Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Kepadamu


__ADS_3

"Aneh," gumam Phia berhenti berjalan, dan membuat langkah kaki semuanya terhenti.


"Mungkin kau yang aneh, Phia," lirih Sira mengejek Phia, tetapi Phia tidak mempedulikannya.


.


.


Suara ranting kecil yang patah terdengar. Tie yang sebelumnya tetap tenang, mulai menunjukkan wajah serius. Ranting kecil di mulutnya sudah ia patahkan, dan … tatapannya menatap tajam ke depan.


"Ya, benar-benar aneh," tutur Tie menambahkan rasa bingung dan penasaran semua murid ini. Namun, perlahan-lahan … semuanya mulai mengerti maksud perkataan Phia dan Tie.


Cyrèn mengangguk kecil, lalu tersenyum tipis. Vendry diam dan menunjukkan wajah serius, sedangkan Iylasvi … ia membelalakkan matanya.


"A-apa maksudnya … ini?" ucap Iylasvi dengan matanya yang masih terbelalak. Afra kebingungan mendengar perkataan Iylasvi, begitu juga dengan Aura.


"Kau kenapa, Iyla? Apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya Aura mewakilkan pertanyaan Afra.


Iylasvi masih terbelalak, dengan pandangannya yang masih menatap ke depan. Wajahnya terlihat seperti … benar-benar terkejut dan tidak percaya.


"Aku … tidak merasakan apapun di sana," jawab Iylasvi, membuat Aura dan Afra terkejut, begitu juga dengan Sira yang ternyata tidak memahaminya.


.


.


Seketika, kabut hitam mulai menyelimuti tubuh Tie. Semuanya terkejut dan terbelalak, saat … Tie mulai bersiap untuk maju.


.


Tanpa basa-basi dan sepatah kata, Tie langsung melesat dan maju ke depan. Membelah angin dan menjadi kabut yang ditarik oleh sesuatu yang kuat. Cyrèn mulai memandang para juniornya itu.


"Kalian semua, tetaplah di sini! Kami berdua akan melihat ke sana! Tunggu tanda dari kami!" perintah Cyrèn dengan cepat dan langsung mengejar Tie yang sudah jauh itu.


Langkah kaki cepat yang seakan-akan tidak menyentuh tanah. Bersama kabut hitan yang sudah melesat di depannya, entah apa yang akan mereka berdua lihat di sana.


Para junoir hanya memandang kepergian seniornya dengan wajah yang berbeda-beda. Satu serius, satu mulai tidak peduli, satunya lagi tidak berkata-kata. Yang paling mencolok adalah … penyihir hijau yang masih terbelalak itu.


Hanya Afra dan Aura yang sepertinya masih kebingungan, meski raut wajah Aura sepertinya lebih paham dari Afra.


"Sebenarnya … apa yang terjadi?" batin Afra bertanya-tanya.


***


Tengah hari. Terjadi saat matahari berada tepat di atas kepala, dan waktu makan siang tiba. Selalu identik dengan panas, meski sekarang … angin tetap berhembus. Memberi kesejukan dan ketenangan, meski rasa khawatir dan penasaran sudah tertanam sebelumnya.


Di bawah pohon yang rindang, dengan daunnya yang tumbuh lebat dan banyak. Ada tujuh murid akademi Arknest yang sedang makan di sana. Semuanya … tampak biasa-biasa saja.


Tenang, dan sunyi. Sang tokoh utama bahkan tidak bisa berkata-kata di sini.


.

__ADS_1


.


Rasanya … enak, batin Afra sembari memakan makanannya.


Afra sesekali menatap salah satu temannya. Tenang dan tanpa kata. Semuanya tidak mengatakan apa-apa saat makan, kecuali…


"Baiklah, aku ingin pergi," kata Sira baru saja selesai makan dan langsung beranjak bangun. Afra benar-benar terkejut melihat Sira yang langsung pergi ke sisi lain hutan.


Ya, bukan sisi yang dituju Cyrèn dan Tie.


"K-kau mau kemana, Sira?" tanya Afra penasaran.


"Cari angin!" jawab Sira sambil berlalu pergi. Afra hanya diam dan tidak merespon perkataan Sira. Ia pun langsung kembali pada makanannya. Dan…


.


.


.


Satu pikiran terlintas di pikiran Afra. Satu hal … yang tidak pernah ia sadari sebelumnya.


A-aku … baru sadar, apa yang aneh padaku, batin Afra dengan matanya yang sedikit melebar.


