Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Diri-Nya


__ADS_3

Masih pada waktu malam yang tidak menyenangkan. Rasa mencekam dan ketidaktentuan, ketenangan yang hilang lagi kacau. Aura biru di hutan mengundang perhatian dan menjauhkan penyerang.


"Afra!" teriak Sira sambil memegangi kedua lengan Afra.


Afra Afifah, si gadis manusia ini kembali merasakan rasa merahnya darah. Ia menyuarakan rasa sakitnya dan mengeluarkan cairan merah kental dari mulutnya. Meski kedua tangannya sudah mwnutupi mulutnya, cairan merah itu tetap keluar.


Aura biru di tubuhnya semakin berkobar dan menyelimuti seluruh hutan. Sira langsung terbelalak saat Afra tiba-tiba pingsan sebelum dirinya sempat melakukan tindakan.


"Afra!" Sira kembali memanggil Afra, tetapi Afra sudah kehilangan kesadarannya. "Sial!" umpatnya dengan rasa kesal.


Aura biru mulai menghilang dan berhenti berkobar. Sira membopong tubuh Afra dan melihat sekelilingnya. Tidak ada lagi kabut dan aura biru, juga tanda-tanda serangan atau kehadiran.


Ya, meski itu hanya awalan dari sesuatu yang sesungguhnya.


"Awas!" teriak Phia seketika menghadang sabit besi dari sosok perempuan lain.


Sosok perempuan dengan rambut dan mata berwarna merah muda terang. Sosok perempuan itu langsung terpental mundur oleh tongkat yang dipegang Phia. Sira membelalakkan matanya melihat Phia yang melindungi dirinya.


"Kau!"


"Aura!" teriak Phia sebelum satu detik berlalu dari ucapan Sira.


Lingkaran sihir berwarna gradasi muncul di bawah kaki Sira. Menciptakan cahaya silau yang kemudian memindahkan dirinya yang masih membopong Afra. Menuju tempat yang jauh dari hutan ini.


"Hihi, rencananya berhasil," ucap Aura seketika muncul di belakang Phia.


Phia masih dalam posisi bersiap dan menatap tajam sosok perempuan bermata merah muda itu. Sosok perempuan dengan duri tajam di kedua pundaknya. Sosok perempuan yang sebelumnya disebut senior itu tersenyum miring.


"Sungguh tidak terduga, ya," ucapnya memberi tatapan tajam pada Aura dan Phia.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mari melihat keberadaan Sira dan kondisi Afra.


"Ara ara, pertemuan kita kali ini cukup mengejutkan, ya," ucap perempuan dengan topeng berwarna merah yang diikat di kepalanya.


Sepasang sayap hitam di punggung, topeng merah yang diikat di kepala. Rambut pendek sebahu berwarna hitam keunguan, tetapi lebih mirip seperti warna bayangan yang tidak terlalu pekat.


Netra kuning tajam dan melebihi ketajaman mata kuning keemasan Sira. Pakaian berwarna putih dengan perpaduan warna hitam dan emas. Senyuman misterius tercipta di wajahnya.


Perempuan yang tidak pernah hadir sebelumnya. Ras siluman, sepertinya itu adalah ras dari perempuan dengan ciri-ciri di atas. Perempuan dengan tinggi badan yang sama seperti para senior.


Sosok perempuan yang kini dikelilingi burung gagak itu masih berdiri. Menatap dan memandang Sira yang terduduk dengan Afra dalam pelukannya.


"Aku …." Sira tidak bisa melanjutkan perkataannya lagi.


Perempuan dengan sayap hitam itu berjongkok dan mensejajarkan dirinya dengan Sira. "Ya, kau bisa istirahat bersamanya."

__ADS_1


Sira seketika memejamkan matanya dan tertidur setelah mendengar perkataan perempuan bersayap hitam itu. Dari balik pepohonan hutan, terlihat ada burung hantu berwarna putih melihat apa yang terjadi.


.


.


.


.


.


.


.


.


Pergi dari hutan tempat Sira dan Afra berada, kembali ke hutan di dekat akademi Arknest. Hutan yang kini sudah menjadi arena kematian pada malam abadi kali ini.


"Akh!"


Aura menyuarakan rasa sakit, dirinya basah dengan darah. Menghantam pohon dan terduduk dengan tubuh penuh luka. Suara tawa terdengar sangat kejam di telinganya.


"Melawan mu benar-benar membosankan!" ucap Lycé dengan nada dingin dan kejam.


