
"A-apa yang terjadi? Ke-kenapa aku … masih ada di sini?" tanya Afra benar-benar tak percaya setelah menyadari bahwa dirinya ada di tempat dimana terakhir kali ia di serang oleh monster-monster itu.
"Kenapa? Tentu saja karena kau masih hidup, Afra Afifah!" ucap gadis bermata merah itu tiba-tiba muncul di belakang Afra.
Afra langsung menoleh ke belakang dan terkejut melihat gadis bermata merah itu yang tersenyum menyeringai pada nya.
"K-kau … kenapa—"
"Ya, terserah! Aku tidak akan menjawabnya! Yang perlu kau tau hanyalah … semuanya baru dimulai sekarang!" potong gadis bermata merah itu seketika langsung menghilang bersamaan dengan angin pagi yang berhembus.
Afra hanya bisa terdiam melihat gadis bermata merah itu langsung menghilang tanpa jejak sama sekali, seperti biasanya. Namun, Afra kembali teringat sesuatu.
A-apakah … aku masih hidup? batin Afra bertanya-tanya.
Afra pun langsung meraba-raba tubuhnya dan melihat kedua tangannya. Tangannya tidak terlihat transparan, dan Afra bisa merasakan tubuhnya yang baik-baik saja.
A-aku … masih hidup! batin Afra benar-benar merasa … sangat bahagia.
----------------------------------------------------------
Matahari sudah terbit, dan malam pun sudah pergi. Angin sepoi-sepoi berhembus mengiringi sebagai pertanda kedamaian. Ya, sepertinya.
Afra masih tak percaya setelah melihat dirinya yang ternyata masih hidup. Ia benar-benar senang. Namun, Afra tiba-tiba langsung mengingat sesuatu … yang sempat ia lupakan karena gadis bermata merah itu.
Perempuan itu! batin Afra langsung teringat dengan perempuan bertanduk rusa itu.
Sebelumnya perempuan bertanduk rusa itu terjatuh dan tak sadarkan diri sampai akhirnya Afra terkena serangan monster itu, tetapi entah itu benar atau tidak. Kalau … Afra benar-benar mati dan hidup lagi. Namun, yang terpenting adalah si perempuan bertanduk rusa itu! Ya, namanya adalah Eria!
Afra pun langsung melihat sekeliling dan mencari Eria, dan ya … Afra langsung menemukan nya.
Itu! batin Afra langsung berlari menghampiri Eria yang masih terbaring di tanah.
Afra terkejut melihat Eria yang masih tak sadarkan diri. Tubuhnya penuh luka goresan, dan terlihat pucat.
"B-bagaimana ini! A-aku harus apa?" tanya Afra kebingungan dan langsung mengambil tindakan. Ya, Afra menggoyangkan tubuh Eria dan berharap agar Eria bangun. Namun….
"K-kenapa … aku tidak merasakan apa-apa?" tanya Afra terkejut karena … ia tidak merasakan kalau Eria akan bisa membuka matanya. Tubuh Eria seperti sudah mati. Dan….
Air mata Afra seketika menetes.
Afra tiba-tiba menangis dan merasa sangat sedih, "a-apa … dia sudah … mati?"
Air mata Afra menetes lagi, dan … tubuh Eria perlahan mengeluarkan cahaya terang.
__ADS_1
"A-apa yang—"
Cahaya terang itu seketika langsung menyebar dan membuat Afra silau. Afra langsung berjalan mundur menjauhi Eria. Matanya tidak bisa melihat dengan jelas karena cahaya itu. Dan…
Eria pun akhirnya mendapatkan kesadarannya bersamaan dengan cahaya di tubuhnya yang mulai menghilang.
D-dia hidup! Dia masih hidup!" ucap Afra benar-benar terkejut dan senang.
***
Sekarang … semuanya sudah berakhir. Namun, semuanya juga baru dimulai … sekarang. Tidak ada yang tau bagaimana akhirnya. Karena terkadang takdir mengarahkan tuk terus berjalan. Jika satu dari seribu tidak tau apa-apa, maka semuanya … akan terasa aneh dan tidak jelas. Ya, sepertinya….
Sekarang, Afra sudah berada di rumah pohonnya … sendiri. Ya, kamar Afra yang sebelumnya berlubang sudah kembali seperti semula. Dan tentu saja, Afra sedang melihat keluar jendela kamarnya sekarang.
Aku … memang tidak tau apapun, sama sekali.
Tapi, entah kenapa … aku merasa senang.
Walau kadang aku merasa sedih juga….
