
"K —kau!"
Sosok biru itu melebarkan matanya dengan benar sekarang. Gadis biru itu membuatnya terkejut saat mengucapkan kata 'kau', meski sedikit terbata-bata. Sosok biru itu seketika penasaran dan keheranan melihat gadis biru itu.
"Kau … Sira!" ucap gadis biru membuat sosok biru itu terkejut dan tak percaya.
Gadis berambut pendek berwarna hitam kebiruan dan mata berwarna biru bagai lautan yang dalam. Gaun berwarna biru yang mirip seperti pakaian penyihir, tetapi sedikit berbeda. Gadis yang sebenarnya adalah tokoh utama, ialah Afra Afifah.
"Sira Siveria … itu namamu 'kan?" tanya Afra dengan waiah yang masih terkejut, tetapi juga sudah menampilkan keseriusan.
Sira Siveria, sepertinya itu adalah nama dari sosok biru ini. Rambut panjang berwarna biru bagai es beku, sepasang tanduk di kepala yang mengkilap dan mata kuning keemasan bagai kilat. Pakaian penyihir yang elegan, tetapi selalu disebut sebagai 'siluman' oleh penduduk penyihir di sini.
Sekarang, sosok biru bernama Sira itu masih terbelalak dan tak percaya. Namun, mulutnya perlahan membuka dan mengeluarkan satu kata.
"Hah?"
Kembali kepada gadis biru, atau biasa disebut gadis manusia. Gadis bernama Afra Afifah ini sedang menghadapi sebuah masalah. Ya, meski tidak pantas disebut masalah sih.
"Hah? Serius?"-Sira menyipitkan matanya-"apa kita pernah bertemu?"
Afra membelalakkan matanya setelah mendengar perkataan Sira. Ia terkejut dan kembali mengingat bahwa dirinya sudah berada di waktu juga takdir yang berbeda. Afra langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sedangkan Sira masih menunjukkan tatapan tajamnya.
"Tunggu dulu." Sira mulai berjalan mendekati Afra, melangkahkan kaki dengan perlahan dan pasti.
Afra berjalan mundur, tetapi ia tidak bisa. Tubuhnya seketika kaku dan tidak bisa digerakkan. Meski ia terus merasakan getaran pada tubuhnya, ia benar-benar tidak bisa menggerakkan tubuhnya dengan benar.
"Kau …," ucap Sira sambil menghentikan langkahnya.
Sira kini sudah berada di depan Afra, meski masih ada jarak sekitar beberapa centimeter. Sira terus memberikan tatapan tajam pada mata Afra. Keringat dingin menyelimuti tubuh Afra.
__ADS_1
Mata dengan iris berwarna kuning keemasan itu seketika bercahaya, membuat Afra semakin melebarkan mata. Tatapan dari mata keemasan itu membuat Afra semakin basah dengan keringat dingin, juga tubuh yang semakin tidak bisa digerakkan.
"Manusia, ya?"
Afra seketika terdiam dan tak bisa berkata-kata. Baik dengan suara ataupun dengan pikirannya. Mulutnya masih ia tutupi dengan kedua tangannya, sehingga hanya tersisa mata biru lautnya saja. Afra, si gadis manusia ini mulai kehilangan titik cahaya kehidupan di matanya.
Sira sedikit melebarkan matanya saat melihat perubahan pada mata Afra. Kosong dan hampa, itulah yang dilihat olehnya dari netra biru gelap bagai lautan dalam itu.
Apa ini? Kenapa tubuhku terasa berat?
Tekanan, hawa mencekam, juga kegelapan, semua hal mengerikan itu mulai tercipta. Netra biru gelap itu mulai berubah menjadi merah bagai lautan darah. Bersinar dan menampakkan ketajaman yang menusuk tubuh.
Sira tidak bisa bergerak setelah merasakan tekanan dari gadis yang baru saja ia tebak sebagai manusia itu. Memang benar, gadis bernama Afra itu adalah manusia. Ia bisa mengetahui hal itu karena tidak ada 'mana' di dalam tubuhnya.
Ya, mana adalah energi sihir yang menjadi pembeda antara penyihir dengan manusia. Sira tidak bisa membuka mulutnya dan hanya bisa membatin sekarang.
"Hihi," tawa Afra membuat Sira terbelalak.
