Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Gadis Biru


__ADS_3

Ada benarnya langsung menuju penyelesaian saat puncak konflik sudah tercipta. Karena jika berhenti di sana saja, tidak akan ada habisnya permasalahan kecil itu. Dan sekarang, pandangan baru akan dilihat.


.


Sosok biru, itulah sebutan singkat untuk tokoh ini. Sosok penyihir bertanduk biru mengkilap, rambut panjang berwarna biru langit, mata kuning keemasan dan pakaiannya yang sangat elegan. Bagai penyihir yang memiliki pangkat tinggi, seperti itulah.


"Hah … dunia aneh, seperti biasa." Kata-kata baru saja dikeluarkan dari mulut sosok biru itu.


Matahari belum terlihat dan hanya ada garis cahaya berwarna jingga di luar sana. Sosok biru itu sudah terbangun bahkan sebelum itu terjadi. Ekspresi malas namun menampilkan dengan jelas aura dingin dan keseriusan.


Sosok biru itu pun keluar dari kamar inap, membiarkan kasur tempat tidurnya tetap terbuka. Tidak digulung dan dibiarkan saja di sana. Sosok itu mulai menutup pintu setelah memandang pemandangan kamar inapnya itu.


Langkah kaki mulai dilakukan oleh sosok biru itu. Menuruni tangga dan tidak mempedulikan bahwa penyihir resepsionis menatapnya selama dirinya berjalan. Sampai dirinya pergi keluar dari penginapan, penyihir resepsionis itu hanya menampilkan keringat dingin di wajahnya.


Pemandangan kota dilihat olehnya. Batu-batuan alam yang membentuk bangunan juga jalanan, beberapa kayu pohon terbentuk menjadi balok dan menjadi tiang penyangga. Atau juga menjadi pelengkap dari batuan alam berwarna putih kehitaman itu.


Mata kuning keemasan yang selalu memberi kesan dingin itu mulai diedarkan dan menatap semuanya.


"Lebih damai di sini, kurasa," batin sosok biru itu mulai berjalan ke salah satu bangunan di sana.


Bangunan dengan papan tulisan bertuliskan aksara yang tidak bisa dijelaskan. Namun, di sebelah bangunan itu dibuat lubang besar berbentuk persegi panjang. Dan yang terlihat dari lubang itu adalah 'roti'.


"Roti satu dan ini koinnya. Ambil saja kembaliannya! Makasih!" Kata-kata penuh ketegasan dan kejelasan langsung dilontarkan oleh sosok biru itu.


Setelah mengambil satu roti berukuran besar dan memberikan tiga koin berwarna emas pada penjual di sana, sosok biru itu langsung pergi meninggalkan tempat itu. Penyihir yang menjadi penjual toko roti itu hanya bisa diam melihat kepergian pembelinya itu.


"Hai, aku ingin beli rotinya!"


Penjual roti yang tentunya adalah penyihir itu menoleh ke sumber suara itu. Gadis penyihir berambut panjang berwarna merah muda dan memakai jubah itu tersenyum pada penjual lalu memilih-milih roti di hadapannya.


"Ini berapa?"


"A— d –dua koin saja," jawab penjual itu terbata-bata.


Gadis penyihir itu langsung memberi dua koin berwarna emas pada penjual itu, tanpa peduli akan ekspresi yang ditampilkan penjual tersebut. "Terima kasih," ucapnya lalu pergi ke arah yang sama dengan sosok biru, meski sosok biru itu sudah tidak terlihat.


"S –siluman … sihir, laki-laki itu!" ucap penyihir penjual roti dengan mata terbelalak dan rasa tak percaya.


.


.

__ADS_1


.


.


"Hm, rasanya memang enak banget!"


Sosok biru yang sebelumnya membeli roti itu sedang makan roti dengan santainya. Gang sempit menjadi tempat untuknya makan, meski ia harus duduk di tanah batu tanpa alas. Penampilannya yang elegan tidak membuatnya seperti sosok buangan meski duduk dan makan di tanah batu untuk jalanan itu.


"Hm, enak!"


Sosok biru itu memakan rotinya dengan lahap, sampai suara langkah kaki dari luar gang terdengar mendekatinya. Namun, ia tidak mempedulikan hal itu dan tetap memakan rotinya sampai benar-benar bersih dari tangannya.


.


.


.


"Hm?"


Sosok biru itu mulai bangun dari duduknya dan melihat ke cahaya di luar gang tempatnya berdiri. Suara langkah kaki tadi sudah menarik perhatiannya, begitu juga dengan bayangan sosok lain yang terlihat di jalan.


