
Mata dengan iris biru gelap bagai warna lautan yang dalam, kini sedang menghadapi tatapan mata kuning keemasan bagai kilat. Sira adalah pemilik mata kuning keemasan, sedang Afra adalah pemilik mata biru kegelapan.
Afra Afifah adalah gadis manusia, meski sekarang dirinya sudah diliputi aura biru bagaikan api. Namun, Sira adalah penyihir yang sebenarnya lebih pantas disebut siluman, meski cara bicaranya malah mirip dengan manusia.
Ya, manusia yang bukanlah seperti Afra. Manusia yang hidup sebelum Afra lahir.
.
"Sira," panggil Afra dengan mata yang masih menatap mata Sira.
"Kau …." Sira memejamkan mata dan menggeleng cepat, kemudian kembali memberi tatapan tajam pada Afra. Sira mulai membuka mulutnya dan berkata.
"Apa kau tidak bisa—"
"Ara, apa kau sedang mencari 'Aura', Manusia?"
.
Sosok penyihir perempuan berdiri dalam kegelapan. Pakaian penyihir berwarna hitam dan putih, tetapi terlihat seperti pakaian pelayan. Topi lebar dan besar tidak membuat wajahnya tertutup.
Mata merah menyala, tetapi sedikit menampilkan warna kekuningan. Wajah yang menyimpulkan senyuman misterius, tetapi juga tampak memberi tantangan. Sosok itu sudah membuat mata Afra terbelalak.
"Iliya .. Viely," lirih Afra menyebut nama sosok itu yang langsung memberi respon dengan senyuman seringai.
"Pembekuan, es!"
.
Rak buku yang penuh dengan debu, tak terawat dan tidak pernah dikunjungi. Lampu penerangan yang pecah dan tidak menghasilkan cahaya. Kegelapan yang tercipta di sana, semuanya seketika berubah menjadi dingin dan beku.
Udara tak terlihat akhirnya menunjukkan diri, menjadi warna putih yang membekukan sekeliling. Warna coklat dan bau kayu yang agak pudar menjadi hilang sepenuhnya, digantikan dengan warna biru mengkilap.
Dingin dan sedikit basah, semuanya menjadi beku sepenuhnya. Kecuali penyihir bernama Iliya Viely itu.
"Sepertinya kau bukan siapa-siapa bagiku, apa kau ingin menjadi penjaganya?" Iliya bertanya sembari meniup udara dingin di depannya.
"Huh, aku itu sudah menjadi penjaganya!" tegas Sira langsung menciptakan aura membunuh pada seluruh benda yang ia ubah.
Rak buku termasuk buku-bukunya, lantai kayu dan langit-langit, semuanya seketika menciptakan hawa dingin mencekam. Sira menampilkan wajah serius dan tajam, dingin juga menusuk.
Stalaktit yang penyusunnya merupakan sihir es milik Sira mulai tercipta di langit-langit. Stalagmit pun ikut tercipta di lantai tepat mengelilingi Iliya. Kedua benda lancip dan beku itu langsung menyerang Iliya. Mengurung dan menusuk tubuh Iliya, seharusnya itu yang terjadi.
.
"Sayang sekali, sihirmu memakan waktu," ucap Iliya seketika keluar dari penjara stalaktit dan stalagmit buatan Sira.
Tubuh Iliya seakan menembus bongkahan es lancip itu, bagai raga yang bisa menjadi air dan tidak membeku oleh es. Sira terkejut, tetapi wajahnya masih menampilkan ekspresi dingin.
Afra bergeming, tidak ada tanda-tanda pergerakan darinya. Napasnya bahkan terasa tidak nyata. Ia hanya bisa membelalakkan mata melihat Iliya yang menatapnya.
__ADS_1
"Kau sudah mendapat jawabannya, Manusia," bisik Iliya yang seketika langsung berada di belakang Afra.
Afra semakin melebarkan matanya, tetapi seketika stalagmit tercipta tepat di tempat kaki Iliya berpijak. Namun sayangnya, Iliya langsung menghilang tanpa jejak. Seakan-akan menyatu dengan udara dingin dari sihir Sira.
Stalagmit itu memberi efek dingin pada Afra, tetapi itu tidak membuat Afra berhenti dalam kesunyian. Sira menoleh ke arah Afra.
"Hoi, Afra!" Afra seketika langsung mendapatkan tanda-tanda kehidupan setelah dirinya masuk dalam kehampaan.
