata merahnya membuat Afra tidak bisa apa-apa kecuali diam.
"Tanyakan saja semuanya pada penyihir kecil itu, dan jangan katakan manusia saat ada yang menanyakan ras mu!" ujar gadis bermata merah itu seketika langsung menghilang tanpa jejak.
Ya, gadis itu tidak menghilang seperti ditelan sesuatu. Gadis itu menghilang seakan-akan karena Afra mengedipkan matanya. Mudahnya, gadis bermata merah itu seperti membuat Afra mengedipkan matanya, dan setelah Afra mengedipkan matanya, gadis bermata merah itu hilang.
***
Pagi sudah ada sejak tadi, tetapi Afra masih berdiam diri. Ya, meski Afra sudah beranjak dari tempat tidurnya dan melihat makhluk-makhluk yang berlalu-lalang dari jendela.
Mereke semua hampir sama seperti ku, hanya saja ada yang punya tanduk dan telinganya panjang, batin Afra sambil tersenyum.
Suara pintu diketuk seketika terdengar di telinga Afra.
"Afra, apa kau sudah bangun? Aku masuk, ya!"
Afra langsung menoleh ke belakang dan terkejut melihat Aura, gadis penyihir itu yang ternyata mengetuk pintu dan berkata tadi.
"K-kau—"-Afra menggelengkan kepalanya-"n-nama mu … Aura, ya?"
Aura si gadis penyihir itupun menganggukkan kepalanya setelah mendengar perkataan Afra, "i-iya, kita sudah berkenalan sebelumnya, Afra."
Afra terbelalak mendengar perkataan Aura. Afra benar-benar tidak ingat kalau dirinya sudah berkenalan dengan Aura, bahkan Afra tidak memiliki ingatan tentang hal itu.
"K-kapan kita berkenalan? B-bukankah aku baru sadar kemarin?" tanya Afra kebingungan mendengar perkataan Aura, dan ya. Afra juga ingin memastikan, apakah gadis bermata merah itu mengendalikannya lagi?
Aura menggelengkan kepalanya, "kau memang baru siuman kemarin, tapi aku sudah tau namamu dari Iliya."
Afra semakin terkejut dan mulai penasaran setelah mendengar perkataan Aura.
"Aku rasa itu tidak bisa disebut sebagai berkenalan, ya," sambung Aura lalu tertawa kecil. Walau begitu, Afra hanya bisa diam dengan mata terbelalak. Pikirannya kembali melontarkan pertanyaan-pertanyaan.
Siapa Iliya? Apa itu nama 'nya'? batin Afra bertanya-tanya dan menebak kalau itu adalah nama gadis bermata merah itu.
"Afra?" panggil Aura keheranan melihat Afra yang termenung itu. Afra pun langsung berhenti melamun dan kembali melihat ke arah Aura.
"Y-ya? A-apa kau memanggilku?" jawab Afra berusaha untuk tidak terlalu canggung.
Aura pun menganggukkan kepalanya, "apa kau baik-baik saja?"
Afra terkejut mendengar pertanyaan Aura. Ya, sebelumnya Aura juga bertanya seperti itu.
"A-aku baik-baik saja kok, hanya …," jawab Afra menggantung perkataan nya karena tidak tahu harus berkata apa, dan itu membuat Aura penasaran.
"Hanya?" tanya Aura penasaran.
"Ha-hanya saja … aku tidak ingat apa-apa," jawab Afra diakhiri dengan tawa kecil. Afra benar-benar tidak tahu harus berkata apa dan hanya bisa berkata kalau ia lupa. Ya, memang … Afra tidak ingat apa-apa.
__ADS_1
"A-aku rasa begitu. Kau terlalu banyak menggunakan kekuatan mu, aku minta maaf…," ujar Aura menundukkan kepalanya dan meminta maaf, tetapi itu membuat Afra semakin terkejut.
"A-aku baik-baik saja kok, k-kamu tidak perlu minta maaf! Aku hanya … lupa saja kok, iya! Aku benar-benar lupa saja!" ucap Afra secara spontan setelah mendengar perkataan Aura yang terlihat seperti merasa bersalah.
Aura pun menggelengkan kepalanya, "aku memang … terlalu lemah!" ucapnya dengan lirih, tetapi Afra masih bisa mendengar nya.
Afra hanya bisa terdiam mendengar perkataan Aura.
