Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Terlupakan


__ADS_3

"Sira …," lirih Afra membuat Sira tertegun.


Terlihat jelas perubahan ekspresi Sira yang benar-benar berubah. Rasa malas dan dingin, kedua rasa itu berubah menjadi rasa yang baru. Memerah, mungkin satu kata ini sudah cukup untuk menjelaskannya.


"Aku .. entah kenapa, suka …,"-Afra menundukkan kepalanya-"… denganmu."


Angin sepoi-sepoi kembali berhembus dan menciptakan suasana. Sira mulai memberanikan diri dan berbicara.


"Aku … suka denganmu, Afra!" ucap Sira membuat Afra terbelalak.


Afra langsung mendongakkan kepalanya dan menatap mata Sira. Sira membalas tatapan Afra meski wajahnya tampak memerah. Afra menampilkan ekspresi yang sama dengan Sira.


"Kau—"


"Aku!" potong Sira dengan nada lantang. "Aku …."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Aku tidak mengizinkanmu untuk melihat semuanya, Afra Afifah!" bisik Ilva merubah setting dan latar tempat Afra berada.


Afra membelalakkan matanya dan menciptakan rasa keterkejutan yang mendadak. Posisi awalnya yang duduk di kursi seketika berubah menjadi berdiri. Latar bangunan kota dan sinar mentari pagi berubah menjadi kegelapan. Dan, tidak ada Sira di sisi Afra sekarang.


Afra berbalik dan menoleh ke belakang, mendapati Ilva Ilyani, sang alter tersenyum jahat padanya. Afra benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi.


Suasana tenang dan penuh keindahan berubah, tekanan nan kegelapan merupakan perubahannya. Ilva tersenyum miring dan membuat Afra tertegun.


"Sudah lama, ya, Afra! Kita tidak bertatapan seperti ini," ucap Ilva dengan nada penuh tekanan dan kekejaman, diakhiri tawa yang membuat Afra tak bisa apa-apa.


"Ilva …," lirih Afra menyebut nama sang alter. Dan sesuatu sesuai dugaannya terjadi.


Rantai hitam dengan ujungnya yang tajam langsung keluar dari kegelapan. Menusuk dan membuat Afra tidak bisa bergerak. Tangannya diikat sehingga terentang, perutnya ditusuk dan dibiarkan mengalir darah di sana. Mulutnya ikut memuntahkan darah.


"Hihihi!" tawa Ilva penuh kesenangan hawa nafsu.


Suara rasa sakit dikeluarkan oleh Afra, bersamaan dengan cairan merah kental. Rantai hitam yang menancap punggungnya mulai diselimuti darah miliknya sendiri. Ilva tersenyum dan memegang dagu Afra, mengarahkan pandangannya agar menatap dirinya.


Darah segar masih mengalir keluar dari mulut dan tubuh Afra, tetapi Ilva tampak menikmati semua ini.

__ADS_1


"Terlupakan, itu sudah menjadi kebiasaan bagimu 'kan, Afra!" tegas Ilva membuat Afra terbelalak dan merasakan gejolak penuh kesakitan.


Aliran darah Afra tiba-tiba terasa sangat jelas dan membuat rasa sakit. Rasa sakit yang benar-benar tidak seperti biasanya. Meski ia sudah sering menerima ini, tetapi karena ini adalah pertemuan kembali …


"Akh!"


… rasa sakitnya benar-benar lebih terasa.


.


Suara rantai yang terputus dan hancur berkeping-keping terdengar nyaring. Afra kini terbebas dari besi hitam berlumuran darah itu. Namun, dirinya harus teejatuh dan mendarat di pelukan sang alter.


Mendapatkan hembusan napas dingin di telinga dan merasakan aura mencekam. Rasa sakitnya semakin bertambah, meski kini beralih pada batinnya. Bukan pada fisik, tetapi pada jiwa dan pemikirannya.


"Waktunya merasakan kebingungan, Manusia!" bisik Ilva menciptakan mata terbelalak dan tekanan gravitasi bagi Afra.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"A –ada di mana aku?" ucap Afra saat melihat dirinya berada di tempat yang benar-benar tidak masuk akal.


Suasana malam dan dinginnya hutan sudah pergi, begitu juga pagi hari di hutan yabg asri. Kini, dirinya berada di sebuah kamar yang dindingnya terbuat dari kayu. Lantai dan semua benda yang ada, semuanya terbuat dari kayu.


Ranjang dengan kasur empuk menjadi tempat dirinya terbaring sekarang, memandang dan menatap langit-langit kamar.


"Eng …." Afra bangun dan memposisikan dirinya agar duduk di atas ranjang.


Meski kedua kakinya masih lurus dan tidak diturunkan, ia sudah bisa duduk dengan seimbang. Rasa pusing dan tekanan masih dirasakan olehnya.


Afra menoleh dan melihat ke asal cahaya yang menyinari kamar. Mentari senja, warna oranye yang tidak memiliki warna kuning. Tersisa merah dan sinar redup di sana.


"Aku .. ada di mana?" ucap Afra lagi bertanya-tanya dan tetap melihat sinar mentari senja di luar jendela.


"Kau ada di tempatku, Afra!"


Afra terkejut dan menoleh ke arah yang berlawanan dengan jendela. Ia terbelalak melihat sosok perempuan dengan sayap hitam di punggungnya.