Perempuan bermata merah muda terang dan bercahaya, sosok monster yang menjadi hal baru kali ini. Ia bergeming dan hanya melihat bagaimana Aura berusaha bangkit dan kembali melawan.


"Kau …!" Aura mulai berdiri dan menjaga keseimbangan.


Tubuhnya benar-benar penuh dengan luka, meski luka-luka itu mulai sembuh dengan sendirinya. Senyuman tercipta di wajah Lycé. Aura mengarahkan tangannya pada Lycé dan mengeluarkan lingkaran sihir berwarna biru.


Lycé melebarkan matanya melihat lingkaran sihir berwarna kuning di pinggangnya. Aura langsung menghancurkan lingkaran sihir berwarna biru di tangannya. Dan lingkaran sihir berwarna kuning di pinggang Lycé langsung memotong tubuh Lycé menjadi dua.


Namun, Lycé sudah berada di samping Aura dan menusuk tubuh Aura dengan sabitnya. Lingkaran sihir berwarna kuning milik Aura tidak berhasil memotong tubuh Lycé.


"Hihi," tawa Aura seketika menghilang menjadi serpihan-serpihan cahaya.


"Wah, aku menemukan lawan yang cocok sekarang! Hihi!" tawa Iylasvi seketika muncul tepat di belakang Lycé.


.


Di sisi hutan yang lain, tetapi masih dekat dengan tempat terakhir kali. Yuu dan sosok perempuan berambut hitam terlihat, bertarung dan saling beradu pedang.


Perempuan ras hewan yang masuk dalam kategori assassin. Sama seperti Yuu, tetapi dirinya adalah black assassin. Rambut hitam yang disanggul, sepasang telinga hewan di atas kepalanya dan telinga manusia di sampingnya.


Netra orange bagai api dan mulut yang memegang ranting kecil. Pakaian berwarna merah dengan pedang berwarna orange di tangannya. Sang senior assassin, Tie Aphas, itulah dirinya.


Suara pedang yang saling bersentuhan secara kasar, percikan api tercipta karenanya. Tatapan tajam dan dingin penuh keseriusan. Senyum seringai tercipta di wajah Yuu.


"Kau semakin hebat saja, Tie!"


.


Kobaran api berwarna hitam tercipta di sisi hutan lain. Vendry adalah penyebabnya, tetapi ini dilakukan bukan karena tanpa sebab. Ada api lain yang harus dilawannya.


Api orange yang dikeluarkan oleh iblis tingkat hantu, Xi Xiania.


"Haha! Ayo perang api!" teriak Xi penuh dengan nafsu api membara.


Sementara Vendry terlihat kewalahan dan mengeluarkan napas terputus-putus. "Black fire!"


.


Sementara di tempat lainnya, tempat Livra berada. Tempat yang sunyi tanpa tumpah darah dan serangan. Kosong dan hanya bisa mendengar suara pertarungan di sisi hutan yang lain.


Siluman iblis itu tampak diam dan tidak bergerak. Hanya melihat sekeliling dan memberi tatapan tajam, sampai akhirnya sosok siluman perempuan terlihat.


"Akhirnya kita bertemu, Senior Cyrène En!" ucap Livra pada sosok siluman perempuan itu.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


Ya, pertarungan yang sepertinya akan butuh waktu untuk diperlihatkan secara jelas. Meski begitu, kembali pada tempat yang sunyi dan hanya dijadikan kursi menonton. Akademi Arknest, sekarang Aura berada di sana. Berhadapan dengan Iliya Viely.


Sementara di atas bangunan akademi, terlihat Rye, Viesta dan Kisami melihat Aura juga Iliya di bawah.


"Ramalan yang kacau, hanya demi diri-Nya," gumam Kisami dengan nada dingin.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Afra …


… Afra …


Bangunlah, Afra …


.


Kau sudah mati, lho! Hihihi!


.


.


.


"Aah!" Afra berteriak keras dan mendapatkan kembali kesadarannya.


Langit biru yang cerah, kicauan burung dan sinar mentari. Angin sepoi-sepoi dan dedaunan pohon yang berguguran. Afra membelalakkan matanya melihat pemandangan pagi ini.


Ia menoleh ke samping dan mendapati Sira yang terbaring dengan mata terpejam. Terkejut dan terbelalak, juga tekanan langsung ia rasakan. Rasa sakit kembali dirasakan olehnya.


"Akh!" Bayang-bayang ingatan muncul dalam benaknya dan …


.


" 'Aku … suka denganmu, Afra!' "

__ADS_1


__ADS_2