Tak apalah, lebih baik seperti ini.
Aku harus bisa menerima ini!
Karena aku sudah … tau tentang dunia ku sendiri….
Dan aku juga sudah tau kalau … aku tidak sendiri ….
… Di dalam tubuh ini.
"Ya, Afra! Kau … tidak sendirian sekarang!" bisik gadis bermata merah itu.
.
.
.
.
.
Sebelumnya….
__ADS_1
"Akh … apa yang … terjadi?" tanya perempuan bertanduk rusa itu yang sekali lagi namanya adalah Eria, tetapi Afra sepertinya masih belum tahu.
"Perempuan cantik!" teriak Afra langsung berlari menghampiri Eria dan memeluknya, "terimakasih!"
Afra memeluk tubuh Eria dan tersenyum senang. Ia benar-benar senang sekali karena Eria masih hidup, dan ia berterima kasih karena Eria sudah melindunginya. Namun, sepertinya pemikiran Eria berbeda dengan Afra.
"A-a-a-a-apa y-ya-yang k-kau l-laku-kan!" tanya Eria terbata-bata dan terkejut melihat Afra yang masih memeluk nya.
Afra terkejut dan langsung melepaskan pelukannya. Ia tak percaya melihat ekspresi wajah Eria yang terkejut dan sedikit ketakutan.
"A-aku hanya … memeluk mu saja, itu saja," jawab Afra sedikit terbata-bata dan merasa aneh. Ia masih belum terbiasa dengan sikap Eria yang selalu ketakutan itu, padahal sebelumnya ialah yang takut dengannya.
"J-ja-jangan lakukan itu lagi!" pinta Eria dengan nada tinggi dan dibalas dengan anggukan kepala oleh Afra.
***
Ini masih pagi, dan baru beberapa menit saja setelah … kecanggungan antara Eria si perempuan bertanduk rusa dengan Afra. Dan entah kenapa Eria selalu takut dengan Afra, atau lebih tepatnya … dengan aura merah yang ada pada diri Afra.
Afra dan Eria masih berdiri dan berhadapan. Eria masih sedikit ketakutan, sedangkan Afra hanya diam dan melihatnya dengan rasa keheranan.
"A-aku mau tanya … sesuatu padamu…," ucap Afra memulai percakapan.
Eria terkejut mendengar perkataan Afra, "m-memangnya apa, yang ingin kau tanyakan, Manusia?" tanya Eria sudah tidak menunjukkan wajah ketakutannya lagi, meski masih terbata-bata sedikit. Namun, itu bukanlah hal yang membuat Afra merasa aneh.
"Eum … panggil aku Afra saja, jangan manusia!" pinta Afra merasa aneh jika harus dipanggil manusia. Ya, walaupun Afra sudah tau kalau dirinya itu manusia, tetapi itu tetap saja aneh. Itu membuat Afra sedikit mengingat tentang monster-monster itu.
"B-ba-ba-baik!" jawab Eria kembali terlihat ketakutan. Tubuhnya lagi-lagi gemetaran.
Sepertinya aku memang harus diam saja, batin Afra merasa bersalah setelah melihat Eria yang kembali ketakutan.
Afra pun tidak berbicara dan menundukkan kepalanya setelah melihat Eria kembali ketakutan, tetapi itu membuat Eria keheranan.
"Manusia— Ah! Ma-maksudku Afra!" panggil Eria hampir lupa untuk tidak memanggil Afra dengan manusia. Afra pun langsung melihat ke arah Eria, tetapi ia tidak menjawab perkataan Eria.
Eria semakin heran melihat Afra yang masih belum mengatakan apapun, "bu-bukankah kau ingin menanyakan sesuatu padaku?"
Afra pun mulai membuka mulutnya, "t-tidak!"-Afra menggelengkan kepalanya-"a-aku tidak mau … membuat mu seperti itu."
Eria terkejut mendengar perkataan Afra. Ia benar-benar tak percaya setelah menyadari kalau Afra sepertinya merasa bersalah karena telah … melihat dirinya yang ketakutan.
"K-kalau begitu … a-aku yang akan menanyakan pertanyaan padamu!" ucap Eria berusaha memberikan kesan bahwa ia tidak takut lagi, dan juga … mengambil kesempatan untuk bertanya tentang 'itu'.
Afra hanya diam dan menganggukkan kepalanya. Eria pun mulai menelan ludahnya sendiri dan berusaha untuk tenang.
__ADS_1
"A-apa kau … pernah melihat sosok lain sebelum ku? Setelah kau … mendapatkan batu permata itu, Afra?"