Sira ingin menjauh dan menggerakkan kakinya agar berjalan mundur, tetapi tekanan yang ia rasakan semakin bertambah. Apalagi saat Afra tertawa dengan mulutnya yang mulai ditunjukkan. Ya, Afra mengalihkan kedua tangannya agar menutup kedua matanya dan membiarkan mulutnya dilihat oleh Sira.
"Hihi." Afra kembali tertawa dan mulai menunjukkan sesuatu di belakang punggungnya.
Bayangan hitam bagai kabut tercipta dan terlihat jelas menyelimuti bagian belakang tubuh Afra, membuat Sira tidak bisa apa-apa selain membelalakkan mata. Sira semakin merasakan tekanan dari Afra meski sudah mencoba untuk melepaskan diri.
"Ya, aku ini—"
Mata terbelalak, bayangan hitam yang menyebar dan menyelimuti tempat keduanya berdiri. Tekanan yang seketika menghilang, begitu juga dengan ucapan dari gadis manusia. Hanya ada cairan merah di lantai kayu sekarang.
Gadis manusia bernama Afra Afifah itu, sudah tidak bisa menahan sesuatu yang hanya dirasakan olehnya. Kedua tangannya yang awalnya menutup kedua matanya mulai berpindah pada mulutnya. Menutup dan berusaha untuk menahan cairan merah kental terus keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Sira sudah bisa menggerakkan tubuhnya setelah ucapan Afra terhenti. Tekanan itu menghilang bersamaan dengan Afra yang langsung memuntahkan darah dari mulutnya. Sira berjalan mundur dan menjauh beberapa langkah, sedangkan Afra masih berusaha untuk menghentikan cairan merah kental itu keluar dari mulutnya.
"Apa-apaan ini? Kenapa—"
"Aaaakkh!" Teriak Afra berhenti menutupi mulutnya, meski masih ada sedikit darah yang keluar dari mulutnya.
Sira terkejut dan mulai merasakan hawa aneh di sekitarnya. Bayangan hitam di belakang tubuh Afra mulai menyelimuti. Tubuh Sira dan Afra sudah tertutupi oleh bayangan yang juga menjadi kabut hitam. Kabut yang tercipta dari Afra Afifah.
"Aku … tidak bisa, menahannya!"
Ucapan Afra seketika membuat kabut hitam dan aliran bayangan hitam di sekelilingnya mengamuk. Suara-suara aneh tercipta, tetapi lebih terdengar seperti suara kesakitan. Bayangan dan kabut itu mengelilingi dan berputar dengan cepat, membuat Sira tak bisa memahami situasi dengan benar.
"Hei, apa-apaan kau!" tegas Sira tetapi tidak didengar oleh Afra.
Afra kembali mengeluarkan cairan kental berwarna merah dari mulutnya, tentu kedua tangannya langsung menutup mulutnya lagi. Cairan kental berwarna merah yang terus keluar itu membasahi lantai kayu dan membuat aliran bayangan juga kabut itu semakin menggila.
Berputar membuat badai, mengurung juga menyelimuti tubuh Afra dan Sira. Membuat keduanya tidak bisa lepas dari kegelapan ini. Afra terus memuntahkan darah sembari menyuarakan rasa sakit, sementara Sira masih memandang Afra dan sesekali melirik sekelilingnya.
"Ini … benar-benar, sakit!" batin Afra kembali memuntahkan darah dan terus menciptakan badai yang mengepung dirinya juga Sira di dalamnya.
Sira yang mulai tidak tahan situasi ini menghentikan sikap diamnya.
"Lingkaran sihir, lukisan es!" lirih Sira mengucapkan kata-kata mantra dan menciptakan warna putih dan biru di antara warna hitam yang menyelimuti.
Udara beku nan dingin itu langsung membekukan lantai kayu yang basah dengan darah Afra dan juga kabut hitam di sekitarnya. Membeku dan menghentikan pergerakan aliran bayangan hitam juga kabut gelap itu.
Semuanya berhenti dan membeku, menjadi dingin juga biru. Meski begitu, Afra masih sedikit meneteskan darah yang sudah ia tahan dengan tangannya. Sedangkan Sira, ia malah menyiulkan jarinya dan membuat semua yang beku menjadi serpihan-serpihan biru.
Serpihan-serpihan biru bagai kaca, tetapi menghasilkan hawa dingin bagai bunga salju. Serpihan-serpihan itu langsung menciptakan titik kehidupan di kedua mata Afra. Afra langsung menatap Sira, meski mulutnya masih menyisakan cairan merah kental itu.
__ADS_1
"A –apa … yang terjadi?"