Kehampaan itu tercipta karena keterkejutan melihat Iliya dan juga keberadaan Aura yang sepertinya sudah tidak ada harapan. Afra menatap mata Sira yang berwarna kuning keemasan itu.
Tajam dan dingin, begitulah yang Afra lihat dari mata keemasan milik Sira. Sementara mata biru gelapnya mulai berkaca-kaca dan meneteskan butiran air mata.
"Aura … hilang," lirih Afra mulai meneteskan air matanya dan menangis tanpa suara.
Sira diam dan hanya memberi tatapan mata pada Afra yang sudah menangis. Lantai dan rak-rak buku yang membeku seketika kembali normal. Udara dingin menyelimuti Afra dan Sira sebagai bentuk penghilangan sihir beku Sira.
"Aura …." Afra kembali menyebut nama 'Aura' dan mengeluarkan air mata. Suara tangisan mulai tercipta, tetapi itu membuat Sira berdecih.
"Kau tidak bisakah—"
"Tidak! Aku tidak bisa! Aku tidak bisa apa-apa!" potong Afra dengan nada tinggi sambil terus mengeluarkan air mata kesedihan.
Sedih dan tidak percaya, juga tidak terima dengan ini. Dirinya tidak bisa apa-apa. Melindungi atau bahkan menjadi teman baik, meski ini adalah waktu pengulangan. Ia masih menganggap Aura sebagai teman dan pelindungnya.
"Padahal bukan itu yang aku ingin tanyakan, tapi …," batin Sira sambil terus menatap Afra yang menangis itu.
Meski Afra menangis, mata birunya tetap menatap mata keemasan Sira, membuat Sira tidak bisa menahan diri lagi. Sira mengatupkan bibirnya dan terus memikirkan sesuatu, sampai akhirnya …..
.
Afra langsung merasakan sebuah kehangatan yang menyelimuti tubuhnya. Kehangatan yang datang dari sosok dingin. Afra sedikit melebarkan matanya dan tetap meneteskan air mata, meski kini ia tidak mengeluarkan suara tangisan.
Ya, suara tangisannya menjadi hilang saat melihat Sira yang langsung memeluknya. Sira memeluk dan membuatnya tertegun, meski air matanya masih mengalir. Ia langsung membuat suara tangisannya lebih keras dari sebelumnya, tetapi dengan perbedaan yang menghangatkan.
Tangisan yang awalnya diselimuti rasa dingin itu berganti dengan kehangatan dari pelukan Sira, meski ia tidak membalas pelukan itu.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Maka, waktunya pun akan dipercepat dari sekarang. Meski tidak terlalu cepat, sih.
***
Waktu berganti malam, meski akhirnya kegelapan menyelimuti hari yang cukup buruk ini. Ya, meski air mata langit berhenti saat senja datang, kegelapan akhirnya menjadi pemenang.
Afra dan Sira, keduanya sudah berada di penginapan, meski kini tanpa gadis penyihir bernama Aura. Afra sudah lebih tenang, meski itu baru di luarnya saja. Sira bergeming dan hanya bisa melihat.
.
.
.
.
.
.
Mari melihat keberadaan Afra, si tokoh utama ini.
.
Angin sepoi-sepoi berhembus memasuki jendela kamar inap tempat Afra berada sekarang. Angin sepoi-sepoi yang kini sudah mengenai tubuh Afra itu, membuat air mata kembali tercipta.
"Aura …," lirih Afra kembali menyebut nama 'Aura', sembari menutupi wajah sedihnya dengan kedua pahanya.
Afra kini duduk bersandar pada dinding kayu, sementara kepalanya menunduk dan menatap kegelapan. Kegelapan yang tercipta karena ia memeluk kakinya dan meletakkan dahi di kedua lututnya.
Air matanya kembali mengalir, ia benar-benar tidak bisa apa-apa. Sedih, tentu saja! Sejak pertama kali bertemu, saat waktu sebelum pengulangan, Aura lah yang melindunginya. Membantu dan mau menjadi temannya.
.
"Aku … benar-benar bodoh."
.
.
.
"Hei, kau masih menangis?" Suara Sira terdengar dari arah pintu setelah pintu itu diketuk tiga kali.
Afra langsung mengusap air matanya dan melihat ke arah pintu, meski sebenarnya pintu itu masih ditutup. Tidak terbuka maupun dibuka dari luar, sepertinya Sira memang sengaja melakukannya?
__ADS_1
"Aku … tidak menangis, Sira,"-Afra mengusap air matanya lagi-"aku baik-baik saja."
"Kau … benar-benar tidak bisa jujur, Afra?"