Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Dua Siluman


__ADS_3

"Ara, sedang mencari-cari sesuatu, ya … Murid akademi?" tanya sang siluman perempuan dengan nada yang … mengajak menuju pertarungan.


Ekspresi yang ditampilkan di wajahnya, membuat Sira tersenyum miring. Seolah tak mau terpancing emosi dan berusaha menjadi 'cool'.


Keduanya saling bertatapan dan berhenti di tengah jalan, meski banyak yang memperhatikan mereka berdua, keduanya … tidak mempedulikannya. Ya, tetap pada pendirian dan masalah masing-masing.


"Ya, lebih tepatnya … mencari kebenaran dari perkataan mu, Senior!" jawab Sira dengan nada yang sama seperti sang perempuan.


Siluman berambut ungu itu sedikit melebarkan matanya, lalu kembali ke wajah asalnya.


"Senior, ya … tebakan yang cukup benar," kata siluman perempuan itu tersenyum dan … memberikan aura mengancam pada Sira.


Tatapan tajam dengan netra merah, pakaian dan rambutnya yang memberi kesan gelap cerah, dan … pedang yang masih diselimuti sarungnya. Sira hanya bisa tertegun dan berusaha menahan aura siluman perempuan itu.


"Es membekukan sekitarnya," ucap Sira lirih, dengan kepala tertunduk dan matanya yang mulai menutup.


.


.


Seketika, tanah tempat Sira berdiri berubah menjadi es, dan … mulai menyebar ke sekelilingnya. Tidak, awalnya memang menyebar, tetapi…


"Atau di depannya," sambung Sira seketika langsung membuat tanah tempat siluman perempuan itu berdiri membeku.


Keduanya saling berdiri di atas es tipis yang sangat dingin itu, meski sepertinya … sang perempuan tampak membeku karena es itu. Ya, es yang awalnya hanya menjadi pijakan mulai merambat ke tubuh dan membeku dengan cepat. Tentu, siluman perempuan itu tersenyum miring.


"Es, ya … lawan yang bagus!" lirih siluman bernetra merah tajam itu.


.


.


.


Sekarang…


Dua siluman, yang satu sihir, yang satu real. Keduanya saling berhubungan, meski tidak memiliki hubungan. Ya, sihir dan kekuatan sudah dilancarkan oleh keduanya. Lantai es dan pedang merah darah yang bersinar, suasananya sungguh diluar dugaan.


Kota yang biasa dilalui oleh makhluk-makhluk, kini terasa dingin dan membeku. Tidak ada siapapun, meski masih ada yang melangkahkan kakinya dengan santai.


Tatapan yang saling bertemu. Netra merah dan kuning keemasan. Antara petir dan hali, atau mungkin darah kekejaman. Sang es dan … siluman perempuan dengan rambut panjangnya yang diikat. Warna ungu dan netranya yang merah, dan … memegang pedang bagaikan darah.

__ADS_1


Suara ******* es membeku dan mencair terdengar, memecahkan keheningan senja. Matahari mulai terbenam, dan … kota sudah berubah menjadi arena pertarungan.


"Sihir, ya … benar-benar mengesankan, lho … ras gabungan!" puji siluman perempuan itu dengan senyuman seringai di wajahnya. Itu memberi kesan ejekan untuk Sira.


"Si … sia … sialan!" umpat Sira dengan nafasnya yang terengah-engah. Ya, sudah berselang beberapa jam saja sejak pertarungan dimulai, dan ia sudah kehilangan banyak tenaga.


Sihir dan kekuatan bukanlah masalah, hanya energi yang dibutuhkannya sekarang. Apalagi, senyuman yang terlihat di wajah siluman perempuan itu … membuatnya semakin kesal.


Pedang darah berada di genggaman siluman perempuan itu. Pedang yang berwarna sama seperti netranya, sedangkan rambutnya lebih mendominasi ke pakaiannya. Siluman perempuan itu, benar-benar menikmati dinginnya es sihir Sira. Tak ada tanda-tanda kehilangan darinya.


.


.


.


Suara langkah kaki yang menghampiri terdengar. Gadis bermata biru dengan rambut hitam kebiruan, membuat Sira sedikit melebarkan matanya. Gadis itu berhenti dengan nafas terengah-engah, dan menatap dirinya.


"Si-Sira … apa yang … terjadi?" tanya Afra berusaha mengatur nafasnya.


Sira kembali ke sifatnya, dan menyipitkan matanya, "kenapa kau datang ke sini?" tanyanya dengan nada dingin.


Seketika, pandangan Sira beralih ke atap bangunan di dekatnya. Dua kabut berbeda warna muncul dan menampakkan dua sosok di sana. Werewolf putih dan hitam, Sira semakin mengecilkan penglihatannya.


Siluman perempuan pun mulai tertawa-tawa, membuat dirinya yang tak dianggap kembali menjadi sorotan. Tie Aphas, sang werewolf berambut hitam itu melebarkan matanya melihat siapa siluman itu.