"Aku … pergi dulu ya, Afra! Kelas akan dimulai besok!" ujar Aura sambil membalikkan badannya dan pergi keluar dari kamar asrama Afra. Afra tidak bisa apa-apa. Ia hanya diam melihat Aura yang pergi dengan ekspresi wajah yang bersalah.
----------------------------------
Kadang, beberapa keanehan selalu terjadi. Dan akan selalu ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul jika keanehan itu melampaui batas akal sehat. Ya, walau kadang juga … ada sesuatu yang hilang di dalam keanehan itu.
Memang, hal-hal aneh selalu berhubungan dengan sesuatu yang hilang. Jika yang hilang tidak ditemukan, maka … keanehan itu tidak dapat diterima.
.
.
.
Apa … kau bisa datang? Aku … ingin bertanya sesuatu….
Aku … ingin bertanya … padamu….
Kumohon … aku … membutuhkan mu….
"Dasar manusia!" ucap gadis bermata merah itu muncul di hadapan Afra. Afra hanya bisa terdiam mendengar perkataan gadis bermata merah itu. Ia perlahan menundukkan kepalanya.
"Aku … hanya ingin bertanya sesuatu padamu," ucap Afra dengan tatapan matanya yang sudah kosong.
Gadis bermata merah itu pun tersenyum menyeringai, "aku tidak akan menjawab pertanyaan mu itu, Afra!"
"Tapi, aku akan memberimu ingatan itu, Afra!"
.
.
.
"Ah!" teriak Afra seketika langsung terbangun dari tidurnya. Ya, setelah Aura pergi, Afra tidak tahu harus melakukan apa. Dan akhirnya, Afra pun kembali tidur sampai malam hari tiba.
Ya, sekarang sudah malam dan Afra terbangun dari tidurnya dengan perasaan … aneh. Afra merasa aneh, seperti ada sesuatu yang hilang.
"Apa … yang terjadi padaku? Kenapa aku … merasa ada yang hilang?" tanya Afra sambil memegangi kepalanya yang mulai terasa sakit. Dan, ya … tiba-tiba saja Afra langsung mendengar bunyi berdenging di telinganya.
Bunyi berdenging itu terdengar semakin keras seakan merasuki pikiran Afra. Afra mulai tak bisa apa-apa. Tubuhnya mulai terasa sakit.
"Aaaakkh!"
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Ini … adalah ingatan yang hilang dari mu, Afra Afifah!
.
.
Ini adalah kejadian sebelum Afra tiba-tiba terbangun di dalam hutan saat tengah malam. Dan ini adalah ingatan yang hilang dari tokoh utama ini.
"Ayah! Apa aku bisa keluar rumah saat malam?" tanya Afra dengan nada berharap pada sang ayah.
Sang ayah pun menggelengkan kepalanya dan tersenyum, "tidak, Sayang … kamu tidak bisa keluar saat malam…."
"Kenapa, Ayah? Memangnya ada yang salah kalau aku keluar malam?" tanya Afra terkejur mendengar perkataan sang ayah.
"Kamu tidur saja ya, nanti kita jalan-jalan besok!" ujar sang ayah membujuk Afra agar tidak bertanya lagi, tetapi….
"Kau tetap sama saja ya, Manusia!" ucap Afra dengan nada tinggi pada sang ayah.
Sang ayah terkejut mendengar perkataan anaknya itu. Ia benar-benar tak percaya, dan tak bisa apa-apa setelah melihat mata Afra yang berubah. Warna mata Afra yang sebelumnya berwarna biru perlahan mulai berubah menjadi merah.
"Ucapan mu selalu sama dari dulu, Manusia!" sambung Afra lagi dengan nada tinggi.
Sang ayah gemetaran mendengar perkataan Afra itu, "k-kau … kau!"
Afra pun tersenyum menyeringai, "ya, ini aku … anak monster mu yang kau bunuh … Ilva Ilyani!"
Sang ayah terkejut tak percaya mendengar perkataan Afra. Tidak, itu bukanlah Afra, melainkan gadis bermata merah itu. Ya, gadis bermata merah itu mengambil alih tubuh Afra!
Sang ayah tak bisa berkata-kata, dan juga bergerak. Matanya terbelalak tak percaya melihat anaknya yang … bukan anaknya.
Hihihi
"Buang nyawa mu jika ingin tubuh dan jiwa Afra selamat!" ucap gadis bermata merah itu lalu seketika menghilang.
Sang ayah hanya bisa terduduk di lantai dan meneteskan air matanya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Hanya bisa … diam dan menutup wajahnya.