***


Langkah kaki penuh kabut. Bagai bayangan hitam yang menembus segalanya. Angin tenang yang terbelah karenanya, membuatnya tetap fokus pada tujuannya.


Sang assassin tetap berada di depan, meski sang siluman tampak lebih hebat darinya.


"Sepertinya, penyihir itu sudah kembali, ya, Tie!" ucap Cyrèn berlari di samping Tie.


Tie hanya diam dan tidak menanggapi perkataan Cyrèn. Ia tetap melangkahkan kakinya dengan cepat dan berlari mendahului Cyrèn lagi. Cyrèn hanya tersenyum tipis melihat ekspresi rekannya yang selalu tenang itu, sampai …


Sesosok makhluk tiba-tiba terlihat di balik pohon yang baru saja dilewati Cyrèn. Sesosok makhluk dengan cahaya bagaikan lava di dadanya.


Cyrèn menghentikan langkahnya dan melihat ke pohon itu. Namun, tidak ada. Tidak ada apapun di sana.


"Apa … itu?" tanya Cyrèn pada dirinya sendiri.


***


Misteri. Tidak harus dipecahkan oleh satu, melainkan bisa lebih dari itu. Semakin banyak semakin rumit, tetapi juga bisa menghilangkan takdir yang seharusnya.


.


.


.


Ilva … apa kau bisa … menjawab perkataan ku? Aku … ingin bertanya, batin Afra sembari memejamkan matanya.

__ADS_1


.


Heeh


"Kau berani juga, ya, mengajakku berbicara seperti ini," bisik Ilva seketika muncul di belakang Afra.


Angin sepoi-sepoi berhembus, memberi kesan dingin dan mencekam. Kehadiran gadis bermata merah, selalu terasa sangat dalam bagi Afra.


Kini, Afra sudah berada di sisi lain hutan. Tentunya, jauh dari kelima temannya yang masih berada di bawah pohon tempat mereka makan sebelumnya.


Afra perlahan membuka matanya, dan menoleh ke belakang. Sang mata merah tersenyum tipis pada Afra, dan Afra … langsung menunjukkan wajah kosongnya yang tak berekspresi.


"Kepadamu … aku bertanya, sang gadis monster,"-Afra menundukkan kepalanya-"dan kepadaku, kau mengambil alih."


.


.


"Apa … kau sudah melakukan sesuatu padaku, sehingga aku tidak merasa lapar?" sambung Afra langsung menatap tajam mata Ilva. Ilva terkejut mendengar perkataan Afra, tetapi … ia langsung tersenyum miring.


"Kepadaku kau bertanya, dan kepadamu aku mengambil alih,"-Ilva mendekatkan wajahnya ke telinga Afra-"ya, aku hanya … membuatmu seperti manusia, yang sudah tak punya belenggu."


Afra seketika langsung melebarkan matanya, dan tertegun. Sedangkan Ilva, ia malah tertawa kecil dengan nada jahatnya.


"Ya, aku juga … butuh setengah tubuhmu untuk bisa bertemu dengan mu seperti sekarang, Afra!" jelas Ilva lalu beralih dari telinga Afra ke matanya. Ia menatap mata Afra yang masih terbelalak itu, sampai Afra menatapnya.


Netra merah dan biru saling bertemu. Keduanya saling bertukar tempat, tetapi si biru selalu jadi yang utama. Meski si merah selalu mengubah alurnya.


"Apa … aku akan baik-baik saja, Ilva? Jika aku … sudah tidak sama … seperti dulu?" tanya Afra lagi dengan matanya yang masih setia menatap mata merah Ilva.


"Ya, Afra … kau akan … baik-baik saja,"-Ilva mendekatkan wajahnya ke telinga Afra-"selama kau tetap mendengarkan perkataan ku."


.


.


Angin kencang seketika berhembus, dan langit tampak mulai memudar. Warna biru cerahnya seketika menghilang, tertutupi oleh awan hitam. Dan ….


… Cahaya ledakan dan suaranya mulai terdengar sangat keras dan menembus telinga. Ledakan bagaikan gunung berapi yang erupsi itu membuat Afra terkejut, dan … sang alter langsung menghilang dari hadapan Afra.


Hihihi


"Sepertinya kau harus mengatasi ini sendirian, Afra!" ucapnya bersamaan dengan angin yang berhembus. Keberadaan Ilva pun langsung menghilang, dan … pikiran Afra langsung tertuju pada ledakan sebelumnya. Dan….


.


.


.


"Es beku, nafas salju!"

__ADS_1


__ADS_2