.


.


Hembusan napas panjang langsung dilakukan oleh sosok biru itu. Napas dingin yang menghasilkan udara yang berwarna, bagaikan udara saat suasana bersalju. Atau lebih tepatnya yaitu, es.


Napas yang menghasilkan warna putih itu langsung bergerak menuju bayangan di luar gang. Menyebar dan menyebabkan dinding dan jalanan bebatuan membeku. Senyuman miring tercipta di wajah sosok biru itu.


.


"Kristal beku!"


.


Jalanan dan dinding membeku akibat hembusan napas sosok biru itu. Biru mengkilap, dingin dan menciptakan warna putih untuk udara, sampai titik-titik biru tercipta di luar gang. Tepatnya, di tempat sosok yang membuat bayangan hitam di jalanan itu.


Titik-titik biru itu langsung menghasilkan bongkahan es lancip yang kemudian menghilangkan bayangan hitam di jalanan luar gang.


"Tch."

__ADS_1


Sosok biru yang merupakan penyihir bertanduk, tetapi malah disebut sebagai siluman oleh penyihir di sekitarnya. Ya, tidak ada penyihir yang memiliki tanduk, itulah alasannya.


Tanduk biru mengkilap, rambut panjang berwarna biru dan netra dengan iris kuning keemasan. Pakaian penyihir berwarna biru yang elegan. Entah apa dirinya sebenarnya, penyihir atau siluman, ia benar-benar tidak mempedulikan itu.


Penyihir bertanduk yang lebih mudahnya disebut sebagai sosok biru ini mulai melangkahkan kakinya melewati jalanan gang. Beku dan terasa dingin, tetapi itu bukanlah sebuah hal penting baginya.


Langkah kaki membawanya keluar dari gang dan pemandangan biru kaca terlihat olehnya. Matanya terfokuskan pada bongkahan es lancip yang di mana ujung lancipnya berada di atas.


Bayangan hitam di jalanan itu sudah hilang, begitu juga dengan sosok yang menghasilkan bayangan tersebut. Hanya tersisa es lancip hasil penciptaan sosok biru itu.


.


.


.


Lingkaran sempurna terlihat di ufuk timur, begitu juga dengan sinar dan cahayanya yang indah. Kuning dan putih menyinari kota juga bangunannya. Para penduduk yang tinggal di sana sudah keluar dan beraktivitas. Namun, satu penduduk cukup untuk menjadi sorotan.


Sosok biru, si penyihir bertanduk. Saat ini, sosok itu sedang berjalan tanpa memandang apa yang ada di sekitarnya. Hanya menatap ke depan dengan pikiran yang tidak ada di tempatnya.


"Cewe aneh, bayangan aneh, reaksi aneh, semuanya sama," pikir sosok biru dalam perjalanannya yang akhirnya mengarah pada penginapan tempat ia menginap.


Suara bel berbunyi terdengar bersamaan dengan tangan sosok biru yang membuka pintu kayu penginapan. Penyihir resepsionis selalu ada di sana, tetapi kini dengan penyihir lain.


"Jangan pedulikan, jalan saja!" batin sosok biru itu menyadari, kalau penyihir resepsionis dan penyihir yang sepertinya pelanggan lama di penginapan ini melihat dirinya.


Sosok biru itu berjalan menaiki tangga tanpa memikirkan tentang dua penyihir yang masih melihatnya itu. Berjalan dan menciptakan suara langkah kaki, sampai akhirnya ia sampai di lantai dua.


.


"Ha?"


Sosok biru itu kembali membatin dan menciptakan pembicaraan dalam dirinya. Baru saja ia menapakkan kakinya di lantai dua, tetapi pemandangan lain langsung dilihat olehnya. Gadis berambut pendek berwarna hitam kebiruan dan mengenakan gaun berwarna biru.


Gadis yang kini bisa disebut sebagai gadis biru itu membelalakkan mata saat melihat sosok biru itu, begitu juga dengan sosok biru. Meski sosok biru itu hanya melebarkan matanya sedikit dan tetap menampilkan wajah dingin.


"K —kau!"


Sosok biru itu melebarkan matanya dengan benar sekarang. Gadis biru itu membuatnya terkejut saat mengucapkan kata 'kau', meski sedikit terbata-bata. Sosok biru itu seketika penasaran dan keheranan melihat gadis biru itu.


"Kau … Sira!"

__ADS_1


__ADS_2