"Ara, kau juga datang, ya, Tie," kata siluman perempuan itu kembali tertawa.


Tie pun tersenyum dan mengambil ranting kecil di mulutnya dengan kedua jarinya, "Cyrène En … kau … masih sama saja, ya," katanya membuat … ketiga murid akademi ini terkejut tak percaya.


---------------------------------------------------------


Malam pun tiba, bulan sudah bersinar, dan kota … sebagian masih terselimuti es yang sudah membekukan satu bangunan.


Banyak yang terjadi saat ini. Dimulai dari dua surat, dan … kota Etral yang penduduknya bagaikan batu hitam yang menusuk tubuh, dan menyisakan jiwa kosong tak berpenghuni.


***


Purnama bersinar, meski sedikit menghilang tertutup awan hitam. Langit dan awan menjadi sama, meski tetap berbeda warna. Hitam dan biru gelap, hampir sama … hanya berbeda sedikit saja. Dan sekarang, ketiga murid akademi ini sudah berada di penginapan bersama dengan…


"Cyrène En, itu namaku, lho! Panggil saja senior atau Cyrèn, ya!" ucap Cyrèn, siluman perempuan dengan rambut panjang berwarna ungu itu.

__ADS_1


Ya, Cyrène En. Siluman perempuan berambut ungu panjang dan bertanduk. Netra merah dan pengguna pedang, itulah dirinya. Dan juga … werewolf hitam itu juga termasuk salah satunya.


Tie Aphas. Werewolf perempuan berambut hitam dengan sepasang telinga yang tentu berada di atas kepalanya. Meski … ia masih memiliki dua telinga manusia. Netra orange bagaikan api, dan raut wajah yang tetap tenang.


Sekarang, keduanya bersama dengan ketiga murid akademi Arknest ini. Ya, hanya ada Afra, Yuu, dan Sira. Entah kemana empat lainnya pergi.


.


.


.


Beberapa menit berlalu, dan wadah makanan sudah tergeletak kosong di lantai. Setelah beberapa makanan dibeli dan dimakan oleh mereka, pembicaraan pun kembali dimulai.


"Oh iya! Karena aku sudah mengatakan namaku, bagaimana kalau kalian bertiga juga … mengatakan nama kalian?" tanya Cyrèn lebih merujuk ke permintaan yang … harus dituruti, ya.


Wajah datar dan mata menyipit, Sira yang masih merasa kesal itu menatap mata Cyrèn, "Sira Siveria, camkan baik-baik!" ucapnya dingin dan tegas. Meski…


"Camkan? Apa kau mengatakan sesuatu yang lain?" tanya Cyrèn mewakilkan semua yang mendengarkan. Sira langsung memalingkan wajahnya dan beranjak pergi keluar dari kamar.


Suara pintu ditutup dengan keras terdengar begitu … membingungkan bagi keempat makhluk yang terlahir di dunia bawah itu. Cyrèn langsung memindahkan rasa penasarannya pada Afra. Tatapan mata merah Cyrèn membuat Afra tertegun.


"A-aku … Afra, Afra Afifah. Itu namaku," kata Afra sedikit terbata-bata saat dirinya ditatap, meski Cyrèn langsung tersenyum senang.


Tatapan pun beralih ke werewolf putih berani. Yuu langsung tersenyum, "namaku Yuu, assassin putih yang hampir membunuh assassin hitam!" ucapnya lalu melirik Tie Aphas yang masih setia dengan ranting kecil di mulutnya.


Tie hanya diam dan menatap mata Yuu dengan tenang, seakan itu bukanlah masalah baginya. Cyrèn menepuk tangannya, dan tersenyum sebagai tanda terima kasih. Afra hanya mengangguk kecil, sedangkan Yuu tetap menatap tajam werewolf hitam itu.


Malam menyelimuti, dan ketiga murid akademi ini akhirnya tahu siapa sang assassin, dan juga siluman perempuan itu. Namun, bagaimana dengan mereka berempat? Kenapa mereka belum kembali?


.


.


.


.


Di hutan kawasan netral, atau lebih tepatnya … di hutan pinggiran kota Etral. Sesosok iblis tingkat setan terlihat sedang menyalakan api hitam kebiruan.


Sepasang tanduk di kepala yang berbeda ukuran, rambut hitam pendek dengan beberapa helai nya yang berwarna biru dan putih, kedua telinganya yang runcing, dan netra biru gelap yang selalu memberi kesan yang takkan mudah dilupakan.

__ADS_1


Di bawah pohon yang daunnya berguguran, Vendry menatap bulan purnama dengan tatapan misterius. Angin malam yang berhembus membuat dedaunan pohon berguguran, dan terbakar api unggun berwarna hitam milik Vendry.


"Tanda bintang, seharusnya sudah cukup,"


__ADS_2