Rambut gelap berwarna hitam, tetapi lebih pantas disebut keabu-abuan dibandingkan biru keunguan. Netra dengan iris kuning tajam dan pakaian putih yang didominasi warna emas.


Sosok perempuan yang jelas tingginya sama seperti para senior itu duduk di kursi dan tersenyum. Padahal Afra tampak kebingungan dan merasakan rasa takut.


"K –kau .. siapa?" Perempuan bersayap hitam itu tertawa mendengar perkataan Afra.


"Sepertinya aku terlalu banyak berevolusi, ya," ucap perempuan itu kemudian berhenti tertawa, "tapi, berkenalan lagi tidak apa 'kan?"


Perempuan bersayap hitam itu mengulurkan tangannya pada Afra, "salam kenal, Afra! Namaku, Eria!"


Afra kembali terbelalak dan terkejut. Ketidakpercayaan, itu yang dirasakan Afra saat ini. 'Eria', dia adalah sosok makhluk yang pertama kali ditemui olehnya. Sebelum akhirnya datang ke kawasan netral ini.


"Eria …." Afra mulai meneteskan air matanya dan memeluk Eria.

__ADS_1


Eria tersenyum dan membalas pelukan Afra sambil mengelus punggungnya. Ketenangan dan kehangatan tercipta, menghilangkan rasa takut juga tekanan. Meski itu hanya sebentar saja.


Suara pintu diketuk terdengar dan membuat Eria berhenti memeluk Afra. Afra mengusap air matanya saat Eria mulai menatap ke arah pintu.


"Guru, apa kami boleh masuk?"


"Silahkan!" ujar Eria menjawab perkataan yang datang dari balik pintu.


Pintu kamar pun terbuka, memperlihatkan sosok yang membuat Afra kembali terbelalak. Dua gadis penyihir dan satu gadis werewolf atau biasa disebut assassin. Afra benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Hai, Afra!" sapa salah satu gadis penyihir dengan mata gradasi.


Gadis penyihir yang memiliki nama yaitu Aura. Ya, gadis itu memberi sapaan dan senyuman pada Afra, membuat Afra benar-benar tidak percaya.


Gadis penyihir lainnya dengan rambut hijau dan mata merah tersenyum pada Afra. Begitu juga dengan gadis werewolf berambut putih yang tersenyum lebar. Iylasvi adalah nama dari gadis penyihir berambut hijau, sementara sang werewolf itu bernama Yuu.


"Maaf baru bisa menyapa dengan benar!" ucap Yuu sambil menunjukkan senyum lebar.


"Kalian …,"-Afra mengusap wajahnya yang kembali berlinang air mata-"bagaimana bisa?"


"Barkan aku yang menceritakannya padamu, Afra!" ucap Eria kembali menciptakan keterkejutan bagi Afra.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sementara di tempat lainnya, tempat yang jauh dari tempat Afra berada. Pepohonan hutan dengan angin yang berhembus cukup kencang. Sinar senja menjadi penerang bagi tempat ini.


Ya, latar kali ini adalah hutan. Tempat di mana para senior berada. Entah apa yang terjadi sebelumnya, tetapi kini semua senior sudah berkumpul di sini.


"Iliya Viely."


"Ya!" jawab Iliya dengan cepat.


"Semua sudah di sini, ya?" tanya perempuan ras monster yang sebelumnya memanggil Iliya.


"Ya! Meski ada yang menutupi diri dan tidak ingin dilihat!" jawab Iliya pada perempuan monster bernama Lycé Zayzik itu.


Iliya menoleh ke arah lain dan melihat satu persatu para senior yang ada. Dari ras vampir, Verrine De Luna, senyuman dan darah segar sudah ada di tangannya. Lalu, Xi Xiania, si iblis tingkat hantu memberikan tawanya pada Iliya.


Iliya menunjukkan senyuman tipis pada Rye Else, sang iblis yang selalu diam itu. Namun, dirinya langsung melebarkan mata dan menunjukkan ekspresi terkejut saat Viesta Olivia, iblis tingkat jin yang tiba-tiba mengarahkan senjata pada lehernya.


"Hei, apa kau ingin menggunakan kekuatan mu lagi? Kau sudah merubah waktu lagi lho!" ucap Iliya membuat Viesta menampilkan ekspresi kebencian.


Rye menambahkan tatapan tajam untuk Iliya, sementara Luna dan Xiania berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Ini juga karenamu, Iliya! Penyihir penyembah monster!" tegas Viesta menggores senjatanya pada leher Iliya.


Darah segar mengalir keluar dari leher Iliya, tetapi senyuman malah tercipta di wajahnya.


"Tenang saja. Putri monster yang sekarang bahkan tertarik dengan-Nya!" ujar Iliya sambil melihat ke arah Lycé, meski itu membuat senjata Viesta semakin menggores lehernya.


"Semuanya akan menyenangkan lho!" sambung Iliya sambil memperhatikan Lycé.


Lycé Zayzik, si perempuan monster yang kini sedang menjilati bilah tajam sabit ditangannya itu, membuat Viesta menghela napasnya.


"Semuanya akan benar-benar menyenangkan, Vi!"

__ADS_1


__ADS_2